The first 200 lines.
Tunggu sebentar.
Mirae,
apa Hyeonjae, orang yang kau kencani?
Ya, aku.
"Ya, aku."
"Ya, aku"?
Teganya kau melakukan ini kepadaku.
Kau membohongiku selama ini?
Tidak, bukan begitu.
Maafkan aku.
Tidak perlu minta maaf.
Fakta bahwa kami berkencan bukanlah kejahatan.
Tentu saja tidak,
tapi caramu memperlakukan kami.
Astaga.
Tidak. / - Aku baik-baik saja.
Kau bercanda?
Kau berdarah.
Aku baik-baik saja. / - Tapi...
Apa maksudmu? / - Kau berdarah.
Apa ini darah?
Hidungku. / - Hidungmu.
Hidungku berdarah! / - Astaga.
Hidungmu berdarah!
Ini semua salahmu.
Astaga.
Masih berdarah? / - Tidak berhenti. Bagaimana?
Aku tidak percaya ini.
Kalian berdua berkencan, itu tidak masuk akal.
Kalian berdua berkencan juga tak masuk akal.
Sulit dipercaya. Apa kalian berdua...
Aku yang lebih bingung.
Kau membohongiku selama ini!
Maksudku... / - Teman-teman!
Hidungku berdarah.
Sial.
Astaga.
Sakit.
Menawarkan saputanganku
berarti aku memberimu segalanya.
Kau...
Ya, aku. Aku adikmu.
Ada urusan apa dengan Haejun?
Sudah berapa lama kau berkencan dengannya?
Apa dia wanita yang berkencan santai denganmu?
Kau masih tidak percaya apa yang kau lihat?
Tapi itu mustahil. Bagaimana bisa kau dan Haejun?
Kenapa itu tak masuk akal bagimu?
Yunjae.
Kau akan menikahinya?
Ayolah.
Bahkan hari ini adalah misteri.
Bagaimana aku tahu hari berikutnya?
Aku akan tahu setelah kita melewatinya.
Astaga. Jika terus begini, kau bisa memukulku.
Aku sudah melakukannya di benakku.
Omong-omong, wanita yang bersamamu,
dia pembelanja pribadi, bukan?
Bagaimana kau bisa mengenalnya?
Begini...
Ada apa denganku?
Sedang apa kau di sini? / - Kau baik-baik saja?
Aku baik-baik saja. Aku hanya mimisan.
Astaga, kau sering merengek kepadaku.
Kau sangat jantan saat ada Haejun.
Ini semua salahmu.
Aku merasa sangat dikhianati olehmu.
Berapa kali kau membohongiku soal kau dan Mirae?
Itu bukan apa-apa dibandingkan kebohonganmu.
Kau menipuku
sejak meminta nomor teleponnya.
Bisakah kau hentikan itu sekarang?
Jangan memancingku untuk membahasmu.
Kenapa kau pindah denganku?
Kau pindah
karena rumahku dekat dengan rumah Haejun.
Kalian merencanakan ini untuk menipuku. Astaga.
Hei, bagaimana denganmu?
Katamu Haejun pantas dapat yang lebih baik dariku.
Apa yang salah denganku?
Dia bilang begitu?
Kau tampak tersanjung. / - Rasanya tidak buruk.
Astaga. Kalian benar-benar berkencan.
Apa ini? Astaga. / - Lalu kenapa jika itu benar?
Rasanya canggung sekali.
Mirae.
Kalian tidak masuk, jadi, aku mencari kalian.
Kita akan makan, tapi aku kehilangan selera.
Aku juga.
Mari kita berpisah di sini.
Bu Sim, ayo masuk bersama.
Mirae, kupikir kita teman.
Maaf, Bu Sim.
Tunggu. Kau marah kepada Mi Rae-ku sekarang?
"Mi Rae-ku"?
Aku tidak tahan melihatmu sekarang.
Ayo, Yunjae. / - Setidaknya kau harus makan.
Tidak. Kami akan makan di tempat lain.
Aku sudah memesan tempat. Tidak sopan jika pergi.
Aku benci bersikap tidak sopan.
Apa? / - Astaga.
Baiklah. Kalau begitu, begini saja.
Bagaimana?
Terima kasih. / - Terima kasih.
Apa yang mereka makan?
Kurasa mereka makan spageti.
Jangan pedulikan mereka.
Aku ingin memesan makanan selain steik.
Hyeonjae pernah ke sini, jadi,
dia tahu apa yang enak.
Kalau begitu, kau mau aku menanyakannya?
Itu akan membuatku merasa kita kalah.
Astaga, kau kekanak-kanakan sekali.
Kau bilang suka bersikap kekanak-kanakan.
Kau berubah pikiran?
Tidak.
Kau tidak suka makanannya?
Aku suka.
Aku hanya khawatir karena Bu Sim.
Kurasa dia marah kepadaku.
Bukan dia yang seharusnya marah.
Memang benar kita menipunya.
Itu hanya...
Begini,
aku cenderung sering merasa khawatir.
Bisa dibilang
aku tidak menjalani hari ini apa adanya.
Aku hidup hari ini untuk hari esok yang baik.
Jangan khawatir.
Hyeonjae memegang tangannya.
Jangan mengomentarinya. / - Kau penasaran.
Kalau begitu, pegang tanganku.
Jika kau akan seperti ini, ayo pergi saja.
Aku ingin mengajakmu ke tempat yang bagus,
jadi, aku menyiapkan semuanya, tapi apa ini?
Kau memperhatikan
Hyeonjae dan pacarnya, bukan aku.
Ayo pergi saja.
Tidak.
Yunjae.
Bisakah setidaknya berpamitan dengan kami? Astaga.
Apa?
Mobilku diparkir di sana.
Kau mau pergi? Kau tidak pulang?
Aku akan pulang.
Kalau begitu, mari antar Mirae dan pulang bersama.
Aku perlu bicara denganmu.
Kalau begitu, kau mau aku pergi sendiri?
Aku bisa memanggil taksi. Aku akan pergi sendiri.
Tidak.
Aku akan pergi sendiri. Pergilah dengan Hyeonjae.
Aku akan pergi dengan Haejun.
Hanya lima menit dari tempatmu.
Baiklah. Mari kita lakukan itu.
Beraninya kau mendikte si bodohku?
Dia kakakmu.
Baiklah.
Ayo. / - Baiklah.
Sampai jumpa.
Aku akan mengunjungimu di kantormu nanti.
Baiklah. Sampai nanti.
Sampai jumpa. Sampai jumpa. / - Sampai jumpa.
Ayo.
Bukankah kau tidak sopan kepada Bu Sim?
Tidak apa-apa. Dia seperti kakakku.
Kemarilah.
Dia menganggapmu sebagai kakak? Bagaimana mungkin?
Mungkin saja. Dan aku menganggapnya sebagai adik.
Aku bahkan memintanya mengurus wasiatku.
Jadi, kau membuat surat wasiat?
Saat usia 40 tahun, kupikir aku tak akan menikah.
Aku makin tua, dan aku bisa mati tiba-tiba.
Maka propertiku harus diurus.
Karena Hyeonjae tahu hukum,
dia bisa mengurus semuanya untukku.
Kau tidak memikirkan itu?
Tentang kematian mendadakmu, maksudku.
Tidak juga.
Kurasa itu karena kau tinggal bersama keluargamu.
Saat kau tinggal sendirian,
wajar jika memikirkan hal seperti itu.
Cookie, kenapa kau tidak menjawab teleponku?
Aku meneleponmu setelah bertengkar,
tapi kau tidak menjawab.
Kenapa jika aku mengambil roti dari Pak Hyeon?
Apa masalahnya?
Kau bilang akan menjemputku setiap hari,
tapi kau tidak datang.
Aku tidak akan meneleponmu lagi.
Halo? / - Kau benar-benar menjawab.
Kenapa kau tidak menjawab teleponku tadi?
Apa terjadi hal buruk? Kenapa terdengar murung?
Tidak ada yang terjadi.
Maukah kau datang menjemputku malam ini?
Aku tidak bisa malam ini.
Ada yang harus kuurus.
Maukah kau datang ke rumahku jika sudah selesai?
Nanti kutelepon lagi.
Aku harus bekerja sekarang. Aku sudah terlambat.
Baiklah. Telepon aku.
No comments yet. Be the first to leave one.