The first 192 lines.
Bebaskan saja kehidupan
yang selalu berubah
Tanpa adanya kenyataan,
masih belum kulakukan
Sudah sifatku ingin femes
semua rumor pun ku terima
Tujuan awalku sudah tuntas
tapi ingin kulihat kelanjutannya
Mayat yang terbengkalai ini
gunakan lalu dibuang
Biar kuperkenalkan namaku, catat baik-baik di otakmu!
Aku tak butuh taktik kemenangan
karena hampir keseluruhan bergantung keberuntungan
Aku juga siap memberi jawaban, apakah ini langkah yang tepat?
Di sini, di tengah-tengah lingkaran satan
Tradisi lembur para budak korporat
Bangunlah, Banker!
Cepat bayar aku
Satu baris, satu jotosan
Jawab dengan fantasimu
Berdirilah, orang-orang terfavorit
Ampunilah
Kejahatanku di masa lalu
Hukumlah diriku
dengan hukuman yang pantas
Bimbinglah diriku
Jika memang pantas diselamatkan
Aku ingin melihat
keindahan dunia ini melalui orang yang kucintai
Hari ini indah seperti biasa
besok pikir belakangan
teruslah mengembara
dalam kecemasan tubuh fana ini
Semua yang terpancar hampa
dalam sekejab mata akan berubah
Sorakan itu terdengar
dengan jelas dan fana.
Aku mencari informasinya ke seluruh penjuru desa,
tapi semua di luar nurul ...
Bahkan semakin kupelajari, malah jadi semakin tidak jelas.
Gabimaru?
Ada yang janggal?
Tidak, jadi kesimpulannya?
Ah, Senta-dono yang malah ...
... sudah kehabisan akal.
Karena kebanyakan misteri,
aku harus mengulas dan meluruskannya dulu.
Beristirahatlah saja, Senta-dono.
Biar aku yang berjaga malam ini.
Tidak! Tidak usah!
Setelah mandi, pasti badanku bugar lagi!
Malah justru mengantuk.
Serius, tidak usah!
Misterinya terlalu banyak!
Bertindak sebelum punya wawasan cukup, bisa berbahaya!
"Wawasan cukup"-nya seberapa?
Kalau itu ... tidak tahu juga.
Tapi jika Tensen itu menjaga Obat Keabadian,
pergi ke Horai tanpa rencana bisa sangat berbahaya!
Maaf, aku tidak punya waktu menunggu.
Andaikan mereka yang mendatangi kita, justru kebetulan.
Dewa & Manusia
Kabutnya semakin gelap untuk melihat.
Kami sampai desa setelah pergi ke selatan.
Andaikan Hoko memang berkata jujur,
maka jika terus mengarah ke selatan,
seharusnya mendekati Horai.
Suara apa ini?
Melodi?
Bukan ...
Baca sutra?
Mereka kaumnya Hoko?
Sama sekali tidak bereaksi.
Mereka membatu?
Seperti menyembah sesuatu.
Bertindak sebelum punya wawasan cukup, bisa berbahaya!
Pola berpikir Asaemon berbeda dengan terpidana mati.
Seperti apa pun kondisi pulaunya, kami takkan bisa kembali.
Ini bukan penjelajahan.
Mau seberbahaya apa pun tempat ini,
aku takkan dapat pengampunan tanpa obat itu.
Satu-Satunya pilihanku hanyalah maju.
Walau sendirian pun.
Konon, Horai masih sangat indah seperti sedia kala.
Tak seperti bobroknya Hojo dan Eishu,
tempat itu merupakan Tanah Surga yang ditinggali dewa dan pertapa, yang sesungguhnya.
"Tanah Surga yang sesungguhnya"?
Tapi ini jelas-jelas buatan manusia.
Jika tempat ini adalah Horai, maka ...
Siapa orang ini?
Bukan.
Sosoknya menyerupai manusia, tapi berbeda.
Siapa kau?
Aku capek ...
Kenapa pas giliranku terus, sih?
Merepotkan ...
Bisa kau pergi dari sini?
Aku baru selesai bertarung, lo.
Waktu ketemu manusia sepertimu, kami jadi harus menangkapnya.
Sudah begitu, tadi—
Untuk digunakan ...
... sebagai Obat Keabadian?
Lo?
Dia beregenerasi, serta punya kecepatan dan tenaga di luar kewajaran.
Diakah yang disebut ...
Mengincar leher lagi.
Jurus Aliran Api!
Lagi-Lagi terbunuh, ya?
Padahal jika kubawa hidup-hidup, bisa menjadi Tan yang bagus.
Mungkin telat bertanya,
kaukah yang disebut "Tensen-sama"?
Kau sendiri, apa betulan manusia?
Apa alasanmu segigih itu?
Tadi juga kutemui yang cukup keras kepala,
tapi orang sepertimu tidak kulihat beberapa abad.
Di mana Obat Keabadian itu?
Mungkin harus kuanggap pukulan dan tebasan tidak akan mempan.
Belum lagi, fisiknya teramat kuat.
Beradu pukulan akan terlalu berisiko.
Harus kutemukan pola serangan yang tepat.
Dia kebal.
Aliran Api pun tidak melukainya.
Aku harus mencoba ...
... sebuah metode ...
... yang baru!
Sensasi apa ini?
Reaksinya jelas berbeda dari yang tadi.
Apa itu?
Apa yang membedakan?
Dia jadi wanita lagi ...
Kemampuan fisik itu ...
... mungkin tidak kausadari, tapi ...
Tidak.
Hasilnya sama saja.
Orang sepertimu ...
... harus mati!
Apa ini ...?
Bukan semacam tekanan angin.
Benturannya terasa menggetarkan badanku.
Semacam kekuatan misterius ...
Percuma ditangkis.
Harus dihinda—
Apa makhluk ini bisa dikalahkan?
Tidak perlu dipikirkan!
Apa pun yang terjadi, jangan berhenti bergerak!
Demi pulang ke sisi istriku!
Apa pun yang terjadi, harus pulang hidup-hidup!
Mau mata dan hidungku hancur, harus pulang hidup-hidup!
Mati pun, harus pulang hidup-hidup!
Jika memulihkan diri, maka cukup lebihi kecepatannya!
Mustahil, oleh manusia—
Aku tahu, kau belum mati.
Katakan di mana Obat Keabadian itu!
Astaga ...
Pasti aku akan dimarahi lagi oleh mereka.
Kalem.
Ini bukan pertama kaliku melawan monster.
Sama seperti sebelumnya.
Analisis dan lawan balik.
Selama masih bisa ...
Jurus Aliran Api!
Badanku—
Efek samping kupaksakan, akhirnya kambuh ...?
Hal-Hal aneh, makhluk raksasa ...
Apa ini benar-benar dunia nyata?
Tidak, apa bahkan kejadian belakangan ini benar-benar nyata?
Rasanya seperti sedang bermimpi buruk.
Kamu sudah tersadar?
Kamu mengigau keras sekali, lo.
Apa kamu bermimpi buruk?
Iya.
Oh ...
Mimpi, ya?
Untunglah.
Mimpimu pasti sangat buruk, ya?
Belakangan ini juga kamu sangat sibuk, sih.
Cobalah untuk beristirahat hari ini.
Ini teh krisan.
Konon, berkhasiat mengusir mimpi buruk.
Eh, apa kamu tidak suka teh krisan?
Bukan, aku hanya sangat bersyukur.
Walaupun ini hanya mimpi,
aku senang bisa berbincang denganmu.
Kamu sedang bicara apa?
Maaf.
Mungkin aku tidak bisa pulang.
Prinsip Shinobi No.20:
Saat berada di ambang kematian,
maka pakai sisa-sisa hidupmu ...
... untuk melukai musuh sebesar mungkin.
Tapi tidak perlu kaucamkan itu.
Karena itu sudah terdoktrin ke dalam latihan kalian.
No comments yet. Be the first to leave one.