The first 200 lines.
- Kau mau dua lagi? - Itu luar biasa!
Russell, ini sudah acara penutup?
Ya.
Ada penampilan lain, Lydia kenapa?
Lydia kembali ke Ohio.
Mendadak?
Hidup ini penuh kejutan.
Ularnya dia tinggal.
Anjingnya juga.
Lupakan saja.
- Tirainya macet. - Sudah biasa.
- Ya, tapi kita mesti apa? - Aku memilah mur dan baut.
Pasangkan mur dengan mur dan baut dengan baut.
Kau penari bugil yang tidak bugil
dan cuma meneriaki orang.
Bukan masalah kita.
Baik, bukan itu yang ku...
Lupakan saja.
Itulah akhir dari pertunjukan.
Semoga ini menjadi malam yang tak akan pernah kalian lupakan.
Kalian penonton yang baik. Tolong pulang dengan selamat.
Beri tip pelayannya.
Mereka bersenjata!
Terima kasih, dan selamat... Sungguh?
Kalian seharusnya main lebih pelan saat aku bicara.
Aku tak tahu kapan kau akan bicara.
Setiap naik panggung, aku akan bicara.
Terserah kau saja.
Lipstik.
Boise, ada masalah yang harus diselesaikan.
Ya, seperti apa?
Tirai tetap naik, aku tak kena lampu,
band main saat aku bicara, mikrofonku mati.
- Mau kau tulis? - Tidak.
Ini seperti Burlesque abal-abal.
Memang begitu.
- Boise. - Lihat besok saja.
- Begitu terus. - Aku orang yang optimistis.
Ini tidak sulit.
Cek suara, pastikan mikrofon hidup.
Mikrofon hidup, petugas tidak di mixer.
- Tirai... - Yang mengurus mixer
mengurus tirai.
Cari orang lagi.
Memangnya aku Dinas Tenaga Kerja?
Memangnya ada uang untuk khusus mengurus tirai?
Apa pekerjaannya?
Selamat, kau pengurus tirai yang baru.
Sekarang, acara penutup.
Kalian tahu apa yang kalian lakukan?
- Maksudmu? - Saat ke panggung,
kalian tampak bingung.
- Tilly? - Aku cuma mengikuti dia.
Acara penutup mesti lebih awal, kami lelah.
Kalian bisa latihan dulu,
kecuali memang ingin saling tubruk.
Itu tak disengaja.
Kau? Kau memakai bra?
- Ya. - Kenapa?
Menurut hukum tak boleh bugil.
- Di mana kostummu? - Talinya putus
dan penutup puting dimakan Dribbles.
Aku minta Zelda perbaiki.
- Zelda itu siapa? - Yang memakai balon
dan meletuskannya pakai kuku.
Sial, lebih banyak saingan.
Hei, malam ini malam film.
Aku suka malam film.
Mau ikut malam film?
Tidak bisa, aku sudah telat.
Lain kali, aku janji.
Semua ini harus lebih baik!
- Boise! - Aku dengar,
mereka dengar, semua orang dengar.
Ny. Maisel yang Menakjubkan
- Untuk teman baru. - Dan alkoholnya.
- Sempurna. - Aku senang kita melakukan ini.
- Sama. - Sifku larut malam
di RS bulan ini. Dokter lain punya keluarga.
Aku suka makan larut malam. Akibat mikrofon.
- Itu khas Spanyol. - Mikrofon?
Makan larut malam. Aku di sana setahun.
Mereka baru duduk pukul 22.00, anak-anak juga.
Kau tinggal di Spanyol. Menakjubkan?
Juga lezat. Steiknya.
Aku seharusnya ke sana bekerja, tapi tidak jodoh.
Lain kali. Spanyol.
Jadi, sudah berapa lama tinggal di el Lado Superior Oeste?
Upper West Side. Bahasa Spanyol.
Paham. Aku lahir di Upper West Side.
Tinggal di gedung tempat aku dibesarkan.
Itu bagus?
Bisa tahu dari senyummu dan kau tak bilang kanker,
tapi kanker bisa jadi bahan rayuan dokter.
- Kau fasih sekali. - Gracias.
Tepat waktu. Tolong tambah.
- Kami siap memesan. - Baik.
Kami berdua mau pesan filete medio rara, y una guarnición de espinacas.
Steik medium rare dengan pendamping bayam.
Dia tinggal di Spanyol.
Aku segera kembali membawa minummu.
Jadi, kau komedian?
Bahasa Inggris. Maaf. Ya,
aku komedian.
Dari mana dapat ide untuk leluconmu?
Boleh permisi sebentar?
Aku salah topi.
Kau suka ham?
Tidak.
Bahasa Spanyol.
Kau lucu.
- Pernah menonton adu banteng? - Miriam.
Susie, sedang apa di sini?
Maaf mengganggu. Anakmu sakit.
- Tidak. - Ya,
muntah di mana-mana.
Karpetmu hancur. Dia perlu dokter.
- Maaf, Liam, aku harus pergi. - Aku ikut?
- Tidak, dia perlu dokter. - Aku dokter.
Bukan yang dia butuhkan.
- Aku spesialis anak. - Ini dewasa.
- Dia lima tahun. - Bisa
- periksa anak sialanmu? - Ya.
Maaf sekali.
Kita coba lagi. Sungguh. Hubungi aku.
Kau seharusnya bilang dia dokter.
Aku tahu. Maaf.
Kalau tahu, kubilang anakmu diculik.
Aku janji bilang lain kali.
Untuk apa kode kita?
Di telepon bilang,
"Dapat pecundang lagi, selamatkan aku."
Takut dia lewat dan dengar,
aku tak mau menyakitinya.
Ini kencan buruk ketigamu bulan ini.
- Perlu cium katak. - Jangan dengan orang biasa.
- Lalu, siapa? - Yang bidangnya sama.
Jangan komedian.
Komedian? Tiduri dulu kataknya sebelum itu.
Lalu, siapa?
Entahlah.
Ventrilokuis?
Kenapa ventrilokuis?
Ke mana-mana bawa mainan. Kau punya anak. Jelas.
Kau bercanda.
Pasti punya kepribadian. Malah, dua.
- Ventrilokuis? - Ya.
Yang bawa pria kayu kecil di pangkuan,
itu yang kau mau kuajak kencan.
Saat melihatmu, aku melihat ventrilokuis.
- Hei, Susie. - Apa, Miriam?
Kapan hubungan terakhirmu?
Apa?
Kita membahas hubunganku terus. Kau bagaimana?
Tak pernah bersama siapa pun.
- Lalu? - Hanya ingin tahu tentang hidupmu.
Hidupku adalah kau, itu saja.
Memikirkan dan membahasmu,
menunggumu, menyelamatkanmu dari kencan bodoh.
- Aku tak punya waktu. - Tapi...
Begitu bisa melepaskanmu, menjadikanmu bintang,
kau bisa kudorong ke gunung es dan aku fokus pada hal lain.
Baik.
Apa?
Kita terlalu sering bertemu,
tapi kau memang salah topi.
Dua tahun lalu, kau menyutradarai Vertigo,
film yang bagus. Tahun lalu, North by Northwest,
yang merusak kecintaanku akan berjalan-jalan di ladang jagung.
Misi selesai.
Kini, ada Psycho,
yang aku tahu sangat menakutkan.
Aku mau bertanya, Tn. Hitchcock,
apa yang membuatmu takut?
Telur rebus.
Telur rebus? Kukira kau akan menjawab
laba-laba, atau mantan istri.
Itu menjijikkan.
Menurutmu telur rebus tak menjijikkan?
Kuakui, itu belum terpikirkan.
Coba pikirkan. Ada dua segi dari masalah itu.
Masalah bau,
dan masalah tekstur.
Ethan, kalau mau kencing, kencing saja, lalu kembali tidur.
Ini bukan Ethan.
Ayah, kalau mau kencing, kencing saja, lalu kembali tidur.
Aku tidak perlu kencing!
Boleh bicara sebentar?
Tunggu.
Terang sekali.
Pukul berapa ini?
Ini tengah malam, dan Susie menyalakan TV keras-keras lagi.
Dia sulit tidur. TV membantunya tenang.
Dia sudah coba obat tidur?
Ibumu punya satu kendi penuh di lemarinya.
Besoknya dia akan gila.
Sama dengan ibumu, tapi siapa yang tahu?
Siapa bilang pilku membuatku gila?
Aku cuma bilang kepada Miriam
bahwa Susie tinggal lebih lama dari perkiraan.
No comments yet. Be the first to leave one.