The first 200 lines.
"Episode Satu"
"Area Dalam Konstruksi"
"Utamakan Keamanan"
Maaf.
Maaf, tapi bagian ini diblokir.
Woo Jin, maaf aku terlambat! Pergilah.
Halo,
aku Park Min Guk dari Rumah Sakit Geodae.
Prosedur langsung yang akan kalian tonton hari ini
adalah pancreatico-duodenenetomy laparoskopis.
Pasiennya pria berusia 56 tahun.
Kanker seukuran 5 cm terlihat di kepala pankreasnya.
Biasanya dalam kasus ini,
anastomosis dilakukan dengan laparotomi mini.
Namun, hari ini, aku akan melaksanakan seluruh prosedurnya
di dalam lubang perutnya
yang dikenal sebagai operasi laparoskopi.
Aku akan memperkenalkan kalian pada tim bedah.
Sungguh? - Maaf.
Maaf. Biarkan aku lewat.
Bovie. - Maaf.
Ini dokter Jang.
Astaga, maafkan aku.
Ini dokter Lee.
Ini ahli anestesi Shim Hye Jin.
Mari mulai prosedurnya.
Pisau bedah.
Tunggu!
Sial.
Kembalikan kakiku. - Apa?
Aku ingin kakiku kembali.
Kembalikan kakiku. Di mana?
Selanjutnya, aku akan membedah hepatis porta.
Saat menyayat lapisan, penting untuk mengingat
variasi arteri hepatik.
Mengelupas kelenjar getah bening
juga prosedur penting.
Suction. - Suction.
Kubilang aku ingin kakiku kembali.
Di mana kamu menaruhnya?
Aku mau kakiku! - Bau amonia.
Sial, lepaskan aku. Jangan ganggu aku!
Halusinasi auditori dan visual.
Aku akan membunuhmu!
Jangan menatapku.
Aku akan membunuhmu.
Dia juga menderita paranoia.
Begitu lapisannya dikelupas dari duodenum dan peritoneum,
spesimen akan berkumpul di satu bagian.
Dokter.
Ada pendarahan dari luka di pankreas.
Forcep bipolar, tolong.
Untungnya, itu bukan pendarahan besar.
Tekanan darahnya turun.
Angkanya 92 per 60, Dokter. Denyut nadinya 98 bpm.
Kita butuh darah. - Tentu saja.
Apa yang dilakukan dokter Park?
Apa dia tahu apa yang salah?
Dokter Park, apa ada masalah? Dokter Park?
Dokter Park!
Permisi.
Dokter?
Maaf, tapi boleh pinjam pena dan buku catatanmu?
Tentu, ini dia.
Terima kasih.
Kamu pelari cepat?
Apa?
Bisa tolong bawa ini ke ruang operasi?
Secepat mungkin.
Berengsek. Menjauh dariku.
Apa yang kamu lakukan?
Siapa bilang kamu boleh memotretku?
Berhenti memotretku, Berengsek!
Lepaskan aku, Berengsek. - Pak.
Pak, tolong tenanglah. Siapa namamu?
Apa yang kamu lakukan di rumahku?
Keluar, Berengsek! Keluar!
Kebingungan mental.
"Kebingungan, Perasaan tidak jelas dalam pikiran"
Sistem saraf yang terlalu aktif.
Gejala penyakit kuning akut.
Dan hati yang membengkak?
Lepaskan aku!
Kemari, Berengsek!
Sial!
Kamu baik-baik saja? - Bisakah kamu menelepon?
Cepat hubungi polisi!
Tidak, jangan telepon polisi.
Telepon 911. Kamu harus menelepon 911.
Denyut pasien terus menurun.
Ini bisa menyebabkan gagal jantung.
Dokter, seseorang ingin kamu melihat ini.
"Operasi sedang berlangsung"
Bu Choi.
Periksa paru-paru kirinya dengan stetoskopmu.
Aku mendengar suara napas yang berkurang.
PIP-nya juga meningkat.
Kurasa ada sumbatan.
Keluarkan gasnya. - Baik, Pak. Akan kukeluarkan.
Minta rontgen portabel.
Kita tidak punya waktu untuk itu.
Berikan aku kateter.
Melegakan sekali.
Permisi. Tolong minggir.
Tension pneumothorax adalah sesuatu yang tidak kita duga.
Tapi untungnya, kami cepat menyadari dan menyelesaikannya.
Sekarang, kita harus melakukan laparotomi
untuk menemukan penyebab masalah.
"Laparotomi, Pembedahan yang melibatkan luka irisan besar"
Namun, kami belum menyiapkan laparotomi.
Jadi, sayangnya, kita harus mengakhiri demonstrasi.
Kamu membawa memonya?
Halo, Pak.
Aku Cha Eun Jae, dokter magang di RS Geodae.
Bagaimana kamu tahu itu tension pneumothorax?
Apa itu benar-benar pneumothorax?
Apa pasiennya hidup?
Tidak.
Aku bertanya bagaimana kamu tahu.
Bukan aku yang mengetahuinya.
Bolehkah aku bertanya
siapa Anda, Pak?
Omong-omong, kamu pernah mendengar tentang Rumah Sakit Doldam?
Aku bekerja di sana.
Aku Master Kim.
"Tension Pneumothorax"
Siapa? Siapa yang kamu bilang mencariku?
Dia bilang kamu akan tahu
jika aku memberitahumu bahwa Master Kim ada di sini.
Aku tidak bisa menemuinya. Aku sibuk.
Aku sudah mencoba memberitahunya.
Ya, aku yakin dia sibuk.
Tidak apa-apa. Aku akan menunggu.
Katakan kepadanya aku sedang rapat.
Katakan kepadanya aku bahkan tidak bisa makan
karena aku menghadiri pertemuan sejak pagi ini.
Astaga, dia bahkan belum makan?
Aku tidak keberatan menunggu, jadi, katakan tidak perlu buru-buru
dan dia harus meneleponku setelah selesai rapat.
Katakan kepadanya aku akan menunggu di sini seharian.
Katakan kepadanya bahwa pertemuan akan berakhir sangat larut.
Tidak apa-apa. Jangan cemaskan aku.
Aku akan menunggu di sini.
Astaga, dia sangat menyebalkan.
Dia pikir siapa yang mau dia bodohi?
Apa yang kamu lakukan, Berengsek?
Kamu tidak bisa membawanya kemari begitu saja.
Jika kalian bertengkar, seharusnya kalian ke kantor polisi.
Berhentilah mengumpat.
Lepaskan aku, Berengsek!
Maaf, tapi tidak banyak yang bisa kami lakukan
untuk seseorang yang mabuk.
Kami hanya bisa memberinya suntikan infus sampai dia sadar.
Tapi seperti yang kalian lihat, ranjangnya penuh
dengan pasien darurat lainnya.
Dia menunjukkan tanda-tanda kegelisahan, halusinasi,
dan sistem saraf yang terlalu aktif.
Sepertinya dia mengalami delirium tremens.
Memangnya kamu dokter?
Ya, aku bekerja di bedah umum.
"Bedah umum"?
"Dokter bedah umum, Seo Woo Jin, RS Universitas Geosan"
Begitu rupanya. - Lepaskan aku!
Dia juga mengidap penyakit kuning,
jadi, sepertinya dia mengalami epilepsi karena alkohol.
Bawa dia untuk tes fungsi hati dan sonografi.
Baik, Pak.
Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?
Aku dokter tahun keempat, Pak.
Beri dia benzodiazepin sebelum dia kejang.
"Benzodiazepin, Obat penenang, Kejang, Serangan mendadak"
Lepaskan aku, Berengsek!
Hei, beri dia 4 ml lorazepam. - Lepaskan aku!
Hei, siapa dia?
Aku belum pernah melihatnya.
Dia dokter bayaran baru yang datang pekan lalu.
Dia dokter Seo Woo Jin.
Kamu tidak tahu apa yang terjadi belakangan ini
di Rumah Sakit Samjin?
Permisi!
Dia pria berusia 65 tahun.
Beri tahu aku tanda vitalnya. - 200 per 110. 117 bpm.
Dia menderita sakit dada selama sekitar satu jam.
Kini, dia bilang punggungnya juga sakit.
Punggungnya juga sakit? - Ya.
Pak, bagaimana perasaanmu?
Apa ada nyeri di belakang?
Dokter, dia kejang!
Tolong periksa tanda vitalnya.
Di sini!
Lepaskan aku!
Tolong minggir!
Dia terlibat perkelahian dan pingsan.
Kini perutnya sakit dan bahkan tidak bisa berdiri.
Biar kuperiksa.
Apa lebih sakit saat aku menekan perutmu?
Bawa dia ke tempat tidur di sana. - Baik.
Astaga. - Dokter Yun, cepat!
Lepaskan aku, Berengsek!
Dokter Yun, apa yang harus kita lakukan dengannya?
No comments yet. Be the first to leave one.