The first 200 lines.
Ujian seleksi astronot ketiga.
Setelah dua minggu di dalam boks tertutup,
tugas terakhir kami adalah memilih dua kandidat terbaik untuk menjadi astronot.
Fukuda,
Ya,
Nitta,
Serika,
dan aku.
Kurasa mereka ingin lihat
kami siap atau tak membuat pengorbanan yang penting.
Tapi...
Pilihlah jawaban yang menyenangkan.
Ayo putuskan dengan suit.
Anggotanya ada yang batu,
ada yang gunting,
dan ada yang kertas.
Apa ada yang tahu siapa kandidat terkuat?
Sama seperti orangnya.
Ya.
Tapi,
aku tak bermaksud kalau suit itu main-main.
Hanya saja
aku ingin dua minggu menyenangkan yang kami bagi sampai akhir berakhir bahagia.
Memang aku egois.
Tapi mereka semua pasti mengerti.
Akhirnya selesai.
Siap, suit.
Batu... Kertas... Gunting!
Hanya butuh satu babak.
Dua yang menang dan tiga yang kalah.
Meski pemenangnya sudah pasti telah ditentukan.
Aku akan naik,
menanjak,
dan meluncur menembus atmosfer
Tujuanku adalah nol gravitasi
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
Space Brothers
ZainuddinAri mempersembahkan
Space Brothers
Lambaian orang-orang membanjiri persimpangan
seperti siluet samar yang mereka alirkan dahulu tanpa henti
Bagaimana aku kelihatannya di tengah mereka?
Ku tak tahu
Menyembunyikan tujuanku yang sesungguhnya mati-matian
Kuremukkan alasan-alasan yang tak jelas
Ambisiku ke luar angkasa yang telah ada sejak dulu
lemah dan rapuh
Bagaimanapun caranya aku mengitari globe itu
Aku tak punya rumah tempat 'ku berhenti
Percuma saja menatap ke peta
Aku akan naik,
menanjak,
dan meluncur menembus atmofer
sampai aku bisa melihat seluruh dunia yang ada di bawah
Aku akan teriak
menjerit
dengan hati dari baja
bahwa aku ingin ke nol gravitasi
#21 Penantian Panjang Langit yang Sekejap
#21 Penantian Panjang Langit yang Sekejap
Itulah satu cara untuk memakai suit.
Baiklah, semuanya.
Kita harus pergi.
Silakan keluar.
Bagus, semuanya!
Bagus!
Aku benar-benar lupa.
Kita masih harus jalan jauh.
Kita harus pulang
naik bus berjam itu?
Mu.
Selamat.
Oh, kau juga baik-baik saja.
Dia kelihatan mencolok.
Hei!
Semuanya!
Aku yakin kalian mau lihat langit, 'kan?
Kemarilah!
Tunggu, bukankah ini tempat rahasia?
Kami boleh keluar?
Ya, sekarang tak masalah.
Open!
Terangnya!
Langit yang asli memang beda!
Segarnya.
Hah?
Bukankah ini...
JAXA?
Di sini 'kan tempat kita naik bus itu!
JAXA telah membodohi kalian.
Kecewa?
Kecewa, 'kan?
Kalian pasti kecewa, 'kan?
Ya, 'kan?
Aku suka ekspresi cemberut itu. Bingo!
Bi-Bingo?
Sayangnya, kami tak punya biaya untuk membangun fasilitas rahasia!
Kami harus tanya teknisi kami untuk membuat bus buatan sendiri.
Apa-apaan itu?
Baiklah, semuanya, ayo ke Gedung E-2.
Hei, Kenji.
Bukankah itu dari ujian ketiga?
Hmm?
Yang di situ.
Puzzle putih itu.
Oh... Benar.
Setelah aku selesaikan puzzle itu, orang dari JAXA bilang boleh disimpan,
jadi aku minta yang lain dari Tim B untuk tanda tangan.
Mirip buku tahunan saja.
Dia memang tak tambah dewasa.
Nih!
Ni sup-sup.
Oh, terima kasih.
Sup apa ini?
Kacang.
Ini, Nanba.
Silakan kopinya.
Ah, terima kasih.
Dia langsung pasang puzzle itu saat tiba di rumah.
Ya.
Kenapa salah satu tanda tangannya kelihatan mencolok sekali?
Mizoguchi?
Ya. Benar.
Dia yakin kalau dia dijamin akan jadi astronot.
Kepercayaan dirinya lebih tinggi dariku.
Dan seperti yang diharapkan, dia maju,
sedangkan aku tertinggal.
Kau ini bicara apa, Kenji?
Direktur bilang kita masih punya kesempatan.
Semuanya,
seperti yang mungkin sudah kalian kira, kandidat yang kalian pilih takkan langsung menjadi astronot.
Enam yang terpilih, tergabung dengan beberapa yang kami pilih,
akan pergi ke Houston.
Houston?
Kalian akan diwawancarai oleh astronot saat ini di fasilitas NASA di Houston.
Jadi kalau kalian tak terpilih, kalian masih punya kesempatan.
Lalu, berakhir di Houston.
Aku tahu.
Aku mengandalkan kesempatan itu.
Ya,
hanya itu yang bisa kita lakukan.
Aku juga.
Kacang.
Hei!
Kau pasti Furuya!
Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini.
Pak Ba-Baba!
Se-Senang bertemu Anda!
Saya Furuya.
Kau agak kejauhan.
Kepada Prof. Baba Hiroto
Salam, nama saya Yasushi Furuya. Saya ingin berterima kasih. Penemuan Anda meyakinkan saya untuk tak boleh menyerah. Terima kasih banyak.
Jadi begitu.
Jadi kau juga dari daerah Kansai.
Ya, dari Kyoto.
Begitu? Aku dari Osaka.
Aku kerja di sini, Tsukuba, tapi hatiku ada di Osaka.
Benar.
Dia kecil sekali.
Sekecil aku.
"Furuya, aku selalu menderita komplikasi lebih parah darimu.
Jadi aku terpaksa menyerah akan mimpiku menjadi astronot."
Sudah tiga tahun berlalu sejak kaukirimkan surel pertama itu.
Waktu sudah berlalu.
Silakan duduk.
Ya.
Kau lihat, aku sebenarnya sudah menerima banyak surel dan faks dari orang-orang yang berbahagia.
Mereka semua ingin berterima kasih untuk seragam luar angkasa yang dikembangkan itu.
Tapi surelmu yang paling bersemangat.
Be-Benarkah?
Ueda, bawakan dua Calpis.
Punyaku tambahkan susu.
Baik.
Kau mau diminum pakai air putih, Furuya?
Tidak, aku susu saja.
Ibuku suka begitu!
Benarkah?
Kalau begitu kita dibesarkan dengan cara yang sama.
Meski kita tahu kita takkan tambah tinggi,
tetap saja minum susu.
Tapi, aku tak pernah bermimpi anak yang mengirim surel itu akan benar-benar maju ke ujian ketiga.
Itu luar biasa, Furuya!
Sebenarnya...
Pak Baba...
Saya berjanji akan jadi astronot, jadi lihatlah.
Aku terlalu arogan dalam surelku.
Maaf.
Pada akhirnya,
aku kalah saat suit.
Hmm? Suit?
Maaf menunggu.
Ini 70-30 Calpis dengan susu.
Ah.
Silakan.
Ah, terima kasih.
Nah, Furuya.
No comments yet. Be the first to leave one.