Release info

번외수사ㅡTeam Bulldog: Off-duty InvestigationㅡE02 NEXT IQIYI
A Commentary by SULTAN_KHILAF

Tags

other
Published on: 2020-05-25
Downloads: 32
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Acara ini mengandung iklan tersurat dan tersirat"

"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"

"Pemirsa diharap bijak"

"Semua karakter, lokasi, organisasi, dan kejadian yang muncul"

"di film ini adalah fiksi"

"Episode 2"

"Ido Pharmaceuticals"

"Perusahaan pembunuh, Ido, kembalikan putraku."

"Ido Pharmaceuticals Masuki Pasar Eropa"

"Kim Min-seok".

Kau Pak Kim Min-seok, 'kan?

Kau tak boleh berada di sini.

Tunggu.

- Siapa kau? - Kang Moo-young dari Cek Fakta.

Aku punya pertanyaan soal Lee Jong-dae yang dibunuh

di taman di Guchon pada tahun 2007.

Kenapa kau menanyakan itu?

Kau memakai alias, Dr. Caligari's Cabinet,

benar, 'kan?

Hei, singkirkan dia.

Alamat IP pengguna akun itu berasal dari rumahmu.

Kau mengunggah video membunuh kucing di dark web, 'kan?

Apa?

Apa maksudmu?

Direktur Kim!

Hei... Katamu

hasil uji klinis obat barunya bagus.

Tapi putraku jatuh koma

setelah meminum obat itu.

Di mana tanggung jawabmu?

Dasar kurang ajar.

Enyahlah!

Dasar...

Lepaskan aku!

Kau gila? Apa-apaan ini?

Kalian semua pasti sudah gila.

Astaga, kau keras sekali.

Kau punya lisensi untuk menghajar orang?

Siapa kau, bedebah? Cepat lepaskan.

Aku?

Aku polisi yang menangkap berandal sepertimu.

Pak, kau terluka?

Kau tak apa-apa?

Bisa bangun?

Apa yang kau lakukan?

Menurutmu apa?

Aku menahanmu

karena membunuh Lee Jong-dae dan Gu Hyeong-jin.

Aku? Membunuh?

Kira-kira apa rencanamu nanti?

Apa lagi? Biar hukum yang menanganinya.

Dengarkan nasihat dariku ini.

Sesekali, coba sterilkan hidupmu.

Hidupmu penuh dengan kuman.

Hei, pergilah. Sekalian panggilkan Kepala Polisi.

Apa dia temanmu? Untuk apa kupanggil dia?

Astaga.

"TEAM BULLDOG: OFF-DUTY INVESTIGATION"

Astaga, aku di sini, Direktur Kim.

Akhirnya kau datang.

Pak Kapol, ada apa ini?

Aku baru dihubungi ayahmu.

Kurasa kami telah khilaf.

Tolong maafkan kami.

Aku akan segera mengurusnya.

Tak bisa.

Staf hukum dari perusahaanku akan tiba.

Nanti kita bahas.

Sesuai prosedur hukum,

aku siap ditahan di sini selama 48 jam.

Tapi setelah itu, bersiaplah.

Hei, kau. Cepat keluar.

Astaga.

Astaga, harga diriku terluka.

Apa?

Dasar bodoh!

Kau sudah gila?

Ayahnya anggota Komite Pengembangan Kepolisian.

Lalu kenapa? Kita harus tunduk karena dia memberi dukungan finansial?

Diam.

Maaf, Pak. Seharusnya dia kucegah.

Cegah apa?

Pernahkah aku membiarkan tersangka lolos?

Kau harus paham siapa lawanmu.

Jangan sembrono seperti ini. Bukti saja tak punya.

Aku punya bukti.

Periksa apakah sidik jarinya sesuai dengan sidik jari

di senjata pembunuh Gu Hyeong-jin.

Sidik jarinya tak dikenali. Menurutmu bakal cocok?

Dia bisa saja memalsukan datanya.

Tapi ini jelas memang sidik jarinya,

jadi, aku yakin ini akan cocok.

- Cepat periksa. - Baiklah.

- Jika keduanya tak cocok... - Astaga.

Bisakah kita bahas setelah hasilnya keluar?

Sakit!

Kami staf hukum Ido Pharmaceuticals.

Di mana Direktur Kim?

Banyak sekali.

Ini lezat.

Apa akhirnya kau sadar

kariermu sedang terancam?

Pasti kau merinding, 'kan?

Entahlah. Kurasa tidak.

Kau juga mau?

Berapa gajimu sebulan?

Lebih besar darimu.

Mau kutraktir makanan enak?

Jangan membual.

Mungkin sekitar 2.000-3.000 dolar.

Kau terlibat masalah ini hanya demi recehan?

Hubungi ibumu

dan katakan kariermu tamat.

Haruskah?

Aku sudah lama tak menelepon ibuku.

Pasti asyik.

Hei, Bu. Ada putra orang kaya yang meremehkanku

dan mengataiku miskin.

Bisa beri tahu berapa uang

yang akan kuwarisi nanti?

Ibu masih sekaya itu?

Padahal selama ini aku boros.

Uang Ibu masih sebanyak itu?

Sulit dipercaya. Baiklah, Ibu.

Dasar gila.

Hei, ibuku menyuruhku mengabaikanmu

karena keluarga kami masih kaya.

Lakukan panggilan video dengannya saja jika tak percaya.

Kau terlalu besar mulut sebagai polisi kelas teri.

Akan kutuntut atas kerugian mental, fitnah, dan pencemaran nama baik.

Jadi, bersiaplah.

- Tuntut dia. - Baik.

Inilah pentingnya mendidik anak sopan santun.

Apa? "Sopan santun"?

Konon, jalur kekeluargaan harus selalu diutamakan.

Tetanggaku sama sepertimu, akhirnya dia bangkrut.

Aku kasihan sekali kepadamu.

Kelakuanmu ini hanya membuat malu orang tuamu.

Astaga.

Gang-ho, bisa kita bicara?

Tunggu di sini.

Cocok, 'kan?

Kenapa? Ada apa?

"98 persen tak cocok"

Apa... Kau yakin?

Sial.

Maaf, Pak. Aku tak sanggup berkata-kata.

Kau harus bisa mengatur bawahanmu.

Ayahku akan kuberi tahu soal ini.

Maaf atas ketidaknyamanannya.

Maaf, Bung. Kariermu tamat sekarang.

Kau akan merasakan betapa buruknya

sistem hukum Korea.

Hati-hati di jalan, Pak.

Jangan lupa mampir makan tahu.

Sampai jumpa, Pak.

Gang-ho.

Sial.

Baru kali ini, ini tak terpakai.

Padahal dia tangkapan besar.

Hei.

Kim Min-seok. Apa yang terjadi?

Kenapa dia pergi? Dia pelakunya.

Kenapa kau tak pulang? Kau menyebalkan.

Semuanya sudah kukerjakan. Tinggal kau bereskan.

Untuk apa menangkap, lalu mengacau begini?

Aku tak sempat merekam.

Kau serius?

- Kau pikir aku ingin mengacau? - Memang kau mengacau.

Coba introspeksi.

Kau tak pernah mendengarkan ucapan kami di TV.

Semua sudah kukerjakan, tapi malah kau gagalkan.

Pikirmu kenapa aku turun tangan dan mencoba menangkapnya sendiri?

Kau bicara seakan-akan rasa tanggung jawabmu besar.

Padahal itu cuma demi rating.

Rating cuma bonus.

Tujuan utamaku menciptakan masyarakat yang adil.

Serahkan kepada kami. Itu tugas kami.

Kau fokus pada rating saja.

Padahal katamu kau berutang kepadaku di depan Badan Forensik.

Di dokumennya tertulis dua sidik jari misterius

dari kedua kasusnya cocok, 'kan?

Cocokkan saja dengan sidik jari Direktur Kim.

Jika sidik jarinya cocok, dia takkan dibebaskan.

- Apa? - Sudah paham?

Kami harus menyelidiki dari awal lagi.

Kau berisik sekali.

Apa? Sungguh?

Kenapa?

Acara apa yang dia sutradarai hingga tahu banyak soal kasus itu?

Entahlah. Bom Fakta atau semacam itu.

Pantas saja dia mengomel terus seperti mengebom kita.

Omong-omong, Komandan ingin bertemu di kantor Pak Kapol.

Bagaimana nasibmu, ya?

Apa?

Skors tiga bulan?

Untuk hal semacam ini?

Seharusnya kau bersyukur.

Dia berniat menuntut dan memintamu dipecat, hampir saja gagal kubujuk.

Suruh dia menuntutku.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left