The first 200 lines.
PROGRAM BERIKUT MENUNJUKKAN KEJADIAN HIDUP DAN MATI PERISTIWA 11 SEPTEMBER
PEMIRSA DIHARAP BIJAK DENGAN ADEGAN PENDERITAAN DAN TRAUMA YANG INTENS
Astaga! Itu dia!
Astaga!
Astaga!
-Astaga! -Astaga!
-Ya, ampun! -Astaga.
Kini menuju menara kedua.
-Tapi dengar, kau bisa merasakannya? -Aku bisa rasakan dan mendengarnya.
Astaga!
Itu terbang!
-Astaga! Kurang ajar! -Menara kedua roboh!
Menara kedua roboh!
Sudah kuduga, Bung!
Pada tanggal 11 September, saya bangun siang.
Saya tertidur nyenyak sampai Senin.
Saya tinggal di sisi barat Manhattan dan mengalami masa sulit.
Saya minum-minum, dan bertingkah dengan cara yang berbeda.
Merasa sangat depresi. Selalu tidur.
New York bukan tempat yang mudah untuk hidup sendirian,
mencari tempat, atau bahkan mencari jati diri,
karena itu kota yang sangat sibuk dan impersonal.
Lalu, saya menyalakan televisi dan melihat apa yang terjadi.
Pesawat-pesawat itu menabrak menara.
Sejujurnya,
saya kurang merasa terhubung dengan kota ini.
Saya tak terhubung dengan apa pun.
Itu benar-benar...
Saya tak sepenuhnya mengerti apa yang saya lihat di televisi.
Saya belum terlalu memikirkannya.
Namun, saya mendengarkan pesan suara yang masuk.
Dari Joy, saudari yang lama tak ada kabarnya.
Dia meninggalkan pesan di kotak suara saya.
Pesannya berbunyi,
"Kuharap kau baik-baik saja.
kau mungkin membantu di sana."
Saya pun membatin,
"Dia pikir aku membantu di luar sana. Kenapa dia berpikir begitu?"
Saya sama sekali tak terpikirkan berada di luar sana untuk membantu.
Untuk apa saya membantu di sana?
Saya seorang mantan paramedis
yang berusaha pulih dari narkoba dan pengaruh alkohol,
dan dia berpikir saya di luar sana membantu.
Pada saat itu, saya tidak mau mengecewakannya.
Saya berpikir, "Mungkin aku harus ke luar sana dan membantu."
Niat saya adalah tidak menempatkan diri dalam bahaya apa pun.
Saya berniat mungkin akan pergi ke triase rumah sakit,
membantu membalut orang-orang, memberi mereka air.
Hal-hal seperti itu.
Saya cuma ingin menelepon saudari saya,
yang lama tak ada kabar, dan bilang, "Hei, coba tebak? Aku di sini membantu."
Cuma itu motivasi saya.
EPISODE 6 SEMUANYA HANCUR, NAK
Saya tahu bahwa saya harus merespons.
Saya baru keluar dari Korps Marinir, pada awal Agustus.
Saya bertugas selama delapan tahun.
Saya merasa terdorong. dan merasa wajib untuk merespons.
Saya sudah menjalani pelatihan.
Saya ingat seragam militer saya berada di bagasi mobil.
Saat itu saya baru pindah rumah,
dan semua peralatan militer saya tinggalkan di dalam bagasi mobil.
Saya segera bergegas menuju mobil dan mengeluarkan seragam,
kemudian langsung menuju lokasi jatuhnya pesawat.
Saya terus menuju ke Trade Center
lalu bergabung dengan para damkar dan mencari di bawah reruntuhan.
Kami menggali tumpukan reruntuhan, berusaha mencari orang,
dan kami pun mendapat sinyal dari Seven World Trade Center
bahwa gedung itu benar-benar terbakar.
Mereka merasa gedung tersebut akan runtuh saat proses penggalian.
Kami berada di atas tumpukan dan mereka membunyikan peluit,
"Semuanya turun dari reruntuhan."
Kami pun bergegas turun dari reruntuhan.
Kami melihat kembali ke atas gedung,
bila mereka memberikan tanda aman, kami kembali ke reruntuhan.
Kami terus menggali, setengah jam kemudian,
mereka meniup peluit, "Semuanya turun dari reruntuhan!"
Kami masih belum mendengar kabar.
Gedung nomor tujuh terbakar dan terancam akan runtuh di World Trade Center.
Kedua menara tersebut sudah tidak ada. Yang tersisa hanya puing
Namun, gedung nomor tujuh masih terbakar.
Jadi, masalah belum berakhir dari kompleks itu.
Delapan jam setelah pesawat pertama jatuh...
Saat itu yang kami pikirkan kami harus menemukan para korban,
dan waktu adalah yang terpenting.
Kami harus segera menemukan orang-orang ini.
Gedung ini sudah tak terselamatkan.
Kami menyuruh semua unit mundur.
Kami cemas temboknya akan ambruk.
Kami semua duduk di sana menonton,
dan gedung itu pun runtuh.
Langsung ke tumpukan.
Ada petugas damkar di sana yang tahu
ada orang-orang yang mereka sayangi terjebak di sana.
Saya bisa melihat perasaan mendesak untuk menemukan orang-orang itu,
bisa menemukan saudara mereka,
bisa menemukan putra, ayah, atau istri mereka.
Mereka masih belum menyerah mencari mereka.
Lewat sana.
Saya berdiri di seberang World Trade Center.
Semua orang berusaha menyusun rencana
tentang cara melakukan pencarian dan penyelamatan.
Saya tahu kami harus bertindak.
Saya bisa membayangkan terjebak di sana
dan tak mampu menolong diri sendiri.
serta tak ada yang datang menyelamatkan saya.
Saya bertemu Marinir lain.
Dia juga memakai seragamnya dan memperkenalkan diri.
Saya tahu bahwa saat itu bahwa dia akan melewati ini bersama saya.
Kami mulai merangkak di reruntuhan,
dan itu sangat panas.
Sepatu bot saya bisa terbenam ke besi beton karena sangat panas.
Saya ingat saat itu menoleh dan mendongak ke atas
melihat seorang petugas damkar,
dia berseru dan menyuruh kami, "Kembali! Turun dari tumpukan puing."
Saya ingat berseru dan berkata,
"Kami Marinir. Kami tidak mundur, tapi maju terus."
Saya yakin jika kami terus melangkah maju, menggali, dan mencari,
kami pasti akan menemukan seseorang.
Pikirkan mimpi terburuk yang Anda alami dan kalikan dengan satu juta.
WILL JIMENO PETUGAS OTORITAS PELABUHAN
Kami mendapati diri kami kami terkubur hidup-hidup.
Semuanya serba hitam.
Bisa dibilang saya seperti berada di gua hitam,
dan saya tak bisa melihat apa pun.
Lalu, tiba-tiba, sekitar sembilan meter di atas saya,
ada lubang dan cahaya mulai masuk melalui lubang kecil ini.
Itu lingkungan yang sangat berdebu.
Saat akhirnya saya bisa melihat, saya melihat diri saya
dengan dinding beton di atas saya.
Saat itu rasa sakitnya mulai terasa.
Saya sangat kesakitan.
Rekan polisi saya, Dominick,
terkubur di sebelah kiri saya, dalam puing-puing,
dan pemimpin tim kami, Sersan McLoughlin,
dia berada sekitar 4,5 meter dari kaki saya.
Sersan McLoughlin yang profesional berkata, "Bagaimana kondisi semua orang?"
Saya membalas, "Aku tidak bisa bergerak. Aku terjepit dan benar-benar terimpit."
Dominic bilang, "Sepertinya aku bisa keluar dari sini."
Tidak ada banyak celah, ada beton tepat di atas saya.
Tidak ada banyak celah.
Namun, dia bisa meliuk keluar dan merangkak di atas wajah saya,
ke celah yang sangat kecil di sebelah kanan saya.
Pada saat itu, dia mulai mencoba
mengeluarkan saya dari kepompong beton ini.
Dia berusaha mengeluarkan saya sekitar 10 mungkin 20 menit,
dan saat itulah kami mendengar ledakan yang sangat besar.
Seperti gempa bumi yang membuat segala sesuatu di sekitar saya bergetar.
Puing-puing terus berjatuhan ke arah kami dan saya terus terkena reruntuhan.
Saya hanya membatin, "Aku tidak akan selamat."
Sesuatu yang selalu saya lakukan pada istri saya, Alison,
dan putri saya, Bianca,
adalah mengatakan "Aku mencintaimu" dalam bahasa isyarat.
"Aku mencintaimu."
Saya hanya bisa mengangkat tangan,
membuat tanda "Aku mencintaimu" dan menyilangkannya di dada,
karena saya mengira akan mati,
dan jika mereka menemukan saya, mereka bisa memberi tahu Alison
bahwa seperti itulah saya akan ditemukan,
dan Alison akan tahu bahwa di saat-saat terakhir saya,
saya memikirkan keluarga saya.
Saat itu saya memandang sekilas
dan melihat sesuatu datang melalui lubang di atas kami,
dan menghantam Dominick dengan keras.
Lalu, reruntuhannya terhenti.
Semuanya menjadi jelas lagi.
Saat itu saya bisa mendengar Sersan McLoughlin meneriaki kami,
saya pun berseru lebih keras.
Lalu, saya menoleh dan melihat Dominic, dia mengalami pendarahan hebat.
Dominick bilang, "Willie, aku terluka parah."
Aku bilang, "Bertahanlah" Aku terus memberinya semangat.
Kami bicara sebentar dan dia bilang, "Sersan, aku minta izin tiga-delapan?"
Artinya istirahat.
Dia membuat lelucon di tengah-tengah itu.
Sersan McLoughlin berhenti berseru dan berkata,
"Ya, kau boleh lakukan tiga-delapan."
Aku bilang, "Dom, bertahanlah." Dia membalas, "Willie, aku sekarat."
Katanya, "Jangan lupa, aku mati berusaha menyelamatkan kalian."
Saya bilang, "Dominick, takkan kubiarkan siapa pun melupakan ini."
Saat itu, dia mengeluarkan pistol
dan mengarahkannya ke lubang tempat cahaya masuk tadi,
dia menembakkan satu peluru dalam upaya terakhir
untuk memberi tahu seseorang bahwa kami ada di sana.
Lalu, dia meninggal tepat di depan mata saya.
-Akhirnya. -Akhirnya.
-Baik, Semuanya. -Mundur.
Semua orang menunggu.
Hari pun sudah mulai gelap.
Tak ada yang mencari di reruntuhan
karena mereka menganggap terlalu berbahaya untuk lakukan pencarian.
Saya berada tepat di tepi reruntuhan, dan melihat ke arah sana,
ada beberapa orang mencari.
Namun, Anda bisa melihat ke bawah di retakan reruntuhan
dan melihat api muncul.
Saya sangat takut api.
Saya sangat takut dengan asap.
Saya sangat takut ketinggian.
Saya tak berencana merangkak di reruntuhan untuk menyelamatkan orang.
Rencana saya adalah bisa menelepon Joy, saudari saya,
dan memberi tahu dia bahwa saya turut membantu.
Saya ingat mengambil langkah pertama ke reruntuhan.
No comments yet. Be the first to leave one.