The first 200 lines.
"Pekan lalu"
"Hari keempat ekspedisi"
Sampai kapan kita akan beristirahat?
"Semua merasa lelah"
"Begitu pula para staf"
"Tapi masalah yang lebih besar adalah"
"Produsernya juga kelelahan"
"Bisakah tim pendukung mengirimkan mobil untuk kami?"
"Pasir di area bukit pasir sangat halus"
"Karenanya, mobil tidak bisa masuk"
"Lokasi kami saat ini"
"Ada di tengah bukit pasir tanpa akhir"
"Matahari terasa makin panas"
"Dan suhunya terus meninggi"
"Kurasa kita harus mengirim tim utama pergi lebih dahulu"
"Suhunya hanya akan makin panas"
"Produser membuat pilihan untuk mayoritas timnya"
"Tim ekspedisi akhirnya meninggalkan produsernya"
"Hari Keempat, Bukit Pasir Gula, Wusta"
Ayo berangkat.
"Dia berusaha menyemangati timnya"
Kita akan dapat masalah jika terus menunda waktu.
"Mereka mengambil langkah terakhir menuju ekspedisinya"
"Mari berharap kita akan segera bertemu"
"Mereka memasuki lautan pasir putih tanpa akhir"
"Bagaimanapun, mengeksplorasi gurun adalah hal sederhana"
"Jika kamu terus berjalan melewati bukit pasir"
"Dan berusaha keras mendaki bukit-bukitnya"
"Merasa lelah"
"Kemudian kamu akan menemukan 100 bukit lagi"
Bagus sekali. Rasanya menjadi lebih mudah saat ada di puncaknya.
Bagus.
Tidak ada akhirnya.
Ini tidak akan pernah berakhir.
Ini tidak masuk akal.
Intinya adalah menahannya. Aku tahu ini melelahkan.
"Ini tempat yang tepat untuk tersesat"
Aku tidak bisa melihat lautnya.
"Dia hampir menangis"
Aku tidak bisa melihat lautnya.
"Monster sunyi yang terus mengisap langkah kaki mereka"
"Sudut pandang Kapten Ji"
Kita tidak bisa berhenti, bukan? - Tentu saja tidak bisa.
Kita harus terus berjalan.
Aku tidak peduli soal syuting. Aku hanya fokus menyelesaikan ini.
Ini pertarungan melawan diriku sendiri.
"Bahkan setelah mendaki banyak sekali bukit"
"Entah kenapa mereka seperti terjebak di tempat yang sama"
"Putus asa"
Ini tidak masuk akal.
Sulit kupercaya.
Ini hanya membuatku tertawa.
Apakah aku menjadi gila?
Ini sungguh tidak masuk akal hingga membuatku tertawa.
Sulit kupercaya ada tempat seperti ini.
"Ada bukit pasir yang lebih tinggi di balik bukit lain di depan sana"
Astaga, bukit yang itu tinggi sekali.
Haruskah kita paksakan saja?
Tidak, mari kita jalan memutar. Bisakah kalian lewati yang ini?
Ayo. - Tidak masalah.
Mari kita teruskan. Ayo.
Teruslah berjalan lurus. - Sungguh?
Ayo.
"Dia terjatuh"
"Apakah dia langsung masuk ke tanah?"
"Dia menarik tas Sae Ho"
"Menyeret"
Aku berat. Rasanya sulit berdiri karena gravitasi.
"Sementara itu, Jung Nam"
Aku tidak bisa gunakan kaki dan tanganku.
"Mulai berjalan merangkak'
Akan lebih baik jika menggunakan kedua tangan dan kakiku.
Ini bagus sekali. - Akan lebih baik jika begini.
"Merangkak"
Ini jauh lebih baik.
Astaga, merangkak lebih baik. - Ya, benar.
Aku bisa melihat lautnya. - Sungguh?
Ya.
"Sungguh?"
Sungguh? - Di sana.
Kamu bisa melihatnya? Ada di sana.
Aku bisa melihatnya. - Begitu juga aku.
"Mereka melihat warna biru"
Sungguh? - Di sana.
Kamu melihatnya? Ada di sana.
Aku bisa melihat lautnya!
"Aku bisa melihat lautnya!"
"Mereka bisa melihat Laut Arab"
Sungguh? - Lihatlah di sana.
Kamu melihatnya? Ada di sana.
"Dia berlari"
Astaga, ada apa dengannya?
Apa yang dia lakukan? - Entahlah.
"Dia ingin bertanya, tapi Jin Hee sudah terlalu jauh"
"Antusias"
"Dia merasa senang"
Aku bisa melihat lautnya.
Kita hampir tiba.
Kita hanya perlu berjalan sedikit lagi.
Bagian di sana itu adalah tempat teduh.
Jadi, akan lebih sejuk jika mencapai area itu.
"Tepat pada waktunya, area sejuk ada di dekat mereka"
Ayo, Jung Nam.
"Mari ke laut itu"
Ayo. - Ayo.
Aku melihat harapan.
Ini bagus. - Jalan perlahan dan stabil. Bagus.
Kita hampir tiba. Itu lautnya.
Kita hampir tiba.
"Laut selalu muncul tiba-tiba"
Luar biasa.
Itulah yang kita lalui tadi.
"Perjalanannya terlihat tanpa akhir, tapi mereka berjalan begitu jauh"
Aturlah napas kalian.
Aku melihat harapan sekarang. - Sulit kupercaya lautnya terlihat.
Kini kamu merasa lebih baik? - Ya.
Rasanya jauh lebih baik setelah bisa melihat lautan.
Apakah lebih baik? - Ayo.
Ya, lebih baik. Kita sudah melewati bagian tersulit.
Inilah yang terakhir. - Bagus.
Aku bisa merasakan angin yang berasal dari lautnya.
"Dia menyalakan perekamnya"
Kami sudah makin dekat dengan target.
"Rekaman Sae Ho. Kami sudah makin dekat dengan target"
Sungguh, di manakah tempat yang begitu sulit kami tuju?
Aku harus tiba di sana untuk memeriksa
serta melihat seperti apa tempatnya.
Astaga, kakiku.
Setiap langkah menyakiti kakiku.
"Penyakit kronisnya mulai terasa lagi"
Jangan terburu-buru.
Astaga, indah sekali.
Haruskah kita beristirahat?
Baiklah.
Jagalah Jung Nam. - Baiklah.
Untuk ketenaran dan kekayaan Aku sungguh melakukan ini?
Seperti apa akhir dari semua ini?
"Aku setuju"
Kenapa kamu banyak mengeluh? Kita hampir tiba.
Aku baik-baik saja.
Aku baik-baik saja.
"Tentu kamu baik-baik saja"
Kamu mau air? - Ya, akan kuminum dengan ini.
"Mereka begitu akrab di masa seperti ini"
"Selagi mereka berhenti untuk meminum air"
Lihatlah unta di sana itu.
Dia naik ke unta itu. - Itu terlihat sangat nyaman.
Siapa itu?
Siapa itu?
"Seseorang mengikuti langkah para tim ekspedisi"
"Siapa itu?"
Itu sutradara kita.
"Yoo Ho Jin, usia 39 tahun, produser utama acara ini"
"Apa yang kamu lakukan di sana?"
Astaga, - Hei.
kamu sangat egois.
"Ayo. Ke arah sana"
"Menyedihkan"
Dia sulit kupercaya.
Lihatlah dia.
Dia bahkan memakai topi seperti E.T.
"30 menit lalu, dia memutuskan mengirimkan tim ekspedisi"
"Karenanya, akhirnya dia tertinggal sendiri"
"Di tengah Bukit Pasir Guna, yang bahkan tidak bisa dimasuki mobil"
"Satu-satunya jalan keluar adalah berjalan begitu matahari terbenam"
"Tapi saat dia sudah menyerah untuk rekaman"
"Sekelompok unta tiba-tiba muncul di hadapannya"
Katakan pada mereka aku akan mengikuti mereka dengan unta.
"Bagaimana hal ini terjadi?"
"Karena para unta juga beristirahat di setiap area teduh"
Aku bisa mendengarmu, ganti.
Aku bertemu sekelompok unta, jadi, aku akan naik unta untuk ke sana.
"Kurasa ini bisa disebut keajaiban"
Dia lucu sekali.
Lihatlah untanya.
Dia sungguh pencuri perhatian.
Hati-hatilah jika turun nanti. - Baiklah.
"Ini adegan yang tidak boleh dilewatkan siapa pun"
Tinggi sekali.
Hati-hati.
"Bantulah aku turun"
"Saatnya berpamitan dengan untanya"
Pakailah sepatumu. - Terima kasih.
Baiklah.
"Dia mengalami sengatan panas dan mabuk perjalanan"
Baiklah.
Ayo. - Mari kita mulai.
Hanya tersisa 1 km lagi.
Aku bisa berjalan 1 km.
Baiklah, mari tetap fokus.
Kini kita sudah lebih dekat ke lautan.
Lautnya begitu dekat. - Aku bisa melihatnya.
"Kini setelah mereka ada di puncak bukit pasirnya"
Kita hampir tiba. - Astaga.
Sisa gurunnya tidak banyak. - Itu lautnya!
Itu lautnya.
Astaga.
"Luar biasa"
"Tersentuh"
Kemarilah, Jung Nam.
No comments yet. Be the first to leave one.