The first 200 lines.
Karakter, karakternya...
Namanya YJ.
Pekerjaan...aktor.
Posturnya tinggi.
Wajahnya...
Lumayan.
Kepribadiannya...
Sudah kuduga akan seperti ini...
Bagaimana bisa kau sebodoh itu?
Kau tahu, otakmu itu sama saja dengan otak burung.
Dia kasar dan berlagak seperti pangeran.
Hobi...
Semuanya harus sudah bersih saat aku pulang.
Kalau mau pergi, bereskan dulu semuanya.
Mencaci, terutama meneriaki orang.
Apa kau bodoh?
Jangan masak untukku lagi. Aku tak butuh.
Keluarganya...
Ayah, Ibu dan Nenek.
Dan...
Ini makanan apa?
Rasanya campur-campur.
- Berikan padaku - Tak mau.
Suami yang baik.
Mau pergi?
Ya.
Kau makan malam dirumah, kan?
Lihat nanti saja.
Kenapa banyak tanya? Cerewet.
Cerewet apanya? Aku takut saja makanannya terbuang.
Aku pergi dulu.
Sudah jam berapa ini?
Jangan minum ini.
Tolong minuman hangatnya.
- Aku tak mau. - Dengarkan aku.
Bagaimana kalau kau sakit lagi?
Apa itu?
Kerjaannya si Ji-eun.
Oh begitu.
Ini.
Kau menemukannya?
Begitulah.
Ini karena Ji-eun.
Kenapa dengan dia?
Dia orangnya baik...
Walaupun sering melakukan hal-hal bodoh.
Begitulah Han Ji-eun.
Dasar bodoh.
Karena itulah aku tak suka dia.
Biasanya kau selalu peduli denganku.
Tapi sekarang...
Sudah ada dia.
Dan karena dia sudah jadi istrimu.
Aneh, kan?
Sejak aku menyukai Min-hyuk.
Aku malah menjauh darimu.
Hye-won.
Sebelum kau yang memintanya,
aku takkan meninggalkanmu.
Aku sudah coba,
tapi tetap tak bisa.
Aku tak bisa pergi,
sebelum kau yang memintanya.
Setidaknya dia telpon aku.
Sudah pulang?
Baru makan?
Aku menunggumu.
Setidaknya kau telpon aku.
Kau sudah makan?
Sudah.
- Makan apa? - Nasi campur.
Sayur, kimchi, daging, semuanya dicampur.
Makanan apa itu?
- Seperti makanan anjing saja? - Makanan anjing?
Kenapa bisa kau makan itu?
Kenapa tidak kau coba saja?
Aku tak mau.
Sesendok saja. Coba dulu.
Tidak!
Cincinnya! Sudah ketemu?
Ya.
Dimana?
Hye-won yang menemukannya.
Kenapa dia bilang tak tahu waktu itu?
Dia mau memakainya, kan?
Kenapa bisa dia begitu?
Pura-pura tak tahu. Dasar aneh.
Apa?
Jangan bicara begitu tentang dia.
Dia temanku.
Aku tak kekantor tapi pergi bertemu Hye-won.
Bertemu Hye-won? Kenapa pakai bohong segala?
Itu karena aku kelepasan saja.
Aku juga tak mau bohong padamu.
Jadi, jangan bahas ini lagi.
Kita sudah sepakat saling menjaga privasi, kan?
Siapa yang ikut campur urusanmu?
Aku cuma takut masakanku terbuang.
Aku tak peduli kau dengan siapa, atau apalah.
Jadi berbuatlah sesukamu.
Buang saja.
- Hee-jin, itu dia. - Itu dia?
Kenapa kau?
Aku kenapa? Pura-pura tak tahu?
Apa?
Ji-eun, terima kasih.
- Sampai jumpa! - Jaga diri ya.
Semoga kalian hidup bahagia. Dah!
Tunggu, buka pintunya!
Buka pintunya.
Tak mungkin.
Sedang apa kau?
Kerja.
Aku pergi dulu.
Hei...
Mulai sekarang, kalau mau pergi tak usah bilang padaku lagi.
Apa?
Pergilah.
Menantu...
Bagaimana kalau kita pergi ke museum?
Memang enak kesana?
Tentu saja.
Apa kita ajak saja "Si Beruang"?
- Tapi... - Apa?
Namanya kan Ji-eun bukan "Si Beruang".
Pasti dia tak suka dipanggil begitu.
Siapa yang peduli?
Jangan begitu padanya.
Apa?
Ji-eun mengingatkanku dengan Young-hyun. Menyedihkan sekali.
Kenapa bicarakan orang yang sudah tak ada?
Jangan begini di depan suamimu.
Tentu saja tidak.
Lukisan apa ini?
Katanya, bulu.
Bulu?
Jelaskan padaku.
Karena burung itu punya bulu...
Bukannya itu ayam. Lihatlah.
Halo Nyonya.
Astaga, Kim Kyo-soo.
- Ibu disini juga. - Halo.
- Beli lukisan? - Cuma lihat-lihat.
- Ibumu sehat-sehat saja? - Ya, alhamdulilah.
Ini siapa?
Menantu kami.
Baru saja menikah?
Senang bertemu denganmu. Aku Han Ji-eun.
Dia cantik sekali. Kalian beruntung sekali.
Ya, tentu.
Permisi. Sampai jumpa.
Bagus.
Halo!
Kau yang jual rumah itu, kan?
Kau kan temannya?
Kau hanya memanfaatkan kebaikan Ji-eun padamu.
Kalau begitu lagi, akan kuhajar kau.
Orang sepertimu harusnya dipenjara.
Kau menangis?
Hee-jin tak tahu apa-apa.
Tapi karena dia sangat mencintaiku,
dia berusaha keras demi aku.
Kau tak perlu menangis. Jangan menangis.
Hyung, maafkan aku.
Aku memang salah.
Jangan tarik celanaku.
Bos mencarimu.
Oke.
Minggir!
Kau sudah siap dengan jumpa persnya?
Kuharap semuanya lancar.
Ya.
Istrimu datang juga, kan?
Dulu aku jarang sekali makan.
Setiap orang harus makan.
Tapi sejak aku dengan pria itu...
Maksudku, suamiku itu. Aku jadi sering memasak.
Waktu masih lajang, kau liburan kemana saja?
Liburan, aku pergi kerumah temanku.
Rumah teman?
Temanku, Dong-wook. Dia tinggal dengan Neneknya.
Waktu liburan pasti dia mengajakku kesana.
Mereka benar-benar baik hati.
Lalu Ibunya meninggal, dan aku mulai kesal dengan si Dong-wook...
Setelah itu, setiap liburan kami cuma main kartu.
Aku masih ingat.
- Kau bisa main "Go-Stop"? - Tentu saja!
Kalau tak ada, pakai yang ini.
Orang pakai payung.
Kuturunkan yang ini.
Aku tak ada.
Segitu saja?
Ah, aku kalah.
Terhimpit!
Terhimpit?
Maaf Bu, tapi aku masih ada.
Go-stop memang sulit ditebak.
Coba yang itu!
Kita urus saja urusan masing-masing.
Kau pasti lelah sekali hari ini.
No comments yet. Be the first to leave one.