The first 200 lines.
PARIS, I LOVE YOU
Romantika di Sebuah Lingkungan Kecil...
Tapi akhirnya mereka menikah.
Maksud ku setiap kata yg ku ucapkan di Louvre pagi ini.
Bersepeda? Kemana dia akan bersepeda?
Kau mau pergi?
Sial..
Semuanya penuh.
Daerah jelek, radio jelek.
Beri aku waktu sebentar, brengsek!
Pindah, kau sialan!
Sudah siap?
Gila.
Tidak. Wajah sebodoh itu.
Aku baru saja disini, seperti...
Sial, tak ada wanita lajang.
Tak satu pun. Tragis sekali.
Apa yg salah dengan ku?
Aku tampan, gagah.
Aku punya mobil lumayan. Masih bisa dipakai
Meskipun satu wiper-nya rusak, hanya satu airbag yang berfungsi.
Penghasilanku cukup lumayan., Selera humorku juga lumayan....
Aku bisa menertawakan apa saja.
Termasuk diriku sendiri.
Tapi aku kesepian di dunia ini.
Apa yang terjadi?
Kau dengar aku?
Jangan sentuh dia./ Aku dokter. Jangan kau angkat dia.
Biarkan istrimu tetap berbaring. Biarkan lehernya.
la tak apa-apa. Hati-hati lehernya.
Biarkan ia berdiri.
Kita perlu memanggil ambulans?
la tak apa-apa. Hanya kurang gula. la harus makan wortel.
Wortel atau bit. la harus makan gula.
Kau harus berbaring di mobilku dan kau akan merasa lebih baik.
Hati-hati lehernya.
Berhentilah memperingatkan tentang lehernya. Aku mulai kesal dibuatnya.
- Bisa kau tangani sendiri? - Ya, terima kasih.
Maaf. Aku tak punya apa-apa untukmu.
Aku bukan pria seperti itu, yang pergi membawa sekotak tisu.
- Terima kasih. - Sama-sama.
- Kau tetap tenang. - Ya. Aku lulus ujian P3K.
Kalau kau tetap tak sadarkan diri, aku akan meletakkanmu di posisi PBA.
- Apa itu? - Posisi Baring yang Aman.
Aku akan membaringkan tubuhmu...
- Kau bisa matikan musiknya? - Baiklah.
Tanganmu yang memegangi leherku cukup menolongku.
Menolongku juga.
Jika kita memikirkan lumba-lumba, maksudku lumba-lumba yang terdampar.
Mereka menyiraminya dengan air. Tapi tak ada gunanya.
Mereka mati dikelilingi orang yang tak mereka kenal.
- Siapa bilang itu tak ada gunanya? - Kau benar juga.
- Omong-omong, sepatumu bagus. - Sepatu Clarks ini?/- Ya.
Aku sudah memakainya sejak umurku 14 tahun.
- Sungguh? - Tapi tak selalu kupakai.
Tidak.
- Aku ada janji dengan tabakolog. - Taba... apa?/- Tabakolog.
- Sekarang?/- Ya, sekarang. - Aku bisa mengantarmu ke sana.
Kau tak tahu tempatnya. Mungkin di sana macet.
Tak masalah. Aku coba menyelinap di antara mobil-mobil.
- Aku tak lama di sana. - Aku akan menunggumu.
- Tunjukkan celana dalammu. - Tunjukkan bokongmu.
Nona, boleh pinjam celana dalammu? Aku kehabisan benang gigi.
Lihat cewek Thailand itu.
Nona, kalau kutraktir minum teh, aku boleh merabamu?
- Tak berhasil. - Diam. Lagipula payudaranya kecil.
Ya, tentu saja.
Diamlah. Nasibku lebih baik dari nasib kalian berdua.
- Aku yang berhasil menggaet wanita. - Dan kau jelek.
- Tunjukkan bagaimana rayuanmu. - Lihat cara kerja sang ahli.
Halo, Nona-nona. Kalian lezat sekali.
Kau tahu? Kalau kau sudah mulai bercukur, beritahu aku.
- Dasar pecundang. - Telak sekali.
Dengar, bukan aku yang tak berhasil menggaetwanita selama sebulan.
Kau lihat gadis itu?
- Apa yang ia lakukan? - la menolongnya.
- Kau baik-baik saja? - Bodohnya.
Terima kasih.
- Aku tak apa-apa. - Maaf./- Tak apa.
- Bisa kubantu? - Boleh.
Maaf.
Aku tak tahu caranya.
Harusnya dipakai di sini?
- Bagaimana penampilanku? - Aku tunjukkan padamu.
Senyum.
Kau kini punya cara baru untuk merayu wanita.
Aku tak suka melakukannya. Teman-temanku hanya bercanda.
- Mereka payah. - Ya.
Rambutmu indah. Kenapa harus disembunyikan?
Tak ada paksaan. ltu pilihanku.
Sayang sekali. Karena kau cantik sekali.
Terima kasih, bukankah itu artinya kalau memakai kerudung aku jelek?
Bukan begitu maksudku.
Kau dan teman-temanmu senang menghina wanita.
Kenapa bicara seperti itu, meski kau tahu mereka tak suka?
Cantik adalah berkah bagiku.
Kalau aku memakai kerudung, aku merasa punya iman.
Sebuah jati diri. Aku merasa nyaman.
Dan itu juga cantik.
Jelaskan itu pada teman-temanmu dan mungkin suatu hari nanti...
...mereka bisa dapat kencan.
- Aku harus pergi. - Ke mana?/- Ke mesjid.
Kau bisa berikan tasku? Terima kasih.
- Dan terima kasih sudah menolongku. - Sama-sama.
- Kau gila? - Apa?
Kau gila? Jika kau sentuh dia, Osama akan menghajarmu. Serius.
- Nona! - Jangan mencari. Aku ada di sini.
Nona, kau terlambat. Aku sudah menunggumu sejam.
Aku tak mengerti. Kita dua pria yang tampan.
Kita pergi sekarang?
- Kakek, ini pria yang menolongku. - Halo.
Aku tak menduga kau datang.
- Francois. - Aku Zarka.
- Bagaimana tanganmu? - Baik.
- Kau baik sekali sudah menolongnya. - ltu biasa saja.
Kami akan pergi ke arah sini. Kau mau ikut kami?
- Kau pelajar? - Ya. Bidang ilmuku sejarah.
Bagus sekali, Nak. Mengetahui sejarahmu sangat penting.
Zarka ingin menjadi wartawan. Wartawan internasional.
la ingin menulis tentang Perancis. Tapi Perancis dari sudut pandangnya.
- Insya Allah - Insya Allah/- Insya Allah
Halo./ Elie, bisa bawakan kami dua gelas anggur?
Tunjukkan padaku.
Bagus./ Kami perlu warna yang tepat. Warna seperti ini.
Warna merah sangat penting. Warnanya harus sama.
Baiklah./ Warnanya merah darah.
Tapi entahlah apakah ini warna darah.
Kita memakai darah, Gaspard?
Kurasa kita memakai cat mobil.
lkutlah aku ke belakang.
Kita sudah pernah bertemu?
Sepertinya kita pernah berpapasan di jalan.
Di mana kau tinggal? Aku tinggal di Blok 17.
Kau orang yang pendiam, ya?
Aku tak tahu pasti, tapi aku merasa pernah melihatmu.
Kau pria yang misterius.
Ada sesuatu yang istimewa darimu.
Kau percaya pada roh?
Aku suka sekali topik itu.
Mungkin kita kenal di waktu yang lain, di masa yang lain.
Kau punya korek?/ Korek?
Terima kasih.
Aneh, tapi waktu melihatmu aku merasa ingin bicara denganmu.
Seakan-akan, entahlah. Perasaan yang kuat.
Aneh. Aku merasa jika aku tak bicara denganmu sebelum pergi...
...aku akan menyesal. Tempat kerjamu bagus.
Aku tak ingin kehilangan kesempatan untuk bicara denganmu, karena...
Konyol, tapi aku tak mau melewatkannya. Jadi...
Aku boleh duduk?/ Silakan.
Kau percaya pada jodoh? Belahanjiwa?
Charlie Parker. Dan Kurt Cobain? Aku suka sekali Kurt Cobain.
ltu tak penting. Aku berikan saja nomorteleponku.
Aku ingin mengobrol denganmu. Kalau kau mau meneleponku.
Mengobrol lebih serius, dan yang penting, mengobrol lebih panjang.
Terima kasih.
Selesai./ Terima kasih.
Hati-hati di jalan./ Sampaijumpa.
Ada apa tadi?/ Entahlah, Christian. la memberiku ini.
Nomor teleponnya.
Aku tak tahu apa yang ia katakan. Bahasa Perancisku kurang lancar.
Ungkapannya lebih banyak dari yang kupelajari di buku.
Hubungi dia dan kau akan tahu.
Paris dikenal sebagai Kota Cahaya... Kota Kesenian...
Kota kuliner dan arsitektur indah. Paris adalah kota para pecinta.
Pecinta seni, pecinta sejarah, pecinta makanan, pecinta...cinta.
Distrik Pertama, pusat atraksi turis.
Place Vendome, Taman Tuileries, dan tentunya Museum Louvre.
Tempat lukisan Mona Lisa dan banyak mahakarya lainnya.
Metro Paris adalah kendaraan murah, cepat, cukup bersih dan aman.
Tapi hati-hati dengan pencopet.
Yang penting, hindari kontak mata.
Apa yang kau lihat, brengsek?
Apa yang kau lihat, brengsek?/ Sudahlah.
Aku bicara denganmu! Apa yang kau lihat, brengsek?
''Apa yang kau lihat, brengsek?''
Aku bicara denganmu, bodoh. Kau suka gadisku?
Kau mau tidur dengannya? ltu maumu? Kau suka dia?
Lihat dia. Lihat si bodoh itu.
Apa maumu? Kau mau tidur dengannya?
Jangan macam-macam denganku! Kau suka dia?
Lihat. Si bodoh itu mengejekku!
Apa yang kau lakukan? Kau sudah gila?
Turis pria di Paris harus hati-hati. Banyak tentara AS sakit saat PD ll.
Lakukan tindak pencegahan. Apotik sangat mudah ditemukan.
Apa yang kau lakukan?
Apa yang kau lakukan?/ Aku melakukan yang kumau.
Kembalilah kemari.
Dasar pelacur!/ Memakai lidah!
Dasar pelacur! Aku sudah tak tahan lagi!
Lumayan, 'kan? Kau hebat. Kau pasti rajin olah raga.
Jadi... Kau suka Hot Jazz?
Apa yang kau lakukan dengan lidahmu?
Kau sudah selesai?
Ya, aku sudah selesai.
Kau sudah lebih senang?/ Ya.
Kau senang berkelahi?/ Tentu. Jika bersamamu.
Kau cinta padaku?/ Menurutmu bagaimana?
Kau lihat yang kulakukan padanya?/ Aku suka sekali!
Jangan menembak orang di mukanya. ltu tak sopan.
Anna, kaukah itu?/Ya.
No comments yet. Be the first to leave one.