The first 200 lines.
The Story of Minglan
Nyonya besar, kamu tidak tahu.
Pada saat saya melahirkan dia,
posisi janin miring dan susah dilahirkan.
Setelah sakit 3 hari,
nyawa bayi ini baru dapat ditolong.
Sekarang Tuan Gu,
membunuh dia begitu saja dengan sebuah pedang.
Saya tidak akan,
tidak akan bisa bertemu dia lagi.
Nyonya besar,
setengah tubuh saya sudah terkubur di dalam tanah kuning.
Saya sangat ingin,
ingin menggantikan dia mati.
Saya adalah orang yang tidak memiliki jodoh dengan anak.
Kamu lebih baik daripada aku.
3 anak saya, tidak ada satu pun yang dapat kupertahankan.
Kamu masih beruntung memiliki 2 anak,
Semua orang bilang anak adalah hutang di masa lalu.
Buddha mengatakan ada keinginan pasti ada kesedihan.
Anak sudah meninggal,
Kita masih harus tetap hidup.
Kamu,
Ketika masih gadis, kamu di rumah merupakan
anak yang tidak bisa berpikiran terbuka
Sudahlah, cepat berdiri.
Kita berdua wanita tua yang kesepian,
duduk bersama sambil mengobrol.
Silahkan berdiri.
Perlahan-lahan.
Nyonya tua sudah sangat lelah berbicara.
Anda cobalah ini.
Nyonya besar sendiri yang meracik
arak bunga persik.
Sudah merepotkan kasim.
Tuan Wang,
kenapa kamu masih berlutut?
Ayo berdiri.
Terima kasih Ibu Suri.
Coba lihat betapa beruntungnya kamu,
masih ada anak laki-laki.
Saya sama sekali tidak mempunyai anak lagi.
Kamu lebih beruntung daripada aku,
masih memiliki putra kandung.
Beruntung sekali!
Putra saya tidak hebat dalam belajar.
Bagaimana bisa dibandingkan dengan raja?
Raja adalah anak Tuhan.
Beliau yang memberikan kebahagiaan kepada rakyat.
Lihat lihat
Kenapa berlutut lagi?
Kita berdua wanita tua yang kesepian,
sudah melewati beberapa dinasti,
hanya bisa mengobrol hal yang tidak penting.
Sudah tua.
Masih kembali ke masalah anak-anak.
Dari istana sampai rakyat biasa,
ngomong sana sini,
juga masih berkaitan dengan masalah ini.
Ayo cepat berdiri.
Iya.
Iya.
Kamu tadi
membahas tentang Tuan Gu yang membunuh putrimu.
Saya juga melihat dia tumbuh dewasa,
Manusia, kecerdasan masih bagus,
hanya saja terlalu muda,
kurang berpengalaman.
Terlalu sembrono.
Sebenarnya tadi saya dengar
Perintah raja,
Dia juga menolaknya.
Dia hanya di rumah sambil menjaga anak.
Dia
Dia berani sekali,
Saya memotong berlebihan.
Nyonya besar juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Sumbu api harus dipotong jika sudah panjang.
Jika kamu sudah memotongnya,
api akan menyala lebih lama.
Antar tamu.
Tuan Wang, silahkan.
Ibu, sini.
Buatkan 2 mangkuk mi.
Bawakan 2 mangkuk mi.
Baik.
Nyonya tua, rebus mi.
Setiap masalah besar butuh kestabilan.
Masalah banyak dan makanan sedikit,
bukanlah simbol panjang umur.
Makan! Habis makan kita baru bahas masalah itu.
Ibu, Nyonya besar dia...
Kamu lihat lampu minyak ini.
Ayahmu sudah meninggal berpuluh tahun.
Tidak ada lagi yang memperhatikan ketika orang sudah meninggal.
Keluarga Wang kita seperti lampu ini,
segera padam.
Ibu ngomong apa sih?
Saya meskipun tidak berusaha keras,
membuat keluarga ayah kehilangan muka,
tetapi perubahan karir pejabat di istana.
Saya masih punya harga diri.
Kamu sendiri coba lihat lagi lampu ini.
Depan mata kita masih terang.
Tapi dalam sekejap,
Selain itu masih ada apa lagi?
Jikalau ayahmu masih ada di dunia ini,
Meskipun adikmu
memiliki sepuluh dosa.
Mereka yang bermarga Sheng dan Gu,
berani menampilkan ekspresi wajah mereka?
Saya bukan hanya melindungi adikmu,
Saya juga menjaga muka keluarga Wang.
Ibu, ini, tapi ini adalah...
Ayah saya berasal dari desa yang terpencil,
mempertaruhkan nyawa berjuang,
Keluarga Wang tidak mudah.
Sekarang,
Banyak yang menjadi pejabat dengan sedikit kekayaan.
Kenapa kita harus pergi ke tengah api untuk mengambil buah kastanye?
Orang tua sayang anak,
Mereka sudah mengatur semuanya demi masa depan anak.
Ayahmu dan saya dari tempat terpencil.
Demi kalian berusaha mendapatkan
sebuah tempat yang terang benderang.
Jadi meskipun kamu bukan seorang
anak yang bertalenta,
juga dapat berada di kawasan pejabat sampai hari ini.
Tetapi kamu demi anakmu,
telah memperjuangkan apa?
Ini ini.
Tuan bekerja keras mencari nafkah, tapi harta digunakan berfoya-foya oleh anak cucu.
Sekarang kamu merupakan Tuan Wang.
Masalah yang begini besar,
Kamu berpikir dengan teliti.
Ambillah keputusan.
Tidak peduli kamu memilih apa,
Saya jadi ibu
tetap menurutimu.
Tahta kerajaan sekarang diberikan oleh raja sebelumnya.
Putra dari raja sebelumnya,
meneruskan kerajaan.
Tapi raja
Dengar-dengar Gu Tingye dan semua grup pemberontak
sudah bersiap-siap untuk perang.
Dia tidak menuruti kemauan raja sebelumnya,
melanggar iman dan berbuat dosa.
Dia memanggil Raja Shu ayah
dan juga memanggil raja sebelumnya ayah.
Bagaimana ada satu anak memiliki dua ayah di dunia ini?
Raja yang murah hati,
Sayangnya di sekitarnya banyak pejabat pemberontak.
Susah untuk maju.
Tuan Gu sudah pergi ke ruang perpustakaan.
Dia bilang dia akan menunggu Tuan di sana.
Apakah ada bilang kenapa?
Tidak ada.
Tapi wajahnya terlihat
pucat.
Mungkin banyak masalah datang.
Yuanruo.
Jikalau Tuan Gu datang untuk bertanya,
Saya hanya ada satu kalimat,
Saya membawa orang hanya untuk memadamkan api.
Tidak ada maksud lain.
Saya membuat keputusan sendiri terhadap masalah ini.
Kita juga termasuk saudara.
Saya... Saya tidak bisa membiarkan kalian mati begitu saja.
Kamu tertawa apa?
Saya bukan membawa pasukan memaksa bertanya kepada Anda.
Yuanruo kenapa harus
begitu gugup?
Kalau begitu kenapa
kamu kemari?
Yuanruo tidak peduli dengan bahaya kemarin malam.
Lalu memberikan uluran tangan,
Saya mewakili keluarga saya datang ke sini untuk berterima kasih.
Ini
Saya juga tidak membantu apa-apa.
Silahkan.
Sebelum pulang,
Hati saya gelisah.
Jikalau saya tidak sempat,
saya takut ibu dan anak meninggal dunia.
Setelah itu saya mendengar pembantu rumah mengatakan,
Tuan pemerintah negara Qi,
membawa orang memadamkan api.
Yuanruo,
Hati saya ini,
baru bisa tenang.
Ini adalah inisiatif saya sendiri.
Yang penting Tuan tidak keberatan.
Bagaimana saya bisa keberatan?
Yuanruo merupakan Tuan yang tulus.
Saya Gu berterima kasih saja tidak cukup.
Masalah kecil, tidak apa-apa.
Ini
Masa lalu
sudah berlalu.
Semua adalah salah paham, saya juga ada salah.
No comments yet. Be the first to leave one.