The first 200 lines.
Jangan buat janji.
Pergi saja.
Karena kau gila...
...dan kau sangat menyukaiku...,
...kau datang kemari tanpa bilang-bilang.
Tapi buatlah pertemuan ini sebagai kunjungan terakhirmu.
Jika kau tidak kembali, setelah kau berjanji akan kembali kesini...,
...maka aku mungkin akan membenci kakiku.
Hadapi saja meski ini tidak mungkin.
Kau tidak bisa hanya melakukan apa yang kau bisa. Hadapi saja.
Setidaknya aku bisa memberitahu Ibuku yang tidak suka dengan orang cacat...
...dan yang berkata cuma aku yang dia punya di dunia ini...,
...aku akan memberikan alasan pada ibuku kenapa aku memilihmu.
"Ibu, Yeon Ha itu..."
"...tidak pantang menyerah. Dia orang yang kuat."
Bantulah aku supaya aku bisa berkata begitu pada ibuku.
Aku akan kembali kemasi setelah novelku selesai.
Novel itu sebagai hadiah untuk ibuku.
Itulah keinginannya.
Goodbye.
Kau sangat merindukanku?
Terkadang...,
...aku juga ingin tahu apa kau merindukanku juga.
Kau jujur ya. Aku tidak akan percaya kalau kau bilang, "selalu" merindukanku.
Aku meneleponmu...,
...meminta bantuanmu karena anakku demam.
Aku bilang aku takut karena keadaan anakku tak kunjung membaik...
...setelah minum obat. Aku memintamu datang.
Aku cuma punya kau.
Tidur di kamar yang lain.
Kamar yang lain banyak barang-barangnya anakku.
Aku mau tidur di sini.
Apa kubilang kau harusnya turunkan aku di tempatnya Jeong A.
Memangnya aku masih muda?
Setelah mengantar kalian berdua ke sana, aku harus menjemput kalian...
...besok pagi lagi.
Memangnya aku masih muda?
Aku tidak suka tidur bareng pria di kamar yang sama. Pria itu bau.
Oppa tidur saja di ruang tamu.
Tak enak tidur disana, nanti paginya terlalu kena sinar matahari.
Aku tidak akan menyentuhmu. Kau tidur saja di sini.
Aku akan tidur di samping Jeong A.
Unnie, Nan Hee mengidap kanker.
Aku tidak telepon karena sudah malam...,
...tapi aku telepon cuma untuk jaga-jaga.
Kenapa kau belum tidur?
Aku sedang melihat Ibu lagi tidur.
Min Ho.
Aku sudah dengar tentang Bibi Nan Hee.
Noona baik-baik saja?
Tidak, sama sepertimu.
Noona.
Kita...
Bertahanlah.
Baiklah.
Noona juga ingin menghiburmu.
Tidak perlu, Noona.
Jaga dirimu.
Dan juga BibiNan Hee.
Oke, marilah kita bertahan...
...dengan tegar, ya?
Aku akan bertahan...
...tanpa jadi orang cengeng.
Ibu bangun. Sudah ya.
Ibu, ada apa?
Di luar.
Ibu.
Ibu tidak boleh ke luar malam hari.
Tapi boleh ke kamar mandi.
Mau ke kamar mandi?
Ibu tidak suka itu?
Sekarang bagaimana?
Oh ya ampun, melihat Ibu
Dia melepaskan bajunya di depan anaknya
[Kapan Kami Akan Menjagamu Lagi Selama Ini?]
Ini kaldu herbal. Katanya lebih manjur dari obat apapun.
Ayah dan In Bong...
...bisa meraa hidup lagi setelah makan ini.
Ini untuk Nan Hee.
Aku harusnya sudah membuat ini untuk dia dari dulu.
Sekarang juga tak apa.
Ini, buka mulutmu.
Aku akan bilang Nan Hee...
...kalau Ibu merepotkanku karena tak mau makan.
Terserahlah! Toh aku juga tak mau makan ini.
Kalau ada yang terjadi pada Ibu, Nan Hee pasti merasa bersalah.
Aigoo, memang Ibu tahu apa? Ibu bisa jadi sangat egois.
Memangnya Nan Hee sekarat mau mati?
Aigoo, kalau aku jadi Nan Hee...,
...aku malah lebih suka mati duluan daripada Ibu.
Aigoo, aku tidak tahan melihatmu.
Ibu bekerja seharian dua hari ini.
Sudah cukup!
Coba ini.
Aku tak mau. Astaga.
Ibu tidak mau makan.
Kenapa aku mau makan itu? Aku ini juga punya perasaan.
Astaga.
Aku sudah masak nasi untukmu.
Anak-anak pada mengeluh...,
...tapi mereka membawakanku makanan tiap hari.
Kau...
...membesarkan anak kita dengan baik.
Aku bisa tidur nyenyak karenamu.
Aku tidak bisa kalau kau tidak ada.
Aku tidak bisa tidur nyenyak disini.
Lebih enak tidur di rumahku.
Kau tak bisa bicara baik-baik?
Katanya Nan Hee mengidap kanker.
Aku senang kau sehat.
Aku bilang, aku senang kau...
Diam.
Kau memang sesuatu ya.
Kau juga tidak baik padaku.
Kau pikir aku senang atas apa yang menimpa Nan Hee dan Hee Ja?
Hidup harus dijalani.
Aku bahkan bisa masak sekarang.
Mau kemana? Makan dulu.
Kau tidak mengerti?
Memang apa yang kulakukan?
Ketika kami dapat kabar tentang Nan Hee...,
...kami juga dapat sms dari Hee Ja Unnie.
Dia tidak mau Jeong A menemuinya lagi.
Memangnya Nan Hee dan Hee Ja itu lebih penting dariku?
Jeong A Unnie dan aku...
...sudah lama mengenal Nan Hee dan Hee Ja Unnie daripada Oppa.
Jeong A dan aku ini suami cerita.
Kami berbagi cinta.
Hei, mau kemana kau?
Makan denganku.
Bagaimana aku bisa makan semua ini sendirian?
Memangnya aku ini penyendiri?
Aku cuma mau bilang ini, tapi...
Diam saja kau.
Daripada masak atau bersih-bersih...,
...Oppa harus belajar dulu cara tutup mulut.
"Tutup mulutku."
Makan.
Sayang.
Min Ho! Sayang!
Jangan lari.
Ini./ Dah.
Hati-hati.
Hati-hati, Min Ho!
Iya!
Ibu, aku pulang!
Ibu.
Ibu masih di sini.
Kau yang bilang padaku tetap di rumah, mandi dan ganti baju.
Mobilku mogok, jadi aku berlari kesini.
Aku sangat lelah.
Kenapa kau berlari?
Aku hanya mau ke rumah sakit. Tapi kenapa kau memperlakukanku seperti seorang pasien?
Kau harusnya tidak boleh meninggalkan Ha Neul sendirian.
Pergilah!
Ibu?
Ibu sudah pakai?
Apa?
Popok.
Ibu harus pakai itu.
Pemeriksaannya tubuhnya bakalan lama.
Jadi, kalau Ibu tidak pakai...,
...nanti Ibu ngompol.
Aku lahir tanggal 24 Juli 1945.
Anakmu?
Anak sulungku...
...lahir tanggal 1 Desember 1970.
Dia jadi guru.
Anakku yang sudah mati itu.../ Ibu.
Kalau aku?
Kalau begitu...
...ingat nama rumah sakit ini apa?
Saya tadi menyebutkannya agar Anda mengingatnya.
Ibu, kita...
Jangan kasih tahu aku! Aku akan mengingatnya.
Aku tadi di- MRI, kan?
Iya.
Ibu ingat kok. Barusan Ibu di-MRI.
Itu bukan CT scan. Tapi MRI.
Iya.
Kau di luar?
Bagaimana menurut kalian...
...kalau menyebut demensia itu sebagai "penyakit otak"?
Aku ada di rumahmu.
Kau kemana?
Hee Ja.
Jawab aku.
Haruskah aku pulan ke rumah ini? Kau mau aku pergi?
Pergi sana.
Setidaknya kau mau bicara denganku.
Kau ke rumah sakit dengan Min Ho?
Kata dokter aku stadium empat dari sistem perawatan panjang.
Kukira aku sudah stadium lima...,
...tapi ternyata keempat.
Hasil tesnya seperti itu.
Sistem apa yang kau maksud itu?
Istilah lain dari demensia.
Dia menyuruhku supaya jangan mudah marah karena akan memperburuk kondisiku...,
...tapi aku malah semakin marah.
Haruskah aku tunggu di sini?
No comments yet. Be the first to leave one.