The first 200 lines.
Apa?
Kenapa dia tak mengangkatnya?
Sayang, bukankah Jiwoo meminta dipotret?
Ya, kurasa dia butuh foto paspor baru.
Di sini terlalu dingin karena pemanasnya rusak.
Bagaimana kalau kita sudahi malam ini
dan suruh dia datang besok?
Tentu. Suruh dia langsung pulang.
Baik.
Kenapa dia tidak menjawab?
Halo?
Boleh aku tahu siapa ini?
Bukankah ini ponsel Jang Jiwoo?
Ponsel ini ada di tanah, aku mengambilnya.
Putraku pasti menjatuhkannya.
Di mana kau sekarang?
Siapa kalian?
Jangan.
Lepaskan aku. Hentikan mobilnya!
Dasar kau.
Pelan-pelan.
Dia angsa emas kita.
Kenapa kau tak pernah meneleponku?
Aku menunggu teleponmu.
Siapa kau?
Aku? Aku ibumu.
Aku tak punya ibu sepertimu.
Nak,
ada berbagai tipe ibu di dunia ini.
Sepertinya kau tidak tahu.
Sekarang, diamlah.
Dasar kau! Tangkap dia.
Sial.
Dia menyuruhmu diam.
Sial.
Kenapa kau meminta ini?
Kau bisa menggambar hati?
Di sini. Ayo.
Dan kembali.
Ini sesuatu yang selalu ingin kulakukan.
Kekanak-kanakan, bukan?
Ini cantik.
Omong-omong, kenapa wajahmu murung?
Apa karena kau kedinginan?
Ya.
Kau bilang ingin mengatakan sesuatu.
Tapi kau ragu-ragu.
Ada apa? Kau membuatku penasaran.
Taeju.
Ya?
Mari kita bercerai.
Bercerai?
Ya. Mari bercerai.
Apa? Hei.
Aku bahkan tak ingat mendaftarkan pernikahan.
Bagaimana aku bisa bercerai?
Bagus jika kau tak mengingatnya.
Mari kita bercerai.
Kau menyuruhku menjadi janda
tanpa tahu alasannya?
Zaman sekarang,
bercerai bukanlah kesalahan.
Sial.
Kau memanggilku di tengah malam
hanya untuk membuat lelucon seperti itu?
Ada apa? Kau sungguh mengalami andropause?
Aku tidak bercanda, Taeju.
Apa alasannya?
Kau kesal karena aku tidak ingat pernikahan kita?
Ini demi kita berdua.
Apa gunanya kita bercerai?
Sebenarnya,
kita tidak serius saat mendaftarkan pernikahan.
Kita melakukannya karena dendam
saat keluarga kita menentangnya.
Aku tidak pernah
membuat keputusan besar karena dendam.
Kau benar.
Kita selalu menjadi anak sulung yang patuh.
Dan suatu hari, kita memutuskan untuk bertindak.
Kau pun akan menyesalinya setelah ingat.
Pasti terjadi sesuatu, bukan?
Taeju.
Aku ingin naik lebih tinggi.
Tapi setelah menikah, tawaran untukku sedikit.
Begitulah cara kerja dalam bisnis ini.
Maaf aku menyakitimu.
Kurasa aku ingin cinta pertamaku berhasil.
Tapi setelah itu terjadi,
keadaan terasa tidak benar.
Kau akan selalu menjadi cinta pertama
dan terakhirku.
Aku sudah menyiapkan dokumennya.
Aku akan membayar tunjangan
sebanyak yang kau mau.
Aku mau sepuluh juta dolar.
Tidak, jadikan 300 juta dolar.
Ini bukan lelucon.
Aku ingin menceraikanmu.
Ini satu-satunya cara aku bisa melindungimu.
Taeju, maafkan aku.
Kau tak akan memberitahuku apa yang terjadi?
Aku serius.
Baiklah.
Lagi pula, aku kesulitan memahami
kenapa kita menikah.
Aku senang mendengarnya.
Setelah melihatmu bersikap seperti ini,
aku yakin kita tidak memikirkannya baik-baik
saat mendaftarkan pernikahan kita.
Aku akan mengirim pengacaraku.
Tidak perlu. Mari bertemu di pengadilan.
Aku akan memberi tahu orang tuamu soal ini.
Tidak perlu. Ini bukan hal baik.
Aku harus memberi tahu Ayah. / - Aku pergi.
Lee Sangjun sudah gila.
Dia gila.
Taeju. / - Kenapa aku tidak ingat apa pun?
Taeju, ada apa?
Bukan apa-apa.
Tentang Lee Sangjun. Maksudku, suamimu.
Apa dia tidur di sini malam ini?
Tidak. Dia tidak akan datang untuk sementara.
Apa dia pergi syuting?
Bagaimana aku tahu?
Kenapa kau membentakku?
Maafkan aku.
Kau tahu bibi Sangjun hamil.
Kurasa Geonu akrab dengan bibinya.
Seperti apa?
Aku melihat Geonu di UGD tempo hari.
Dan dia berbicara dengan seorang wanita.
Geonu bilang dia profesornya saat kuliah
dan dia membawanya ke RS karena sakit.
Dan hari ini, aku tahu dia bibi iparmu.
Jadi, apa yang aneh soal itu?
Dia tidak mungkin menjalin hubungan romantis
dengan Geonu, bukan?
Itu konyol.
Benar, bukan? Tidak mungkin.
Hei.
Bagaimana perihal ayah pacar Namsoo?
Jangan bilang kau masih menemuinya.
Kita membicarakan Geonu di sini.
Bagaimana hasilnya?
Aku tidak akan menemuinya lagi. Sudah berakhir.
Aku harus pergi.
Lepaskan ini.
Lepaskan aku sekarang!
Kubilang lepaskan aku! / - Sial!
Hei!
Ini tidak nyaman, tapi aku ingin kau bersabar.
Kenapa kau melakukan ini kepadaku?
Kau bilang kau ibuku.
Teganya kau melakukan ini.
Kau mengharapkan ibu dengan naluri keibuan?
Kau lebih naif daripada dugaanku.
Kau baik-baik saja saat tidak muncul.
Kenapa melakukan ini setelah bertahun-tahun?
Sial. Bisakah kau diam?
Hei, silakan berfoto.
Jang Youngsik tidak menepati janjinya kepadaku.
Dia berjanji akan mengirimiku uang,
tapi dia tidak melakukannya.
Jadi, ini hanya soal uang?
Nak. Ada kalanya dalam hidup
uang lebih penting daripada hubungan darah.
Jangan memanggilku Nak.
Kau bukan ibuku.
Memang benar kau putraku.
Kau mau melakukan tes DNA besok?
Bagus. Aku suka ekspresi wajahmu sekarang.
Satu, dua, tiga.
Satu, dua, tiga.
Kalau begitu,
siapa ayahku?
Tidak menyenangkan jika kuberi tahu sekarang.
Jika kau benar-benar ibuku,
kenapa aku dibesarkan oleh orang lain?
Itu yang diinginkan ibu Lee Sangjun.
Apa Paman Sangjun
ayah kandungku?
Anak rahasia Lee Sangjun.
Bagaimana menurutmu? Terdengar keren?
Kedengarannya berbeda. / - Jangan bohong.
Kau sering dikatakan mirip Lee Sangjun, bukan?
Uangnya.
Aku akan menghasilkan uang dan membayarmu.
Jadi, lepaskan aku.
Segera lepaskan ini!
Cepat lepaskan aku!
Putraku
gila sepertiku.
Aku suka itu.
Sial!
Halo?
Sangjun.
Kurasa Jiwoo
diculik.
Apa?
No comments yet. Be the first to leave one.