The first 200 lines.
DRAMA INI ADALAH KISAH FIKTIF
SEMUA KARAKTER, ORGANISASI, LOKASI, INSIDEN, DAN AGAMA
DALAM DRAMA INI ADALAH FIKTIF
ADEGAN YANG MELIBATKAN HEWAN DIBUAT DENGAN PROPERTI DAN EFEK VISUAL
Yang Mulia, dia memegang pedang. Jadi, maafkan tindakanku ini.
Boleh kubunuh dia?
Singkirkan pedangmu.
Kau tak mendengarku?
Aku melihatmu di Gaeseong dengan mataku sendiri.
Dasar kau...
Yang Mulia. Gaeseong?
Kalau begitu, dia...
Kembalilah dan tetap di sini sampai aku memanggilmu.
Namun, Yang Mulia, bagaimana kau bisa membiarkannya...
Kubilang kembalilah dan tunggu aku.
Lakukan yang kubilang.
Ya, Yang Mulia.
EPISODE 13
Bagaimana kau bisa sangat ceroboh?
Mungkin ingatanmu tercampur.
Tidak. Aku yakin itu.
Yang Mulia, aku pernah memberitahumu ini.
Saat utusan itu datang ke rumahku, aku yakin Tae-gang membunuhnya.
Dia juga menyebarkan kertas merah bertuliskan, " Song, Ga, Myeol, Lee ."
Aku melihatnya dengan mataku sendiri dan mengingatnya sangat jelas.
Aku melawannya selagi mengejarnya.
Dia memakai penutup wajah,
tetapi aku ingat matanya. Itu memang dia.
Pikirkanlah.
Yang punya akses ke Istana Timur adalah dia.
Hanya dia yang bisa melepaskan
panah setahun lalu itu.
Dia punya akses ke Istana Timur.
Dia juga bisa datang dan pergi ke area berburu.
Tak hanya itu.
Panah dari Upacara Perburuan besar itu juga miliknya.
Tak akan ada yang mencurigainya karena dia memang seharusnya seperti itu.
Dia menembakkan panah itu lalu kabur.
Panah dan tempat anak panah yang ditemukan di sana
biasanya digunakan oleh prajurit departemen perang.
Dia mungkin yang memberikan ular dan belati
kepada syaman itu.
Interogasinya sebentar lagi. Selesaikan kehendak Dewa.
Dan pasti dia yang membakar pohon prem.
Dia mungkin masuk dan keluar penjara menemui syaman itu,
mengaku kalau itu perintah darimu.
Ayo ke Kantor Inspektur Kerajaan...
Kedua prajurit yang menjaga penjara
sudah tewas.
Ingatanku mungkin tidak lengkap karena syok kehilangan keluargaku,
tetapi aku mengingat wajahnya dengan sangat jelas.
Itu mustahil.
Kumohon.
Kumohon percayalah padaku, Yang Mulia.
Pada hari keluargamu tewas,
Tae-gang berada di Istana Timur.
Dia tak bersalah.
Aku adalah saksinya...
dan Gaeseong sangatlah jauh.
Aku tak percaya dia Min Jae-yi, si pembunuh Gaeseong.
Sejak kapan Yang Mulia mengetahuinya?
Yang Mulia pasti mengetahui begitu bertemu dengannya di area berburu
bahwa dia adalah Min Jae-yi, bukan Jang Chi-su.
Dia mengizinkannya tinggal di ruang rahasianya
karena dia adalah wanita.
Bagaimana seseorang bisa ada di Hanyang dan Gaeseong pada waktu yang bersamaan?
Itu tidak mungkin.
Mungkin kau salah...
Dan katamu Tae-gang adalah orang
yang menyebarkan kertas merahnya.
Namun, Tae-gang bersamaku saat itu.
Kalau yang kau katakan benar,
apakah maksudmu dia membakar pohon prem
dan melakukan teleportasi ke pasar?
Namun, aku bersumpah dia orang di balik penutup wajah itu.
Itu adalah wajahnya.
Aku mengerti sulit bagimu untuk mengingat
detail seperti itu dalam ingatanmu yang kabur.
Namun, itu bukan Tae-gang.
Cobalah tenangkan pikiranmu serta beristirahat besok
dan cobalah memikirkannya lagi.
Itu perintah.
Kau membawa pakaian lagi untuk dijahit?
Apakah mereka membayarmu mahal?
- Indah, bukan? - Ya.
Aku tak percaya dia bisa mengenakan ini tiap hari.
Kekayaan itu sedari lahir, bukan?
Sebaiknya kau mencobanya kalau mau.
Tidak usah.
Yang Mulia, kau sudah bangun?
Masuklah.
Yang Mulia, aku belum melihat Kasim Go.
Apakah kau memerintahkannya melakukan sesuatu?
Aku menyuruh Sun-dol melakukan sesuatu untukku semalam.
Ya, Yang Mulia.
Ya, Tae-gang bersama Yang Mulia seharian pada hari itu.
Yang Mulia ada pelajaran hari itu, jadi dia bersamanya sampai selesai.
Apakah dia juga di Istana Timur setelah pelajarannya?
Dia bersama kami di Istana Timur setelah pelajarannya.
Kenapa kau menanyakan
tentang Tae-gang?
Aku hanya sedang menyelidiki sesuatu.
Jangan hiraukan aku.
Apakah aku benar-benar salah?
Tidak mungkin. Ingatanku tidak salah.
Aku utusan yang mengantarkan hadiahmu ke Master Min?
Aku yang sebarkan kertas merah itu? Bagaimana kau bisa memercayai
dan membiarkan pembohong di dekatmu?
Dia kabur setelah melanggar prinsip-prinsip moral.
Dia bukan seorang pendosa. Dia putri masterku.
Akan bagaimana kalau orang tahu kau membiarkan gadis itu bekerja untukmu
sebagai kasim di Istana Timur?
Yang Mulia, kau harus mengusirnya.
Dia sudah mengalami banyak kesulitan.
Berilah dia waktu.
Apa surat rahasia yang dimaksudnya?
Yang Mulia.
Saat ini, ingatannya belum pulih sepenuhnya.
Jadi, tak usah khawatirkan dia.
Aku percaya penuh padamu,
jadi jangan terpengaruh.
Selidikilah dari mana Park Han-su dapat uang
seperti yang kuperintahkan.
Kau pergi ke mana sendirian?
Pembunuh pada hari itu memakai penutup wajah,
jadi aku tak bisa melihat wajahnya.
Tunggu.
Guru Kim bilang bertemu dengannya di pasar,
dan dia sedang menyamar.
Itu mungkin atas perintah Yang Mulia.
Yang aneh adalah dia memperlakukan Guru Kim
seolah belum pernah bertemu dengannya.
Jadi, apa yang terjadi dengan ingatanmu?
Aneh kalau orang sepintarmu tak bisa mengingat yang terjadi
sekalipun saat itu kau syok.
Apakah kau ingat hal lain selain dia?
Pada hari pembunuhan, ada dupa dengan kelopak botan kering di dalamnya.
Apa?
Ada kelopak botan kering juga di Gaeseong?
Ya.
Bagaimana itu bisa ada di rumahmu?
Yeong datang ke dapur saat aku mencicipi sup pada hari itu.
Apakah kau ingat yang kalian bicarakan?
Kurasa dia hanya sedih melihatku pergi.
Dia bahkan memegang tanganku sesaat.
Dia memegang tanganmu?
Lebih tepatnya gelangku.
Gelang...
Apakah maksudmu yang kata orang
lambang cintamu dan Tuan Muda Yeong?
Ga-ram, apakah rambut Yeong putih?
- Kau pernah melihatnya berambut putih? - Tidak, Nona.
Memangnya kenapa rambutnya putih? Dia masih sangat muda.
Menurut hasil autopsi Yeong,
dia berambut putih.
Apa?
Bagaimana bisa?
Apakah rambutnya putih
saat kau terakhir bertemu dia?
Tidak, rambutnya tak putih.
Jadi, kenapa rambutnya...
menjadi putih?
Kenapa ingatanku campur aduk?
Kenapa kau...
Kau mencucinya?
Hanya ada jelaga dan kelopak kering di dalamnya.
Apakah itu penting?
Tidak.
Itu si cendekiawan yang tampan.
Astaga.
Halo, Teman.
Mereka mencucinya.
Rajin sekali.
Kenapa kau datang sendirian? Di mana temanmu yang tampan?
Dia tak ke sini?
Temanmu yang tampan...
Dia ke sana bersama murid magangku.
Kau sungguh akan membeli itu?
Akan kubeli yang ini.
Cendekiawan Park.
- Kabarmu baik? - Ya.
Maaf, akan kami beli lain kali.
Sampai jumpa.
Ya.
Tunggu, apa?
Wow.
Bagaimana kau bisa tahu tempat seperti ini?
Ini tempat kesukaan kakakku.
Dia sering membawaku ke sini.
Apa yang kau lihat?
Ada asap keluar dari semua cerobong.
Mereka pasti bersiap untuk makan malam.
Katanya anak-anak yang bermain di luar
tahu sudah saatnya pulang saat mereka melihat asap
keluar dari cerobong.
Bagaimana dengan anak
yang tinggal di rumah itu?
Tak ada asap yang keluar dari cerobong itu,
bagaimana si anak tahu saatnya pulang?
Kalaupun dia pulang,
No comments yet. Be the first to leave one.