mixed-ish

mixed-ish

Download Indonesian Subtitle

Season 2

Release info

Mixed-ish S02E09-DSNP-WEBDL
A Commentary by Sh1Ft3R
𝙳𝚒𝚜𝚗𝚎𝚢 𝙷𝚘𝚝𝚜𝚝𝚊𝚛

Tags

webdl
web
WEBDL
Published on: 2022-03-26
Downloads: 20
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 196 lines.

Pada tahun 1966, tak ada yang lebih utama daripada menghabiskan uang.

Bahkan ada acara TV tentang itu.

Lalu kakekku sangat suka menghabiskan uang.

Kau salah mengartikan arti "cukup".

Cukup artinya banyak, jadi, ayo dapatkan banyak. Tunggu sebentar.

Dia tak bisa melewati sepuluh detik tanpa menyebutkan Ferrari-nya.

-El Ferarri. Un Ferrari. -Aku orang Filipina, Tuan.

Aku Harrison. Aku punya Ferrari.

Aku punya Ferrari.

Berharaplah aku tak melihatmu di valet, atau akan kutabrak kau dengan Ferrari-ku.

Namun, orang tuaku berbeda.

Benar. Hal-hal materi hanyalah barang.

Mereka tidak peduli dengan uang. Mereka bahkan menjadikannya moto keluarga.

Apa yang kita hargai?

-Orang lain melebihi barang. -Orang lain melebihi barang.

-Ya, orang melebihi barang. -Kau tahu, apa yang selesai?

-Percakapan ini. -Aku bisa mendengarmu.

Orang tuaku tidak pernah membeli apa pun yang tidak mereka butuhkan.

Sampai suatu hari, ibuku membeli...

Aku menyukainya. Aku ingin memeluknya. Apakah ganjil jika aku ingin memeluknya?

Tidak. Ayo peluk tas Louis barumu!

Ganjil jika kau menciumnya.

Aku masih tak percaya kau membujukku membeli ini.

Aku bisa meyakinkan siapa pun untuk melakukan apa pun.

Di Pan Am, aku meyakinkan biarawati, tasnya tak hilang, itu menunggu di surga.

Kau pantas memanjakan diri sesekali. Lagi pula, kau mampu membelinya.

-Bersikaplah seperti itu. -Aku setuju.

Apa dia sungguh mengatakannya?

Apa? Aku sudah seperti tinggal di sini. Aku belajar beberapa hal.

Dee-Dee benar. Kau harus lihat bagiannya.

Omong-omong, bisa parkir mobilmu tiga blok dari sini?

Apa? Aku juga belajar hal itu.

-Hei. -Hei, Sayang.

Aku membeli hadiah kecil untuk diriku. Agak mahal, jadi, jangan panik.

Seberapa mahal?

-Jangan panik. -Aku tidak panik.

Baiklah, 150 dolar.

Lihat?

Aku tidak panik.

Astaga, itu banyak sekali!

Baiklah, aku panik.

Tak terlihat banyak, tetapi aku masih tertarik ke arah mana pertengkaran ini.

Harganya 150 dolar?

-Bernapaslah. -Maaf, aku agak bingung,

karena kita tidak pernah menghabiskan uang seperti ini.

Aku suka yang belum kau lakukan dengan tempat ini.

-Sayang, kita menghargai orang melebihi... -Barang.

Aku tahu, tetapi ada barang yang kusukai melebihi beberapa orang.

Baiklah, tetapi maksudku, kau tak perlu tas baru.

Dia membutuhkannya.

Ini tak menunjukkan "Rekan". Ini menunjukkan, "Aku sebuah ember".

-Itu baik-baik saja. -Ya,

jika kau mau mengepel kamar mandi pom bensin.

Atau jika kau ingin menghasilkan uang receh dengan menabuhnya.

Kau harus mengikuti zaman, Nak. Hippie dan peduli soal perang sudah kuno.

Gaya dan simbol status sedang tren. Tanpa uang, Hugh Hefner

hanya orang mesum berjubah.

Aku tak ingin kita menjadi seperti ini.

Jangan cemaskan itu, Nak. Kau tak akan bisa menjadi Hef.

Jangan cium tas itu.

Ayahku, semuanya tentang uang.

Aku tahu, tetapi jangan khawatir. Aku masih gadis hippie yang keren.

Apa kita jutawan?

-Jika Ibu beli barang bagus, kami juga. -Boleh minta ransel JanSport?

Semua anak keren punya itu. Mallory sangat keren, bahkan punya dua.

Orang tuanya bercerai dan bersaing demi hatinya, tetapi tetap saja!

Boleh aku beli celana kulit seperti Eddie Murphy?

Aku mau kaviar. Aku tak tahu apa itu, aku hanya menginginkannya.

Ya, anak-anak. Tentu saja. Semua itu barang yang kalian butuhkan.

Bukan begitu, Sayang? Selagi kita membahasnya,

bagaimana jika kita cari sopir untuk mengantar ke sekolah?

Mungkin kita belikan robot untuk main lempar tangkap.

Tunggu, ada robot yang bisa main lempar tangkap?

-Aku mau itu. -Baik, kau sudah menyatakan maksudmu.

Anak-anak, kami tak ingin kalian terobsesi dengan materi.

Entah apa yang kupikirkan. Itu pembelian impulsif.

Jadi...

Aku akan mengembalikannya.

-Dah, Sayang. -Terima kasih, Sayang.

-Dee-Dee, kau mau ke mana? -Sampah kompos.

-Percayalah. -Namun, dompetku. Uangku.

Dia sudah mengeluarkannya.

-Ya. -Ya.

Aku harus bagaimana, Kawan? Aku hanya merasa

tiba-tiba, keluargaku hanya memedulikan materi.

Aku mengerti, Pauls-to-the-Wall.

Gila sekali orang-orang berpikir uang bisa membeli kebahagiaan.

Seperti berkata, "Hei, Kawan,

arkade baru takkan membuatmu lupa bahwa kau sendirian di dunia ini!"

Atau contoh lain. Itu muncul begitu saja di benakku tanpa alasan.

Aku hanya tidak ingin apa pun mengubah jati diri anak-anakku.

Jangan khawatir, Parnold Schwarzenegger.

Anak-anak kita hebat.

Lihat betapa manisnya mereka, bermain bersama.

Kalian sedang apa?

Akan jauh lebih baik jika kau memberiku gim video yang tak payah.

Aku bosan!

-Bukan aku! -Giliranku!

-Anak-anak... -Milikku!

Jeritan itu berarti mereka bersenang-senang.

-Ini giliranku! -Aku lebih tua!

Mungkin Ayah benar mengkhawatirkan kami.

Bahkan aku tak bisa berhenti memikirkan ransel yang lebih bagus.

Aku ingin sekali JanSport.

Namun, saat minta izin orang tuaku, mereka bilang tak boleh peduli soal merek.

Orang tuamu yang terburuk.

Kita harus mengutuk mereka dengan mantra. Aku sudah berlatih.

-Kekuatanku makin kuat. -Ya, orang tuamu salah.

Semua milikmu harus ada labelnya.

Ya, merek itu penting.

Dari situ aku tahu pacar ayahku lebih keren dari ibuku,

jadi, aku tahu untuk lebih menyayanginya sekarang.

Tak ada yang pernah bilang, "Aku suka itu.

Apa itu versi umum yang dipakai orang?"

Kudengar di acara menginap Mallory, kau harus memilikinya,

atau kau tak bisa masuk.

Kau harus minta orang tuamu membelikannya.

Aku yakin kutukan bisa mengubah pikiran mereka!

Akan kujelaskan pada mereka bahwa itu lebih dari sekadar ransel.

Ini tentang rasa memiliki dan membaur. Ini kesempatanku untuk menjadi keren.

Jangan berlebihan.

Aku merasa tak ada yang mendengarku soal penyihir.

Ternyata bukan hanya aku yang terobsesi dengan tas.

Kenapa kau menyembunyikan tas di bawah mejaku seolah itu botol tequila?

-Orang-orang minum secara terbuka di sini. -Aku kehabisan waktu pagi ini.

Akan kukembalikan usai makan siang.

Baiklah, tetapi secara teknis,

kau masih punya hak milik selama beberapa jam ke depan.

Kenapa kau tak bersenang-senang sedikit?

Aku pernah memakai barang sepanjang akhir pekan sebelum mengembalikannya.

Bagaimana jika kau membawanya jalan-jalan?

Tas yang bagus.

-Biar kujelaskan. -Hei!

Semua orang menyukai barang bagus,

tetapi saat itu membuat orang menatapmu seolah sebelumnya tak pernah terjadi,

kau ingin merasakan perasaan itu selamanya.

Terasa menyenangkan, bukan? Semua pujian dan sedikit rasa cemburu?

Itulah kekuatan simbol status.

Kuberi tahu, tas itu bagus untuk kariermu.

Harus kuakui, perhatian ini terasa menyenangkan.

Karena menunjukkan bahwa kau layak berada di puncak, eselon atas.

Menunjukkan bahwa kau bisa menangani persaingan.

Sayang sekali kau harus mengembalikannya.

Aku harus bagaimana? Aku bilang kepada Paul akan kukembalikan.

Kau jelas tampak senang untuk akhirnya terlihat.

Sudah berapa kali kita mengeluh soal tidak terlihat di kantor ini?

Tempo hari, Bradley menaruh gelasnya di atasku.

Benar, tas itu seperti memakai baju mencolok saat joging

kecuali bagi wanita kulit hitam di tempat kerja.

Itu dia.

Aku bisa bilang pada Paul harus kusimpan karena masalah kulit hitam.

-Ya. -Aku tak akan mengembalikannya.

Titik.

Tidak boleh mundur lagi.

-Baiklah. -Labelnya tertinggal. Norak sekali.

Berpura-puralah itu biasa.

-Baik! -Hei!

Aku akan menyimpan ini untukku.

-Apa yang kau lakukan? -Mencari tempat persembunyian untuk tasmu.

Tidak, aku akan memberi tahu Paul alasanku untuk memiliki ini.

-Masalah kulit hitam. -Sungguh?

Dia hanya akan membuatmu merasa bersalah

dan bilang kau contoh yang buruk untuk anak-anakmu.

Aku benci saat dia memakai alasan anak-anak. Kau benar.

Sayang, kau di rumah?

-Hai. -Hai.

Bagaimana harimu? Ada sedikit bocoran.

Dee, ini termasuk kau.

-Ya. -Aku bilang kepada Johan dan Santi

bahwa mereka tak bisa beli barang setahun, tetapi bisa saja selamanya.

Apa menurutmu itu agak kejam?

Tidak, aku hanya tidak mau mereka terjebak ingin memiliki sesuatu.

Seperti ayahku. Dia sangat terobsesi.

Dengan memamerkan kekayaan dan statusnya. Maksudku itu....

Itu agak menjijikkan. Benar-benar menjijikkan.

Menjijikkan sekali. Simbol status. Siapa yang butuh itu?

-Aku senang kita bukan orang-orang itu. -Senang sekali. Bukan orang-orang itu.

Aku butuh bir.

Permisi. Terima kasih. Dee?

-Mau bir? -Ya.

Jadi, bagaimana cara membuat mereka tetap rendah hati?

-Buat mereka sumbangkan milik mereka? -Ya.

Aku suka karena kita selalu sepaham.

Selalu tak ada rahasia.

-Aku harus mencari kotak untuk donasi. -Bagus, ada kotak di garasi.

Jelas tak ada di microwave.

Tenanglah! Kau akan membuat kita ketahuan. Sebagai pengacara, kau tak pandai bohong.

-Ingatkan aku untuk tidak mempekerjakanmu. -Ibu?

Kukira kau mengembalikannya.

Benar.

Kau bermimpi.

Baiklah.

Ini lebih dari sekadar tas. Kau harus memahami konteks sejarahnya.

-Sudah lama tak ada yang melihat kita... -Sayang, aku hanya dapat satu kotak.

Kurasa aku menyumbangkan sisanya. Ironis, bukan?

Singkat cerita, itu penting karena kita orang kulit hitam,

mixed-ish subtitles in other languages

More Indonesian subtitles for mixed-ish

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left