The first 200 lines.
SERIAL NETFLIX ORIGINAL
SEKOLAH BRIARTON
- Hei, Pak B. - Hei, Charlotte.
- Pagi, Pak B. - Hai, Amy.
Jamie...
Aku tak enak menanyakan ini.
Masalahnya, kami kekurangan satu pendamping
untuk karyawisata Persatuan LGBTQIA.
Kau bisa menolak, karena kau ikut acara lalu...
Tentu. Akan kulakukan.
Terima kasih banyak. Kau yang terbaik.
Baik, jangan terlalu memikirkan catatan historis.
Aku ingin mendengar solusi kreatif atas Perjanjian Versailles.
Ya, Carrie?
Kenapa kau takut?
Tolong datang lima menit lebih awal jika bisa.
Kalian pasti bisa.
Jadi, sudah kau putuskan?
Pilihanku Brown.
Seharusnya kuberi tahu sebulan lalu.
Kau tak perlu susah tidur.
Jadi, aku membutuhkan surat rekomendasi pekan depan.
Kau harus menulisnya sendiri.
- Sungguh? - Ya.
Aku ingin kau menulis semua hal hebat tentang dirimu,
yang semuanya benar.
Akan kuperiksa dan kutandatangani.
Itu baik untukmu.
Ayolah, ini tak terlalu buruk.
Kita akan membahasnya.
Tapi jangan bilang-bilang. Ini rahasia.
Baik.
- Terima kasih. - Sama-sama.
Kau pasti bisa!
Ceci.
Duduklah.
KOTA DORCHESTER
- Selamat. - Ya, aku ingin memberitahumu pertama.
Akan kuumumkan besok. Toh orang-orang takkan terkejut.
Enam bulan. Itu cepat.
Aku diberi pilihan 18 bulan.
Tapi kupikir, payah...
Kondominium di Sarasota itu akan kosong setahun lagi.
Aku...
Kusebut namamu saat bicara pada HRD.
Pria seusiamu sudah mulai pensiun.
Felica bilang dia mau membahasnya denganmu.
Itu maksudku. Mereka suportif.
Aku pun butuh partner golf.
Karena kepergianmu, kantor ini butuh keberlanjutan.
Ayolah, Harry. Anak-anak baru bisa mengurusnya.
Soto. McCafferty.
Mereka punya energi.
Sikap baik. Makanya kupekerjakan.
Jadi, ada masalah dengan sikapku sekarang?
Kau seperti Labrador tua galak mengeluh di pojok.
Lihat, sekarang kau pincang seperti zombi.
Ini karena nyeri pinggul.
Kadang kumat dan membaik.
Stres. Sejak kasus anak itu di musim panas lalu.
Jangan kira aku tak tahu.
Selamat datang di teritorial utara.
- Hei, Yah. - Lihat anak laki-laki ini.
Hei, Kakek.
- Apa itu? - Buku.
Itu bagus, 'kan?
- Hai. - Hei.
Maaf kami ketinggalan kereta.
Tak apa-apa. Kalian akhirnya sampai.
Ayo berangkat.
Harus Ayah akui,
rasanya enak keluar dari tempat sewaan itu dan tinggal di rumah.
Tempat itu dulunya barak tentara.
Umurnya seratus tahun.
Ayah tak bilang ini amat terpencil.
Itu keunggulannya.
Kau melihat hutan-hutan di belakang...
semuanya lahan Taman Negara Maybrook dan luasnya bermeter-meter.
Ada elang ekor merah. Mereka datang cukup dekat.
Ada bangau di danau atas.
Bagaimana jika Ayah butuh bantuan?
Lihat yang Ayah beli.
Ini kesukaanmu, ingat?
Ayah, serius, bagaimana jika ada keadaan darurat?
Ayah harus memikirkannya saat makin menua.
Sinyalnya pun lemah.
Ayah dapat dua garis di samping pohon maple.
- Apa dia baik-baik saja? - Aku tak tahu.
Dia terobsesi dengan seri ini.
Dia membaca buku terakhir itu tiga kali.
Itu tak buruk, 'kan?
Hanya itu kegiatannya.
Tak punya teman.
Terapis bilang dia masih depresi karena perceraiannya.
Andy memperburuk keadaan.
Dia jarang menegur. Dia menyalahkan perbedaan waktu London.
Seolah tiba-tiba saja...
Eli tak punya ayah lagi.
Dia bisa sering ke sini.
Ayah bisa buat dia sibuk.
Bukan soal itu, Yah.
Dia rapuh.
Ayah bisa membantu.
- Ayah sudah lebih baik. - Ya. Baik.
Biar Ayah membantu.
Baik.
Seorang wanita datang ke toko hari ini dan dia mulai tawar-menawar denganku.
Katanya, "Untuk apa aku membayar 25 dolar untuk lilin beraroma
jika harganya enam dolar di Cat's Cradle?"
- Apa itu? - Toko kerajinan tangan di samping kedai.
Baunya seperti kayu manis yang buang air besar di serbet.
Entahlah. Itu mengejutkanku.
Mungkin dia benar. Mungkin aku sombong.
Kau seharusnya bilang,
"Tidak, Sayang, kau tak sombong. Kau hanya tegas."
Ya. Orang sombong yang tegas.
Ada berita soal kereta komuter?
Bob Si Bankir bermain gim video lagi, volume penuh.
- Lancang sekali. - Ya.
- Akan kubukakan. - Mungkin UPS.
Pengiriman Amazon.
Sedang apa kau di sini?
Ini set alat makan?
Kau menyuruh orang memotong bawang bombai?
Jangan ke sini.
Nick, aku serius. Pergi dari sini.
Kau tak bisa mengusirku.
Apa kau mendengarku?
Tidak kali ini.
Sayang.
- Hei. - Apa...
Nick, ini istriku, Leela.
- Ini Nick. - Hai.
Kami satu kampus.
Dia hanya mampir.
Apa kabar?
Baik. Terima kasih.
Salam kenal.
Kau tak memberitahuku.
Ya.
Kau akan menjadi ayah?
Dia tak membahas ini.
Pasti lahir sebentar lagi.
- Sekitar sepekan. - Sepekan lagi.
Selamat.
- Terima kasih. - Kalian.
Itu luar biasa.
Maaf aku mampir tiba-tiba. Aku sedang di dekat sini.
Ada urusan pekerjaan dan aku ingin mengejutkan pria ini.
Mungkin membujuknya minum bir.
Kami sedang membuat makan malam.
- Jadi... - Ya.
- Membuat makan malam? - Ya.
Itu akibatnya karena aku mampir tanpa pemberitahuan.
Apa kau ingin...
Kau ingin ikut? Makanan kami banyak.
Tidak, kita bisa mengobrol lain kali.
- Kau butuh istirahat. - Tidak.
- Sayang, kau kelelahan. - Itu hebat.
Jika tak merepotkan.
Tidak, tak merepotkan sama sekali.
- Kau yakin? - Ya. Ayo masuk.
Ya. Silakan. Ayamnya hampir matang. Jadi...
Dia manis.
Aku mulai membuat campuran minyak esensial, aroma pesanan.
Itu sukses daring.
Kini aku mengembangkan mereknya.
Aku membuat toko dua bulan lalu, setelah kami pindah ke sini.
Lalu, ya...
Ya, ini seperti eksperimen.
Itu menjanjikan.
Ya, aku tak terlalu yakin aku akan laris di Dorchester.
- Ayolah. - Tapi...
Jangan merendah. Barangmu bagus.
Lihat saja nanti.
Pindah adalah idemu?
Apa?
Ya, 'kan? Dia ingin di Brooklyn.
Tidak. Tak begitu...
Kami pikir sudah saatnya untuk sedikit berkembang.
- Kami butuh ruang - Ya.
untuk bayinya.
Tapi kau belum mau bayi.
Apa aku benar?
Kau punya bisnis, cita-cita.
Jamie yang ingin punya bayi.
Rumah, garasi, dan pagar kayu ini.
Malangnya Jamie Burns.
- Berusaha sekuat tenaga. - Diam, Bung.
Diam saja.
- Mengerti? - Lalu, kau?
Apa pekerjaanmu?
Ekuitas swasta.
Itu permainan.
Pelajari sistem
dan kau tahu bahwa itu dirancang untuk dicurangi.
Aku menganggapnya halangan.
Tantangan untuk mengenal diriku.
Apa ada perjanjian ekuitas swasta besar di Dorchester?
Itu alasanmu ke sini?
No comments yet. Be the first to leave one.