The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemisa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Ini Kang Jae Wook.
Kita harus bertemu, bukan?
Tentu, mari bertemu. Tidak akan sulit
bagi kita bertemu.
Baiklah.
Kenapa kamu ke rumah kami?
Aku datang untuk menemui ibuku.
Tapi dia bilang sudah terlalu larut untuk keluar.
Masuklah bersamaku.
Tidak usah.
Aku harus mempertimbangkan posisi ibu. Lagi pula,
kamu tampak lelah.
- Sebaiknya kamu masuk. - Katamu,
kamu sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Kapan kamu mulai bekerja?
Sebentar lagi.
Apa yang kamu pikirkan?
Apa ini?
"Hasil Tes DNA, Cocok"
Tes ini membuktikan Kang Jae Wook adalah anak kandung ibunya,
dan Ibu bilang dia tidak punya kembaran.
Benar. Ini salah.
Ingatan Jae Wook sudah kembali.
Belakangan ini, kamu sering minum.
Kamu pulang larut.
Kamu berjanji akan mempromosikanku sebagai direktur utama.
Aku harus membahas gajiku.
Di jabatan ini, gajimu akan mendekati gajiku.
Aku senang
kamu menganggapku sainganmu.
Jangan terlalu banyak minum dan tidurlah.
Astaga.
Kenapa kamu tidur, bukannya minum-minum?
Dari pengalamanku, minum tanpa makan bisa membuatmu sakit.
Ada yang mengusikmu?
Kamu tampak amat stres.
Baiklah.
Aku akan pergi. Selesaikan minummu.
Aku ada pertanyaan.
Apakah ibumu
adalah ibu kandungmu?
Apa maksudmu?
Aku tidak tahu banyak, tapi begitulah perasaanku.
Cara dia menatapmu
tidak seperti seorang ibu yang menatap putranya.
Tapi bukan hanya dia.
Kamu tidak tampak
seperti sedang menatap ibumu juga.
Tidak ada gunanya mendengarkan ini.
Aku tahu dari pengalaman pribadi.
Apa maksudmu?
Kamu tahu,
aku tidak pernah bilang ini kepada putraku,
tapi putraku, Ji Sup,
bukanlah putra kandungku.
Tapi dia bukan orang asing juga.
Dia putra dari saudariku.
Setelah bisnis ayah kami bangkrut,
aku memutuskan hubungan dengan saudariku.
Lalu suatu hari,
aku menerima kabar melalui telepon bahwa dia meninggal saat melahirkan.
Saudariku tewas dan bayinya menangis.
Berat badannya di bawah normal dan dia lemah,
jadi, kukira bayinya akan meninggal juga.
Tapi dia tangguh.
Bayinya membaik sedikit demi sedikit dan selamat.
Aku amat senang
dan berniat mengasuhnya selama beberapa bulan.
Aku malah hidup dengannya selama 34 tahun.
Kamu seharusnya mengirim dia ke panti asuhan.
Astaga. Bicaramu seperti Ji Sup.
Tapi itu tidak mudah.
Aku menyayanginya.
Siapa yang bisa menyangka
bahwa anak itu malah menyokongku.
Kenapa kamu
memberitahuku hal ini?
Aku ingin memberi tahu putraku
pada suatu saat nanti.
Aku juga ingin meminta maaf kepadanya
suatu saat nanti
karena sudah menyusahkan dia.
Kamu sangat mirip dengan putraku,
tapi kamu bukan keluarga kami, jadi, ini terucap begitu saja.
Astaga, ada apa denganku?
Apa yang kuocehkan sejak tadi?
Astaga.
Kenapa kamu pulang amat larut?
Aku berjalan-jalan sebentar.
Baiklah. Masuklah sebentar.
Sebentar saja.
- Apa itu? - Jangan bicara dan minumlah.
Ini akan menjernihkan pikiranmu
dan bagus untuk ingatan.
Minumlah. Ayo.
Kamu pasti frustrasi dan kesal
karena tidak bisa mengingat apa pun.
Sudah sewajarnya, tapi tetap saja,
bukalah hatimu
dan rangkul Hae Sol dengan hangat.
Ayah mohon.
Ya, Ayah. Maaf.
Tidak. Ayah bukan bermaksud memarahimu.
Ayah hanya berharap kamu, Suh Ra, dan Hae Sol
saling menyayangi dan menghargai
meski kalian tidak bisa semesra dahulu.
Baik, Ayah. Akan kuusahakan.
Baguslah.
- Selamat malam. - Tunggu sebentar.
Ayah baru belajar, jadi, ini masih berantakan.
Tapi ayah merajutnya
memakai benang terhangat, jadi, ini akan menghangatkanmu.
Ayah merajut ini sendiri?
Untuk apa repot-repot?
Aku bisa membelinya.
Yang lebih bagus dan lebih mahal memang banyak,
tapi ini satu-satunya di dunia.
Ini dibuat untuk menantu ayah.
Tolong kenakan demi ayah
meski merepotkan, ya?
Terima kasih.
Tentu. Ayah sudah terlalu lama menyita waktumu.
Tidur dan beristirahatlah.
Masuk dan dengarkan aku.
Tidak mau! Ada apa denganmu?
Kenapa kita ke kafe peramal?
Duduklah.
Duduklah dahulu.
Aku tidak memercayai ramalan.
Ini bukan hanya soal peruntungan, kecocokan, dan hal semacam itu.
Mereka juga memberikan konsultasi soal jalur karier yang tepat.
Mari dengarkan.
Dengan wajah cantikmu,
kamu seharusnya menjadi tuan putri.
Tapi kenapa kamu tampak seperti itu?
Ada apa dengan penampilanku? Aku sudah puas.
Apa gunanya menjadi bunga yang tersembunyi?
Kecantikanmu tertutupi kain usang itu.
Apa maksudmu? Tolong bantu kami memahaminya.
Kamu punya energi keberuntungan yang sangat besar,
tapi energi maskulin yang gelap menelan semuanya.
- Apa? - Dengarkan aku.
Jika kamu mengubah cara berpakaianmu saja,
peruntunganmu akan langsung berubah.
Tanggalkan pakaian maskulin itu
dan kembalilah menjadi wanita.
Kamu ditakdirkan memakai gaun dan menari di pesta dansa.
Benarkah?
Jangan menipuku.
Mana bisa mengubah pakaian juga akan mengubah peruntunganku?
Cobalah sekarang juga.
Kita buktikan siapa yang benar.
Baiklah! Kenapa tidak? Akan kucoba.
Coba gosok.
Katanya mengubah pakaianmu akan mengubah peruntunganmu.
Berharap saja dia benar.
Aku akan memukuli peramal itu
dan kamu, karena menyeretku ke sana.
Baiklah. Gosok saja.
Jika tahu peramalnya berbohong,
dia akan kembali mengenakan pakaian pria yang jelek.
"100 dolar"
100 dolar! Aku menang!
- Apa? Sungguh? - Ya.
Ini gila!
Astaga!
- Luar biasa. - Astaga.
Para berandal ini.
Mereka meninggalkanku dan pergi berkencan?
Sial. Itu tidak baik.
Apa maksudmu, kamu mengambil
foto masa kecil Suh Ra?
Kenalanku mencari putrinya.
Kisahnya sama dengan Suh Ra, jadi, kuberikan fotonya kepadanya.
Siapa dia? Kamu memberikannya kepada siapa?
Hanya kenalanku.
Siapa? Beri tahu sekarang juga.
Beri tahu sebelum ibu memukulmu.
Ada apa dengan Ibu? Ibu menakutiku.
Kita sedang bekerja.
Lalu, kenapa? Semua orang tahu kita sudah menikah.
Ini bukan masalah.
Hae Rim.
Kamu amat dingin kepadaku,
tapi kamu begitu hangat di sisi Han Ji Sup.
Baik. Teruslah tersenyum.
Tidak lama lagi, kalian tidak akan tersenyum
seperti itu.
- Kenapa ke kantor? - Kamu membawa fotonya?
Aku bukan pengutang.
Haruskah kamu ke kantorku
hanya untuk beberapa foto?
Ibuku tiba-tiba memintanya. Kamu tahu segugup apa aku?
Kukira dia akan membunuhku.
Puas?
Aku sibuk, jadi, harus pergi.
Kudengar kamu menemukan adikmu yang hilang setelah 24 tahun.
Lalu, kenapa?
No comments yet. Be the first to leave one.