The first 200 lines.
Sains, karakter, lokasi, institusi dan kasus dalam drama ini adalah fiktif.
Proses syuting dengan binatang dilakukan sesuai dengan peraturan.
Episode 1 Dunia Yang Tidak Kooperatif
Lagi, lagi, lagi, lagi!
Tidaklah sama
Seperti yang aku inginkan
Lepaskan segalanya
Terbanglah dengan bebas
Cerita romantis ini, tak akan berakhir
Melampau langit dini hari yang dingin
Aku selalu memikirkan
Saat mata kita menatap satu sama lain
Hasrat yang masih ada sampai saat ini
Aku akan terbang!
Cerita romantis ini, tak akan berakhir
Hei!
Jae-Won!
- Jangan melewati batas! - Saya adalah dokternya!
Silakan.
Sayang...
Sayang...
Tidak...
Jangan lakukan CPR! Tolong minggir.
Akan ada pasien darurat. Tolong siapkan kamar operasi.
Kim Jae-Won...
Sudah tiada.
Sayang...
Aku... yang membunuh suamiku.
Aku harus bagaimana?
Aku...
yang membunuhnya.
Aku...
Aku adalah seorang pembunuh!
Brain Works
- Satu botol soju! - Akan datang!
- Kenapa pesanan kami belum keluar? - Mohon tunggu sebentar.
Satu soju dan bir!
- Ini enak. - Ayo bersulang.
- Mana kimchi dan tahuku? - Tunggu sebentar!
Ibu I-Na
Bahkan getaran ini menyebalkan.
Sangat menyebalkan.
Ibu I-Na
Kalau aku sampai mengangkatnya, aku adalah suamimu.
Ibu I-Na
Kurasa aku memang suamimu...
Ada apa?
Cepat datang!
Kenapa harus aku kesana?
Karena kau adalah polisi, dibayar dengan uang pajak warga.
Kalau warga meminta pertolongan, kau harus datang.
Baiklah, warga.
Tapi, aku adalah pelayan publik, bukan pesuruhmu.
Kau tidak akan mencegah kejahatan?
Aku bisa saja mati!
Aku sudah bukan detektif kejahatan lagi. Sekarang aku hanya menginvestigasi.
Investigasi?
Aku bisa saja mati, inilah harapanku terakhirku.
Sampaikan harapan terakhirmu pada suamimu. Untuk kejahatan, lapor ke 112.
Aku tidak akan datang! Kau mengerti?
Cepat buka!
Buka pintunya!
Kalau kau tidak buka, kuhancurkan kepalanya!
Aku tidak tahu apa-apa.
Aku tidak tahu dia punya pacar.
Jelek sekali... Pakai dulu bajumu!
Siapa lagi ini?
Cepat pakai!
Seleranya benar-benar beraneka ragam.
Mengesankan.
- Sayangku kau datang! - Apa? Siapa lagi?
Bukan, bukan aku...
Jangan melukai harga diriku. Jangan melewati batas,
Tetap tenang.
Bedebah ini...
Aduh, sakit!
Sakit, sakit!
Siapa kau?
Aku?
Mantan suami.
Mantan suami dari pacarmu.
Mantan...
suami.
Otak dengan hasrat seksual tinggi Nama: Kim Mo-Ran, pekerjaan: Tidak jelas
Membuktikan bahwa akulah Si Bodoh.
Kenapa aku hidup seperti ini?
Benar-benar memalukan.
Otak tanpa pamrih Nama: Geum Myung-Se
Pekerjaan: Anggota Investigasi Kepolisian, bagian neurosains
Sayang!
Kenapa bagian investigasi?
Katanya kau tak suka berpikir? Sangat tidak cocok dengamu!
Kata siapa?
Aku dulu anak IPA.
Awas apabila kau meneleponku lagi karena hal seperti ini.
Ketua Tim Seol
Halo, Ketua Tim?
Kasus pembunuhan?
Kepolisian
- Itu dia. - Jung In-Yeong datang.
Semua minggir!
Jung In-Yeong!
Jung In-Yeong, kenapa kau membunuh suamimu?
Jung In-Yeong! Mohon penjelasan!
Baik, baik.
- Silakan bertanya. - Apakah benar karena pendarahan otak?
Apa maksud dari pernyataan bahwa istrinya yang menyebabkan pendarahan itu?
Begini...
Yang bisa saya sampaikan, hanyalah ini.
Di bawah pimpinan saya, kasus ini pertama kalinya terjadi di Korea Selatan.
Kasus kejahatan yang berhubungan dengan neurosains.
Maka itu dibuatlah tim khusus.
Tim neurosains akan bertanggungjawab untuk kasus ini.
Tim Neurosains
Oh tidak!
Astaga.
Bagaimana ini?
Kantornya bahkan masih berantakan!
Untuk apa.. Ya ampun!
Ketua Tim?
Apa yang kau lakukan?
Aku terjatuh. Maafkan aku.
Tidak perlu minta maaf. Ayo keluar dahulu.
Biar aku sendiri.
Tidak apa-apa.
- Kau baik-baik saja? - Ya. Maafkan aku.
Bukankah ini keterlaluan?
Sepertinya kau bersemangat karena kita mendapatkan sorotan
dari kasus yang berhubungan dengan selebritas.
Sebenarnya, hanya kita yang disulitkan.
- Benar juga... - Betul, bukan?
Saat Ketua Divisi datang, sampaikan padanya.
- Bahwa ini keterlaluan! - Ya? Saya?
- Ya. - Hei!
Kalian di sini?
Kesempatan naik jabatan secepat 5G di depan mata.
Ayo selesaikan kasus ini dengan baik, dan buktikan alasan adanya tim ini.
Kenapa?
Ada apa?
Ketua Divisi...
Maaf, tapi...
Otak pemalu Nama: Seol So-Jung
Pekerjaan: Ketua Tim Neurosains, Investigasi Kepolisian.
- Kita belum siap. - Lalu?
Mustahil dilakukan?
- Ya. - Apa?
Ya katamu?
Ya?
- Bukan, bukan begitu. - Apanya yang bukan?
Pimpinan baru saja bilang kasus ini akan jadi sorotan publik.
Maka usutlah dengan hati-hati tanpa memancing sentimen publik.
Ya?
Dikirim sepenuh hati dengan tiga tanda seru, barusan saja.
Berani-berani kau bilang tidak bisa?
- Maafkan saya. - Kalau tak ada arah, carilah jalan.
Kalau tak punya, cari jalan lain. Ini hanya masalah keinginan!
Memangnya kita pernah melakukan persiapan matang sebelum mulai?
Oh.
Apakah karena kau tidak pernah kerja di lapangan?
Atau... kau tahu tapi menceramahiku?
Begini...
Ketua Divisi...
Sayalah yang mengeluh tidak siap. Maafkan saya.
Industri 4.0,
Tim ini kubangun atas ambisiku, sesuai Peraturan Inisiatif Neurosains.
Kinerjaku dinilai berdasarkan kinerja kalian berdua.
Bagaimanapun, harus berhasil.
Mengerti?
- Mengerti. - Baik.
Kudengar Kim Jae-Won mengidap Parkinson? Dia masih muda...
Sudah tiga tahun. Karena masih muda, penyakitnya lebih cepat memburuk.
Operasi stimulasi otak dalam bahkan sudah dilakukan.
Operasi transplan di otak untuk mengontrol tremor, bukan?
Betul.
Operasinya berhasil. Kesehariannya tidak terganggu.
Yang jadi masalah, sulit baginya memetik gitar.
Gitar adalah segalanya baginya.
Dia selalu bermain gitar, bernyanyi ingin mati,
Bahkan ia begitu sebelum konser.
"Bunuhlah aku, saat aku paling bersinar, di atas panggung."
Dia mempunyai pemikiran yang gila.
Dia seharusnya tidak boleh menggunakan gelang berfrekuensi tinggi
setelah operasi stimulus otak dalam.
Aku membeli gelang modifikasi yang bisa diatur frekuensinya
secara ilegal.
"Aku akan menggunakannya di atas panggung..."
Ini ponsel Kim Jae-Won.
Frekuensinya bisa diatur dengan aplikasi di ponsel ini.
Kulakukan sesuai kemauannya.
Pada akhirnya, akulah pembunuhnya.
Aku...
adalah pembunuh.
Ya, mungkin terjadi.
Energi diatom yang disalurkan melalui implan
dapat melukai dan merusak lapisan jaringan
dan menyebabkan kematian.
Kalau ini alat medis, tidak akan jadi masalah.
Tapi apabila ini benda ilegal, tentu akan berbeda.
Karena depresi, aku merekomendasikan agar dia konsultasi dengan psikiater.
Sebagai dokternya, aku merasa malu.
No comments yet. Be the first to leave one.