The first 200 lines.
Jadi, hari ini...
aku ingin membicarakan wanita terhebat yang kukenal.
Pintar, lucu, perhatian, spesial.
Sangat spesial.
Di mana aku memulai?
Baik.
Aku pernah menyebutkan ini.
Aku tidak bodoh. Aku bisa diandalkan.
Tapi umurku 19 tahun, dan untuk suatu alasan...
aku belum bisa naik sepeda.
Siapa bilang kau tidak bisa?
Aku, Nenek. Kita terus mencoba ini.
Dan kita akan teruskan hingga berhasil.
Sekarang, lihat kakekmu.
- Maksudmu Graham? - Lihat Graham, kalau begitu.
3, 2, 1, mulai!
Ayo!
Ayo, Ryan.
Kau bisa, Kawan!
Hampir.
Tidak, tidak hampir.
Aku muak ke sini, aku muak jatuh,
dan aku muak dengan sepeda bodoh ini.
Ryan Sinclair, jangan coba-coba!
Kawan, kau menaikinya sebentar.
Bisa berhenti memanggilku "Kawan?"
Lagipula, sebentar saja tidak cukup.
Kau akan bisa jika terus berusaha.
Aku hanya ingin membuatmu bangga.
Kau membuatku bangga setiap hari.
Bagaimanapun, ambil sepeda itu sendiri,
karena kereta kami pergi 20 menit lagi.
Ayo, Sayang.
Oh, ini sangat...
Hai, polisi, mungkin.
Dia memukulnya dengan palu.
Karena kau menggores pintuku.
Karena kau parkir di lahanku.
Ini bukan lahanmu, bukan lahan siapa-siapa.
Nona-nona, tolonglah!
Terima kasih. Boleh kuberi solusi?
Kau ganti rugi jendelanya, kau ganti rugi pintunya.
Kita semua setuju bahwa parkir di sini sangat sulit,
tapi orang dewasa tidak perlu memanggil polisi...
untuk membereskannya.
Jika kita semua sepakat,
aku tidak perlu melakukan tindakan hukum,
dan kita semua bisa kembali bekerja. Bagaimana menurut kalian?
Aku sanggup mengurus hal selain pertengkaran di parkiran.
Dan aku selalu bilang, jangan berlari...
sebelum kau bisa berjalan. Kau dalam pelatihan, Yaz.
- Belajar dasarnya. - Aku ingin melakukan lebih.
Tidak bisakah mereka memberi ujian padaku?
Sesuatu yang sedikit berbeda.
Ada laporan yang baru masuk, jika kau mau yang berbeda.
Dan kau menemukannya di sana?
Bukan. Itu muncul begitu saja.
- Benar. - Sumpah, ini bukan tipuan.
Aku ke sini mengambil sepedaku.
- Dan mana sepedamu? - Di pohon itu.
Nama, Pak?
Ryan Sinclair.
Tunggu, SD Redlands?
- Ya! - Yasmin Khan.
- Oh, ya Tuhan! Yaz! - Ya.
- Wow! - Aku tahu.
- Lihat dirimu. Kau agen? - Ya.
- Kami tidak menyebutnya begitu. - Oh.
Aku masih dalam pelatihan. Masa percobaan.
Bagaimana denganmu? Apa yang kau lakukan?
Pekerja gudang.
Oh, begitu. Kau menyukainya?
Aku benci. Itu demi uang kuliah. Aku ingin jadi montir.
Itu bagus.
Tapi kau harus singkirkan ini. Serius.
Sebentar lagi gelap. Jangan membuangnya di sini.
Bukan salahku! Aku tidak bisa mengangkatnya!
Ayolah, Ryan! Jujur padaku.
- Sentuhlah. - Apa?
Lihat? Itu dingin.
Stasiun selanjutnya Grindleford.
Menurutmu dia akan memanggilku kakek?
Beri dia waktu.
Kita sudah menikah 3 tahun.
Dan kau menjadi lebih bahagia.
Grindleford adalah stasiun berikutnya.
- Dia tidak bisa jauh dariku. - Jaga sikapmu.
Tidak akan pernah.
- Kau tidak apa-apa? - Kurasa.
Ya.
Apa yang terjadi?
- Kau mau ke mana? - Hanya melihat situasi.
Apa yang kau lakukan?
Jangan turun ke rel, itu bisa menyetrum.
Pergi dari sana!
Graham, pintunya terkunci.
Kita terkurung. Aku tidak bisa membukanya.
Ada yang salah.
Kurasa sesuatu datang.
Baik, menjauh dari pintu.
Grace, ke belakang gerbong! Ke belakang!
Tunggu sebentar.
- Hai, Nenek. - Ryan, Sayang.
Kereta kami terhenti antara Hathersage dan Grindleford,
dan hal aneh terjadi...
Semua baik-baik saja?
Nenek!
Grace, mundur.
Apa itu?
Aku tidak tahu.
Oh, ayolah.
Apa?
Itu bisa memberi kita waktu.
Oh, ya. Ceritanya panjang.
Kuceritakan nanti. Pintu?
- Terkunci. - Kita lihat saja.
Tidak ada Sonic.
Saku kosong.
- Aku benci saku kosong. - Dia kembali!
Apa kau ini?
Baik. Tidak suka pertanyaan.
Tipe penyendiri. Aku mengerti.
Menjauh dariku!
Kalian semua, jangan bergerak.
Dia akan membunuh kita.
Dia bisa melakukannya dari tadi.
Nenek!
Ryan, menjauh!
Oh, ya Tuhan.
Kalian bertiga, tenang, tapi jangan bergerak.
Aku akan periksa keretanya.
Kalian berdua tidak berguna.
Hei!
Sebentar, Bu. Aku ingin kau mendengarkanku.
Ini mungkin sebuah TKP, Bu.
Siapa yang kau panggil "Bu?"
Karena kau seorang wanita.
Benarkah? Apakah cocok denganku?
- Apa? - Oh, ya.
Aku ingat.
Maaf, setengah jam lalu aku pria Skotlandia berambut putih.
- Kapan kereta selanjutnya datang? - Ini kereta terakhir.
Tapi pintunya terkunci. Bagaimana kalian masuk?
- Jendela masinis pecah. - Siapa namamu?
Polisi Jagabaya Khan, Kepolisian Hallamshire.
Nama, bukan gelar.
Yasmin Khan.
Yaz bagi temanku. Boleh kutahu namamu?
Saat aku bisa ingat.
- Kau tidak tahu namamu? - Tentu saja aku tahu.
Aku hanya tidak ingat. Ada di ujung...
Apa itu?
- Lidah? - Lidah!
Anak pintar. Biologi.
Dia memanggilmu apa? Ryan?
Ya, Ryan Sinclair.
Nama yang bagus. Apakah kau dokter, Ryan?
- Bukan. - Sayang sekali.
Aku mencari dokter.
Daya. Lampu.
Pintu.
Wanita malang.
Makhluk itu pasti membunuhnya saat masuk.
Kenapa begitu?
Dia tidak membunuh orang lain.
Sepertinya dia mati karena syok saat jendelanya diterobos.
Bagaimanapun, seorang wanita tewas di sini.
Tapi tidak ada lagi makhluk itu.
Dan tidak ada penumpang tersisa.
Mari kembali pada yang lain.
Tunggu. Bisa kau berhenti? Ini mungkin insiden besar.
Aku yang memimpin di sini.
Apa yang akan kau lakukan?
- Melapor pada markasku. - Apa yang akan kau katakan?
- Faktanya. - Yaitu?
- Kereta diserang. - Oleh apa?
Aku harus melihat rekaman CCTV.
Dan kenapa kau perlu melihat CCTV...
saat kita semua melihatnya dengan mata kita sendiri?
Apakah itu alien? Karena bagiku itu seperti alien.
- Oh, yang benar saja. - Menurutmu dia salah?
- Aku tidak tahu, tapi... - Tapi kau cemas soal...
caramu menjelaskan ini kepada atasan yang tidak mempercayaimu.
Aku harus melaporkannya.
Kau bisa menunggu hingga kita dapat jawaban untuk pertanyaan besarnya.
- Yaitu? - "Apa itu?"
"Kenapa itu di sini?" "Ke mana itu pergi?"
Dan yang terpenting, "Bagaimana kita menghentikannya?"
Karena apa pun itu, kurasa dia belum selesai.
Ayo, Ryan. Ayo, Yaz.
Aku memanggilmu Yaz karena kita teman sekarang.
Namaku Karl Wright.
Nama tengah Brian.
Jalan Northover nomor 52.
Nomor telepon?
Baiklah, pasukan.
Tidak, bukan pasukan. Tim. Geng.
Sobat?
Aku melantur.
Kau jatuh menembus atap itu.
No comments yet. Be the first to leave one.