The first 200 lines.
Itu serigala putih dengan mata kuning yang menyala.
Serigala yang mengawasinya dari kabut.
Dia bilang serigala itu menatap ke dalam jiwanya
dan membuat pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran gelap.
Jangan takut pada teror malam hari.
Setiap godaan, setiap rahasia kesalahan.
Dia memberitahu kepala biara dan tidak bicara lagi sejak itu.
Mungkin sumpah diam, mungkin
takut pada apa yang bisa keluar dari bibirnya.
Pada hari ketiga, kehadiran serigala terasa
oleh beberapa biarawati.
Aku lelaki beriman
dan aku juga percaya pada kedua mataku.
Aku tak pernah menyangka akan melihat serigala itu.
Kau melihat serigala?
Aku melihat domba.
Dia pasti menderita suatu penyakit.
Matanya berwarna kuning pucat.
Pulau ini sangat terpencil.
Bagaimana seekor domba bisa sampai di sini?
Pasti terlepas dari salah satu kapal.
Satu hal yang pasti; bukan serigala.
Para biarawati, mereka pasti lega saat kau memberi tahunya.
Sayangnya, gambarannya sudah tertanam.
Sudah dipikirkan.
Annalise tidak sama lagi sejak itu.
Tidak juga dengan Lucy.
Lucy si Kraut?
Ya.
Itu sebabnya dia ada di sini.
Dia diserang di London.
Oleh orang yang mendengar aksennya.
Salah satu konsekuensi malam
dari perang yang dideritanya
akibat tindakan politisi.
Seperti yang kita lakukan, kurasa.
Ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?
Tidak, hanya saja, kau tadi bilang perang.
Kadang-kadang saat aku berada di pantai,
larut malam, aku mendengar suara bom.
Kita pasti dekat dengan pantai Norwegia. Kau pernah mendengarnya?
Tidak menyangka kita sedekat itu.
Kau tahu, pendengaranku terganggu karena perang Boer.
Kukira itu terjadi pada malam yang cerah.
Aku mendengar suara pesawat beberapa hari yang lalu.
Menurutku itu Dornier 217 atau 317.
Pesawat Kraut?
Ya.
Pendengaranmu bagus.
Kau tak ada gunanya di sini.
Jadi kau tidak berpikir kembali ke medan tempur.
Tidak, aku sudah melakukan tugasku.
Aku sudah muak dengan perang.
Keluar lebih cepat setelah terserang penyakit
saat pergantian abad.
Hampir membunuhku.
Beberapa temanku juga tidak seberuntung itu.
Itu bukan satu-satunya penyakit yang kuderita.
Ya Tuhan.
Maaf.
Sebaiknya kau berhati-hati.
Jangan biarkan dia, biarkan Ibu Biarawati itu.
Sampai kau melakukan semua itu.
Dia akan menuduhmu melakukan penistaan agama dan dia tidak akan pernah memaafkanmu.
Bahkan jika tidak disengaja.
Tidak.
Tiga jari.
Itulah trinitas sucimu.
Dua jari di telapak tangan, lalu ke atas.
Bawah, kiri. Kanan.
Jika kau jadi penggantiku,
kau harus tetap berada di sisinya.
Itu saja yang mau kukatakan.
Pertempuran Normandia mencapai minggu ketiga.
Pak Churchill mengatakan, aku bisa menyatakan pada DPR
bahwa operasi ini berjalan dengan
sangat memuaskan.
Sekian berita utamanya.
Drama radio kami malam ini adalah
The Witching Hour.
Berdasarkan drama panggung Miroslav Petkov
dan diadaptasi dari novel Karya Apeksha Nichrelay.
Dibintangi; John Milburn, Joel Barnett, Andy Gatenby
Rudy Ledbetter dan Caine Stewart,
Toby Osmond, Robert John Corrigan,
Daryl Gerard Morrissey dan Hillary Tory.
Valerie, pimpin doa.
Berkatilah kami, ya Tuhan, atas karunia-Mu ini, yang akan kami terima
dari kemurahan hati-Mu melalui Kristus, Tuhan kami.
Amin.
Amin. Amin.
Bagaimana keadaan lututmu suster?
Sudah lebih baik.
Luka lecetnya sudah sembuh.
Suster aku tidak mau membicarakan lutut yang lecet saat makan malam.
Ada sesuatu yang menghiburmu Eleanor?
Yah, lututnya tidak akan tergores jika dia tidak lari
dari seekor domba busuk.
Jangan mengejekku, Suster.
Aku tahu apa yang kulihat. Itu adalah seekor serigala.
Katakan pada mereka, Lucy, kau juga melihatnya.
Tidak ada gunanya bertanya padanya
tentang serigala ketika kucing punya lidah.
Suster Eleanor. Waspadalah pada nabi-nabi palsu yang datang kepadamu
dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka serigala yang buas.
Omong kosong.
Cukup.
Suster Eleanor, kusarankan kau makan roti
kembali ke kamarmu.
Kau harus naik perahu besok.
Tidurlah lebih cepat sehingga mungkin kau akan lebih segar
di pagi hari.
Aku mau ikut dengan Eleanor besok. Aku mau ikut.
Selamat malam, Suster.
Kakira ku mau bicara atau mungkin membaca satu bagian?
Kau salah kira.
Tuhan bisa menolongmu suster, tapi jika kau mengizinkannya.
Minum?
Oh, tidak. Terima kasih. Hanya saat makan malam.
Kupikir sebanyak itu.
Tinggalkan aku sendiri.
Aku khawatir pada saudarimu. Aku mau membantu.
Kupikir mungkin jika kau tidak mau bicara
pada ibu pendeta, mungkin sesama biarawati.
Jadi, keinginanmu adalah mendekatkanku pada Tuhan.
Katakan Suster Agnes.
Ceritakan saat saat kau merasa Dia membimbingmu pada sesuatu yang positif.
Yah, aku tahu dia mengawasi, dia menjauhkan setan dari pintu rumahku
dan dia melindungiku dari godaan.
Yang kudengar hanyalah godaan. Yang kulihat hanyalah kutukan.
Kau tahu kenapa?
Kenapa?
Tuhan tidak mengasihimu. Tak satu pun dari kita.
Itu tidak benar. Dia mengasihiku dan kau.
Kita memenuhi tugas dan menyebarkan kebaikannya.
Aku punya peran khusus.
Dengar, jalang kecil yang saleh.
Aku muak mendengarnya terus-menerus.
Kau percaya pada Annalise tentang serigalanya?
Dia pasti salah.
Benarkah?
Ya.
Karena aku melihatnya mengawasimu saat kau berjalan melewati taman.
Jangan bercanda.
Tetap dengarkan, Suster Agnes.
Dan tunggu.
Kau akan segera mendengar suaranya, tapi itu bukan suara Tuhan.
Suster.
Kau sungguh melihat apa yang kulihat?
Ayo ikut aku.
Aku punya firasat buruk.
Ada kegelapan di sekitar St. Augustine.
Yang akan merasuki kita.
Kau mau ikut?
Semoga Tuhan mengasihani jiwamu.
Ada apa dengan Lucy?
Tidak ada apa-apa.
Belum.
Kau yakin mau ikut Suster?
Kau sangat dihormati di sini
dan kedudukannya begitu tinggi, hanya di bawah ibu kepala.
Tak seorang pun mau mendengar kekhawatiranku.
- Kekhawatiran apa? - Kurasa aku diberi peringatan, Valerie.
Sesuatu yang buruk akan terjadi,
aku tidak mau ada di sini saat itu terjadi.
Apa yang akan terjadi?
Aku tidak tahu persisnya.
Ramalan cuaca memperingatkan akan datangnya badai.
Kau bisa menunggu sampai berlalu.
Aku tahu. Tapi kita akan pergi sebelum saat itu tiba.
Selain itu, mungkin badai itu merupakan sebuah peringatan.
Bisa kalian sendiri, nona-nona?
Suster!
Maaf, Suster.
Kami bisa sampai tanpamu.
Baiklah, aku melakukan apa yang diperintahkan, tidak yang lain.
Kau seharusnya menerima perintah Jenderal.
Bukan Ibu Pendeta.
Selamat jalan, Suster.
Kuharap airnya tidak terlalu berombak.
Kami akan baik-baik saja.
Kau yakin mau kembali ke sini, Suster?
A L I H B A H A S A K U D A L U M P I N G
Biarkan saja mereka menyelesaikan, Nak.
Tunjukkan rasa hormat.
Kau harus meninggalkan kapel itu dengan tenang,
kau harus memperbaiki lemari di kamar Lucy dan Valerie.
lalu kembali lagi ke sini setelah itu, oke?
Ya Tuhan, aku akan ke neraka.
Maaf. Aku tidak bermaksud mengejutkanmu, Fraulein.
Apa yang kau lakukan di kamar kami?
Kau membutuhkan sekrup.
Maafkan aku.
Lacinya, maaf.
Amos mau kau menyelesaikan pekerjaanmu di kapel.
Dia mengambil perlengkapan untuk menghadapi badai besok.
Kami memperkirakan akan terjadi pemadaman.
Selamat siang Suster-suster.
Badai menyebar melintasi kanal yang menyebabkan kerusakan
di sepanjang pantai tenggara Inggris.
No comments yet. Be the first to leave one.