The first 168 lines.
Menurut wasiat terakhir Kepala Biara.
Kepala Biara baru di pertapaan ini adalah Maharaj Naren.
Tolong jangan berpura-pura.
Naren.
Ada apa?
Apa yang kau pikirkan?
Sarla...
Hatiku bersedih.
Aku mencoba memberitahumu, tapi
tapi... aku tak bisa.
Naren...
Ada sesuatu yang ingin kuberitahukan padamu juga.
Tapi pertama-tama, kau harus berbagi dilemamu denganku...
Aku akan sangat menyukainya.
Kau juga akan merasa tidak terbebani.
Yang membedakan makhluk hidup dengan Brahma (Pencipta)...
adalah ilusi... yang juga disebut ketidaktahuan.
Saat makhluk hidup mengurangi dirinya dari ketidaktahuan
dia akan mencapai Brahma.
Jadi, dakwa pertamaku adalah
jika ketidaktahuan adalah kualitas Brahma yang tidak lazim
maka ketidaktahuan tidak bisa dihancurkan.
Karena setiap kualitas itu alami.
Teguh di bawah pohon yang memberinya perlindungan.
Sama seperti mimpi itu bohong
sering kali kita salah mengira tali sebagai ular di kegelapan
demikian pula, karena ilusi, kebohongan, dan ketidaktahuan ini
setiap makhluk hidup percaya dunia ini nyata.
Kenyataannya, tidak ada penciptaan dunia, tidak ada malapetaka atau ahli.
Atau seseorang yang menginginkan keselamatan.
Brahma adalah satu-satunya kebenaran... tidak lebih.
Menurut Advait Mat,
jiwa tidak melakukan perbuatan apa pun, atau mengalami kesenangan apa pun.
Maaf.
Ada janji terakhir?
Berjanjilah untuk tidak bohong atau menipu lagi.
Tidak... Aku tidak pernah menipu siapa pun.
Tanpa tipu daya apa pun.
Dewa mengunjungimu dalam mimpimu?
Aku tidak seberuntung itu.
Dewa memberkatiku dalam mimpiku.
Dengar, Nak.
Bagaimanapun juga, dia ibumu.
Maafkan dia.
Dia tidak melakukan dosa apa pun.
Bukannya cintaku cukup berharga
untuk memberimu kedamaian?
Sarla...
Aku sangat menyayangkan.
Saat ini aku membutuhkan cinta.
Cintaku bersamaku.
Tapi...
Naren.
Pakaian ini tidak punya eksistensi tersendiri.
Jiwa kita terjalin bersama dalam cinta.
Bagaimana bisa kain atau warna apa pun
hadir di antara kita?
Lupakan semuanya, Naren.
Aku harus memberitahu sesuatu yang penting.
Tapi kau tersesat dalam dirimu saat ini
Sarla.
Takdir adalah dasar dari setiap ikatan duniawi.
Dan takdir kita juga.
Nama Ram abadi.
Nama Ram abadi.
Nama Ram abadi.
- Sekotak daging manis? - Ya, benar.
- Oke-oke. - Ya.
- Silakan... - Sampai jumpa.
- Bibi... kunjungi kami lagi. - Tentu saja sayang.
Ada apa?
Kau merasa baik-baik saja?
Nama yang tidak disebutkan namanya hidup tanpa akhir.
Tidak ada kebenaran lain.
Ya ampun, ini desa orang mati.
Bagaimana?
Baunya aneh.
Bagaimana kalian bisa tinggal di sini?
Dibutuhkan seumur hidup
untuk mencapai posisi kami saat ini.
Kau beruntung
untuk sampai ke sini dengan mudah.
- Salam, ibu. - Semoga diberkati, sayang.
Biarlah... aku yang melakukannya.
- Tidak-tidak... - Duduklah.
Aku sudah selesaikan yang itu.
Aku akan melakukannya lagi.
- Ibu. - Ya, Nak.
Aku mau ke Godolia, dan aku kembali malam hari.
Nama Ram abadi.
Nama Ram abadi.
Nama Ram abadi.
Nama Ram abadi.
Daging manis Bhola ini sangat terkenal.
Aku bawa ini untukmu.
Itu lebih bagus.
- Aku akan menyelasaikannya. - Tidak.
Nak.
Ya, ibu.
Besok pergilah ke tepi sungai dan cari kayu.
Mereka menjual dengan harga murah.
Inflasi selalu tinggi.
Satu orang saja tidak bisa mengurus seluruh rumah.
Dan
bawalah kayu kering.
Kau bawa banyak kayu basah kemarin.
Itu mempersulit menantu perempuanku.
Sayang, sajikan banyak roti untuknya.
Apa yang terjadi?
Ada kematian dan asap di mana-mana.
Aku merasa tercekik.
Kau di sini sebagai ayahku, atau...
Aku tidak bisa jadi pemujamu.
Dan aku tidak punya kemampuan untuk menjadi ayahmu.
Siapa yang mengirimmu ke sini?
Kalyani Devi? Untuk penebusan?
Tidak.
Aku di sini untuk memecahkan dilema.
Dilema apa?
- Dilemaku... atau dilemamu. - Kita berdua.
Nak... aku harus pergi bekerja.
Aku harus mendapatkan uang, tapi aku kehilangan kesehatan.
Aku divonis mengidap suatu penyakit
dan aku tidak punya ahli waris.
Ibumu tidak bisa melakukan apa pun.
Dia tidak mau melakukan apa pun dengan sukarela.
Aku tidak pernah menyalahkannya.
Kau juga harus memaafkannya.
Setidaknya Kalyani bisa mati dengan tenang.
Om Shant... Shanti... Shanti...
Ini bukan salahmu.
Ini karena pakaian-pakaian ini.
Ini sandiwara... bohong.
Kita mengenakan pakaian ini
dan mengaku mencapai Dewa.
Tapi itu hanya untuk maksud mengumpulkan peminatnya.
Maafkan aku.
Dewa Krishna lahir pada malam yang gelap.
Di alam semesta tidak ada yang lahir dalam cahaya.
Setiap orang... lahir dalam kegelapan.
Bahkan saat benih bertunas itu tumbuh
dari kegelapan bawah tanah.
Bunga akan mekar di bawah cahaya
ia lahir...
Mereka dilahirkan dalam kegelapan.
Proses kelahirannya begitu misterius
hanya bisa terjadi dalam kegelapan.
Bahkan yang terjadi dalam dirimu
dikandung dalam kegelapan.
Puisi lahir
dalam kegelapan pikiran.
Meditasi lahir...
dalam kegelapan.
Kegelapan adalah
tempat yang tak tersentuh oleh cahaya pengetahuan.
Sudah berakhir.
Ayo.
Aku sudah bilang ribuan kali...
Ayo.
Aku mau jadi ibu bagi anak seperti Dewa Shiva.
Aku mau anak seperti Shiva.
Kau bisa memberiku itu.
Yang bisa kuberikan hanyalah berkahku...
Tapi anak yang lahir
harus diserahkan di rumah sakit jiwa Dewa
dan pertapaan ini.
Aku tidak pernah melihatnya lagi setelah itu.
Dia punya seorang anak, dan hasratku juga terpuaskan.
No comments yet. Be the first to leave one.