Specials

Release info

Jang Geum, Oh My Grandma 15
A Commentary by Bilanursalisah

Tags

other
Published on: 2019-01-18
Downloads: 29
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Jang Geum, Oh My Grandma-

Aduh, dingin banget.

Tapi, aku senang bisa membeli ini.

Bunga-bunga ini akan mencerahkan suasana rumah sakit yang suram.

Seorang wanita mengungkapkan perasaannya,

berpikir orang yang dicintainya merasakan hal yang sama, tapi ternyata tidak.

Dia patah hati.

Selain itu, mereka rekan di perusahaan yang sama.

Menurutmu bagaimana perasaannya?

Bukankah jelas ...

dia akan merasa tidak nyaman?

Calon.

Kau mungkin ingin bersikap seperti biasa lagi.

Tapi saya tidak.

Dan juga,

tolong jangan khawatir pada saya lagi.

Saya tidak ingin salah paham dan membuat kesalahan lagi.

Bukan begitu.

Dengarkan aku. Sebenarnya...

Saya sudah cukup mendengarkan, Pak.

Maaf, tapi lebih baik kita menjaga jarak demi kenyamanan masing-masing.

Saya permisi.

Calon. Berhenti.

Benar.

Kita memang jadi merasa tidak nyaman dan itu juga membuatku merasa frustasi.

Calon...

Maksudku, Seung Ah.

Aku sangat menyukaimu.

Apa katamu?

Kamu...

menyukaiku?

Ya.

- Aku menyukaimu. - Mengapa, tiba-tiba?

Apa kau pikir lebih baik mengikuti perasaanku...

daripada merasa tidak nyaman seperti ini?

Bukan begitu.

Benar, aku mengakui bahwa aku telah menyakiti perasaanmu.

Aku bersikap kasar padamu. Maafkan aku.

Kupikir, keputusanku benar bersikap begitu waktu itu,

tapi setelah berpikir lagi ...

- Apakah kau selalu seperti ini? - Apa?

Kau membuat perasaan saya melayang di saat kau mau,

kemudian mematahkan hati saya di saat saya sedang melayang tinggi.

Ya, aku tahu kau akan sulit memahaminya.

Tapi tolong jangan salah paham.

Pertimbangkanlah kata-kataku.

- Setelah itu kita bicara lagi ... - Tidak perlu.

Anggap saja saya tidak mendengar apa yang kau katakan.

Dan saya tidak ingin membicarakan hal ini lagi.

Biarkan saya menjaga ibu saya sendiri.

Permisi.

Aduh, kaget.

Apa yang kamu lakukan di sini?

Jeong Sik.

- Jeong Sik. - Mas San Hae.

Jaket ini.

Kau yakin membelinya sendiri?

- Itu ... - Aku sudah dengar semuanya.

- Dengar apa? - Di lobi.

Aku dengar pembicaraanmu dengan Seung Ah.

Kenapa kau tidak memberitahuku?

Maafkan aku...

karena tidak jujur.

Lalu, kenapa kau tidak menyimpannya untuk selamanya?

Aku bilang aku menyukainya.

Aku bilang aku merasa kalau dialah takdirku.

Aku juga ingin menyimpan perasaanku demi dirimu.

Aku tidak ingin mengakuinya.

Aku berdiam diri sebisaku demi kepentinganmu.

Tapi sejak ...

Aku mulai berpikir kalau Seung Ah ditakdirkan untukku...

- Aku tidak bisa berdiam diri lagi. - Apa?

Apa maksudmu, dia ditakdirkan untukmu?

- Mana mungkin. - Mulutku tidak lumpuh.

Aku tidak mengalami efek samping.

Kamu yakin?

Bagaimana bisa terjadi ...

Hanya ada satu takdir untuk setiap orang.

Satu dari kita salah...

atau ada kekeliruan.

Jeong Sik, ini bukan kesalahan atau kekeliruan.

Baik.

Apakah Seung Ah ...

perasaannya sama denganmu?

Apakah dia menerima hatimu?

Tidak.

Tapi aku akan menjadikannya kenyataan dengan perasaanku sekarang.

- Aku tidak ingin mundur lagi. - Apa?

Kau akan terus begini?

Baiklah, mari kita lihat ...

siapa di antara kita yang ditakdirkan untuk Seung Ah.

Apa?

Dia menyukaiku? Ampun.

Apa gunanya mengatakan itu?

Dia bilang dia tidak menyukaiku.

Dia bilang aku salah paham!

Terlebih lagi,

apa yang salah kupahami?

Dan mengapa dia ingin aku pikirkan kembali?

Apa dia pikir aku bodoh...

dan terganggu oleh pernyataan cintanya sepanjang hari?

Kita memang jadi merasa tidak nyaman dan itu juga membuatku merasa frustasi.

Calon...

Maksudku, Seung Ah.

Aku sangat menyukaimu.

Aku sangat menyukaimu.

Tidak, tidak.

Mari kita berhenti terpengaruh.

Pak Han hanya seorang pria yang plinplan...

yang dengan mudahnya mempermainkan perasaan orang lain.

Sadarlah, Bok Seung Ah.

Dia memiliki hati yang benar-benar murni.

Dia bahkan akan membawakan bintang untukmu.

Kubilang untuk bertemu dengan pria yang selalu bisa membuatmu tersenyum.

- Aku menyukaimu, Seung Ah. - Aku menyukaimu.

Ya.

Aku harus bertemu seorang pria yang bisa membuatku tersenyum.

Perseteruan Keluarga Mendadak-

Seorang pria harus menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Aku perlu melakukan apa yang perlu dilakukan bahkan meski dia kakakku.

Jangan beri kesempatan.

Ya ampun, bocah ini.

Apa ini?

Ini seperti makanan petani.

Rebus barley dan beras sesuai dengan orang berpikiran sempit.

Ini akan jadi pertarungan panjang.

Aku harus makan dengan baik.

Mari makan.

Tunggu. Aku mencium bau corvina kuning kering, sup gurita,

dan sekitar 10 jenis lauk.

Tak bisa dipercaya. Kau membedakan makanan kita lagi.

Wah, benar-benar menyebalkan.

- Kak! Kak! - Diamlah.

- Apa ini? - Kalau kau mau makan semua ini,

makan dengan khidmat di sini sendirian saja.

Hei, aku tidak bisa melakukan itu.

Yah, bisa, sih.

Aku ambil sumpit dan sendok dulu, ya.

Apa terjadi sesuatu?

- Apa maksudmu? - Katakan saja padaku.

Tak perlu.

Enggak masalah kalau enggak mau cerita.

Pokoknya, Kakak akan tahu...

betapa melelahkannya saat sedang marahan dengan Jeong Sik.

Kakak akan benar-benar tahu bagaimana rasanya.

Hei, kau enggak mau makan?

Iya, aku ke sana.

Hei, kau tidak boleh pelit kalau soal makanan.

Apa? Pelit?

Ini satu-satunya kelebihanku dari semua anggota keluarga...

di rumah ini. Kau ada masalah dengan itu?

Oke, baiklah.

Wah, supnya benar-benar mantap.

Jempol.

Aku perlu makan banyak.

Ya, Seung Ah. Tidurmu nyenyak?

Sudah sarapan?

Aduh, kau pasti malah tidur lagi.

Rasanya tidak enak, lo, kalau berangkat dengan perut kosong.

Akan bagus kalau aku bisa ke tempat kerjamu hari ini.

Apa? Apa katamu?

Kau ingin bertemu hari ini?

Apakah itu berarti kita akan pergi bersama...

hari ini sebagai kencan resmi pertama kita?

Ya, aku mengerti.

Aku akan menjemputmu setelah kau selesai bekerja nanti.

Ya. Sampai nanti.

Kau dengar, kan? Aku akan kencan dengan Seung Ah.

Tentu, silakan saja.

Aku akan melihatnya sepanjang hari di kantor nanti.

Terima kasih untuk sarapannya.

Astaga.

Mari kita periksa ini.

- Anak Baru, selamat pagi. - Ya.

Dingin sekali.

Anak Baru, tampaknya kau belum sarapan.

Jadi, aku membawakanmu sandwich.

Ini sandwich daging sapi.

Kau tahu aku tidak pernah membelikan siapa pun daging sapi jika aku tidak menyukai mereka, kan?

Tidak perlu, Pak. Saya sudah sarapan.

Oh, terdengar terisi penuh.

Kalau begitu, makan saja sebagai camilan.

Lalu, kopinya juga.

Permisi.

Ayo lihat.

Selesai. Sekarang, aku perlu memeriksa suntingan.

- Tentu saja. - Aih.

- Aku serius. - Berhenti ngibul.

- Halo, Pak. - Hai.

Halo.

Udaranya dingin, kan, Pak?

Bukan apa-apa dibandingkan kedinginan saat di militer dulu.

- Aku hanya pakai baju tipis ini. - Bohong.

Aku tidak bohong. Aku kuat dingin, tahu?

Anda ingin minum kopi?

- Kopi? Ya. - Ya.

Aku pria kuat, jadi aku akan minum es kopi.

Anda tadi bilang tidak sempat sarapan, kan?

Aku harus mengatakan, makanan yang kau beli rasanya lebih enak...

daripada makanan yang kau masak.

Jang Geum, Oh My Grandma subtitles in other languages

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left