The first 200 lines.
Ae-ra,
wanita punya dua kesempatan dalam kehidupan.
Pertama, kau bisa sukses dengan usaha sendiri.
Kedua, kau bisa mencari suami yang sudah sukses.
Jangan asal menikahi orang.
Tempat ini dipenuhi orang yang tak bisa berkuliah.
Rumor cepat menyebar di sini.
Aku tahu.
Kau harus bersikap bak selebritas.
Jangan bersikap tomboi.
Kendalikan juga emosimu.
Kubilang, aku tahu!
Omelan tiada henti Ibu yang membuatku lepas kendali.
Hei.
Lihat.
Namanya Cha Jung-woo.
Kalau tak salah, dia ahli komputer. Konon, dia mendapat nilai terbaik.
Pesan satu soju.
Ambil saja sendiri!
Hentikan. Kau mengganggu pelanggan.
- Suk-ja. - Kau minum sebanyak apa?
- Aku hanya rehat sebentar. - Kau sudah gila?
Hei!
Hei!
Sedang apa kau? Kenapa kau lakukan ini?
Apa yang baru saja terjadi?
Sayang.
Dia memanggilnya "Sayang".
- Perbaiki ini untukku. - Astaga, ini gila.
Tentu.
Sisi barunya terlihat.
Ada goresan di diska keras. Bagian yang ini juga bengkok.
Artinya, diska kerasnya sudah usang.
Tampaknya sudah beres.
Terima kasih, Sayang.
Ini. Kau dapat sepuluh kupon gratis restoran kami.
Tidak usah.
Ambillah saja.
Tidak usah.
Ambillah saja.
UJIAN TEKNIS NASIONAL 2004
CHA JUNG-WOO
Cha Jung-woo!
Kau berhasil!
Mendekatlah. Tersenyum.
Satu, dua, tiga!
Selamat, Jung-woo.
Aku akan bekerja amat keras agar kau bisa punya rumah seperti ini.
Aku butuh jendela yang besar.
Jendela?
Namun, Sayang, nanti biaya penghangatnya mahal.
Aku mau perapian juga.
Baiklah.
Aku juga mau ada tanaman kecil di seluruh ruang keluarga dan dapur.
- Tanaman? - Ya.
Akan kusaksikan kebahagiaanku tumbuh bersama tanaman itu tiap harinya.
Ini bayi kita.
Aku akan membantumu.
Namun, Sayang...
Ya, Sayang?
Apa sebutan kita untuk satu sama lain sekarang?
Kasihku?
Manisku?
Cintaku?
Cintaku.
Baiklah, Cintaku.
Sampai nanti, Sayang.
- Sayang, makanlah ini. - Aku sudah telat.
Nanti kutelepon.
Baik. Nanti aku ada reuni, jadi, akan mampir ke sana.
Ya.
Satu lagi.
Sampai nanti.
- Gosok gigimu di kantor. - Baiklah.
Baik, pergilah.
Sana.
Hei, kudengar mertuamu membelikan apartemen 195 meter persegi di Daechi.
Beruntungnya. Kurasa mereka tak pelit karena banyak uang.
Sebenarnya menyebalkan karena aku harus bayar pajak lebih.
Mereka menawariku gedung di Seocho, tapi entahlah.
Maafkan aku.
Hei!
Kau tahu berapa harganya? Astaga!
Hei, Bang-sun. Cukup.
Kau buat Min-yeong merasa bersalah.
Memangnya semahal apa harga kain itu?
Suamimu tidak akan mampu beli dengan gaji bulanannya.
Hei.
Tak heran kain ini lembut sekali. Dari mana asalnya?
Ini sangat cantik.
Hai, Cintaku.
Kau sudah selesai? Baiklah.
Aku ke sana, Sayang.
Dari Jung-woo?
Ya.
Kami akan makan malam karena ini hari pernikahan ke-100.
Kalian amat saling mencintai.
Hei. Jika dipikir-pikir, pernikahan Ae-ra juga sukses.
Suaminya tampan, dari universitas bagus, dan bekerja untuk pemerintah.
Astaga, sudah hentikan.
Nanti Bang-sun kesal.
Suami Bang-sun tujuh kali tak lulus tes,
tapi suamiku, Jung-woo, lulus dalam sekali coba.
Benar juga!
Rumah kalian dibayar bulanan, 'kan?
Kenapa?
Aku hanya khawatir.
Sulit bagi rakyat jelata untuk membeli rumah.
Kudengar mereka harus menabung 12 tahun tanpa memakai gaji sepeser pun.
Astaga. Kau tidak perlu cemaskan aku.
Itu akan terjadi suatu hari nanti.
Gajinya akan tetap terjamin, kecuali negara ini bangkrut.
Aku lebih cemas soal kau.
Bisnis ayahku sering sekali bangkrut, jadi, aku tahu rasanya.
Bisnis itu hanya utang yang diagungkan.
Kita tidak tahu kapan akan bangkrut,
jadi, menabunglah selagi bisa.
- Apa? - Aku harus pergi. Sampai nanti.
Bukankah menurut kalian mulutnya itu harus dijahit?
Satu, dua, tiga.
Selamat hari jadi pernikahan ke-100.
Bersulang.
Bersulang. Selamat hari jadi.
Ini tampak lezat. Ayo makan.
Tunggu.
Sudah.
Silakan dimakan.
Kau tak menyesal menikahiku?
Kenapa menyesal? Impianku sudah tercapai.
Impianmu?
Impianku adalah menjadi ibu rumah tangga.
Lalu kau memintaku menikahimu jika aku tak mau bekerja lagi.
Kuhentikan semua dan menjadi ibu rumah tangga, jadi, impianku tercapai.
Sungguh?
Namun, kau juga tak rugi apa-apa.
Aku cantik, jago masak, dan menggemaskan.
Tak banyak wanita di luar sana yang seperti aku.
Ada banyak pria mengejarku.
Tentu saja, aku tahu itu.
Ingat perkataanku saat aku melamarmu?
"Aku takkan membuatmu menyesali pilihanmu."
Akan kutepati janjiku.
Aku pun terpikirkan hal ini.
Aku...
Aku sudah buat keputusan penting untuk masa depan kita.
Keputusan? Soal apa?
Katamu, kau akan memercayaiku apa pun yang terjadi, 'kan?
Ya, tentu saja.
Kita akan hidup bersama selamanya.
Tapi kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?
Begini...
Aku...
Aku...
berhenti kerja hari ini.
Apa katamu?
Akan kudirikan perusahaanku sendiri. Aku sudah lama memikirkannya,
dan aku yakin. Aku pasti sukses dan bisa membahagiakanmu.
Sayang!
Katamu, kau memercayaiku, 'kan?
Sayang!
Ini.
Akan kuganti pemanggangnya.
Kau sudah dengar soal kenaikan harga asuransi?
Halo, aku dari Asuransi Munhwa...
Halo, aku dari Asuransi Munhwa...
Permisi.
DILARANG PARKIR
Sayang, maafkan aku. Aku membangunkanmu?
- Aku tak bisa buka pintu. - Tentu saja tidak bisa.
Sudah kuubah sandinya.
Benarkah?
Jangan berpikir untuk pulang sampai kau dapat investasi
dan lunasi utangmu.
Aku tak punya tempat untuk tidur.
Tidur saja di lab. Aku tak peduli.
Halo?
Sayang.
Sayang!
Kenapa dia tak jawab ponselnya? Kami harus bayar sewa hari ini.
Permisi, yang ini ada ukuran besarnya?
Ukuran besar? Tunggu sebentar.
Kau baik-baik saja?
Jung-woo belum menelepon?
Ini tak seberapa.
Berikan ini ke Ae-ra.
Tak perlu.
Kudengar mereka memutus aliran gasnya.
PERTAMA
Aku sungguh tak mau pergi.
TIGA TAHUN USAI BERCERAI
Hei!
Cepat, kita sudah telat!
Kau menggemaskan sekali.
Lucunya.
- Bibi. - Manis sekali.
Tulang belakangmu kuat.
Saat besar nanti, kau akan buat banyak gadis menangis.
Dia anak perempuan.
Kudengar bisnis suamimu lancar.
Aku juga sudah dengar soal waralaba kedai kopi itu.
No comments yet. Be the first to leave one.