Release info

키스 먼저 할까요?---Should We Kiss First? E21 NEXT
키스 먼저 할까요?---Should We Kiss First? E22 NEXT
A Commentary by SULTAN_KHILAF
Sub by VIU, Synced for NEXT Version. Maaf telat. Selamat menonton😊

Tags

other
Published on: 2018-03-27
Downloads: 12
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

"Episode 21"

Sisi itu adalah samudra,

sementara sisi ini danau.

Sangat dekat, tapi tidak bisa bertemu.

Air tidak bisa mengalir ke sana

karena itu bukan sungai.

Dahulu, ini bagian dari laut.

Mereka menjadi satu.

Tapi seiring waktu,

perlahan mereka saling menarik diri.

Jadi, saat ini mereka merindukan

waktu saat masih bersama.

Apakah kita masih akan bersama

dalam sebulan ini?

Seiring waktu berjalan,

akankah aku

merindukanmu?

Aku berharap begitu.

Aku tidak ingin

menyingkirkan kenangan ini.

Kenapa kamu diam saja?

Kamu sendiri?

Tidak apa-apa, aku hanya lelah.

Tidurlah sebentar sebelum kita pulang.

Aku tidak mau.

Meski aku tetap diam

dan merasa bosan,

aku ingin melakukan semuanya bersamamu.

Terima kasih tidak bertanya kepadaku.

Aku tahu kamu akan memberiku jawaban.

"Pengadilan Tinggi Seoul"

Apa ini?

"Aku merasa seperti tertembak"

"Tidak bisa berpikir dengan baik"

"Kenapa kamu membawa semua barang ini?"

"Kenapa membawa pelembap udara?"

"Kenapa membawa setrika?"

"Kenapa membawa semua ini?"

"Sudah kuminta untuk mengeluarkannya"

"Kenapa tidak mendengarkanku?"

Berhentilah mengejekku.

Kamu yang lupa

memasukkan koper ke bagasi.

Keluarkan semuanya dan beristirahat.

Kamu tidak lelah?

Istirahat saja dahulu, nanti baru dikeluarkan.

Kalau begitu, kamu istirahat saja. Aku akan mengeluarkan semuanya.

- Benarkah? - Ya.

Astaga, kamu memang yang terbaik.

Terima kasih.

Lepas pakaianmu agar bisa kucuci.

Jangan tidur memakai pakaian yang dipakai dari luar.

Aku tahu kamu lelah, tapi kamu harus mandi sebelum berbaring.

Tidak.

Itu tidak mungkin.

"Kenapa tidak mendengarkanku?"

Dia benar-benar tidak menurut.

Aku lelah sekali.

Aku hanya ingin beristirahat.

Astaga, sakit. Apa itu tadi?

Ada apa?

I Deun pasti tadi ke sini.

Tunggu.

Tasku...

Dokumen-dokumen itu...

Maaf.

Telepon putrimu

dan sambungkan kepadaku.

Biar aku yang bicara dengannya.

Telepon dia agar aku bisa bicara dengannya.

"Ayah"

Halo?

Bicaralah, Ayah. Aku akan mendengarkan.

Di mana kamu menyimpan barangku?

"Ayah"

Aku membuangnya.

Di mana?

Itu bukan urusanmu.

Beri tahu aku sekarang!

"Pengadilan Tinggi Seoul"

"Catatan Gugatan"

Apa ini yang kamu cari?

Maaf aku sudah berteriak.

Dokumen ini sangat penting bagiku.

Tidak apa-apa.

Apa pun yang penting bagimu

sama pentingnya bagiku.

Baiklah.

Ingin dibuang ke mana?

Tunjukkan jalannya.

Aku mengerti alasanmu bersikap seperti ini,

tapi itu tidak akan mengubah apa pun.

- Aku tahu Ayah marah, tapi... - Aku tidak marah.

Aku tidak sepeduli itu sampai harus marah kepadamu.

Aku hanya

merasa terganggu olehmu.

Pulanglah jika sudah puas.

Aku tinggal di sini

bukan karena Ayah.

Tapi karena orang lain.

Dia memerhatikan

semua yang kukatakan.

Dia masih memandangku

meski tidak menyukaiku.

Kalau begitu, aku ikut senang.

Lantas, kenapa kamu berkeliaran di daerah aku tinggal?

Ayah tidak mendengarkanku,

dan Ayah tidak memercayaiku.

Ayah tidak tahu apa pun soal aku.

Aku takut ini akan berakhir jika aku kembali.

Aku takut Ayah mungkin tidak

mengenaliku jika aku kembali lagi di masa depan.

Aku takut kehilangan Ayah seperti aku kehilangan Byeol.

Duduklah.

Aku akan mengenalimu.

Aku akan mengenalimu di mana pun kamu berada,

dan aku akan mengenalimu kapan pun kamu akan kembali.

Aku akan mengawasimu.

Tamatkan SMA-mu dan kuliahlah.

Kamu harus fokus pada kewajibanmu dahulu.

I Deun.

Ayah saja yang fokus.

Menurutku Ayah tidak tahu

apa yang penting sekarang ini.

Kita mungkin punya kesempatan

jika bisa membuat pemohon bersaksi.

Kita akan bisa berjuang di pengadilan lagi.

"Pengacara Park"

Ya, Pengacara Park.

Pengadilan Tinggi

sedang meninjau petisi itu.

Akan kukirimkan salinannya begitu mereka selesai.

Baiklah.

Apa artinya kamu belum tahu

siapa yang mengajukan petisi itu?

Aku sudah meminta untuk melihat catatannya.

Aku baru akan tahu setelah diizinkan melihat.

Terima kasih.

Baiklah.

Siapa kira-kira?

Aku sudah mengubah kode sandinya.

0502.

Bagaimana kamu tahu ulang tahunku?

Aku melakukan penelitian terhadap targetku.

Kamu kekasihku.

Aku tidak menghabiskan waktu dengan sembarang orang.

Lupakan saja.

Aku harus tahu diri.

Yang kubutuhkan pernikahan, bukan cinta.

Aku parasit.

Son Mu Han inangku.

Puas? Kita atur saja begitu.

Sesaat aku lupa

aku hanyalah inang.

Baik, aku akan hidup sebagai inang.

Jangan tamak.

Kamu ingin kupukul dengan apa?

Kopi? Jus?

Rasa apa? Apel, kiwi, atau jeruk?

Pukul aku?

Aku ingin apel.

Tolong jus apel.

Rumahmu bagus sekali.

Sebagai wanita, aku sangat iri.

Kamu memiliki segalanya.

Pakaianmu terbalik.

Astaga.

Ini sedang tren musim ini.

Adibusana.

Ini, minumlah.

Apakah ini dari luar negeri?

Baunya asam sekali.

Pasti sudah difermentasi.

Kurasa hidangan orang kelas atas berbeda dari kami.

Apa ini? Ini cuka!

Kamu ingin mempermainkanku, ya?

Apa? Cuka?

Kenapa kamu berpura-pura tidak tahu?

Bukan kali ini saja.

Latte wasabi, belut pasir,

dan susu dengan garam.

Kenapa kamu masih bersikap seperti ini?

Kenapa kekanak-kanakkan sekali?

Berapa usiamu?

Usiaku 34 tahun. Kenapa bertanya?

Kenapa dia cantik sekali?

Aku ingin mengiris lehernya.

Bau.

Tadi itu berlebihan.

Kamu ingin aku mencari orang

yang bisa membantu Soon Jin. Sudah kulakukan.

Kamu ingin aku merekam sebelum mereka berubah pikiran. Sudah juga.

Kamu tidak ingin pergi ke luar, jadi, aku kemari.

Apa salahku?

Usiamu.

Kamu masih sangat muda.

Aku tidak bisa membeli usiamu dengan uang.

Apa?

Kamu bisa membelinya dariku.

Kumohon belilah.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left