The first 200 lines.
" Little Forest " terbagi ke dalam 4 bagian - Summer , Autumn , Winter , dan Spring . Setelah akhir kredit Winter , dilanjutkan dengan Spring . Silakan nikmati kelanjutan film ini.
=== Indonesian Subtitle by chocomochilatte ===
Surat!
Sebentar!
Selamat pagi.
Dingin sekali.
Ya, udaranya mulai dingin.
Aku dengar akan turun salju siang nanti.
Tagihan-tagihan lagi?
Ada satu surat di sana.
Sampai nanti.
Surat dari ibu datang di musim gugur.
Komori (Hutan Kecil) adalah sebuah desa kecil di suatu tempat di wilayah Tohoku.
Di sini tidak ada toko,
tapi kalau kau mau belanja, ada supermarket kecil
dan koperasi di pusat desa, tempat balai kota berada.
Jalan ke sana penuh dengan lereng, jadi hanya butuh 30 menit,
tapi aku kurang yakin berapa lama waktu tempuh untuk kembali.
Saat musim dingin, kau harus pergi berjalan kaki karena salju,
jadi kau akan menghabiskan sekitar satu setengah jam.
Tapi sepertinya kebanyakan orang
berbelanja di tempat-tempat seperti supermarket pinggiran besar di kota tetangga.
Saat aku memutuskan pergi ke sana, aku nyaris menghabiskan sehari penuh.
=== Indonesian Subtitle by chocomochilatte ===
Hari ini Natal.
Bicara soal Natal, karena ibuku selalu meributkan tentang detail,
jadi kami tidak pernah merayakannya.
Ibu, kita rayakan Natal, ya?
Kita bukan penganut Kristen, untuk apa?
Ibu egois!
Egois! Egois! Egois!
Meski begitu, waktu aku kecil,
kami selalu kedatangan tamu di musim seperti ini.
Dan ibu akan membuat kue.
Sebentar!
Selamat datang.
Selamat Siang.
Silakan masuk.
Siang!
Mana sopan santunmu?
Dulu paman pernah menolong ibu.
Halo.
Dia orang asing.
Kalau kupikir lagi, mungkin saja dia adalah kekasih ibuku saat itu.
Meskipun aku tidak punya bukti.
Kau pintar menggambar.
Ini gambar apa?
Kacang hijau!
Kuenya datang!
Kue natal ibuku adalah roti persegi panjang dengan krim di bagian luar.
Begitu ibu memotongnya, irisannya akan memperlihatkan warna merah dan hijau Natal yang cantik.
Cantik sekali. Bagaimana caramu membuatnya?
Bagaimana ibu membuatnya? Hebat sekali!
Mau tahu?
Warna merahnya adalah amazake * dari nasi merah.
Hijaunya dari bayam.
Ibu masukkan dua macam adonan dalam satu cetakan lalu dipanggang.
Tapi kenapa warnanya bisa memanjang seperti itu. Kalau adonannya dimasukkan begitu saja, mustahil.
Kau harus cari tahu sendiri.
Kau baik-baik saja?
Ketinggalan satu.
Orang itu datang sekitar tiga kali,
dan tak pernah kulihat lagi.
Dan juga menandai akhir kue natal ibu.
Aku sudah pernah coba.
Apa?
Waktu SMP.
Aku tidak ingat.
Kurasa sekitar setahun sebelum ibumu pergi.
Dia menyuruhku mencicipi rasanya.
Aku baru tahu.
Dulu aku sering pinjam buku darinya. Ibumu dulu punya banyak buku, kan?
Seperti koleksi seri lengkap dan ensiklopedi.
Benar, kau sering datang kemari.
Ibu sering memujimu.
Meski aku tidak terlalu suka, aku tetap mencoba membaca buku.
Saat itulah ibu tiba-tiba berkata,
Cari bukumu sendiri kalau mau baca.
Apa?
atau yang seperti itu. Ibu lalu menjual buku-buku itu ke toko loak.
Sepertinya kami sudah tidak punya uang lagi.
Aku ikut membawa buku-buku itu jadi dia memberi beberapa buah padaku.
Begitu. Mungkin ibu membuat kue waktu itu karena ibu punya kekasih.
Jadi, bagaimana kuenya?
Kita sudah lama tidak menanam beras merah, kan?
Meski malai beras merah membuat sawah terlihat indah,
bijinya mudah lepas dan sulit dipanen.
Karena itu kupikir aku akan gunakan beras hitam saja.
Kami menanam beras hitam setiap tahun.
Jadi aku membuat amazake dari beras hitam.
Aku mengurangi takaran air supaya rasanya kuat.
Beras hitam adalah jenis ketan, sehingga rasanya cukup manis.
Amazake -nya berwarna hitam,
tapi dengan mencapurkan gula, tepung gandum,
soda kue, dan minyak ke dalam adonan, warnanya berubah ungu.
Kuning cocok dengan ungu, jadi aku membuat adonan kuning dari labu rebus.
Aku masukkan adonan beras hitam ke dalam cetakan, hampir memenuhi setengah loyang.
Di atasnya, aku masukkan adonan labu hingga tingginya mencapai 4/5 loyang.
Lalu, panggang dalam oven.
Setelahnya, aku menaruh bagian yang menggembung di bawah lalu mendinginkannya,
supaya semua sisinya rata.
Dengan begitu, kau akan mendapatkan dua warna adonan memanjang.
Lalu aku menghiasnya dengan krim.
Selamat Natal!
Begitu.
Maaf, aku terlambat!
Ayo mulai pesta teh Natalnya!
Bukan. Ini pesta teh akhir tahun.
Ini kue tiga warna yang terdiri dari ungu, kuning, dan putih. Bukan warna-warna Natal.
Lagipula, kalian juga bukan penganut Kristen, kan?
Kau rewel sekali, sih?
Ayo. Dimakan saja.
Kalau begitu, untuk tahun depan...
Mohon kerja samanya.
Selamat makan! - Selamat makan!
Enak!
Lezat! - Enak.
Labu? - Ya.
Permisi!
Saya mau mengantar surat pemberitahuan.
Ichiko! Terima kasih sudah datang.
Apa yang kau gambar?
Jamur.
Aku baru membuat manjuu *. Silakan.
Terima kasih.
Apa makanan kesukaanmu, Ichiko?
Jika ditanya seperti itu
hal pertama yang muncul di kepalaku adalah natto mochi * dengan mochi yang baru ditumbuk.
Campurkan natto dengan gula,
ambil mochi yang masih panas dan masukkan potongannya ke dalam natto .
Di sekolahku ada hari membuat mochi .
Tapi itu 16 tahun yang lalu.
Para ibu bolak-balik ke sana kemari.
Kami bertugas menggali natto .
Kami menguburnya di bawah salju.
Sudah jadi!
Butuh 3 hari untuk membuat natto .
Bungkus kacang yang sudah direbus dengan warazuto *.
Kalau masukkan potongan jerami pada tahap ini, kau bisa mengisinya lebih banyak.
Buat lubang di salju,
bungkus dengan tikar jerami.
Lalu di atas tikar jerami,
buat selimut salju.
Ada banyak benda yang tertimbun di bawah salju.
Kubis. Daun bawang. Bayam.
Lobak dan wortel berada dalam lubang di tanah.
Mereka dibungkus daun cemara untuk menjauhkan tikus.
Jika sayuran terkena udara dingin, mereka akan membusuk.
Jadi lebih baik menjaga mereka dalam selimut salju.
Suhu sayuran akan stabil jika dikubur.
Begitu juga saat membuat natto .
Semoga rasanya lezat.
Semoga rasanya lezat.
Kau harus membaliknya dengan benar,
atau kau tidak akan mendapat mochi yang enak.
Berat. Kalian bisa membawanya?
Ayo cepat bawa!
Tolong aduk.
Jangan sampai menusuk mochi -nya, ya.
Baiklah, ayo kita coba.
Boleh?
Rasanya paling enak saat masih hangat.
Ini, silakan.
Mochi yang baru dibuat,
hangat dan sangat lembut.
Natto yang penuh dengan gula dan kecap.
Aku terus menyuapkan ke dalam mulut.
Aku ingin terus memakan mereka selamanya.
Itu adalah natto mochi dengan gula dan kecap pertama yang aku makan.
Mochi harus diuleni sebelum ditumbuk.
Sebelum tinggal di Komori, aku tidak pernah makan natto mochi.
Jadi tidak ada rasa natto mochi tertentu yang bisa kusebut resep keluarga.
Aku mau coba sendiri. - Yakin?
Tapi sejak saat itu,
Jangan pukul aku, ya.
natto mochi yang baru ditumbuk dengan banyak gula dan kecap menjadi resep kami.
Bakteri yang membantu pembuatan natto ada dalam sekam beras.
Jadi menanam beras sama dengan "menanam" natto mochi itu sendiri.
Butuh waktu sepuluh menit bersepeda untuk mencapai sawah yang kami sewa.
Tahun ini kami mendapatkan hujan dan suhu rendah.
Aku selalu khawatir dan memeriksa tanamanku setiap hari.
Tanaman padi tumbuh dari suara langkah kaki manusia.
Seluruh desa benar-benar heboh saat pengirikan, bekerja pada jam tidur dalam dinginnya hujan.
Dan hasil dari menanam beras mochi tahun ini adalah...
ini...
ini...
ini!
Selamat makan.
Sekolah lokal sudah ditutup. Terkadang penduduk desa menggunakannya.
Salju jatuh di Komori.
Aku harus memastikan jalan terbebas dari tumpukan salju.
Surat!
Sebentar!
Selamat pagi. - Silakan.
Kau membuat lobak beku.
Ya, seperti yang Anda bilang. - Begitu.
Potong lobak menjadi dua.
Kupas kulitnya.
Potong secara vertikal.
Lewatkan tali
No comments yet. Be the first to leave one.