The first 200 lines.
LEMBAH TANPA DEDAUNAN
Satu bus akan segera pergi. Coba kulihat, apa bus itu menuju Elappara.
ELAPPARA
Kita beli es krim di sana.
Tiket?
Tiket!
Tiketnya?
Mayapuri.
Nih.
Ambil tiketmu.
Tolong pindahkan ini.
Ini kembaliannya.
Kembaliannya.
Berhenti!
Sayang, ayo.
- Bu, rotiku! - Biar saja. Kita bisa beli lagi.
Ayo cepat.
Tutup pintunya.
Awas tersandung. Perhatikan langkahmu.
Kacang ini keras sekali.
Bang...
1,5 kg beras, satu kelapa...
Satu bungkus kecil minyak kelapa.
500 gram bawang bombay dan 100 gram cabai hijau.
Satu bungkus bumbu daging juga.
- Ada yang naik bukit hari ini? - Tidak.
Sebentar!
Kapan kau kembali, setelah tadi pagi?
Kami tiba sore hari.
Ayo.
Ada apa sayang.
Hanya itu? Aku jadi takut.
Seolah-olah kau perempuan pertama yang merasakan kontraksi.
Ya, kubilang aku akan datang.
Tapi bagaimana mungkin, sayang?
Jalan terhalang oleh pohon tumbang.
Apa?
Ayolah, kau di rumah sakit. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Aku akan datang. Tetaplah kuat, sayang.
Aku akan datang sore nanti.
Matamu tidak memperhatikan jalan?
Kau hampir mematahkan punggungku.
Chandran...
Kalau aku mengabaikan telepon ini, punggungku yang retak.
Kau tidak belajar mengemudi?
- Kau akan memahaminya perlahan. - Kau juga.
Aku tidak sadar, kawan! Itu dari rumah sakit.
Gerakkan kakimu.
Hei, siap-siap. Aku sudah sampai.
Bajingan mana yang menelepon?
Pappan, gerakkan kakimu.
Pak, kemarin hujan deras sekali.
Puncaknya, terjadi badai petir dan tanah longsor.
Beberapa pohon tumbang.
Pak, ambillah jalan hutan ini.
Oke? Kenapa harus mengambil rute yang lebih panjang?
Jalan terhalang oleh pohon tumbang.
Pak, mereka menjemputku dari bukit.
Aku akan membawa air saat aku sampai.
Oke.
Aku tidak tidur tadi malam.
Anjing sialan itu menggonggong dan terus melolong.
Ada lintah di kakimu.
- Sial! - Kuambil ini.
10 ml?
Kuat sekali. Tuangkan air.
Siapa yang ada di atas?
Tuan Sayuran.
Apa itu daging?
Tidak ada gunanya membawanya.
Ikan yang kubeli beberapa hari lalu masih ada di dalam freezer.
Dia tidak membiarkanku menyentuhnya.
Aku pergi dulu.
Mobil jipnya akan datang ke sini?
Aku sudah bicara dengan Shaji.
Hati-hati. Ada bercak darah di tempat elang itu melayang.
Ada beberapa makhluk di luar sana.
Berengsek!
Tuangkan lagi.
Tidak membiarkanku bersikap sopan.
Aku akan menghabiskannya.
Hidup yang luar biasa!
Tempat yang menyebalkan! Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya.
Sayang, jangan marah.
Aku bisa pergi, kalau dia datang.
Pernikahannya besok, kan?
Aku akan ke sana pagi-pagi.
Tidak, aku tidak akan terlambat.
Tentu.
Pak Madhu!
Ayo...
Ayo...
Kapan dia akan sampai?
Dia selalu terlambat.
Apa gunanya mengatakan semua ini pada istriku?
Aku harus menghadiri pesta pernikahan besok.
- Dia akan datang, kan? - Ya.
Aku sudah menyiapkan makan siang dan makan malam.
Sayuran.
Apa yang terjadi dengan matamu?
Ada sesuatu menyengatku.
Dua Tiga Delta Empat.
Jawab, Pak! Ganti.
Prosesi tersebut perlu direkam.
Harus ada jumlah petugas maksimum.
Kerahkan juga petugas perempuan.
Akan lebih baik jika petugasnya berpakaian sipil.
Rekam kejadian tersebut sebanyak mungkin.
Suruh beberapa petugas dan minta mereka merekamnya di ponselnya.
Kita perlu mencari tahu siapa saja yang terlibat.
Tujuannya untuk menangkap pelaku jika ada kasus yang terdaftar di lain waktu.
Jadi rekamlah sebanyak yang kau bisa.
Setiap orang harus membawa helm dan perisai.
Semua orang harus hadir sampai akhir.
Ada kemungkinan petugas pergi begitu tamu tiba.
Itu seharusnya tidak terjadi. Aku akan datang untuk memeriksanya.
Yang tidak hadir akan dilaporkan.
Jadi semua orang harus hadir.
Jangan membantah sampai kau menerima pesanku.
Pak, pesannya jelas. Ganti.
- Kau mau teh? - Tidak, terima kasih.
Kontrol Poonchira...
Menjawab Pengulang. Ganti!
Perangkat Mundakayam tidak jelas. Silakan periksa.
Pesannya jelas. Ganti!
Pengulang Mundakayam... Pengulang Mundakayam..
Mundakayam menjawab, Pak. Ganti!
Perangkatmu jelas? Ganti!
Mundakayam menjawab... Mundakayam menjawab...
Sekarang sudah jelas. Ganti!
Dia tidak mengizinkanku makan. Sial!
Aku tidak lapar.
Ayo.
Pak...
Pak, tehmu.
Tidak, terima kasih. Aku sudah minum tadi pagi.
Kita tidak hanya harus waspada pada guntur, tapi juga pada ular.
Aku memperbaiki antena sepanjang malam.
Saat aku memeriksanya pagi hari, aku hampir menginjak ular.
Ibu, hati-hati.
Area ini milik polisi. Kau tidak bisa masuk ke sini.
Pak, ayahku dulu bekerja di sini.
Ibuku mau melihat tempat ini.
Kami akan segera pergi.
Aku kehilangan kuncinya di sini. Biar aku memeriksanya.
Nak, lihat ke sana.
Di sini sangat berangin.
- Silakan masuk. - Apa?
- Akan turun hujan. - Saudaraku sudah turun.
Kita bisa panggil dia. Masuklah ke dalam sekarang.
Kakak, silakan duduk di dalam.
Ibu, hati-hati.
Pak...
Duduklah di kursi itu.
Apa yang terjadi?
Apa yang terjadi, Nak?
Akan turun hujan.
Kapan suamimu bekerja di sini?
Sekitar 25 tahun yang lalu.
Sebelum kami menikah.
Dia sering bicara tentang tempat ini dan cuacanya.
Dia mau kembali.
Ponselnya... Tidak ada jaringan di sini.
Jangan menyentuhnya.
Telepon Joemon dan tanyakan di mana dia.
Jangan berdiri.
Duduklah di sana.
Duduk.
Duduk, Kak.
- Duduklah! - Nak...
Nak...
Pak...
Tetaplah di situ.
Kakak, tetaplah di dalam.
Joemon...
Kakak, tetaplah di sini. Tolong jangan lihat ke sana.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa...
Nak...
Melukavu...
Melukavu PS, Poonchira...
Melukavu menjawab, Pak. Ganti!
Pak, ada lelaki tewas tersambar petir di sini.
Ganti!
- Pak Prabhu... - Ya?
Jika kau belum mengirimkan daftarnya untuk besok, tambahkan juga dua bungkus rokok.
Aku mengirimkan daftar sore harinya.
Tapi dia belum memeriksanya.
Kontrol Satu Tiga memanggil.
Kontrol menjawab.
Pak, perangkatnya jelas?
Jelas. Tidak ada gangguan.
Pak Madhu...
Pak Madhu...
Pak Madhu...
Aku pergi.
Tolong ingatkan dia tentang antena yang jatuh saat dia datang.
Perhatikan perangkatnya.
Oke.
Apa kabar?
No comments yet. Be the first to leave one.