The first 190 lines.
Oh ya, aku tidur bersama Mahiru kemarin.
Imut sekali.
Amane, kau sudah bangun?
Apa yang harus kulakukan?
Kalau begitu, aku masuk, ya.
Ya.
Kuharap Ayah tidak salah paham.
Maaf, apakah aku membangunkanmu?
Kau sangat manja saat baru bangun tidur.
Amane?
Ke-Kenapa?
Selamat pagi.
Apakah kau lupa?
Padahal kita telah menghabiskan malam yang begitu membara.
Aku hanya bercanda, kita tidak melakukan apa-apa.
Baiklah.
Namun, tadi aku mencium pipimu.
Masih pagi begini, rangsangannya terlalu kuat.
Kau terlihat tidur dengan sangat nyenyak.
Karena, berada di pelukanmu membuatku merasa sangat tenang.
Apakah tidak ada perasaan berdebar?
Ten…
Tentu saja berdebar.
Namun, itu tetap membuatku merasa sangat tenang.
Sekarang jantungku berdetak dengan sangat cepat.
Bagaimana kalau kita tidur bersama setiap hari?
I-Itu…
Se-Sesekali boleh saja.
Apakah kau serius?
Ka-Karena kita adalah pasangan kekasih,
tidak masalah jika menginap bersama, 'kan?
Ya, memang benar begitu.
Berbicara tentang menginap,
pasti akan ada perkembangan seperti itu, 'kan?
Anu…
Aku bukannya mengharapkan hal semacam itu.
Hanya saja karena waktu yang kuhabiskan bersamamu menjadi lebih lama,
aku akan merasa sangat senang,
apakah kau tidak menyukainya?
Bagaimana mungkin aku tidak suka?
Aku malah merasa sangat senang.
Pokoknya, nanti kita tidur bersama lagi.
Sudah waktunya untuk bangun.
Habisnya kau terus menggodaku,
sekarang giliranku yang membalasmu.
Apakah terjadi sesuatu saat kalian keluar kemarin?
Kenapa Ibu berpikir begitu?
Kami menyadari ada yang tidak beres denganmu setelah kalian kembali.
Jangan terlalu meremehkan orang tua.
Tidak ada apa-apa.
Kami hanya bertemu Tojo saat sedang jalan-jalan saja.
Dia hanya mengataiku beberapa hal saja.
Oh, begitu rupanya.
Melihat sikapmu, sepertinya kau sudah merelakannya, ya.
Mengenai hal itu,
apakah harus disebut merelakan atau mungkin mengatasinya?
Kurasa kedepannya tidak akan terganggu lagi oleh hal itu.
Sepertinya kau sudah cukup banyak berkembang dan ini hal yang bagus.
Sepertinya anak dari Keluarga Tojo tidak berubah, ya.
Lagi pula, itu tidak ada hubungannya denganku, aku juga tidak tertarik.
Aku dan dia mungkin tidak akan bertemu lagi ke depannya.
Ini sangat enak.
Cinta memang membuat orang menjadi kuat.
Jangan katakan hal yang menggelikan seperti itu.
Namun, kenyataannya memang seperti itu, 'kan?
Ya, memang begitu.
Aku senang kau akhirnya menemukan pasangan yang baik.
Sama seperti saat aku bertemu dengan Shihoko.
Aduh.
Y-Ya.
Mahiru, kau juga harus lebih banyak mengandalkan Amane.
Biasanya kau yang merawatnya, itu membuatku khawatir.
Ti-Tidak.
Biasanya aku sangat mengandalkan dia.
Dia juga selalu mendukungku.
Baguslah kalau begitu.
Kau juga tidak boleh terlalu mengandalkan pengorbanannya.
Kalian harus saling mendukung.
Aku tahu.
Kami selalu berada di sisi satu sama lain.
Bukankah saling mendukung adalah hal yang sewajarnya?
Dasar, terlalu imut.
Kalau bukan karena mau kerja, aku ingin sekali memanjakan Mahiru.
Kumohon, cepatlah pergi bekerja.
Apakah kau akan bermesraan saat kami tidak ada?
Iya, emang tidak boleh?
Oh… ya.
Kau bilang ingin bermesraan.
Apa yang akan kita lakukan secara spesifik?
Seperti berciuman atau semacamnya.
Seperti berciuman atau semacamnya…
Seperti berciuman atau semacamnya?
Bukankah itu berarti hanya berciuman saja?
Tidak, meskipun kau memintaku mengatakannya secara spesifik…
Apa yang sebaiknya dilakukan
untuk bermesraan lebih jauh lagi?
Pokoknya bersandar bersama dulu?
Baik.
Aku lebih suka seperti ini.
Kau membencinya?
Ti-Tidak juga.
Namun, posisi ini membuatku merasa seperti seluruh tubuhku didekap olehmu.
Amane.
Maaf, aku tidak tahan.
Kau tahu aku takut geli, tetapi malah begini, keterlaluan.
Hati-hati, nanti aku ceritakan masa lalumu yang kudengar waktu itu.
Kalau begitu, itu akan merepotkan.
Tanganmu sangat besar.
Aku suka tanganmu.
Aku juga suka disentuh olehmu.
Jika kau terus mengatakan hal seperti itu, aku benar-benar akan menyentuhmu.
Disentuh juga tidak apa-apa.
Jika aku menganggap serius apa yang kau katakan,
itu berarti jariku bisa terus menyentuh ke atas, 'kan?
Yang disebut bermesraan itu juga termasuk hal semacam ini.
Amane…
Aku juga seorang pria. Kau harus sedikit berhati-hati.
Bukankah sebelumnya aku sudah bilang?
Jika kau benar-benar ingin menyentuhnya…
Meskipun sangat memalukan, aku tetap bersedia menerimanya.
Untuk saat ini tidak perlu, tidak apa-apa.
Jika tidak, mungkin situasinya akan menjadi tidak terkendali.
Eh, Mahiru?
Wajahmu sangat merah. Ada apa?
Ti-Tidak ada apa-apa.
Amane, jangan-jangan kau…
Aku bersumpah, aku tidak bertindak.
Tidak "bertindak", ya?
Benar juga, lagi pula kau sudah bilang ingin bermesraan.
Kami sudah bermesraan dengan cara yang sehat.
Dengan begini, tidak akan ada masalah, 'kan?
Hanya kau yang boleh, itu tidak adil.
Aku juga ingin bermesraan dengan Mahiru.
Mahiru adalah milikku, jadi tidak boleh.
-Aduh! -"Milikku".
Kalau begitu, bolehkah kita meningkatkan kedekatan sebagai keluarga?
Bukankah Shiina-san pernah bilang ingin pergi jalan-jalan bersama semuanya?
Benar, mumpung ada kesempatan,
bagaimana kalau libur depan kita semua pergi keluar?
Bagaimana menurutmu?
Baik.
Terima kasih banyak, aku sangat senang.
FUJIMIYA
Ternyata benar-benar hujan.
Selamat datang kembali Amane.
Hujannya deras sekali, ya.
Aku pulang.
Tadinya kupikir hanya hujan sesaat,
tidak disangka ternyata sederas ini.
Sebaiknya kau mandi dulu.
Air mandinya sudah disiapkan.
Terima kasih.
Seperti ini benar-benar menyenangkan.
Kau sudah menyiapkan air mandi untukku
dan juga menyambutku di depan pintu masuk.
Terima kasih, kalau begitu aku mandi dulu.
Kelihatannya kau tidak perawatan, tetapi rambutmu halus sekali. Tidak adil.
Benarkah?
Sejujurnya, rambutmu pun tampak dirawat dengan baik sehingga terlihat begitu halus dan berkilau.
Merawat rambut panjang itu menghabiskan waktu dan memang agak merepotkan.
Lagi pula, wajar kalau menghabiskan waktu lebih lama karena sangat panjang.
Kadang-kadang aku berpikir untuk memotongnya saja.
Kau lebih suka rambut pendek atau rambut panjang?
Aku tidak punya preferensi khusus untuk yang mana.
Aku juga merasa keduanya sangat imut.
Karena aku suka melihatmu menikmati saat sedang berdandan.
Aku sudah senang jika kau mempertahankan panjang rambut yang kau suka.
Begitukah?
Lalu, apakah kau ingin aku memanjangkan gaya rambut tertentu?
Gaya rambut apa pun yang kau pakai, aku suka.
Benar? Memang begitulah adanya.
Baiklah, tetapi…
Caramu menyisir rambut yang basah itu, sangat…
Sangat?
Haruskah disebut seksi?
Menurutku itu sangat tampan.
Mau kulakukan sekali lagi?
Ti-Tidak perlu, aku bisa mati.
Kelemahanmu ternyata banyak sekali.
Baiklah.
Kalau kau menatapku saat baru selesai mandi,
aku yakin kakiku pasti akan lemas dan jatuh terduduk di lantai.
Setelah aku ke rumahmu, bukankah kau setiap hari melihat pemandangan begitu?
Makanya, aku berusaha keras untuk tidak melihatmu secara langsung.
Begitu rupanya.
Aku mendapatkan informasi yang bagus.
Hei.
Bagaimana kalau aku mengurung diri di kamar saja?
Itu terlalu licik.
Tidak licik…
No comments yet. Be the first to leave one.