The first 174 lines.
Beneran mau pindah ke sana, Wi?
Iya, Sa. Semalam udah ada yang mau beli, tapi orangnya meninggal.
Dewi, papa minta kamu kurangi waktu bermain sama Risa dan sepupu-sepupunya.
Mulai besok kamu les biola lagi.
Jangan main di luar.
Aku Agus. Nama kamu siapa?
Sofi.
Kamu mau temanan sama aku? Nanti aku kenalin sama teman-teman aku.
Sadar, Gus. Dia bukan manusia. Dia jahat!
Dewi?
Wi?
Dewi?
Dewi?
Wi?
Ngagetin.
Ini bahaya kalau kebuka.
Ayo.
Dewi! Agus!
Main yuk!
Dewi! Agus! Main yuk!
Itu si Dewi.
Aku enggak bisa keluar dari rumah ini sekarang.
Kenapa?
Dia enggak suka kalian di sini.
Tadi teh Dewi aneh yah, Neng.
Iya, padahal kan Sofi udah Nicko usir.
Sofi teh siapa?
-Hantu impor! -Shh, Nicko.
Jangan dijadiin becandaan.
Eh, cucu Bapak sudah pada siap.
Wih, kita mah selalu siap.
Ayo, kita ke masjid. Ayo.
Ayo.
Ayo.
Jadi bapak-bapak dan ibu-ibu...
Jika seseorang meninggal,
amalnya di dunia sudah diputus.
Kecuali tiga hal.
Satu,
ilmu yang bermanfaat.
Dua, amal jariyah.
Dan yang ketiga adalah anak soleh
yang mendoakan kedua orang tuanya.
Jadi, Bapak, Ibu,
kejarlah ilmu sebanyak-banyaknya...
agar amal ibadah kita semakin besar.
Karena kalau saja ada satu titik ilmu yang diamalkan dan menjadi manfaat
sampai akhir nanti akan menjadi amal ibadah kita di akhirat.
Dulu di tempat ini banyak pabrik genteng.
Berarti dulu teh di sini rame ya?
Iya, rame. Zaman bapak kecil...
orang hilir mudik ke sini cari genteng terus dijual ke toko di kota.
Nah itulah makanya,
biar orang mudah ke sini maka dibangunlah jembatan.
Kenapa, Neng?
Ada apa teh?
Tadi
ada orang di situ.
Teh, jangan nakutin atuh!
Dia ngapain teh?
Dia lewat ngeliatin aku.
Hei!
Jangan ganggu cucu-cucuku atuh.
Mereka takut.
Astaghfirullahaladzim.
Udah, jalan lagi.
Ayo.
Ayo.
Tak apa.
Tadi siapa, Abah?
Sudahlah.
Nanti juga kalian kenal.
Teh, tadi Bapak keren banget yah.
Iya, enggak kayak kamu kan, penakut.
Ngapain takut?
Dengar enggak bapak tadi ceramah apa?
Kita itu dikasih bakat.
Harusnya dikembangin, jangan disia-siain.
Tadi bapak bilang begitu?
Pasti tadi bobok, ya?
Enak aja! Orang Aa tadi dengerin semuanya!
Yang molor itu Kakang!
Kira-kira kita bisa seperti bapak enggak ya?
Punya kemampuan seperti bapak itu enggak mudah.
Kita enggak boleh main-main.
Kan kita niatnya bukan main-main
buat jaga diri.
Benar, Neng.
Siapa tahu kita harus lindungin orang lain.
Tapi kalau kenapa-kenapa? Gimana?
Kan kita ramean.
Saling tolong-menolong.
-Tumben Nicko benar. -Iya.
Senter?
Ada.
-Bekal? -Ada.
Teh Risa mana ya?
Katanya enggak mau ikut.
Eh, itu!
Teh Risa!
Neng...
A, bahaya tahu.
Kita harus melatih indera keenam kita.
Lebih cepet lebih baik, Teh.
Tenang, Neng,
kita bakal hati-hati.
Ayo.
Tunggu.
Aku ikut.
Tapi Ririn sama Indy gimana?
Ikut juga?
Daripada mereka digangguin di rumah enggak ada kita.
Kalian jangan jauh-jauh dari Teteh, ya?
Ayo.
Ayo, Ri.
Kalian ngapain?
Diajakin Kakang.
Kan lebih rame, lebih enggak seram.
-Iya sih, tapi... -Lihat nih aku bawa apa.
Kalau kita ikut
nanti kalian aku fotoin.
Terus fotonya buat kalian.
-Gimana? -Setuju.
Ya. Ayo.
Ayo, Ri.
Kalian nyari apaan sih di sini?
Nyari hantu.
Hantunya pada libur nih, enggak ada yang muncul.
Gus...
Kemarin teh aku ke rumah kamu. Tapi Dewi bilang, mama kamu enggak suka.
Dewi ngomong begitu?
Aneh.
Semenjak kejadian itu,
Dewi jadi jarang keluar kamar.
Terus waktu itu aku sama mama lihat dia ngomong sendiri.
Untung selamat.
Masih untung hantunya enggak naik sepeda.
Neng...
Kenapa?
Kayaknya aku pernah lihat dia, A?
Sama hantu yang di rumahmu, Gus.
Gus, emangnya kamu enggak tahu apa gitu tentang rumah kamu?
Enggak tahu. Soalnya kan papa belinya baru.
Kita harus tahu sejarahnya, biar kita tahu harus apa.
Temen-temen, aku pulang duluan ya?
Mama teh lebih serem dari hantu kalau marah.
Iya, kita pulang aja yuk.
Iya, aku juga pulang.
Hati-hati.
Kamu yang hati-hati.
Aduh, batuk.
Aduh, batuk.
Hati-hati.
Kamu yang hati-hati.
Ya udah.
Nanti kalau kita dapat petunjuk apa-apa, kita kasih tahu ya.
Ya.
-Hati-hati, Gus. -Ya!
-Dah! -Dah!
Gimana tadi?
Dewi?
Dewi?
Kamu ngapain di sini malam-malam, sendirian lagi?
Rahasia.
Anak-anak, pada mau ke mana?
Mau sepedaan aja, Tante.
Ya, biar sehat.
Pulangnya jangan pada kesorean, ya?
Ya, Tante.
Ayo.
Dewi enggak diajak?
Dewi,
ikut yuk!
Kenapa teh? Kita kan udah lama enggak main bareng.
No comments yet. Be the first to leave one.