The first 200 lines.
Hei, apa yang terjadi?
Katanya sistem lagi mati.
Yang tadi itu...
Hari ini, dikarenakan penyiar AI, yaitu Ren yang sedang libur,
- Pagi. - setelah lama tidak melihat naskah
- Oh, pagi! - aku jadi merasa gugup.
- Tumben bangun awal. - Aku, Sugimoto
- Bagaimana perasaanmu? - akan menyampaikan berita
- Tidak apa-apa. - dengan sepenuh hati.
- Soalnya kamu tiba-tiba pergi - Berita terbaru hari ini.
- dan pulangnya basah kuyup. - Mengenai kerusakan jaringan terjadi.
- Oh, mau sarapan? - Dampaknya sendiri
- Hm... - telah menyebar
- Tidak usah, pisang saja. - ke seluruh dunia.
- Oh, begitu? - Termasuk pada
- Oh, begitu? - kegiatan sehari-hari.
Pemerintah telah mengumumkan akan mencari tahu penyebabnya.
- Selamat makan. - Selanjutnya.
Mengenai tindak lanjut matinya jaringan kemarin.
Meski beberapa sudah pulih,
di masa mendatang, beberapa sektor akan masih terkena dampaknya.
Penyebabnya adalah kegagalan sistem Cavendish.
Kemudian,
- Wah, repot juga. - pihak Cavendish sendiri,
- Jadi banyak hal yang tidak bisa dipakai. - meminta maaf sebesar-besarnya
- Tapi, - atas kejadian ini,
- syukurlah bisa cepat pulih. - yang menimbulkan banyak kerugian.
- Terima kasih makanannya - Meski penyebabnya sudah diketahui,
kita diminta untuk menunggu hingga pulih sepenuhnya.
Bagaimana?
Tidak bisa.
Berapa kali pun dicoba, Muusa V tetap tidak bisa diakses.
Situasi di mana kendali benar-benar dibajak sepenuhnya, ya.
Sialan! Apa tidak ada cara lain?
Tapi, AI yang melakukan ini?
Jangan-jangan, awal dari Singularity?
Itu tidak mungkin!
Sepertinya memang harus minta tolong Profesor Feynman—
Berisik! Jangan pernah menyebut namanya lagi!
Kalau ini terus berlanjut,
paling buruknya, harus lakukan tindakan pemusnahan.
Mana mungkin kita lakukan!
Kau pikir berapa banyak uang yang dikeluarkan?!
Eng, Pak Kepala.
Sekarang apa?!
Mengenai sinyal Qubit yang terus dikirim sejak kemarin.
Sudah aku bilang, itu tidak ada hubungannya, 'kan?!
Kalau kau punya waktu untuk memikirkan itu,
mending cepat cari solusinya saja!
Apa pun itu!
Asli, benar-benar tukang marah.
Soalnya Pak Kepala tidak siap saat darurat begini.
Tapi, meski aku sudah mengira akan ini,
bisa bahaya kalau dibiarkan.
Sekarang saja masih sibuk rapat.
Padahal rapat saja tidak bisa menemukan solusi.
- Jadi... - Iya?
Soal sinyal Qubit dari satelit, pasti mencatat perhitungan kuantum, 'kan?
Oh, memang ada catatannya,
tapi, itu seperti pesan untuk seseorang.
Apa tulisannya?
Soal itu...
Hei!
Ada ajakan bermain seperti anak-anak dari mama.
Asahi, ada tamu yang datang.
Halo, aku datang.
Wah, jadi ini kamar anak laki-laki?
Sebenarnya, ini pertama kalinya aku masuk kamar laki-laki.
Aku pikir kamar laki-laki remaja itu...
...bakal ada bau-bau asam manisnya, ternyata tidak, ya?
Seperti yang diduga, tidak mungkin akan disembunyikan di sini.
Setelah digitalisasi, kita jadi kehilangan sesuatu yang penting—
Bercanda. Aku bercanda.
Hei, aku cuma bercanda, kok.
Jadi, ada apa mendadak ke sini?
Tidak mendadak, kok. Sudah aku telepon berulang kali.
Eh?
Jahat sekali aku diabaikan.
Habisnya tidak diangkat olehmu.
Notifikasinya selalu aku matikan.
Yah, tidak apa-apa, sih.
Ah, malah ada di sini.
Ini mahal, tahu.
Jadi, kau datang ke sini pasti ada perlu, 'kan?
Hm...
Yah, gara-gara kemarin aku jadi khawatir.
Tapi...
Aku jadi lega karena terlihat normal.
Apa?
Aku berpikir, ternyata kau orang yang peduli.
"Kau pikir aku ini apa?"
Tadinya mau bilang begitu, tapi sebenarnya...
Aku ingin minta tolong satu hal.
Minta tolong?
Itu...
Apa kau bisa pergi ke dunia itu sekali lagi?
Sebenarnya, sekarang sedang ada masalah.
Jangan bercanda.
Tidak, aku tidak bercanda.
Lagian, kau sendiri yang menyuruhku untuk melihat kenyataan, 'kan?
Aku sudah pusing, malah disuruh ke sana lagi?
Kau ini terlalu seenaknya!
Tunggu, dengarkan aku dulu sampai selesai.
"Terlihat normal"?
Kau pikir siapa yang normal?
Katanya aku tidak bisa bertemu lagi.
Dan akhirnya...
Tapi...
Kalau seperti ini...
Kita tidak bisa bersama, Asahi.
Karena itu, sebaiknya...
...jangan ke sini.
Kau membicarakan AI yang diciptakan Profesor Izawa,
yang namanya Ai, ya?
Amelia, Karin, Mongfa, Irina,
dan Aoi diciptakan berdasarkan Ai.
AI yang telah disesuaikan.
Diantara mereka, Aoi yang pertama kali diciptakan,
bahkan diantara sekian banyak AI lain,
bisa dibilang, dialah yang paling mirip dengan Ai.
Lalu, aku sendiri, Asahi...
Dengan menghabiskan waktu denganmu,
kesadaran Ai dalam Aoi telah bangun.
Itulah yang aku pikirkan.
Aoi dan Ai.
Karena koeksistensi dua kesadaran,
di dalam diri Aoi terjadi sebuah masalah,
dan akhirnya lepas kendali.
Lepas kendali?
Kau tahu masalah jaringan kemarin malam, 'kan?
Yang menyebabkan itu adalah... Aoi.
Tidak mungkin.
Setidaknya, itulah yang aku pikirkan.
Beberapa tahun lalu,
perusahaan AI besar bernama Cavendish,
mengembangkan komputer kuantum pertama menggunakan kristal waktu,
yaitu Muusa V.
Di mana semua data AI, termasuk Aoi,
diluncurkan ke luar angkasa dengan satelit buatan.
Aoi yang lepas kendali,
menguasai sistem Muusa V, dan mengganggu jaringan seluruh dunia.
Dan hasilnya adalah seperti yang terjadi kemarin.
Meski sekarang terlihat sudah aman,
tapi jaringan dunia saat ini sedang tidak stabil.
Mungkin saja, akan terjadi hal yang sama lagi.
Saat ini, Muusa V
menolak semua koneksi dari luar.
Tapi, ada satu yang bisa mengaksesnya.
Yaitu kau, Asahi.
Aku, ya?
"Ingin bertemu".
Sepertinya itu pesan yang dikirim dari satelit.
Tidak salah lagi, ini pasti ditujukan padamu.
Aku yakin, harusnya kau bisa mengaksesnya.
Aku mohon, Asahi.
Apa yang terjadi?
Lovelin!
Bagaimana? Tersambung?
Eng... mungkin.
Halah, tidak bisa diandalkan.
Dasar! Ya sudah, lakukan saja sendiri!
Ka-Kalian, sekarang bukan waktunya bertengkar.
Semuanya...?
Suara itu...
Asahi?
Asahi!
Kalian?!
Asahi!
Aku kangen banget, tahu!
- Siapa? - Eh?
Wah, baru sebentar tidak bertemu, kau sudah melupakan kami?
Jahat banget.
Tapi... penampilan kalian...
Poligon kalian kaku banget.
Eh?
Buset, apa ini?
Hei, yang benar, dong!
Aku tahu!
Eng, ini bagaimana?
Oh, sip. Sudah seperti yang biasa.
Hm...
Eng...
Dasar, reuninya jadi berantakan.
Ta-Tapi...
Syukurlah bisa bertemu sekali lagi.
Benar.
Aku pikir tidak akan bisa bertemu lagi—
Profesor Feynman?
Ya ampun.
Kalau ada kalian, pasti fokusnya selalu ke Asahi.
Kalian semua baik-baik saja, ya? Aku jadi lega.
Iya, saat itu sebelum Aoi logout, kami berhasil pergi.
Amelia bilang ada yang aneh.
Setelah itu, kami pergi ke tempat yang tidak bisa diakses siapa pun.
Dan yang mengusulkan untuk pergi adalah Karin.
Tapi, yang sadar ada keanehan itu aku.
Mulai bangga sendiri.
Apa?!
Hei, Irina.
Eh?
No comments yet. Be the first to leave one.