The first 200 lines.
Alih Bahasa: Doyan_Nonton
Aku memulai karirku sebagai polisi...
...dengan kasus paling tercela yang pernah aku lihat...
...pada tahun 1997 di Prompiram.
Selamat datang di Prompiram.
Halo, Letnan.
Aku Sersan Sam-ang.
Inspektur memintaku untuk menjemputmu, Pak.
Mobilku rusak.
Prompiram sama seperti desa lainnya di Thailand.
Orang-orang hidup sederhana dan bahagia di sana.
Tapi salah satu kejadian paling mengerikan di dunia ini...
...pernah mengguncang mereka.
Band ini akan istirahat dulu sebentar.
Tuan rumah yang mengundang kita malam ini...
...adalah seorang anggota parlemen.
- Halo. - Ayo kita sambut Pak Tamnak!
Ada insiden serius di dekat rel kereta api.
- Permisi, Pak. - Silakan masuk.
- Ada apa? - Ada insiden serius, Pak.
- Ayo! - Baik, Pak.
Apa Dokter Lerm ada di sini?
Kepala pasukan? Di mana dia?
- Para polisi datang! - Siapa? Kepala pasukan?
Bukan! Tapi Tone, si pengurus pemakaman!
Ayo.
- Halo, Pak Inspektur. - Halo.
Lakukan sesuatu. Ini terlalu menjijikan.
Jauhkan mereka. Aku tak mau mereka melihat ini.
Baiklah.
Yang tidak terlibat, pergilah!
Baunya menyengat.
Dia pasti sudah tewas selama satu hari...
...dan hawa panas ini membuatnya semakin parah.
Biarkan aku membawa mayatnya ke kuil.
Singkirkan rambutnya.
Pak Inspektur, ini pasti barang milik korban.
Pak Tone, tolong pindahkan mayatnya.
Permisi.
Permisi. Pemeriksaan tiket.
Permisi. Pemeriksaan tiket.
Pemeriksaan tiket.
Pemeriksaan tiket.
- Terima kasih. - Di mana aku menaruhnya?
Pemeriksaan tiket.
Pemeriksaan tiket.
- Ini dia. - Pemeriksaan tiket.
Terima kasih. Pemeriksaan tiket.
Tolong tiketnya.
Bisakah aku melihat tiketmu?
Kau. Mana tiketmu?
Tiketmu? Apa kau punya tiket?
- Tidak. - Kau harus bayar denda.
Kau punya uang?
- Tidak. - Kau mau ke mana?
Uttaradit. Aku mau ke Uttaradit.
Uttaradit? Kereta ini tidak gratis!
Kau harus turun di stasiun berikutnya.
- Pemeriksaan tiket. - Kau mau apa di Uttaradit?
Ayo dibeli!
Keluar! Keluarlah! Ayo!
- Lepaskan aku! - Turunlah di sini!
- Ayo keluar! - Lepaskan aku!
Lepaskan aku!
Wanita jalang ini sangat kuat!
- Keluarlah! - Lepaskan aku!
Keluar!
Lepaskan aku!
Tunggu! Tolong tunggu aku!
Tolong tunggu aku!
Tunggu! Aku mau ke Uttaradit! Tunggu!
- Dokter Lerm. - Halo, Pak Inspektur.
Tolong lihatlah. Pak Tone, singkirkan kainnya.
Wajahnya bengkak.
Rahang patah. Leher terluka. Pasti kecelakaan.
Darah di kakinya.
Mungkin karena tubuhnya dipukul dengan sangat keras.
Atau mungkin menstruasi.
Bukan karena dipukuli?
Mustahil.
Jadi bagaimana? Dikubur atau dikremasi?
Masukkan dia ke dalam peti. Hubungi rumah sakit lokal.
Baik, Pak.
Berat!
Dorong!
Seharusnya dikremasi saja. Tak merepotkan.
Tak ada namanya.
Lihat? Ada jejak darah.
- Lalu kenapa? - Ini pembunuhan.
Jejak darah di bagian putih mata menandakan dia kekurangan oksigen.
Sesuai dengan luka di lehernya.
Pada alat kelaminnya, juga ada jejak air mani.
Wanita ini diperkosa, lalu dibunuh.
- Letnan! - Ya, Pak.
- Kantungnya. - Kantung apa?
- Kantungnya! - Pemerkosanya tak akan memakainya.
Kau pikir maksudku apa?
- Kondom? - Bukan!
Maksudku kantung yang dibawa korban!
Ya! Ada di sini!
Sudah berapa lama Bapak jadi Letnan Kolonel?
Kenapa?
Sepertinya banyak teman seangkatanmu...
...yang sudah jadi jenderal.
Apa kau merasa sedih?
Semuanya takdir masing-masing.
Jadi jenderal itu tak mudah.
Jika tak ditakdirkan untuk itu, kau tak akan mendapatkannya.
Tapi aku dengar kau harus menyuap seseorang.
Jangan berpikiran negatif.
Biarkan saja.
Dulu, ayahku hanya jadi sersan.
Bagaimana denganmu?
Kau pernah bertemu sesuatu seperti ini?
Ini pertama kalinya.
Jika aku keliru, tolong koreksi aku.
- Apa itu maumu? - Ya.
Baiklah.
Seorang polisi...
...harus berpakaian rapi.
Apa kau terburu-buru? Ritsletingmu terbuka.
Hati-hati! Perhatikan jalannya!
Maaf.
Prefektur Wung Tong
Ya, aku ingat. Ini kantung dari tokoku.
Aku tahu. Nama tokomu ada di sana. Kau memberikannya ke siapa?
Seorang pelayan. Menantu wanita Fang.
Ya! Ini Samnian, menantuku!
Korban adalah Nona Samnian Kratummok.
Keluarganya..
Dia baru saja bilang bahwa dia dapat surat dari putraku, Sook.
Dia bilang Sook bekerja di sebuah kilang gergaji di Uttaradit.
Dia pergi saat anak ini baru berusia satu tahun.
Aku tak tahu dia ke mana.
Samnian sangat linglung.
Dia bersikeras untuk pergi ke Uttaradit.
Aku tak punya uang.
Kalau punya, aku takkan mengantarnya ke dia dan ke kematiannya.
Tunggu. Jangan menangis.
Tadi kau bilang dia bersama seseorang?
Transportasi Sri Wung Tong.
Di mana dia?
Itu dia.
Aku tidak bisa.
Ayolah. Tak bisakah kau membantuku?
Aku harus mengejar kereta ke Denchai.
Ibu Sook menemuiku pukul 7.00 pagi.
Dia memintaku mengantar Samnian ke Stasiun Pitsanulok.
Aku mau pulang. Bawa aku pulang.
Apa maumu? Kita sudah sampai di dekat persimpangan Wat Bot.
Aku merindukan putraku.
Menyebalkan sekali.
Sangat menyebalkan.
Ayo.
Turunlah.
Jika tahu betapa merepotkannya, aku tak akan mau membawamu.
Tunggu saja mobil lain di sana.
Aku tak melakukannya. Aku tidak membunuhnya!
Ada saksinya. Kau bisa tanya ke orang-orang di Stasiun Pitsanulok.
Apa hubungannya dengan Stasiun Pitsanulok?
Bolehkah aku merokok?
Kanker paru-paru. Tidak. Lebih baik kau mengaku sekarang.
Sebenarnya, Ibu Sook benci Samnian.
Dia memintaku membuang dia di Pitsanulok.
Sook temanku...
...tapi aku tak bisa melakukan itu. Jadi, aku naikkan dia ke kereta.
Aku tak terlibat dalam kematiannya.
- Jika kau berbohong.. - Aku bersumpah atas nama Buddha!
Tak perlu. Bawa saksinya ke sini.
- Baiklah. - Ya.
Saksi ini sudah memberitahu semuanya.
Chai, kau tak akan bisa lolos.
Aku sudah mengatakan hal yang sejujurnya.
Aku benar-benar jujur.
Kau bisa hubungi Ibu Sook.
Aku sudah ada di sini! Dasar! Kau memfitnah aku!
- Hei, tenang! Tenang! - Tunggu!
Hentikan!
- Tunggu! - Wanita tua brengsek! Kuhajar kau!
Ini kantor polisi! Hentikan dan tenanglah!
Aku akan membunuhnya! Dia memfitnahku! Penjarakan dia!
- Dia memerkosa Samniah di truknya! - Apa? Dasar!
Sudah cukup.
Keluarkan dia.
- Ayo. - Ingat ini!
Kau mau bilang apa lagi?
Penjarakan dia! Dia memerkosa Samniah!
Dia membunuh Samniah! Aku hanya minta..
Kalau begitu, apa kau akan mengaku sekarang?
Pak Inspektur, aku mengaku bercinta dengannya.
Wanita tua itu yang menyuruhku sebagai ganti ongkos kereta.
Tapi aku tak memerkosanya!
Biasanya tak telat, tapi hari itu, kami harus bergerak cepat.
Kami hampir selesai memasukkan barang-barang saat peluit berbunyi.
Baiklah.
Apa kau ingat wanita itu? Dia pakai baju apa?
Pakai blus panjang.
Dia juga pakai rok.
Dia membawa sesuatu. Kantung dari sebuah toko.
Markas Polisi Pitsanulok
No comments yet. Be the first to leave one.