The first 200 lines.
"Tayangan ini mungkin tidak sesuai bagi pemirsa di bawah 15 tahun"
"Pemirsa diharap bijak"
Akan kuberikan kamu melebihi yang bisa kamu bayangkan.
Tolong pergi!
Kamu sudah gila? Lepaskan.
Lepaskan!
Hei!
Tolong aku!
"Pemadam kebakaran"
Tolong!
Yuh Rim kami yang tersayang.
Kamu yang mengabaikannya.
Aku seharusnya tidak pernah mengasuh orang sepertimu.
Merasa kasihan dan membawamu pulang
adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.
"Pemadam kebakaran"
Tolong!
"Episode 17"
Baik. Kerja bagus, Pak Choo.
Aku akan menghubungimu,
Hae Rim.
Kamu mengejutkanku melebihi dugaanku.
Aku akan berterima kasih kepadamu
secara perlahan seiring waktu.
Halo?
Tidak banyak waktu tersisa.
Dia akan siuman sesuai rencana
bertepatan dengan permintaan Anda.
Harus begitu.
Tidak boleh ada kesalahan.
Apa ini?
Sungguh pertanda buruk. Sial.
Ada apa denganmu? - Kemari.
Hei, pelan-pelan, ya? - Ikut dengan kami.
Nanti tasnya rusak.
Kenapa kamu membuat kami berdosa?
Kenapa wajahmu
membuat kami ingin merampokmu?
Begitukah wajahku?
Ya. Astaga, bahkan caramu bicara punya efek itu.
Lantas,
haruskah kuberikan uangku kepada kalian?
Maksudmu, kamu bisa memilih untuk tidak memberikan uangmu?
Tunggu! Hentikan! Hei.
Kenapa wajahmu begitu?
Beraninya kamu tiba-tiba tersenyum.
Tidak.
Pasti ada kesalahpahaman. Aku hanya...
Kesalahpahaman apa?
Sudah kubilang jangan tersenyum. Menurutmu ini lucu?
Kamu kira ini lucu?
Akan kutanggalkan semua gigimu.
Tolong dengarkan aku.
Ada alasannya aku tersenyum. - Hei!
Lupakan soal mengambil uangnya. Ayo habisi dia dahulu.
Akan kami copot semua gigimu. - Hei!
Hei. Apa-apaan.
Apa-apaan.
Siapa kamu?
Kemari.
Hei. Ayo lari!
Lari saja sekarang.
Baik. - Ayo lari. Lari.
Beraninya kamu...
Hei, kalian! Dasar dua berandal mengesalkan!
Kalian beruntung hari ini. Aku akan
pergi saja hari ini,
tapi kita akan bertemu lagi. Kalian akan mati.
Kami tidak lari karena takut. - Ayo pergi.
Baiklah! Kalian bisa menemui siapa pun yang kalian mau!
Kamu baik-baik saja?
Tampaknya kamu dipukuli.
Apa yang baru saja kamu lakukan?
Apa lagi? Aku baru saja menyelamatkanmu.
Siapa yang memintamu?
Apa aku memintamu menyelamatkanku?
Kamu sudah hilang akal?
Hei. Orang yang berdiri di depanmu
bukan musuhmu, tapi pahlawanmu.
Pahlawan yang menyelamatkanmu dari cengkeraman orang jahat.
Itu akan berakhir jika kuberi sedikit uang.
Kenapa kamu menyiramkan bensin ke api?
Bagaimana jika mereka datang satu geng dan membalas dendam?
Kenapa kamu membuat situasinya makin parah?
Apa? - Kamu harus bertanggung jawab.
Untuk semuanya!
Pria itu memang gila.
Bocah Gila!
Tidak terjadi apa-apa.
Tidak terjadi apa-apa sama sekali.
Ayah.
Kenapa kamu amat pucat?
Ada yang terjadi?
Tidak. Aku hanya letih
entah karena apa hari ini.
Aku mau tidur dahulu. Selamat malam.
Astaga.
Kamu pasti amat syok.
Tentu saja dia sakit karena ayahnya menghilang.
Sudah sewajarnya.
Bagi anak-anak, selama demamnya turun dan bisa tidur nyenyak,
artinya mereka baik-baik saja. Jangan khawatir.
Baik. Kalian berdua istirahatlah juga.
Kamu istirahatlah.
Jika memang harus pulang, dia akan pulang dengan aman.
Jangan mati karena ini.
Tidurlah dengan nyenyak, ya?
Bukankah kita sebaiknya memasak jeon atau semacamnya?
Apa maksudmu?
Kamu tahu ungkapan
putri menantu yang kabur akan mencium aroma makanan dan pulang.
Aku hanya penasaran adakah cara
agar putra menantu pulang.
Kamu dan mulut besarmu...
Kamu tidak bisa melihat Suh Ra sedang sedih?
Lihat betapa sakitnya dia.
Itu karena aku mulai khawatir juga.
Kita butuh rencana atau semacamnya.
Lihat, bukan? Ibumu
tidak tahu cara membaca pikiranmu.
Keluar. Keluar dan tidurlah.
Berhenti bicara omong kosong dan keluarlah.
Baik. Aku akan memakai masker dan tidur.
Berhentilah mendorong! Nanti kulitku rusak!
Maaf.
Ayahmu terlalu lemah untuk membantumu.
Ayah hanya duduk diam
dan menyaksikan kalian bertiga menderita.
Jangan bilang begitu, Ayah.
Kalian berdua masih sehat
dan berada di sisiku,
itu sudah menjadi kekuatan bagiku.
Aku, di lain pihak, selalu melakukan ini.
Maafkan aku.
Jika punya orang tua yang lebih baik,
kamu tidak akan menderita begini.
Tidurlah.
Baik. Ayah juga.
Ji Sup akan kembali, bertingkah tidak terjadi apa-apa.
Dia bukan pria yang tidak bertanggung jawab.
Jadi, jangan berlarut-larut khawatir
dan tidur nyenyaklah. - Baik.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak tersedia.
Yang benar saja.
Ji Sup.
Aku mau berhenti terluka.
Apa pun itu, tolong pulang.
Tolong berhenti meninggalkanku sendirian.
Aku akan pulang, Ayah.
Kamu pergi sepagi ini lagi?
Sarapanlah sebelum pergi. Akan ayah masakkan dengan cepat,
jadi, makanlah sedikit.
Tidak. Aku pergi dahulu. - Suh Ra.
Kamu akan membuat ayah sedih terus?
Aku akan segera kembali.
Tapi sebagai gantinya. masakkan makan malam yang enak.
Akan kupastikan Ji Sup makan bersama kita hari ini.
Tunjukkan keahlian memasak Ayah kepadanya.
Baik.
Halo? Ya, ini istri Han Ji Sup.
Tolong lanjutkan.
Apa?
Apa katamu tadi?
Apa maksudnya itu?
Apa...
Apa maksudmu?
"Grup Gangin"
Sumurnya kering. - Apa?
Tidak ada pria lagi di masa depanmu.
Karena itulah semua pria yang kamu temui amat sial!
Apa? Lantas bagaimana?
Aku bahkan belum 60 tahun.
Kamu menyuruhku hidup selibat sampai mati?
Itu tidak penting.
Permisi. Putriku bertemu dengan ibu mertua yang jahat,
yang bangkrut... - Aku lebih mendesak.
Jangan begitu hanya karena kamu punya suami.
Lantas, aku harus berbuat apa?
Haruskah kubeli jimat atau kulakukan pengusiran roh jahat?
Tikus ini menghabiskan tabungan mereka,
jadi, hidup putriku dan menantuku kacau.
Lalu menantuku pergi dari rumah dua hari lalu dan tidak ada kabar.
Dia harus membayar lebih banyak untuk menghindari kesialan.
Apa? Membayar untuk menghindari kesialan?
Dia terkutuk!
Keberuntungan putrimu amat kuat.
Aku kagum suaminya masih bersamanya!
Apa maksudmu?
Maksudmu, sesuatu akan terjadi kepada putraku karena hidupnya?
Omong kosong macam apa itu?
Tidak begitu juga.
Lakukan pengusiran roh jahat.
Untuk 15.000 dolar, seharusnya semuanya baik-baik saja.
Sampah. Jangan menagih 15.000 dolar. Lupakan saja!
Mi Hong. Dia penipu.
Dia benar-benar palsu.
Astaga. Aku yang gila karena ikut denganmu.
Omong kosong. - Tunggu.
Tunggu! Hei! - Diam.
Maaf. Itu karena dia tidak selesai berkuliah.
No comments yet. Be the first to leave one.