The first 200 lines.
Kurasa aku tahu sandi rumahmu, tapi aku tetap menunggu.
Karena aku tahu tak boleh begitu.
Apa aku salah?
Karena ini masih rumahku.
Apa 1234?
Rupanya 2345.
Ini.
Sekarang, rumah ini sudah bukan milikku lagi.
Seharusnya kulakukan saat terima uang darimu.
Namun, kau tak pernah memintanya.
Kau akan tetap tinggal di sini?
Ya.
Apa tak aneh? Kita pernah tinggal di sini.
Kau…
Jangan salah paham. Bukan karena kau.
Lantas apa ini?
Kau sengaja meletakkan ini di meja
dan menyuruhku untuk tak salah paham?
Jangan sembarangan sentuh. Ini bukan milikmu.
Begitu.
Rupanya kau sedang memacari seseorang.
Apa dia…
tahu?
Tahu apa?
Bahwa kau dipecat dari pekerjaanmu dan menjalani terapi.
Ya.
Dia tahu.
Syukurlah.
Tak banyak wanita yang bisa memaklumi
pria yang tak punya pekerjaan dan menjalani terapi
karena tak bisa mengontrol amarah.
Apa dia memang memiliki selera yang tak biasa?
Apa yang kau inginkan? Kau mau mengajakku bertengkar?
Tentu saja tidak.
Meski kita sudah berpisah, tak ada salahnya basa-basi.
Kau menyebut ini basa-basi?
Lalu, bagaimana denganmu?
Kau baik-baik saja?
Ya.
Aku bahagia.
Aku akan menikah sebentar lagi.
Dia seorang akuntan.
Aku tak ingin terburu-buru, tapi malah berakhir seperti ini.
Kau tak apa-apa, 'kan?
- Apanya? - Coba pikirkanlah.
Kau masih tinggal di rumah lama kita,
sedangkan aku akan menikah dan hidup bahagia.
Karena tahu kau punya gangguan mental,
aku khawatir kondisimu akan memburuk.
Khawatir?
Sejak kapan kau begitu mengkhawatirkanku?
Jawab aku.
Meski aku memohon kepadamu
untuk menunggu investigasi selesai, kau tetap membatalkan pernikahan
dan menuntutku untuk ganti rugi.
Itu karena kau mengkhawatirkanku?
Mencampakkan seseorang pada masa terburuknya
adalah hal terburuk yang dilakukan manusia.
Ya.
Tentu saja.
Kau pasti berpikir hanya dirimu yang menderita.
Apa yang seharusnya kulakukan?
Orang-orang menikah untuk bahagia, tapi hidupmu tiba-tiba berantakan.
Apa aku harus tetap berada di sisimu
sambil menghiburmu,
meski aku tak ingin melakukannya?
Jika begitu, apa kita akan bahagia?
Tidak.
Karena kau memiliki bakat membuat orang menggila,
aku pun akan kehilangan akal sehat.
Jadi?
Apa kau bahagia sekarang?
Apa?
Apa kau bahagia?
Ya, tentu saja.
Kenapa?
Apa aku terlihat tak bahagia?
Sedikit.
Orang yang benar-benar bahagia
tak mengganggu atau menyakiti orang lain.
Jika kau sungguh bahagia,
kau tak perlu menenangkan pikiranmu
dengan sengaja merendahkan dan menyakiti orang lain.
Aku memang membencimu setelah kau meninggalkanku,
tapi aku tak pernah mengutukmu.
Aku mengharapkan yang terbaik untukmu.
Aku mungkin tak terlalu mengenalnya,
tapi menilai dari bagaimana akuntan pajak itu mau menikahimu,
dia pasti orang yang baik.
Jadi, kau tak perlu gelisah.
Kuharap kau bahagia sepertiku.
Dia hanya akuntan, Bodoh.
Maaf.
Jangan lupa bawa barang-barangmu. Sudah kukemas. Tunggu sebentar di sini.
Astaga. Apa ini?
Howi…
Sayang, ada tamu.
Silakan masuk.
Aku…
Sayang, ada tamu.
Begitu? Bukankah kau pernah bilang kau pengantin baru saat pindah ke sini?
Aku tak bisa hari ini. Tiba-tiba ada urusan.
Apa ini? Kau lupa?
Aku benar-benar lupa karena tiba-tiba dipanggil ke kantor polisi.
- Pacar! - Kau…
Dia benar-benar bajingan!
Butuh waktu lama untuk menemukan ini.
Aduh.
Omong-omong,
kau memanggilku "sayang" barusan?
Benar, "sayang".
Itu sebutan yang umum akhir-akhir ini.
Kurasa wanita yang memiliki selera tak biasa itu
salah paham.
Kau benar-benar…
Cepat pergi dari sini.
Kau sangat…
Cepat pergi.
EPISODE 12 CINTA YANG TIDAK BEGITU MENYAKITKAN
Buka. Aku tahu kau di dalam.
Kau mau membuatku gila?
Keluarlah.
Kita harus bicara.
Enyahlah sebelum aku lapor polisi.
Aku tahu kenapa kau seperti ini. Biar kujelaskan. Kau salah paham.
Aku tak ingin mendengarnya.
Kau berbohong karena ada yang disembunyikan.
Katamu kau di kantor polisi.
Aku tak bohong kepadamu.
Aku bertemu dengannya setelah pulang dari kantor polisi.
Ini kali pertama kami bertemu setelah berpisah.
Dia mampir untuk mengambil barang-barang miliknya, dan…
Dia sengaja memanggilku "sayang". Dia memang begitu.
Lantas? Memangnya kenapa?
Apa hubungannya denganku?
Kenapa? Pikirmu ada sesuatu di antara kita karena pernah tidur bersama?
Apa salahnya tidur bersama?
Aku memang sering tidur dengan pria beristri. Kau tak tahu?
Jangan bicara seperti itu!
Kenapa…
Kenapa kau tak mendengarkan perkataanku?
Kau benar. Aku memang bukan siapa-siapa.
Namun, aku tak pernah berbohong kepadamu.
Aku tak mau ada yang membohongimu lagi.
Siapa pun.
Aku hanya berharap tak ada yang menyakitimu lagi.
Kenapa?
Apa terjadi sesuatu?
Howi sakit. Ia sedang di dokter hewan.
Kenapa? Apa sakit parah?
Kemungkinan ia keracunan pestisida. Kurasa seseorang sengaja meracuninya.
Dia sengaja melakukannya untuk memperingatkanku.
Dia menculik Howi di lift saat talinya terlepas.
Aku tak tahu sejak kapan dia mengawasiku.
Aku sangat takut.
Anjingku hilang!
Aku mencium bau gas kemarin, jadi, kubuka semua jendela di teras…
Itu kau! Kau yang melakukannya!
Buka pintunya.
Tak apa-apa.
Ia akan baik-baik saja.
Aku paham perasaanmu.
Kau tak memercayai
perkataanku, ya?
Aku percaya.
Kau janji untuk tak membohongiku lagi.
Katakan yang sejujurnya. Kau memercayai perkataanku?
Ya. Aku percaya, tapi…
mungkin ia tak sengaja makan sesuatu.
Lagi pula, pria itu…
Dia ada di penjara.
Jangan terus berpikir aneh-aneh.
Aku hampir tertipu olehmu.
Kau dan lidah jahatmu.
Apa? Kau mau aku percaya pada diriku sendiri?
Dasar bajingan. Kau juga bajingan.
Bukan begitu maksudku.
Lepaskan!
Enyahlah!
Enyah! Pergi dari sini!
Jangan emosi. Tenangkan dirimu.
Lepaskan! Jangan sentuh aku! Menjauh dariku!
Kau juga tak memercayaiku!
Kau berpikir dan menyimpulkan sesukamu.
Ya.
Aku tak bisa memercayaimu.
Apalagi diriku sendiri.
Kau puas sekarang?
Sudah kuduga.
Kau harus memercayai dirimu sendiri.
Kau tak lakukan kesalahan apa pun.
Kenapa tak ada yang memihakmu?
Kau punya aku.
Ini. Kita sepihak mulai sekarang.
Aku tak mau ada yang membohongimu lagi.
Aku hanya berharap tak ada yang menyakitimu lagi.
Bisakah kau berjanji kepadaku
bahwa kau akan tetap memahami, memercayai,
dan membelaku,
tak peduli apa yang kulakukan?
No comments yet. Be the first to leave one.