The first 200 lines.
Mereka bakal menghentikan truknya, menanyai sopirnya, lalu memeriksa tong-tongnya.
Dalam waktu lima menit mereka mulai kembali ke jalan ini dengan pelan...
menyisiri jalan, memerhatikan dengan tajam.
Mungkin butuh waktu 10 menit.
Jelas? Beri aku waktu 15 menit.
15 menit.
Aku harus manfaatkan kesempatan ini.
Yang tidak aku berikan adalah sebotol air es dan rokok.
Aku harus keluar dari sini. Kuharap aku mengubur kemejaku cukup dalam.
Inilah kenyataan yang sesungguhnya.
Ada yang datang. Aku harus manfaatkan kesempatan ini sekarang.
Kenapa kakimu bisa sampai basah? Menyeberangi sungai?
Menyeberangi sungai kecil di belakang sana. Tak melihat adanya jembatan makanya aku menyeberang.
- Kau mau ke mana? - San Francisco.
- Di daerah Frisco mana tepatnya? - Pusat kota.
Dengan mengenakan kaos dalam saja?
Aku ingin merasa nyaman.
- Dari mana kau dapat celana itu? - Untuk apa kau ingin mengetahuinya?
Tak pernah lihat celana seperti itu sebelumnya.
Apanya yang lucu dengan celana ini? celana ini pas buatku.
Mereka memberiku banyak pakaian demi uang.
- Asalmu dari mana? - Arizona.
- Di daerah Arizona mana tepatnya? - Maricopa.
Bagus sekali penutup tempat dudukmu.
Itu merupakan bagian dari tenda karnaval.
Menurutku, kau akan lebih terkena sengat matahari dengan tidak mengenakan pakaian.
Seperti yang kubilang, Kau akan lebih terkena sengat matahari.
Kenapa kau tak mengenakannya? Kehilangan pakaianmu?
Kenapa kau pergi ke Frisco?
Apa-apaan ini, acara kuis? Hentikan mobil butut ini dan biarkan aku keluar.
Aku akan cari tumpangan yang lain.
Jangan marah dulu, bung. Semua yangku bilang itu...
Hentikan mobilnya. Aku akan cari tumpangan di mana aku tak perlu menceritakan kisah hidupku.
Sekilas info! Kami menyela acara ini untuk memperingatkan semua pendengar yang ada di wilayah North Bay.
Waspadai terhadap narapidana yang lari dari San Quentin 15 menit yang lalu...
kemungkinan dia berada di truk bagian belakang.
Berikut ciri-ciri orangnya:
Narapidana yang kabur tinggi: 5'-10'", rambut: hitam coklat, mata: coklat...
Terakhir terlihat mengenakan pakaian penjara warna abu-abu, sepatu hitam.
Nama Vincent Parry, divonis seumur hidup...
atas pembunuhan terhadap istrinya tiga tahun yang lalu.
Apa yang kau tahu?
Tolong, hentikan! Aku takkan bilang!
Hentikan! Hentikan!
Baiklah, masuklah ke dalam mobilku dan pergi dari sini, cepat.
Apa-apaan ini?
Kau beruntung dia masih hidup. Ayo pergi. Aku ingin menolongmu.
Kenapa?
Aku mohon, kita tak punya banyak waktu, Vincent.
- Bagaimana kau tahu namaku? - Apa itu masalah?
- Kau polisi? - Kalau aku polisi, Aku akan punya senjata.
Dengar, Aku mencoba memberimu kesempatan.
Aku tak mengerti. Baiklah, ayo pergi.
Masuklah ke dalam. Aku sudah keluarkan lukisannya. Aku sudah dengar sekilas berita itu di radioku.
Jangan khawatirkan lukisannya, Aku bisa memperbaikinya.
Di mana kita?
Dalam terowongan yang menuju ke Jembatan Golden Gate.
- Ke mana kau membawaku? - San Francisco, ke tempatku.
Ada penjagaan.
Jangan bergerak, Vincent. Jangan membuat suara.
Ada SIM, nona?
Apa masalahnya, Petugas? Aku telah berbuat pelanggaran?
Aku masih belum tahu, nona. Anda mau pergi ke mana?
San Francisco.
Apa yang anda punya di belakang?
Hanya lukisanku saja. Aku pelukis amatir pemandangan.
- Aku mau memeriksanya bila anda tak keberatan. - Silakan saja.
Tapi jangan sampai cat lukisnya terkena lengan bajumu, lukisannya masih basah.
Baiklah, nona.
Kau bisa mulai bernapas kembali.
Kau bilang ke mereka untuk memeriksa dan melihatnya.
Aku tahu dia akan bertanya seperti itu. Aku harus manfaatkan kesempatan.
- Apa yang kau lakukan di sekitar San Quentin? - Melukis di bukit.
Bagaimana kau tahu aku ada di jalan?
Radio memberitakan truknya mengarah ke selatan.
Aku membayangkan kau hendak menuju ke jalan pedesaan.
Lalu aku berpapasan dengan mobil yang kosong dengan pintu terbuka...
makanya aku putar arah dan kembali.
Di situlah aku berada. Bagaimana bisa aku percaya?
Baiklah, tak perlu mempercayainya. Tapi aku telah meloloskanmu dari kepolisian.
Jika kau jadi membawa mobil butut itu...
kau akan berkendara kembali ke San Quentin sekarang. Itu satu hal.
Jika dia mengangkat terpal yang satunya itu tiga inchi saja...
Aku akan mendapatkan diriku berada di penjara selama beberapa tahun.
Itu satu hal yang lainnya.
Saat ini juga, Aku biarkan diriku sendiri dalam sebuah obrolan yang tak penting.
Apa maksudmu, obrolan yang tak penting ?
Kau berusaha untuk segera menjauh dariku, kan?
Aku tak bisa biarkan melakukan sebuah kesalahan.
- Mungkin aku telah melakukannya. - Kenapa?
Ada motor polisi muncul di belakang kita.
Dia melewati kita sekarang.
Dia berhenti di gerbang tol.
Teruslah berbaring.
Tahan napasmu dan silangkan jemarimu.
Ada sebuah penjagaan di belakang sana.
- Ada seorang pembunuh kabur. - Itulah yang mereka katakan.
Kita sampai di tempatku. Kau siap?
- Selanjutnya apa? - Kau akan tinggal di sini.
- Itu tidak baik. - Kau bisa memikirkan ide yang lebih baik lagi?
Maka kau bersiaplah, Menghitunglah hingga hitungan ke-10.
Pada saat itu aku akan masuk ke dalam lalu menyiapkan lift untuk naik ke atas.
Ada satu dari sekian tombol.
Begitu selesai hitungan ke-10, keluarlah dengan cepat, tapi jangan lari.
Aku akan tunggu di dalam, di sampingmu.
Baiklah, mulai menghitung.
8, 9, 10.
Begitu kita sampai di lantaiku, Biarkan aku jalan dulu.
- Aku mau memastikan tak ada orang lain yang datang. - Baiklah.
- Tunggulah di sini. - Baiklah.
Buatlah dirimu serasa di rumah sendiri.
Aku tak mengerti.
Kenapa kau lakukan ini untukku? Aku tak punya uang, sepeserpun.
Tak ada untungnya ini buatmu selain hukuman penjara.
Tunggulah di sini. Aku mau perlihatkan kau sesuatu.
Putar musiknya kalau kau suka.
- Aku lihat kau suka musik swing. - Ya, swing yang enak.
Aku mau perlihatkan kau ini.
Ditulis untuk editor pada saat persidanganmu.
Surat untuk editor.
"Kupikir inilah saatnya seseorang berbicara demi kebaikan Vincent Parry."
"Pihak penuntut berusaha mengaburkan fakta dari perkara..."
membuat segala cara demi menggambarkan Parry sebagai seorang suami yang tak setia, pembunuh yang keji.
Aku tak tahu apa-apa tentang permasalahan pernikahan Parry...
atau bukti kuat dalam pembunuhan itu...
tapi aku tahu dia telah ditafsirkan secara hina dalam surat kabar.
"Aku tak kenal dengan orang ini, tapi hanya satu hal, keberatan dengan fitnah surat kabarmu."
Tertanda, Irene Jansen.
- Itu dirimu. - Ya.
- Kenapa kau menulisnya? - Aku mencurigai kau telah diperlakukan dengan cara yang tak adil.
Begitu aku tertarik terhadap suatu hal, Aku berikan semua yang aku punya.
Aku senang dengan tindakan seperti itu.
Tapi ini tak baik buatmu, dan ini pastinya juga tak baik buatku.
Kepolisian akan sibuk selagi aku tak berbuat apa-apa.
Tapi kau hanya punya sedikit waktu, Vincent.
Halo?
- Aku Bob. - Halo, Bob.
- Ingin makan malam? - Maafkan aku, tidak malam ini.
Ada kencan dengan pria lain?
Bukan kencan. Aku hanya ingin menyelesaikan beberapa sketsa.
- Ada seseorang di sana yang membantu? - Tidak, hanya aku saja.
Kau buat aku cemburu. Aku yakin ...
Jangan bicara seperti itu, Bob. Itu tidak benar.
Hubungi aku besok malam, sekitar pukul 7:00.
- Baiklah. - Sampai jumpa.
Aku mau pergi. Panggilan telepon itu adalah pertanda.
Tapi aku tak ingin menemuinya.
Kau masih ada waktu, Aku urus diriku sendiri.
- Aku mau pergi. - Tunggulah hingga nanti malam, aku mohon, Vincent.
Kau tak bisa pergi dengan pakaian seperti itu. Biar aku carikan pakaian yang bagus buatmu.
Polisi takkan begitu curiga dengan orang yang berpenampilan baik.
Sekarang, berapa ukuran setelanmu?
40, kurasa.
- Kemeja? - 15 1/2, lengan baju 34.
- Sepatu? - 8B.
- Topi? - 7.
Itu nomor keberuntungan.
Aku segera kembali.
Sebaiknya kau buang pakaianmu itu.
Ada kertas bungkus di dapur.
Bungkuslah pakaian itu dengan ikat yang kuat lalu buang ke dalam saluran pembakaran sampah.
Mandilah dengan air yang hangat.
Dan kau butuh cukur.
Irene, biarkan aku masuk.
Itu suara Madge.
Kau tahu aku ada di luar sini. Kau mau membiarkan aku masuk?
Irene. Ada orang di dalam bersamamu?
Ya, ada orang di dalam bersamanya. Sekarang pergilah.
Carilah orang lain yang lebih baik lagi, Madge.
Tak seharusnya membuang pakaian kotor di saluran itu.
Tak bisa jauh dari handuk Turki.
Semuanya sudah tersedia. Rapi. Bersih.
"Calvin Jansen, dihukum empat tahun yang lalu..."
di penjara seumur hidup karena membunuh istrinya...
tewas kemarin malam di San Quentin masih menganggap dia tidak bersalah.
Jansen, arsitek kaya, yang dituduh...
Kupikir aku dengar seseorang berbicara di sini.
Hanya aku saja berbicara dengan diriku sendiri. Kebiasaan yang aku bawa di penjara.
- Kau sudah buang pakaianmu? - Ya.
Aku senang kau menyiapkan handuk yang cukup besar untuk menutupi kekotoranku.
Mendingan.
Bisa aku minta kliping itu?
Kau ada tamu.
Aku bilang padanya untuk pergi.
Itu tidak baik. Teman-temanku akan berpikiran kalau aku itu...
Aku tahu. Aku sudah bilang padamu kalau aku harus pergi.
Aku tak peduli dengan anggapan mereka. Aku hanya berusaha secara teknis, dan berhati-hati.
Kuharap pakaiannya cocok.
Kau selalu sendirian di sini, Semuanya dilakukan sendiri?
Aku terlahir kesepian, Kurasa.
- Itukah alasan kau menghadiri pengadilan pembunuhan? - Bukan.
Aku pergi ke sana karena kasusmu sama seperti ayahku.
Aku tahu dia tidak membunuh ibu tiriku. Aku tahu dia berkata yang sesungguhnya...
Hingga dia meninggal di penjara.
Kupikir ini bisa berguna buatmu.
- Sesederhana itu? - Ya, Aku ingin menolongmu...
tapi yang bisa aku lakukan saat itu adalah menulis surat gila untuk dimuat...
hingga hari ini.
Kenapa kau melukis di sana? Kau tahu kalau aku itu...
Tidak, Aku tidak melukis. Ketika aku bangun pagi tadi...
No comments yet. Be the first to leave one.