The first 200 lines.
Bagaimana kamu tahu?
"Episode 2"
Bagaimana kamu tahu wanita tua itu akan segera meninggal?
Apa dia benar-benar
mendatangimu dan bicara denganmu?
Di mana ranselnya?
Ranselku.
Di mana?
Apa ingatanmu
sudah kembali?
Ranselku ada padamu?
Itu...
Bukankah kamu Novelis Yuk Dong Ju?
Benar, bukan? Kamu penulis "Tuhan Sudah Mati", bukan?
Benar, bukan?
Nona Kim.
Cepat kemari.
Ini kehormatan besar.
Boleh aku berfoto denganmu?
Maafkan aku. Ini bukan waktu yang tepat.
Hei, ayo masuk. Kita akan bicara di dalam.
Masuklah.
"Bangsal 4102, Tidak Dikenal"
Kamu seorang novelis?
Ya...
Ini rumit.
Pertama, kamu pasien.
Jadi, jika terkejut, kamu bisa pingsan.
Kamu bisa berada dalam bahaya.
Tunggu.
Sekarang kamu harus istirahat.
Kurasa sebaiknya kita bicara saat kamu benar-benar tenang.
Aku tenang.
Apa?
Kamu sudah melihat isi ranselnya?
Kamu tahu?
Apa pun yang kukatakan akan terdengar seperti alasan.
Orang-orang sangat plin-plan dan lemah.
Dalam hidup, kejadian tidak terduga
bisa menjadi ujian bagi orang.
Aku tidak merencanakan ini dengan niat buruk sejak awal.
Saat tersudut,
terkadang mereka membuat keputusan terbodoh.
Aku tahu perbuatanku tidak bisa dibenarkan hanya dengan alasan.
Aku yang gila di sini. Aku sudah gila.
Saat itu, aku gila. Aku sudah gila.
Kamu seperti jatuh dari langit.
Kamu tiba-tiba muncul dan mereka bilang kamu sudah mati.
Tapi seperti keajaiban, kamu hidup kembali.
Lalu kamu tidak sadarkan diri.
Aku dalam masalah, tapi melihat jalan keluarnya.
Aku tahu itu jahat.
Tapi aku seperti tersihir. Aku mengambil kesempatan itu.
Hei. - Aku tahu.
Aku tahu itu semua alasan dan omong kosong.
Aku tahu perbuatanku sulit dipahami. Kamu benar.
Memahamiku memang sulit. - Aku mengerti.
Semua orang membuat kesalahan.
Tunggu.
Kamu melihatnya sebagai kesalahan?
Mungkin memang kesalahan.
Kamu serius?
Ya.
Kamu tidak sengaja menyebabkan kecelakaan mobil.
Apa?
Itu sudah terjadi, jangan merasa bersalah.
Kamu melihat isi ranselku?
Kenapa kamu bertanya?
Apa ada kartu mahasiswa atau sesuatu yang bertuliskan namaku?
Tidak.
Tapi ingatanmu tidak kembali?
Aku sedang dikejar.
Kamu dikejar?
Oleh siapa?
Entahlah.
Tunggu.
Berapa banyak yang kamu ingat?
Saat itu hujan.
Aku dikejar seseorang.
Aku memakai ransel.
Kurasa ada hal penting di ranselku.
Hal penting apa?
Aku tidak ingat.
Tapi kamu bilang ada hal penting di dalamnya.
Pikirkan baik-baik.
Entahlah.
Aku tidak tahu kenapa aku dikejar dan siapa yang mengejarku.
Aku tidak tahu siapa aku atau apa isi ranselku.
Aku tidak ingat apa pun.
Aku mungkin ingat sesuatu jika melihat ranselku.
Tasku ada di rumahmu sekarang?
"Tuhan Sudah Mati"
"Tuhan Sudah Mati"
"Melampaui Baik dan Jahat"
Astaga. Kusimpan di mana, ya?
Kurasa aku ingat menyimpannya di suatu tempat.
Ayolah. Pikirkan.
Aku baru pindah. Rumahku berantakan.
Aku bahkan tidak bisa membongkar barang-barangku.
Kita akan mencarinya bersama. - Astaga. Kamu seorang pasien.
Kamu tidak boleh ke mana-mana.
Aku bukan pasien lagi. Ayo.
Astaga. Aku akan mencarinya.
Aku yakin akan menemukannya saat membongkar kardus. Ya?
Kamu pasien yang harus tetap di rumah sakit.
Tunggu. Kamu mau ke mana?
Bertanya apa aku boleh pulang.
Hei.
Ada apa?
"Pusat Medis Darurat"
"Rumah sakit yang ditunjuk untuk pemeriksaan medis nasional"
Ada apa?
Apa?
Ada apa?
Ada apa?
Kamu baik-baik saja?
Ada apa?
Tunggu. Aku akan memanggil dokter.
Dokter! Cepat!
Cepatlah.
Ke mana dia?
"Ahli Bedah Saraf Lee Soo Yeon"
Tidak! - Tidak!
Soo Yeon!
Dokter Lee.
"Rumah Sakit Yeollim"
"Rumah Sakit Yeollim"
Jangan mendekat.
Siapa kamu?
Siapa kamu?
Bagaimana kamu bisa menghilang begitu saja?
Apa yang kamu lakukan? Siapa kamu?
Aku juga ingin tahu.
Apa?
Siapa aku
dan apa yang terjadi.
"Ruang Gawat Darurat"
Hei.
Seberapa parah luka tahanan itu? Bagaimana dia bisa terluka?
Dia melukai pergelangan tangan dan dahinya sendiri.
Lukanya tidak serius.
Apa dia berusaha mengeklaim dirinya sakit jiwa?
Benar.
Saat mendapat penanganan, dia terus mengeklaim
bahwa dirinya sakit jiwa.
Kamu boleh pergi.
"Ruang Gawat Darurat"
Aku bisa mendengar suara orang yang kesakitan.
Suara teriakan dan tangisan mereka.
Sebagian besar kusut, dan aku tidak bisa dengar perkataan mereka.
Tapi aku bisa mendengar suara wanita tua itu dengan jelas.
Dia memohon agar aku membantunya.
Begitukah kamu tahu wanita tua itu akan segera meninggal?
Dia bilang
akan segera pergi.
Aku melihat kilasan gambar yang tidak kupahami.
Saat itulah aku merasa sangat kesakitan.
Kamu berharap aku percaya?
Bagaimana mungkin?
Aku berkata jujur.
Apa kamu
anggota kultus?
Kamu kehilangan ingatanmu. Tapi alam bawah sadarmu
mungkin menyimpan jejak kultus itu.
Lupakan saja. - Tunggu.
Kamu tidak menipuku, bukan?
Baiklah.
Jika yang kamu katakan benar,
berarti kamu punya semacam
kekuatan super telepati setelah kecelakaan mobil itu.
Aduh!
Petir.
Petir?
Hei, ini gila.
Apa maksudmu?
Bagaimana denganku?
Apa maksudmu?
Kamu melihat atau mendengar sesuatu dariku?
Tidak.
Kenapa tidak ada pengaruhnya padaku?
Entahlah.
Pasti ada peraturannya.
Mari rangkum perkataanmu.
Entah bagaimana kamu berkomunikasi dengan orang
yang sangat membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalah mereka
atau sedang mengalami rasa sakit yang luar biasa.
Kurasa juga begitu.
Apa itu artinya aku tidak putus asa atau kesakitan?
Entahlah. - Tidak mungkin.
Hidupku adalah contoh dari keputusasaan dan rasa sakit.
Sepertinya itu tidak berlaku untuk semua orang.
Omong-omong, hal ini terjadi
terlepas dari niatmu, bukan?
Benar.
Baiklah. Bagus.
Hei, cobalah.
Coba apa?
Coba baca keputusasaan dan rasa sakit orang itu.
Kamu harus belajar mengendalikannya. Maka kamu bisa bereksperimen.
Hei, kamu mau ke mana?
No comments yet. Be the first to leave one.