The Worthy

The Worthy

Download Indonesian Subtitle

Release info

The worthy
A Commentary by Ariv Nidunami
;-)

Tags

other
Published on: 2017-12-06
Downloads: 35
Hearing Impaired: No

Indonesian subtitle preview

The first 200 lines.

Ayahku jarang membicarakan masa lalu..

..kecuali saat-saat tertentu.

Di perjalanan kesehariannya ke kota,

dia selalu membantu pejalan kaki.

Itulah ayahku..

memberi tumpangan orang asing.

Tapi orang ini berbeda,

dia ingin berhenti di jalur 77,

yang tak mengarah kemanapun.

Pria itu memberi peringatan..

Waspadai Bendera Hitam,

mereka hanya perduli diri sendiri.

Dia menyarankan untuk bersiap dan lari..

ketempat aman, terpencil,

bersembunyi dan persenjatai diri.

Jadi itulah yang kami lakukan.

"Si peramal", begitu ayahku menyebutnya.

Sejak dia melihat berakhirnya dunia.

Nyatanya..

Bendera Hitam dan kelompok senjata..

..memulai perang demi keunggulan.

Semuanya musnah, terbakar dan membusuk.

Mereka yang takut terbunuh..

..menderita lapar dan dingin, lalu mati dalam rumah.

Yang diderita kebanyakan orang,

mereka mati ketakutan.

Dingin, lapar dan takut.

Keadaan terus memburuk,

kelompok senjata berhasil meracuni persediaan air.

Beberapa tetes cukup untuk merusak kekebalan tubuh.

Saat itulah neraka terasa.

Seluruh kota terhapus.

Tanah di mana kita mengharap surga, terbuang.

Orang yang bertahan tak punya apa-apa..

kecuali keyakinan,

dan antar sesama.

Lupakan itu.

Kau tahu yang kufikirkan? /Ya.

Aku tahu,

ayahku tak mengizinkan kau dengannya.

Aku tak mau.

Aku akan bicara dengan ayahmu,

antar pria.

Menurutmu aku takkan melakukannya?

Skakmat.

Aku tak konsentrasi, main lagi.

Ayolah.

Ayah!

Ayah!

Ada yang datang. /Berapa?

Yang kulihat satu.

Naik ke atas, beri aku perlindungan.

Shuaib?

Jangan sekarang, Jamal.

Aku ikut denganmu.

Kamu tidak ikut.

Ayah! /Maryam!

Aku bukan anak kecil, kau tahu aku bisa bantu.

Aku tahu, tak ada yang lebih cakap darimu.

Karena itu kau harus menjaga mereka.

2 ketuk, berarti aman.

3, masalah.

Dia sakit.

Kekurangan air.

Tolong aku.

Aku tak suka ini.

Kemarilah.

Kemari!

Tunggu..

mungkin jebakan.

Dia seumuran putriku.

Shuaib, jangan buka gerbangnya. /Tolong aku,

atau bunuh saja aku.

Aku harus mencoba, pegang ini.

Apa yang kau lakukan, ayah?

Dia bisa atasi ini.

Perhatikan saja dia!

Shuaib!

Tutup gerbangnya setelah aku kembali. /Tunggu!

Jika aku jadi kau..

aku akan meletakkannya.

Turunkan senjatamu.

Lepaskan gadis itu.

Turunkan senjata!

Gadis itu! /Aku takkan meminta lagi!

Sekarang taruh.

Aku akan pegang ini.

Apa sebutanmu?

Bukan urusanmu.

Kau dengan siapa?

Bukan urusanmu.

Mereka memanggilku Abu Eissa.

Dan aku..

hanya gelandangan, tanpa teman.

Apa yang membuatmu kemari?

Aku butuh air,

beberapa liter air.

Aku berikan 1 galon,

kau berikan gadis itu.

Kau tahu..? Kau baik sekali.

Semua air cantik itu,

kau beri aku 1 galon?

Aku tak mau.

Air itu bukan hanya untukku.

Bagaimana jika kutambah pertukarannya?

Apa itu? /Aku punya peluru.

Sebanyak yang kau mau.

9 mm?

Bukan.

Aku punya.. 22 mm.

Bagaimana dengan 762 mm?

Tidak, tapi aku punya..

Abu Eissa, tenang! Aku hanya menunjukkan sesuatu.

Tunggu dulu.

Ini dia..

sangat berguna.

Tak perlu senjata, peniti atau paku akan memicunya.

Menciptakan malapetaka.

Aku tak butuh itu semua.

Dengar,

kuberi 3 galon air,

kau beri gadisnya.

Kau dan temanmu takkan ke sini lagi.

Kau tak perlu saran mereka,

kita berdua, tak ada yang lain.

Benar sekali.

Kita berdua, tak ada yang lain.

Shuaib, kembali ke sini!

Tak ada sasaran tembak.

Tembak sekarang!

Di atas truk!

Shuaib!

Khaled?

Gabba?

Menyingkirlah ayah!

Buang senjata mereka atau ku..

Kau baik saja? /Ya.

Jangan tembak!

Aku hanya lewat,

mendengar ada yang berkelahi,

kupilih memihakmu.

Kenapa kau kemari?

Aku mencari tempat tinggal,

penjahat dimana-mana.

Kuharap temukan orang baik.

Apa kau sendiri?

Gülbin!

Ada yang lain?

Hanya kami berdua.

Bolehkah ku ambil pisauku?

Sudah lambaikan tangan kepada yang menembakku?

Gülbin tak bisa bahasa arab.

Dia irak, bahasa irakku tak bagus.

Kami tetap berusaha komunikasi.

Ayah!

Tak apa, nak.

Kau tak apa?

Jika lebih akurat, mungkin orang ini sudah mati.

Ku pikir dia bersama..

Aku tahu.

Tak apa.

Namaku Shuaib.

Dia Qais.

Aku Mussa.

Kau selamatkan ayahku?

Terima kasih.

Tolong mampir.

Ayo bersihkan lukamu.

Putraku adalah kapten sepak bola.

Top skor 2 th berturut-turut.

Tuhan memberkatinya.

Turut berduka atas kehilanganmu.

Kita semua akan mengalaminya.

Kuburkan gadis itu besok.

Baiklah.

Ini bukan darahku.

Mussa, ini putriku Maryam.

Hai.

Daoud, ia penggambar.

Desain dan animasi,

bekerja untuk stasiun TV.

Penggambar yang bagus.

Zaineb, Bilal,

kita ada tamu.

Aku Mussa dan ia Gülbin.

Halo.

Selamat datang.

Istananya luas, buat dirimu nyaman.

Tempat apa ini?

Bekas pabrik sayap pesawat.

Berapa lama kau tinggal di sini?

380 hari.

Semuanya baik saja?

Ada yang ingin kau katakan?

Mussa.

Dia harus tinggal.

Hanya Mussa?

Eissa.

Kita baru kenal mereka.

Tak tahu sifat-sifatnya.

Comments

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left