The first 200 lines.
Aku datang ke sini tanpa banyak berpikir.
Aku hanya mengikuti hatiku.
Aku mencintaimu.
Barusan,
apa yang kau katakan? Aku tak bisa mendengarmu dengan baik.
Apa?
Apa?
Aku mencintaimu.
Aku juga mencintaimu, Jubjang.
Aku bahagia sekali bisa memelukmu seperti ini.
Aku senang kau tidak menjauhiku.
Benarkah?
Ya.
Itu indah.
Terima kasih.
Aku mengajakmu bepergian karena ingin membuatmu bahagia,
tapi ternyata aku yang paling bahagia.
Aku berpikir jika aku bisa selalu bersamamu,
aku akan sangat bahagia.
Tapi aku tidak berani berpikir begitu.
Kebahagiaan yang kita harapkan
seperti mimpi.
Hanya impian semu.
Aku akan buat kebahagiaanmu lebih dari sekadar mimpi.
Aku akan mewujudkannya.
Aku yang akan membahagiakanmu setiap hari.
Tetaplah bersamaku.
Aku serius.
Aku percaya padamu.
Kemarin, aku menyatakan cinta padanya.
Tapi begitu aku bangun,
aku merasa dia pria yang sangat berbeda.
Hei, pernahkah kau melihat pria yang sempurna?
Bukan hanya
telinganya, lehernya, dan semua itu,
bagian bawahnya juga tampak kuat.
- Apa? - Apa?
Maksudku pahanya.
- Baik. - Begitu rupanya.
Otot-ototnya tampak proporsional.
Dia tampak sempurna hingga tendon Achilles-nya.
Aku pernah melihatnya bermain piano di konser. Dia sangat tampan dan keren.
- Benar, bukan? - Ya.
Begini…
Aku suka bulu matanya.
Kau melihatnya sedekat itu?
- Ya. - Astaga!
Najai.
Semua orang tahu betapa populernya Arlan X.
Ya.
Dia punya banyak penggemar di laman saluran musik.
- Benarkah? - Ya.
Kau tidak pakai media sosial?
Setiap kali dia memandu acara dan mengucapkan kalimat bagus,
lamannya benar-benar heboh.
- Benarkah? - Ya.
Astaga. Bagaimana bisa kau tidak tahu?
Dia sangat populer.
Kau setidaknya harus lihat hadiah dari para gadis.
- Ya. - Ada banyak.
Mungkin dia menyimpannya di kantor agar tak mengganggumu.
Kau lebih tua darinya. Kau mungkin tidak suka penggemar mudanya.
Salah satu stafku juga penggemarnya.
Dia punya foto bertandatangannya dan bisa menyanyikan semua lagunya.
Dia tergila-gila padanya.
Apakah stafmu gadis berwajah awet muda itu?
Benar.
Dia tampak berusia 18 atau 19 tahun, tapi sebenarnya 23 tahun.
- Apa? - Dua puluh tiga?
- Ya. - Astaga.
Dia tampak sangat muda.
Berapa tahun di bawah kita?
Sekarang kami punya pertanyaan yang ingin diketahui banyak orang.
Apa kalian berdua punya pacar?
- Tidak. - Belum.
Ayolah, jangan malu.
Kalian benar-benar tak punya pacar?
Tidak, kami sungguh tak punya.
Kalau begitu,
bagaimana karakteristik pria ideal kalian?
Hei, jangan katakan.
Ini semakin menarik.
Ada apa? Bisa katakan?
Begini…
An An menyukaimu, Arlan.
Hei!
Astaga.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Kalau begitu, aku akan bertanya lebih jauh.
Apa yang membuatmu menyukaiku?
Tolong lebih spesifik.
Begini…
Selera musik kita sama,
terutama musikmu.
Ada suara yang menyentuh hatiku.
Kalau begitu di masa depan,
kita mungkin bisa bekerja sama.
Tapi kurasa perlu lebih dari musik
untuk membuatmu menyukai seseorang.
Ayolah, ini bukan soal musik.
An An menyukaimu karena kau tampan dan keren.
Astaga. Aku harus datang sendiri lain kali.
Kalian berdua bisa pergi.
Ini sudah keterlaluan.
Kau seharusnya bekerja.
Kau bersikap seolah tak di tempat kerja.
Jika pacarku dengar, aku dalam masalah besar.
Apa? Kau punya pacar, Arlan?
Ya, aku punya pacar.
Sayang, kau menonton?
Aku mencintaimu.
Kita bersenang-senang.
Mari jeda sejenak.
Aku akan kembali bersama kedua gadis ini.
Itu pacarku!
Bagaimana bisa aku tidak mencintainya?
Kenapa kau menunggu di sini?
Kau merindukanku?
Tidak juga.
Kau pasti mendengar acaraku dan merindukanku, bukan?
Katakan. Kenapa kau menyukaiku?
Pertanyaan ini lagi.
Kau bertemu banyak wanita muda dan cantik setiap hari.
Lalu kenapa? Kau cemas?
Sejujurnya, ya.
Aku agak cemas.
Ayo masuk.
Sudah sepuluh hari sejak kami kembali bersama.
Tidak banyak yang berubah kecuali aku semakin mencintainya.
Saat malam hari,
keadaan masih agak canggung.
Bukankah seharusnya kau sudah tidur?
Benar.
- Aku harus tidur, bukan? - Benar.
- Ya. - Ya.
- Ya. - Ya.
Tidurlah.
Baik.
Baiklah, kalau begitu. Aku akan tidur.
Pak Jerapah.
Dia jual mahal.
Tidak bisakah dia mengatakan hal lain?
Dia hanya membiarkanku pergi.
Kau akan ke kamarku atau aku harus mendatangimu?
Apa yang harus kukatakan?
Baiklah.
Aku akan datang. Pemandangan di kamarmu bagus.
Aku bisa dapat vitamin D di pagi hari.
Aku bekerja di industri saluran belanja selama sepuluh tahun.
Aku punya banyak trik untuk menarik pelanggan.
Aturan penjualan kelima,
"Barang-barang murah tak bernilai."
Kenapa kau datang ke kamarku? Kau perlu sesuatu?
Kenapa dia menyulitkan sekali?
Apa?
Kenapa dia belum membalas?
Dia lama sekali.
Ini rencana barunya.
Tujuh ratus panggilan semenit!
Biru tua dan merah ceri habis.
Mes, bilang tiga warna habis, jangan sebut yang mana.
Aturan penjualan ketujuh,
"Peluangmu akan terlewat jika lamban."
Katakan saja apa yang kau inginkan. Aku mengantuk. Aku akan tidur.
Jika mengantuk, tidurlah.
Kenapa dia belum membalas?
Tahu.
Baiklah.
Aturan penjualan kedua,
"Beri sedikit dorongan."
Pak Jerapah merindukanmu dan ingin bertemu denganmu.
Tiga,
dua,
satu.
Tidak berhasil?
Apa kabar, Pak Jerapah? Kau baik-baik saja?
Astaga.
Ada apa? Kau mengantuk?
Kau tak akan mengatakan apa pun?
Mau mencoba berciuman?
Aku akan memberimu satu contoh ciuman.
Aku jamin puas.
Jika kau tak puas, kau bisa ambil uangmu kembali.
Bagaimana? Kau setuju?
- Tidak. - Baik.
- Pak Tacha. - Ya?
Di sini, Pak. Ada kiriman untukmu.
Kiriman? Yang mana?
Semuanya.
Apa?
Apa ini semua?
Begini…
Sejujurnya, aku juga tidak ingat banyak.
Aku pasti memesannya saat mabuk.
Kurasa aku harus berhenti minum untuk selamanya.
Untung aku memesan barang berguna.
Kau manis sekali.
Bagaimana dengan ini?
Kita tak perlu tinggal bersama,
tapi bisa menjadi orang tua bersama.
No comments yet. Be the first to leave one.