The first 200 lines.
Aku menyelidiki Jang Do Han sesuai instruksi.
Wah... orang ini pasti sangatlah cerdas.
Dia lulus ujian persamaan dalam sekali coba, lalu diterima di Kejaksaan Negeri Seoul.
Hanya itu yang tertera tentangnya.
Bukan itu yang kucari. Adakah sesuatu yang tidak wajar...
...atau ada hubungan antara dengan Yoon Seung Ro?
Katakan pada kami alasannya.
Kenapa tiba-tiba menyelidiki Jang Do Han?
Ada yang membuatku penasaran.
Aku tidak mendapati hal yang aneh. Dia yatim piatu.
Ayahnya meninggal saat dia masih kecil,
lalu ibunya menyusul ketika dia SMA.
Kalau saat itu dia SMA, pasti teman-temannya menggunjingkan dia.
Ibunya Jang Do Han meninggal tidak wajar. Dia dibunuh.
Dibunuh?
Dia keluar dari sekolah, lalu meninggalkan kota itu karenanya.
Oh, aku menemukan artikelnya.
Dibunuh oleh suami barunya sendiri. Mengalami cedera fisik yang serius.
[Seorang Pecandu Alkohol Berusia Empat Puluhan Membunuh Istrinya]
Dia berbeda dengan yang terlihat.
Inikah yang kau cari?
Entahlah. Adakah kasus itu berhubungan dengan Yoon Seung Ro?
Tidak, saat itu Yoon Seung Ro sudah bekerja di Seoul.
Aku mengerti. Sampai jumpa nanti.
Jika dia ingin membalas dendam pada Yoon Seung Ro secara rahasia,
alasannya pasti tidak mudah diketahui.
Penerjemah .: Writer Ayra :.
Wanita itu menemuiku. Dia ingin bertemu denganmu.
Bangunlah. Kau belum boleh mati.
- Apa dia mengingatku? - Sekalipun tidak ingat, dia ingin tahu.
Rencanamu,
juga soal Yu Na.
Dia akan mengetahuinya saat jajak pendapat. Kenapa keras kepala?
Tapi, apa tidak sebaiknya kita memberitahukan rencana kita padanya?
Wanita itu mungkin tak mau lagi menuruti perintah bila tidak diberitahu.
Saat ini, aku hanya punya satu saksi mata.
Bagaimana dengan yang satunya?
Belum.
Namun, aku dapat celahnya.
Detektif yang menyiksa ayahmu itu?
Ya.
Ayahku hanya mengingat...
...julukan orang itu.
Si bangsat itu.
Breaking News. Buronan Jo Soo Ji tertembak oleh polisi...
...lalu menghilang dari TKP.
Menurut saksi yang melapor pada polisi,
Jo Soo Ji menyerang seorang petugas polisi lalu melompati sebuah apartemen...
Ya, Timjang-nim.
Di mana?
Maafkan aku. Padahal aku sendiri yang melarangmu bersikap bagaikan menantu beliau.
Kondisinya darurat, jadi aku hanya terpikir dirimu.
Tak apa, aku juga selalu mencemaskan beliau.
Eomma! Eomma!
Sudah merasa baikan?
Pasti karena menonton berita setiap hari, 'kan?
Para reporter itu tidak tahu apa pun. Semestinya tanya saja padaku.
Bagaimana bisa?
Anakku ditembak oleh polisi.
Kalian berdua pun...
...pada akhirnya akan menangkap Soo Ji.
Itu benar.
Eomma, jangan terlalu cemas.
Polisi memang menembaknya, tapi Soo Ji berhasil menghindar.
Soo Ji mungkin baik-baik saja sekarang,
tapi Ibu bahkan tidak mau makan.
Sungguh?
Sungguh Soo Ji-ku baik-baik saja?
Tentu saja, tapi media tidak tahu apa-apa,
jadi jangan mengatakan pada siapa-siapa.
Oh, aku mengerti.
Makanya, Ibu harus makan juga.
Ya? Oh, Ma Hyeongsa?
Kau... bagaimana kondisimu?
Lukamu bagaimana?
Aku tak apa.
Nam Hyeongsa bilang kau melepas borgolnya lalu menyerang dia.
Benarkah? Tidak, 'kan?
Rahasiakan sampai ketahuan siapa di belakangnya.
Byung Jae Sunbae, terus awasi dia.
Aku tak tahu lagi mana yang polisi sejati.
Anu... ibuku bagaimana?
Dia pasti syok karena berita di TV.
Tentu saja.
Tapi, dia sudah tenang sekarang, jadi jangan cemas.
- Sungguh dia baik-baik saja? - Tentu saja.
Ibumu sangat kuat.
Kau seperti dia.
Ya, syukurlah.
Dari tadi teleponku tidak dijawab, makanya aku gelisah.
Aku akan menjaga ibumu, jadi kau jagalah diri baik-baik.
Jangan terluka. Baik-baik sampai aku yang menangkapmu.
Kau mengerti.
Eomma... Tolong jaga dia, Timjangnim.
Barusan Geomsajangnim?
Kita berdua kan orangnya. Tak masalah kita berbagi informasi.
Istriku. Sebab aku lama tidak pulang demi menangkap Jo Soo Ji.
Selama ini kau kan orangnya, Nam Hyeongsa?
Kau menghentikan Kim Woo Sung.
Makanlah.
Makan. Kau harus makan untuk tetap hidup.
[Hentikan pengakuanmu. Kejaksaan akan berada di pihakmu.]
Kau membantunya kabur.
Tangkap dia! Kembali kau!
Hei!
Kau pasti sangat sibuk selama ini.
Kau sudah lama menjalankan perintah orang lain.
Kau dan Geomsajangnim pasti memiliki sejarah yang panjang.
10 tahun?
15 tahun?
Kau banyak sekali bertanya.
Aku hanya ingin kita berteman, itu saja.
Fokuslah saja pada tugas sebagai Jaksa.
Aku menuruti ucapanmu sekali, tapi situasinya kacau balau.
Oh, bukankah itu aneh?
Bagaimana bisa seorang wanita sekarat berhasil kabur?
Orang terakhir yang melihatnya masih hidup adalah kau.
Bukan begitu?
Kalau memang iya, aku pasti sudah menemukan dia.
Semestinya tidak kupercayakan segalanya pada orang yang cuma bisa duduk di balik meja .
Itu kesalahanku.
Dapat sesuatu dari apartemennya?
Ya. Kami memeriksa CCTV dan sidik jari,
diketahui Seo Bo Mi memang tinggal di sana.
Dia satu-satunya korban selamat kasus pembunuhan Miseo-dong.
Dan Seo Bo Mi komplotan Jo Soo Ji?
Kerja sama yang bagus.
Kalau begitu, dia pasti yang membantu Jo Soo Ji...
...kabur dari TKP.
Aigoo... kalau itu belum bisa dipastikan.
Bukankah masih ada satu lagi?
Orang yang mengirim foto ketiga tersangka itu ke apartemennya.
- Sudah tahu orangnya? - Kami sudah menanyai sang kurir.
Tapi dia bilang, tidak pernah bertemu langsung si pengirim.
Lalu, bagaimana mengambil paketnya?
Dia ditelepon untuk tempat pengambilannya.
Biasanya di antara gedung-gedung apartemen...
...atau tangga darurat yang tidak ada CCTV.
Bayarannya juga dibayar tunai.
Seseorang secermat itu...
...pasti memakai ponsel ilegal.
Ya, benar.
Aigoo... mustahil menemukan orang itu.
Masukkan Seo Bo Mi dalam daftar pencarian dan cari tahu perkenalannya dengan Jo Soo Ji.
Baik.
Kim Geomsa.
Sejak tadi kau terus memelototiku.
Kalau ada yang mengganjal, katakan saja.
Banyak yang ingin kukatakan,
masalahnya aku tidak yakin kau akan menjawab dengan jujur.
Tak usah. Aku cari saja sendiri jawabannya.
- Berikan kabelnya padaku. - Ya.
Aku akan mengurus semuanya.
Kau menonton saja.
Ya, Oppa.
Ini apa? Ini makanan?
Huaaa!!!
Kenapa ribut? Belum pernah lihat celana dalam pria?
Cabul!
Wah... tidak adil sekali.
Wanita boleh mengoleksi pakaian dalam...
...sementara pria disebut cabul?
Ini berharga sekali buatku!
Omo.. omo... kau gila.
Ada apa?
Tak apa-apa.
Kami hampir selesai bersiap.
Ya. Kita tes?
Ya.
Tidak muncul. Yakin sudah benar?
Aneh. Kenapa tidak muncul?
Kamera di sini dimatikan.
Kalau bukan rusak, berarti dipindahkan.
Ulangi rekaman CCTV di luar rumah Yoon Seung Ro.
Unnie, mereka tahu persembunyianmu. Mungkin saat mereka menggeledah rumahku.
Yoon Shi Wan masih memakai HP dan komputer yang sama.
Mungkin... dia belum tahu?
Tidak.
Mereka memindahkan CCTV-nya karena tahu kita mengawasi mereka.
Kurasa Shi Wan belum tahu.
Itu tidak mungkin.
- Mau kemana? - Pergi kemana?
Mereka sudah tahu tempat itu.
Aku memerlukan jawaban.
- Wah... - Setidaknya dia mendapatkannya.
Lihat ini.
Inikah skormu yang terbaik?
Payah sekali.
Guru kita kejam.
Kau tak apa?
Sebentar.
Biar aku.
Kau selalu melakukannya sendirian.
Aku lebih suka begitu.
Hei, kenapa kau terus mencoba dekat dengan dia?
Aku merasa terganggu melihatnya.
Semua orang di kelas kita bersikap seolah dia tidak terlihat.
Bukan salahnya memiliki ibu seorang detektif.
Bukan salah dia juga ibunya datang ke sekolah dan memarahi mereka...
...yang membully anaknya.
No comments yet. Be the first to leave one.