The first 200 lines.
"Tatakai Wonderguy" ....
Cerita ini pasti enggak bisa tersampaikan kepada yang membaca ....
Karakternya pun demikian.
Coba direvisi ulang.
Para pembaca juga pasti akan kabur,
kalau melihat wajahmu.
Kak Fujinuma ....
Tolong antar ini.
Oke.
Enggak boleh dimakan di tengah jalan, lo.
Oke.
Airi.
Iya?
-Tolong antarkan pesanan yang selanjutnya. -Oke.
Ini adalah ....
Tidak salah lagi ....
Fenomena itu kembali terjadi.
Aku harus mencari penyebabnya.
Di manakah itu?
Di manakah penyebabnya?
Ketemu!
Sebelumnya kakak minta maaf, tapi bisakah kamu berdiri di sebelah sana?
Oke.
Kak Fujinuma ...?
Berhenti!
Oi, berhentilah!
Ada anak kecil di depan sana!
Oi ...!
Apa ini ...?
Pemandangan itu kan ....
Apakah aku ...
... telah mati?
Tapi, apakah boleh?
Mati dengan begini caranya.
Tapi ah, biarlah.
Karena hanya aku saja yang tiada.
Ini bukanlah apa-apa.
Boku Dake ga
Inai Machi
Ah ...!
Matanya terbuka juga.
Hebat banget ya, meskipun kakak telah terhempas seperti itu, tapi katanya baik-baik saja.
Kalau ada keluhan, bilang saja.
Katagiri ....
Supir truknya ...
... telah meninggal dalam kendaraan itu karena serangan jantung.
Hebat ya, kakak bisa menyadarinya.
Oh begitu ....
Tapi, kok bisa sih?
"Anak-anak itu pasti dalam bahaya", kenapa Kak Fujinuma bisa mengetahuinya?
Apa mungkin kakak ini "Pengguna Kekuatan Supranatural"?
Ah, ibu kakak tadi datang lo.
Mau mampir ke tempat kakak.
Eh?
Kalau yang lainnya, kayaknya belum pada menjenguk.
Seperti teman maupun pacar kakak.
Perlu aku hubungi mereka?
Enggak usah.
Karena enggak akan ada yang menjenguk.
Ting gunting, gunting, gunting, gunting, gun ... ting!
Apaan tuh?
Diri kakak kayak diselimuti aura yang aneh 'gitu.
Kak Fujinuma itu sulit membuka hati untuk orang lain, kan?
Bukan begitu, kok! -Pak Fujinuma!
Dokter akan segera datang memeriksa.
Kalau begitu, dah! Semoga lekas sembuh.
Memangnya dari sini bisa melihat pengemudi yang ada di truk, ya?
Uh, hampir saja ...!
Oh, selamat datang kembali!
Setidaknya pintunya dikunci, dong.
Satoru, di mana letak sumpitnya?
Ya enggak ada, lah.
Yah, mau 'gimana lagi.
Berarti besok harus belanja banyak keperluan, nih.
Enggak usah, kali.
Sementara ini, aku akan tinggal di sini.
Hah?
Kenapa?
Habisnya, putra tunggalku yang imut ini kepalanya habis terbentur, sih.
Bukan masalah kok, lagian aku juga ada kerjaan.
Jadi komikus ....
Selama 18 tahun ibu bekerja, kamu kan ibu izinkan untuk tinggal bersama.
Apa-apaan tuh?
Kamu takut ibu mengganggu pekerjaan menggambarmu, padahal sekarang dirimu tidak sedang jadi komikus, 'kan?
Hei, apakah bisa pergi ke Ueno tanpa ganti kereta?
Mana boleh.
Oh, 'gitu.
Ujung-ujungnya, dia cuma mau jalan-jalan doang ke sini.
Di Chiba harganya mahal-mahal, tapi untungnya di sini murah, ya!
Kan cuma ada kita berdua, bukannya ini malah kebanyakan?
Ajak saja temanmu.
Atau pacarmu itu.
Memangnya aku punya?
Kalau orang yang disukai pasti ada.
Kak Fujinuma!
Di Chiba harganya mahal-mahal, tapi untungnya di sini murah, ya!
Hal ini terjadi lagi!
Waktunya terulang kembali.
Aku harus segera mencari penyebabnya.
Dan mencegah terjadinya insiden.
Begitulah pikirku.
Kejadian yang membuatku selalu berada di tempat yang sama ini ...
Kak Fujinuma!
... layaknya sebuah "pengulangan".
Ada apakah gerangan?
Akan aja kejadian apa?
Di Chiba harganya mahal-mahal, tapi untungnya di sini murah, ya!
Ibu ....
Apa?
Apakah ibu merasakan sesuatu yang janggal?
Coba tolong lihat sekitar.
Kamu ini ngomong apa, sih?
Kak Fujinuma!
Wah, indah sekali!
Waktu kembali bergerak maju seperti semula.
Apakah kejadiannya sudah teratasi?
Apakah ibu menemukan sesuatu?
Kak Fujinuma, apakah kakak sudah sembuh?
Ya begitulah ....
Aku hanya bisa melihatnya seklias saja.
Ada apa, Bu?
-Namamu Airi, 'kan? -Iya!
Eh, eh, kalau kamu enggak keberatan, mau makan kari bersama kami, tidak?
Eh?
Apa aku tidak mengganggu?
Mengganggu juga tidak masalah.
Karena kami akan membuat porsi banyak!
Kalau begitu, kuterima dengan senang hati.
-Cepat sekali menentukannya. -Kalau begitu, ayo.
Pasti akan menyenangkan.
Airi, kamu kejam juga ya.
Yah, habisnya susah banget sih!
Ah, pisau tumpul memang tidak dapat diandalkan, ya.
Iya juga.
Selamat makan!
Wah, enak banget!
Yah, aku juga enggak nyangka kalau Kak Fujinuma itu komikus.
Eh?
Kabarnya nih, komik-nya pernah masuk majalah,
dan kemudian majalah itu enggak beredar lagi!
-Benarkah itu? -Iya.
Kak Fujinuma ternyata memang punya "sesuatu" ....
"Sesuatu" itu maksudnya apa?
Dan juga, kari buatanmu ini sangatlah enak loh, Tante.
Iya, 'kan?
Cita rasanya menjadi cita rasa khas milikku.
Selain itu, Tante juga terlihat masih muda sekali, ya?
Apa?
Pas pertama kali melihat kukira kakaknya.
Duh ah, jangan memuji begitu, dong!
-Eng .... -Apa?
Katagiri ....
Panggil saja Airi.
Katagiri ...
... kenapa kamu bekerja paruh waktu?
Aku ini juga ...
... mempunyai sebuah impian.
Menjadi orang yang bisa menghasilkan uang melimpah untuk diri sendiri.
Oh begitu.
Mau tahu lebih lanjut?
Coba ditebak, menurut kakak itu apa?
Tahu deh ....
Lah, kakak enggak tertarik, ya?!
Membicarakan mimpi dengan orang lain ...,
apakah kamu tidak berpikir kalau nantinya mimpi itu tak dapat terwujud?
Enggak kok.
Perkataan itu, kalau telah keluar dari mulut, rasanya akan segera menjadi nyata.
-0h begitu .... -Iya.
Iya, pasti begitu.
Selamat datang kembali.
Ampun deh, padahal cuma rekan kerja saja, tapi kenapa ibu berbicara seenaknya, sih?
Habisnya, pasti dia itu pacarmu, 'kan?
Mana mungkin, lah.
Ibu enggak sependapat.
Karena mungkin saja dia menganggapmu lebih dari itu.
Daripada itu,
tadi siang, selepas belanja, apakah ibu menyadari sesuatu?
Hari ini ....
Kasus penculikan waktu itu masih belum berakhir.
Apa maksud ibu?
Tentu saja ibu cuma bercanda, lah.
Apakah kamu masih ingat akan kasus yang terjadi saat dirimu masih SD?
Eh?
Mana mungkin kamu ingat.
Karena kamu masih anak-anak, maka aku sebisa mungkin membuatmu lupa akan kasus itu.
Tapi Satoru ...
... saat itu kamu dalam bahaya juga, tahu.
Enggak main bisbol sama yang lain?
Karena aku sukanya main sepakbola.
Mau terbangkan ini bersama?
Ini hanya masalah keberanian saja.
Terpopuler di kelas itu berarti ...
... menjadi sosok yang periang, bersinar, tegas,
jenaka, namun juga serius.
Benar begitu, bukan?
Iya!
Cobalah kumpulkan keberanianmu, dan panggil mereka.
Janganlah malu.
Kumpulkanlah keberanianmu.
Ini.
No comments yet. Be the first to leave one.