The first 200 lines.
Kali ini Istana Timur memberi hadiah berharga.
Nanti ketika Nona
bertemu Tuan Kasim,
tersenyumlah sedikit.
Kumohon padamu.
Semoga tahun depan Nona
diberkati sepanjang tahun,
segera mengakhiri pembelajaran,
dan menikah ke istana.
Nona.
Sudah dua bulan.
Kenapa belum menerima kabar baik?
Jalanan tak ada hambatan, ada ribuan rumah di sepanjang jalan.
Sembilan pasar mulai buka, barang dibagikan.
Orang tak akan balik, kereta tak akan berputar kembali.
Sebuah kota yang ramai, ada lahan luas di mana-mana.
Ini adalah Xizhou di hadapanmu.
Aku datang mengantarkan kabar baik.
Kudengar kau tidak tidur nyenyak selama belasan hari
demi menunggu ini.
Selamat atas kemenangan Guru.
Yang kubacakan tadi
adalah puisi yang diajarkan paman ketika aku masih kecil.
Dinasti sebelumnya bernama Xidu, dinasti sekarang bernama Xizhou.
Panglima sudah kembali.
Di Keluarga Cui generasi ini,
aku adalah satu-satunya anak perempuan
yang otentik dalam keluarga.
Sisanya
sebagian besar meninggal ketika masih kecil.
Karena keluarga sedang berkuasa,
sebelum lahir,
aku sudah dijodohkan dengan Putra Mahkota.
Hari ini adalah hari ulang tahun Nona.
Istana sudah mengantarkan hadiah.
Nanti ingat berikan uang
kepada orang dari istana
setelah menerima hadiah.
Baik.
Ayah!
Ayah! Ayah sudah pulang?
Ayah!
Di mana ayah?
Ibu.
Sudah saatnya pergi ke perjamuan.
Nyonya Ketiga.
Ketua sekte, dia masih tak ingin pergi.
Masih ingin bertemu putrinya.
Di mana ayah?
Dia tidak datang.
Bukankah Ibu bilang
hari ini ayah akan datang ke perjamuan ulang tahunku?
Ayahmu
tidak berada di kediaman.
Tunggu Shiyi tidur nyenyak,
kau bawa dia pergi bertemu dengan Shiyi.
Tidak boleh tunda lagi.
Dia harus pergi malam ini.
Orang tua dan saudara Tuan Ketujuh sudah tiada.
Sekarang dia juga sedang sakit.
Kau ingin dia meninggalkan Kediaman Cui,
mana mungkin aku tega?
Jika bukan karena Baginda
mengenang jasaku membantu kaisar dua generasi,
membiarkan kalian berpisah secara damai,
saat ini kau dan Shiyi
sudah terlibat masalah.
Nyonya Ketiga,
kenapa kau masih belum sadar?
Namun, dia suamiku.
Dia tidak bersalah.
Kakak,
mereka menyinggung Permaisuri Gao.
Itu adalah
Keluarga Gao yang menguasai separuh negara.
Jika kau tidak tega,
tak hanya kau dan putrimu,
tapi, akan melibatkan seluruh Keluarga Cui.
Namun, aku ini istrinya.
Kau terlebih adalah Nyonya Ketiga Keluarga Cui.
Yang harus kau lindungi
bukan suamimu,
tapi, Keluarga Cui.
Ayah berhutang padamu.
Jika tahu berhutang padaku,
bujuk aku tidur malam ini.
Kau juga tahu
penyakit ayah belum sembuh.
Shiyi tidak pengertian.
Ayah jangan marah.
Ayah cepat pergi istirahat.
Segera pulih dari sakit.
Paman sudah berjanji padaku.
Setelah salju berhenti,
dia akan membawaku pergi lihat perburuan.
Saat itu,
ayah juga bisa pergi bersama.
Berbaring dulu.
Tidurlah.
Aku mengutus orang untuk mencari suatu tempat.
Kau bisa bersembunyi di sana selama musim dingin.
Aku adalah orang berdosa.
Bisa menikah denganmu,
aku sudah tak punya penyesalan.
Tuan Ketujuh.
Nyonya Ketiga, jaga dirimu.
Tuan Ketujuh!
Nyonya Ketiga sangat terhormat.
Malam salju sangat dingin.
Cepat kembali ke rumah.
Selama hidup ini,
jangan bertemu lagi.
Ibu, aku ingin pergi memberi salam kepada ayah.
Shiyi.
Shiyi!
Ayah!
Ayah!
Di mana ayah?
Shiyi.
Ibu, di mana ayah?
Semalam dia bilang ingin kembali untuk istirahat.
Namun, kenapa dia tidak ada di kamar?
Di mana ayah?
Shiyi.
Ayahmu...
Ayahmu sudah pergi.
Dia sudah meninggalkan Kabupaten Qinghe.
Dia tidak menginginkanmu lagi.
Namun, kau jangan takut.
Kau masih ada ibumu dan paman.
Kau tetap adalah putri Keluarga Cui.
Tidak akan ada perubahan.
Mulai sekarang,
di sini,
di Kabupaten Qinghe,
di Kediaman Cui,
tidak akan ada orang yang mengungkit tentang ayahmu lagi.
Kau juga tak boleh mengungkitnya.
Shiyi.
Shiyi!
Ayah pernah bilang
aku lahir di saat turun salju lebat.
Setelah itu, setiap ulang tahunku,
ayah sedih karena tidak turun salju.
Di hari ulang tahunku yang kesepuluh,
salju yang ditunggu-tunggu telah turun,
tapi, malah membawanya pergi dariku.
Shiyi.
Shiyi.
Sudah menjalani pengobatan akupunktur selama setengah tahun.
Kenapa Shiyi masih tidak bisa berbicara?
Aku tak kompeten.
Kau memang tak kompeten.
Putriku sungguh kasihan.
Silakan.
Hormat kepada Guru Besar.
Menteri Zhao.
Bagaimana kondisi Selir Qi dan Putra Mahkota belakangan ini?
Ini adalah surat rahasia dari Selir.
Aku melakukan perjalanan cepat
datang ke sini.
Surat ini tak pernah menjauh dariku.
Apakah ada pesan lisan?
Segera masuk ke Ibu kota.
Cui Shou!
Segera siapkan kereta untuk pergi ke Ibu kota.
Baik!
Ketua Sekte, ingin segera masuk ke istana?
Mandi dan ganti baju dulu.
Ganti pakaian istana dulu, baru masuk ke istana.
Jangan sampai ketahuan
ada yang tidak beres.
Baik!
Ada siapa lagi di dalam istana?
Para menteri dan orang kepercayaan Permaisuri, Selir Qian.
Panglima Besar.
Guru Besar, silakan.
Hormat kepada Selir.
Baginda sudah...
Baginda sudah meninggal.
Baginda...
Jika Baginda sudah meninggal,
kenapa Pura Mahkota tidak mewarisi takhta?
Belum diberitahukan kepada Permaisuri,
mana boleh naik takhta secara terburu-buru?
Baginda meninggal,
Putra Mahkota mewarisi takhta.
Hal logis seperti ini,
apa perlu persetujuan dari Permaisuri?
Guru Besar, untuk apa kau terburu-buru?
Tidak sabar menunggu fajar?
Negara tidak boleh tidak punya pemimpin.
Untuk apa menunggu sampai fajar?
Aku dapat mewakili tugas Menteri Keagamaan
untuk mengadakan upacara naik takhta.
Cui Guang, kau...
Qian Bin!
Aku setuju terhadap Guru Besar.
Putra Mahkota harus naik takhta malam ini.
Kau...
No comments yet. Be the first to leave one.