「鬼滅の刃」絆の奇跡、そして柱稽古へ
The first 137 lines.
Kita sampai! Kita sampai!
Bekerja yang keras.
Saya tidak sanggup lagi.
Kamu bilang apa?
Kalau tidak sanggup, kamu akan langsung dimakan iblis.
Tokito.
Kalau ini pertempuran sungguhan, kamu sudah mati tiga kali.
KIMETSU NO YAIBA BABAK PELATIHAN HASHIRA
MENGUNDANG SENYUM
Harus cepat tanggap begitu kena serang.
Bangkit tanpa pikir panjang.
Samakan kecepatan kalian denganku.
Kamu mati lagi.
Ayo, jangan berhenti meski ada kawan yang diserang.
Kalau kamu berhenti, kamu juga akan diserang.
Tanjiro! Aku sudah menunggumu.
Kamu tampak sehat, ya.
Hmph! Kalian tidak berguna!
Mending kalian mati dimakan iblis!
Gagak ini lagi.
Lihat-lihat apa? Dasar kroco!
Gagak Kasugai-nya Tokito selalu kasar omongannya.
Cerewet.
Pergi sana.
Hah? Diam kalian!
Mau kupatuk matamu sampai copot?
Ah, Tokito, lama tak jumpa.
Mohon bimbinganmu untuk latihanku mulai hari ini.
Sama-sama, Tanjiro.
Bisa ikut aku sebentar?
Hemat pemakaian airnya!
Kamu berisik!
Hah?
Aku masuk.
Wah, Tuan Tokito.
Pak Kanamori?
Oh! Rupanya ada Tanjiro.
Tampaknya kamu sudah sembuh. Syukurlah.
Iya, terima kasih.
Kenapa Anda ada di sini?
Aku yang memanggilnya kemari.
Tanjiro, coba pegang ini.
Mundur sedikit dan arahkan bilah tajamnya ke sini.
Begini?
Pertahankan begitu.
Bagaimana?
Tajam sekali!
Inilah alasanku memanggil Kanamori.
Jadi, Pak Kanamori di sini...
Iya, saya ditempatkan di sini untuk merawat pedangnya.
Aku ingin pedangku selalu dalam keadaan prima sebelum pertempuran.
Saat aku bilang begitu, Tuan Besar mengizinkanku memanggilnya.
Tuan Besar...
Beliau bahkan mempersiapkan tempat untuk mengasah pedang.
Padahal beliau perlu memperhatikan kesehatannya sendiri.
Tapi beliau selalu menomorsatukan kepentingan kita.
Beliau sudah terlalu berjasa.
Banyak celah.
Ambil pedang kayumu.
Menyerang dengan penuh emosi tidak akan bisa mengalahkan lawan.
Kamu seperti serangga musim panas yang terbang ke dalam api.
Tidak ada kesempatan kedua dalam pertarungan melawan iblis.
Meski sembilan kali menang satu kali kalah,
satu kekalahan itu sama dengan kehilangan nyawa.
Kamu harus mengasah setiap gerakan agar bisa bertahan hidup.
Hari ini kita sudahi di sini.
Kamu baik-baik saja?
Kamu terluka?
Kamado, apa kamu bisa bilang padanya untuk meringankan latihannya?
Kalau begini terus, kita bakal tumbang sebelum bertarung melawan iblis.
Tapi aku pikir justru Tokito-lah yang merasa lebih capek.
Soalnya dia sendirian yang melatih kita semua.
Ada benarnya.
Ya, kan?
Nih, handuk.
Terima kasih.
Setidaknya, aku harap dia bisa memperhalus cara bicaranya.
Kata-katanya menusuk hati banget.
Iya, iya.
Aku rasa sekarang dia jauh lebih lembut daripada sebelumnya.
Serius?
Mampus kita.
Tokito?
Dia mau ke mana?
Hashira selalu pergi malam-malam.
Apa pergi makan malam di luar, ya?
EMPAT
KIMETSU NO YAIBA BABAK PELATIHAN HASHIRA
Ilmu Napas Angin, Jurus Keempat:
Badai Pasir Mengangkasa!
Ilmu Napas Ular, Jurus Kelima:
Liat-Liut Ular Panjang.
Seri, ya?
Tampaknya begitu.
Ajak aku juga, dong.
Tokito?
Setiap hari jauh-jauh datang kemari.
Apa tidak ganggu pelatihanmu di siang hari?
Bagi para anggota lain, mungkin sudah lebih dari cukup.
Tapi bagiku belum cukup.
Aku bisa paham.
Bagi kita, inilah pelatihan Hashira yang sesungguhnya.
Benar. Kalian curang. Cuma latihan berdua saja.
Baiklah, untuk menghormatimu,
aku dan Shinazugawa akan melawanmu sekaligus.
Ayo mulai.
Berdua melawanku? Tidak adil.
Tapi kapan pun aku siap!
Bagus! Hajar mereka berdua!
Karena kamu yang terhebat!
Cerewet!
Latihan hari ini pun cukup ampuh.
Lengah sedikit saja, bisa-bisa aku terluka betulan.
Kalau tidak begitu, tidak ada artinya kita berlatih.
Siang hari melatih para anggota, malamnya latih tanding dengan kalian.
Lumayan juga.
Tokito, bagaimana pelatihanmu siang tadi?
Tanjiro datang ke tempatku hari ini.
Dia, ya? Tidak mati-mati juga anak itu.
Luka-lukanya sudah mulai sembuh.
Mungkin sudah pulih total ketika datang ke tempatmu, Iguro.
Begitu, ya?
Artinya, aku boleh menghajarnya habis-habisan, kan?
Biar aku buktikan padanya kalau menjadi kuat sedikit tidak akan bisa menandingi Hashira.
Kedengarannya akan seru.
Berjuanglah, Tanjiro.
Ya, kamu mati.
Kamu. Gerakanmu terhenti.
Ya, kamu juga mati.
Apa tidak cukup tegang, ya?
Bagaimana kalau coba pakai pedang asli?
Bawakan pedang asli.
Ba-Baik!
Ayo, kita mulai.
Tapi...
Pasang kuda-kuda.
Saya... Saya tidak bisa.
No comments yet. Be the first to leave one.