The first 200 lines.
"Episode 49"
Duduklah.
Nona Cha.
Kamu bilang kamu punya putra.
Apa? Ya.
Seo Jin mungkin hanya atasanmu,
tapi dia putraku,
jadi, beri tahu aku.
Kenapa pengarahan investasinya dilakukan lewat konferensi video?
Kenapa dia tidak kembali ke ruang rapat
dan memilih memberikan pengarahan dari jauh?
Kurasa itu bukan sesuatu yang bisa
kujelaskan kepadamu dengan singkat.
Dengarlah dari putramu.
Jika kupikir dia akan memberitahuku, kenapa aku repot-repot menanyaimu?
Apa dia
takut terhadap interaksi sosial?
Maaf. Kamu sebaiknya menanyakan sendiri kepada Pak Oh.
Nona Cha.
Kalau dia tidak mau menjawab, tanyakan sampai dia menjawab.
Kamu ibunya.
Kalau menanyakan sekali tidak berhasil,
tanyakan 2 atau 3 kali lagi.
Kamu tidak boleh mudah menyerah terhadap anakmu.
Apa trauma yang ditanggungnya?
Kenapa dia tidak bisa memberitahumu?
Aku percaya seorang ibu harus mengakui dan menerima semua itu.
Kamu pikir aku tidak berusaha?
Aku dahulu berpikir
sudah melakukan sebaik-baiknya, yang terbaik bagi putraku.
Lalu aku baru menyadari sesuatu setelah dia pergi.
Aku tidak pernah menanyakannya
pertanyaan yang sama terus-menerus.
Aku tidak berani melihat jauh ke dalam hatinya.
Itulah kenapa kamu sebaiknya menanyainya langsung.
Dengan segenap hatimu.
Sub by VIU Ripped & Synced by @SULTAN KHILAF
Follow My IG @sultan_khilaf_sub
Ini aku.
Cari informasi rekam medis Seo Jin baru-baru ini.
Sedang apa kamu?
Sama sekali bukan apa-apa.
Apa itu? Apa kamu sudah mulai merahasiakan sesuatu dariku?
Haruskah aku berhenti bertanya?
Sebenarnya, aku sedang melihat ini.
"Yoga untuk pasangan"?
Ayah bilang dia dan Ibu
hanya perlu tidur sekamar,
tapi itu menurut dia.
Menurutku keduanya harus menjadi lebih dekat dahulu,
karenanya aku melakukan riset
dan aku paling menyukai ini.
Bagaimana menurutmu?
Aku bahkan tidak terpikirkan ini.
Tidak penting siapa yang memikirkannya.
Seperti katamu,
kitalah yang menyebabkan kedua orang tuamu menjauh.
Apa kamu pikir Ibu dan Ayah akan mau melakukan ini?
Ayah tidak akan pernah melakukannya.
Tidak usah mengkhawatirkan itu.
Aku akan melakukan apa saja untuk membawanya ke sana.
Kamu tangani ibumu dan bawa dia.
Baiklah, aku akan membawanya ke sana lebih dahulu.
Ayo kita lakukan.
Kita pindah ke sini dengan tujuan.
Kita harus mencapai sesuatu.
Ayo terus berusaha. Semoga kita berhasil.
Ayo lihat itu.
Apa kamu kesal ayah mengambil ponselmu?
Ayah tidak bisa menjelaskan semua detailnya,
tapi sebaiknya kamu tidak memiliki ini.
Jangan terlalu kesal.
Bagaimana dengan uang sakuku?
Apa ayah tidak memberikanku uang juga demi diriku?
Itu karena kamu terus ke warnet.
Selain itu, kenapa seorang pelajar butuh uang?
Kalau kamu mau uang saku,
lakukan yang diperintahkan selama sepekan.
Maka ayah akan memberikanmu.
Kenapa kamu makan seperti itu?
Apa kamu membalas dendam?
Aku tidak mau makan.
Lakukanlah sesukamu.
Kamu yang rugi.
Kamu tidak akan mengantar Dong Hyun hari ini?
Aku tidak akan repot-repot. Dia bisa ke sekolah sendiri.
Kamu sebaiknya
berhenti memohon dan merendahkan diri kepadanya.
Aku tidak mau. Kalau itu yang diinginkannya,
aku akan melakukan apa saja bagi Dong Hyun.
Hanya karena dia meminta kepadamu dengan baik-baik,
jangan memberikannya ponsel atau uang saku kembali. Mengerti?
Kulihat saja nanti.
Aku akan memikirkan itu dengan hati seorang ibu sungguhan.
Biarkanlah. Aku bisa makan sendiri.
Apa kamu kesal pada ayahmu?
Itu.
Ambillah, tapi jangan beri tahu ayahmu.
Namun, kamu harus mengembalikannya kepadaku saat pulang.
Aku percaya padamu, Dong Hyun.
Aku tidak membutuhkannya.
Apa? Kamu tidak mengirimi temanmu pesan?
Bukankah kamu kesal karena dia mengambil ponselmu?
Bukan soal ponselnya.
Aku bisa bertahan tanpa ponsel.
Lalu kenapa kamu kesal?
Dia tidak mau memberiku uang saku.
Jadi, itu alasannya.
Aku bisa memberikanmu.
Benarkah?
Tentu saja. Tunggulah di sini.
Sempurna.
Kenapa kita di sini?
Untuk berolahraga. Memangnya untuk apa lagi?
Kenapa kita tiba-tiba harus berolahraga?
Ayo pulang. Ibu harus memasak makan malam.
Selalu makan malam.
Ibu tidak perlu memasak hari ini.
- Ikutlah. - Ada apa denganmu?
Kenapa membawaku ke sini padahal aku sudah menolak?
Sedang apa kamu di sini?
Bisakah kalian berhenti?
Ibu, menyenangkan kalau pasangan suami istri bisa olahraga bersama.
Katanya yoga sangat baik bagi pria dan wanita paruh baya.
Tidak, terima kasih.
Kenapa kamu ikut ke sini?
Tidakkah kamu melihat aku dipaksa ke sini?
Kamu pikir kamu dipaksa dan aku datang dengan sukarela?
Aku juga menentangnya.
Sayang sekali. Kelasnya sudah dibayar.
Ya. Karena kalian sudah di sini,
sebaiknya ikutilah satu kelas.
Selamat datang. Apa kalian ke sini untuk mendaftar?
Kami sudah mendaftar. Baek Hyeon U, untuk empat orang.
Tunggu sebentar.
Rupanya di sini.
- Yoga untuk pasangan? - Ya.
Astaga, istrimu sangat cantik.
Dia terlihat sangat muda.
Kalian punya putri yang sudah dewasa?
Apa? Putri?
Astaga.
Mereka bukan pasangan.
Mereka berdua ini pasangan dan kami pasangan.
Gunakan matamu dengan baik.
Astaga. Aku tidak percaya ini.
Yoga itu konyol.
Lupakan saja. Aku akan pergi.
Ayah! Astaga.
Astaga.
Apa-apaan tadi itu?
Apa kamu berusaha mengiklankan kepada semua orang
bahwa kamu terlalu tua bagi istrimu?
Bukan begitu, Ayah.
Kenapa kamu memegang tangan istriku?
Apa kamu gila?
Aku hanya bermaksud... Itu...
Semua ini salahmu.
Ayah.
Mereka pasti berpikir kita sangat jauh
sampai melakukan hal seperti itu.
Cukup. Jangan di depan mereka.
Apa kamu merasa malu?
Aku lebih malu karena kita tidur berbeda kamar.
Kamu seharusnya menjadi contoh yang baik,
tapi kamu marah sesukamu
dan meninggalkan suamimu tidur sendirian.
Apa yang kamu lakukan?
Cukup.
Aku bukan Cha Jin Ok yang dahulu.
Lalu apa?
Kamu akan marah dan mengeluh lagi?
Bisakah Ayah berhenti?
Kalian pergi saja mengambil pengembalian uang
dan jangan melakukan apa pun seperti ini lagi, mengerti?
Dasar...
Dia sungguh kacau.
Sial.
- Astaga. - Astaga.
Astaga.
Kurasa kita salah.
Ternyata tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti ini.
Keduanya sudah menjauh melebihi yang kukira.
Apa menurutmu ada hal lain
yang tidak kita ketahui?
Memangnya bisa ada apa?
Sikap Ayah sangat buruk.
Kamu mendengar dia menyalahkan semuanya pada Ibu.
Tidak akan ada yang berhasil kecuali dia berubah.
Aku tahu.
Ibumu pasti mengalami kesulitan.
Aku mau berhenti berusaha membuat mereka sekamar.
Aku tidak mengerti bagaimana perasaan Ibu.
Selagi di sini, aku hanya akan membantunya,
bukannya membuat keributan.
Baiklah.
Astaga.
Hyeon U, hei.
Ada apa?
Tunggu.
No comments yet. Be the first to leave one.