The first 200 lines.
Rizainter IDFL™ SubsCrew
Aku Sheriff di wilayah ini saat aku berusia 25 tahun.
Sulit dipercaya.
Kakekku seorang Sheriff. Ayah juga.
Semuanya peternak.
Mengolah lahan melewati masa-masa subur dan membajak.
Ada tatanan alami dalam segala hal.
Kami sangat memahaminya.
Yesus seorang pria, bukan wanita berjanggut.
Dan sebagaimana air mengalir menuruni bukit,
seorang suami adalah kepala rumah tangganya.
Di bawahnya, wanita harus patuh.
Dia memegang teguh kebajikannya
hingga ambang batas perkawinan terlampaui,
lalu dia terbuka padanya,
seperti bunga terbuka ke matahari.
Sebagai gantinya,
pria menaungi dan melindungi perempuan,
seperti pedang mempunyai sarungnya.
Tapi maksudku, kau...
Tidak. Dia hanya mengangkat tangan ke arahnya
ketika dia lupa posisinya dan ambil peran pria.
Lalu hanya untuk instruksi,
tak pernah menikmati kesenangan atau kepuasan apa pun dari tugas tersebut.
Padahal kau, Nak,
sepertinya sudah lakukan tugasmu
melindungi istrimu.
- Aku terjatuh, itu saja. - Hei, diam.
Sheriff sedang bicara.
Kemarilah. Tenanglah, Sayang.
Putriku, masa-masa sulit ini sudah berakhir.
Paham?
Akan kuurus sendiri instruksi suamimu.
Instruksi apa?
Sekarang, jujurlah.
Kau pernah pertanyakan supremasi suamimu
ketika dia bicara?
Tepat saat dia minum atau saat dia marah?
Aku berusaha menjauh, tapi..
Jangan sakiti dia.
- Kami punya tiga anak yang butuh ayah. - Baik.
Baik.
Ya.
Terima kasih. Ada pai huckleberry?
- Tentu. - Bagus.
Dengar, Berengsek, aku tahu kau..
Diam.
Pulang ke rumah. Beli makanan bergizi.
Berdoalah sebelum makan.
Maafkanlah. Rawat luka bakarnya.
Cobalah untuk bersikap terhormat.
Penuhi kebutuhannya sebagai pria
untuk mendapat keharmonisan.
Aku akan datang besok pagi, melihat apakah berhasil.
Silakan.
Pergi.
Mereka kelolosan.
Apa yang terjadi?
Kau utus orang lakukan tugas tanpa informasi lengkap,
bagaimana tugas itu beres?
Ya, kau apa?
Si teka-teki?
Kau bilang cuma wanita biasa..
Apa katamu?
Ibu rumah tangga.
Kau tak pernah bilang kalau dia sebenarnya harimau.
Maksudmu kau tak bisa tangani seorang gadis?
Dengan 100 pon?
Ada berita pagi ini.
Orang bodoh ini menembaki pom bensin di luar Beulah.
Membunuh kasir.
Membunuh polisi negara bagian.
Menambah masalah lain.
Dan tengkorak partner idiotnya retak
dan wajahnya setengah terbakar.
Kau bilang ibu rumah tangga, jadi aku bawa satu orang.
Jika kau bilang harimau..
Orang yang berbeda.
Biayanya tiga kali lipat.
Apa mereka menagkapnya? Polisi?
Melarikan diri dengan berjalan kaki.
Mungkin pulang.
Mungkin entah ke mana.
Bisa kau temukan?
Dia sulit ditemukan.
Ke mana orang pergi, tergantung yang mereka pikirkan,
itu yang kutahu.
Naluri.
Siapa yang melarikan diri, siapa yang melawan.
Ini pertanyaan tentang harga.
Tugas itu bukan tugas biasa katamu.
Rasa sakit dan penderitaan.
Seorang pria, kulitnya terluka,
menjahit kulitnya sendiri.
Terluka seumur hidup, katanya.
Lalu pertanyaan baru ini.
Berburu harimau.
Memaksa pria itu untuk bertanya:
kenapa kau inginkan harimau itu?
Dia istriku.
Jangan bilang apa-apa padanya.
Sudah kubilang bisa kutangani.
Kami tahu tempat tinggalnya. Nama samarannya.
Dia sudah bersumpah padaku.
Sebuah janji.
Dalam keadaan sakit dan sehat.
Anggap saja itu hutang yang belum terbayar, membuatku terkatung-katung.
Suami atau sudah tidak.
Dia sembunyi dariku sembilan, sepuluh tahun.
Bunga masih menunggak.
Hingga utangnya tak bisa lagi dibayar dengan uang.
Lalu, suatu hari, sidik jarinya ada di sistem.
Sekarang ketidakpastiannya bisa berakhir,
utangnya bisa ditagih.
Katakan, Teman.
Jika seseorang suci,
maka perbuatannya akan selalu baik.
Kau percaya itu?
Aku seorang nihilis.
Apa maksudnya?
Aku tak percaya apa pun.
Kau percaya pada uang.
Ya?
Terima kasih atas bantuanmu.
Lanjut dengan Gator. Dia akan membayarmu.
Ayah.
Ditambah rasa sakit dan derita.
Ya, tentu saja.
Ambil dari dana hari hujan.
Perbaikan tempat.
Perbaikan tempat. Benar.
Ayo, Bodoh.
Seorang pria berterima kasih.
Aku tak meminta maaf, tapi kau mengerti.
Aku agak kasar di belakang sana.
Kau datang dengan gagah.
Ternyata seperti burung mungil, yang..
Kau tahu..
dulunya bagai dinosaurus.
Seratus cukup?
Kejutan, Bajingan.
- Ada apa, Roy? - Kembali ke rumah sekarang.
Seperti yang kami katakan, ini semua hanya kekeliruan.
Hanya mengalami hari sial.
Hari sial?
Ya.
Meninggalkan rumah berantakan.
Setahuku, itu bukan kejahatan.
Memang.
Aku sendiri residivis dalam hal itu.
Cuci baju khususnya.
Cuci baju.
Tapi yang kurisaukan darahnya.
Sudah kubilang, kakiku tergores kaca.
Betul.
Dan aku melihat lukanya.
Tapi masalahnya
darah yang di lantai masukmu
berbeda dengan rekam medis darahmu.
Rekam medis?
Itu..
Kau tahu, aku dengar pria masuk ke RS di St. Paul
untuk transplantasi ginjal,
malah tertukar.
- Mustahil. - Ya.
Aku tak yakin..
Kedengarannya tak akurat.
Maksudku, RS membuat kesalahan.
Lalu ada DNA rambut dari balaclava di kamar kerjamu.
Sudah kubilang, aku beli barang bekas itu.
Ini salahku.
Aku pulang ke rumah, pintu depan terbuka lebar,
banyak darah.
Aku tak malu bilang aku panik.
Tapi, kau tahu, Dot sudah pulang,
dan, itu yang terpenting.
Jadi, apa pun..
Kau tahu, dia istriku. Dan aku percaya padanya.
Jadi, jika ada formulir atau sesuatu yang bisa kutandatangani..
pembatalan tuntutan..
Cara kerjanya tak seperti itu.
Aku mau..
Sudah hampir waktunya menjemput.
Aku bilang pada Scotty kita bisa pergi ke DQ sepulang sekolah, jadi..
Baiklah kalau begitu.
Terima kasih atas waktunya.
Kami sedang meninjau kamera lalu lintas,
jika ada pertanyaan lagi..
Tidak.
Dia..
Wayne, dia tak paham.
Danish Graves pengacara kami,
jadi jika kau perlu menghubungi kami lagi,
yang seharusnya tidak..
Baiklah kalau begitu.
Jadi, ini membingungkan.
Sudah bicara dengan Wayne.
Dot sudah pulang.
Dia bagaimana?
Ya, pulang sendiri.
No comments yet. Be the first to leave one.