The first 200 lines.
Parah banget.
Pertarungannya sesengit apa hingga sampai separah ini?
Ketemu!
Teman-teman, sini!
Mereka di sini!
Luar biasa! Mereka mengalahkan Iblis Tingkat Atas!
Tuan Kagaya!
Seratus tahun...
Keadaan yang tidak berubah selama seratus tahun
sekarang telah berubah!
Apa kamu paham? Ini adalah pertanda.
Takdir mulai berubah secara drastis.
Riaknya akan terus menyebar,
mengguncang hebat sekelilingnya,
dan pada akhirnya meraih orang itu.
Kibutsuji Muzan, kami pasti akan mengalahkanmu dalam generasi kami.
Kamu adalah aib satu-satunya di keluarga kita.
Tiga
Atas
Istana Dimensi Tanpa Batas.
Kalau aku dipanggil ke sini, artinya...
ada iblis Tingkat Atas yang terbunuh oleh pemburu iblis.
Pembasmi Iblis Babak Kampung Penempa Pedang
Wah, wah, Tuan Akaza.
Saya senang melihat Anda masih sehat.
Kita tak bersua selama 90 tahun, benar?
Lima Atas Gyokko
Jantung saya bisa-bisa copot karena girang jika Anda dikalahkan.
Maksud saya, saya bisa cemas setengah mati.
Sungguh seram. Sungguh seram.
Setelah tidak bertemu beberapa saat, sekarang Gyokko menjadi tak terhitung.
Empat Atas Hantengu
Sudah 113 tahun sejak terakhir kali dipanggil.
Angka yang tak bisa dibagi. Setengahnya membawa sial.
Angka yang janggal!
Sungguh seram! Sungguh seram!
Wanita Biwa, apa Tuan Muzan sudah datang?
Beliau masih belum datang.
Lalu mana iblis Tingkat Satu Atas?
Jangan bilang dia yang sudah dikalahkan.
Astaga...
Jangan gitu, dong, Tuan Akaza.
Apa Tuan enggak mencemaskanku?
Dua Atas
Tiga Atas
Aku sangat mencemaskan kalian, loh.
Karena kalian kawan-kawanku yang berharga.
Tiga
Dua
Aku enggak mau kalau ada yang mati.
Tuan Doma.
Dua Atas Doma
Yo, yo! Lama enggak jumpa, Gyokko.
Apa itu vas barumu? Bagus sekali.
Aku menyimpan kepala wanita di dalam vas yang kamu beri, loh,
dan aku pajang di kamar.
Sebuah vas bukan untuk menyimpan kepala.
Tetapi itu pun boleh juga.
Oh ya, kapan-kapan mainlah ke tempatku.
Singkirkan...
Singkirkan tanganmu dariku.
Pukulan yang mantap.
Sepertinya kamu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya, Tuan Akaza.
Saya memanggil Tingkat Satu Atas lebih dahulu.
Beliau sudah ada di sana sejak awal.
Aku ada di sini.
Satu Atas Kokushibo
Tuan Muzan telah hadir.
Gyutaro sudah mati.
Iblis Tingkat Atas berkurang satu.
Begitukah, Tuanku? Saya sungguh minta maaf.
Berhubung saya yang merekrut Gyutaro,
bagaimana saya harus menebusnya?
Haruskah saya mencungkil bola mata saya?
Atau...
Aku tidak butuh bola matamu.
Aku sudah menduga Gyutaro akan kalah.
Karena Daki yang menjadi penghambatnya.
Edisi Nomor 133
Jika sejak awal Gyutaro bertarung sendiri, dia pasti sudah menang.
Seharusnya dia tak perlu tetap bertarung setelah meracuni mereka...
Tidak.
Aku tidak peduli lagi.
Kalian tak berguna.
Ia yang menyisakan sebagian besar sisi manusia akan kalah.
Tapi aku tidak peduli lagi.
Aku tidak berharap banyak pada kalian.
Anda lagi-lagi mengatakan hal pesimis.
Apa saya pernah gagal memenuhi harapan Anda?
Kau masih belum memusnahkan keluarga Ubuyashiki.
Lalu bagaimana info tentang bunga Bakung Lelabah Biru?
Kenapa selama ratusan tahun ini masih belum ditemukan?
Aku tidak tahu lagi apa guna keberadaan kalian.
Mohon maaf! Mohon ampuni hamba!
Saya tidak akan berdalih.
Ubuyashiki sangat lihai dalam menyembunyikan diri.
Saya enggak jago dalam melacak atau mencari.
Sebaiknya bagaimana, ya?
Tuan Muzan, saya berbeda dari mereka!
Saya memiliki informasi yang akan membawa Anda selangkah menuju hal yang Anda inginkan.
Saya baru saja...
Hal yang kubenci adalah perubahan.
Perubahan situasi.
Perubahan fisik.
Perubahan emosi.
Perubahan sering kali menciptakan penurunan mutu.
Menjadi lemah.
Hal yang kusukai adalah kekal.
Selalu dalam keadaan sempurna dan tak akan berubah selamanya.
Tuan Muzan memegang kepala saya.
Sungguh kenikmatan yang hakiki.
Pertama kalinya dalam 113 tahun, iblis Tingkat Atas terbunuh.
Hal itu saja sudah membuatku sangat gusar.
Jadi, jangan sembarang menyampaikan informasi yang bahkan belum pasti.
Mulai sekarang, kalian harus bekerja mati-matian untukku.
Tampaknya aku terlalu memanjakan kalian karena kalian adalah iblis Tingkat Atas.
Gyokko, setelah informasinya terbukti,
pergilah ke sana bersama Hantengu.
Baik, Tuan.
Kenapa? Itu informasi yang saya dapat.
Sungguh di luar nalar!
Tetapi itu pun boleh juga.
Tuan Gyokko! Informasi apa yang kamu dapatkan?
Aku juga ingin ikut.
Yah, bagaimana, ya...
Maukah memberitahuku?
Aku moho—
Apa Tuan Muzan memberimu perintah?
Enyah kau.
Akaza.
Kau sudah keterlaluan.
Satu Atas
Enggak apa-apa, Tuan Kokushibo.
Aku enggak marah, kok.
Aku tidak bilang ini demi dirimu.
Perbuatanmu mengacaukan tingkatan.
Aku khawatir bila muncul keretakan di antara hierarki.
Oh, gitu, ya.
Akaza. Jika kau tidak suka, kau boleh mengajukan pertempuran berdarah untuk menggantikan kami.
Tapi, Tuan Kokushibo...
Meski dia mengajukannya, dia enggak akan bisa mengalahkan kita.
Terlebih lagi, aku menjadi iblis setelah Tuan Akaza,
tapi aku malah menyalipnya, jadi, mungkin dia sebal kepadaku.
Mohon dipahami.
Lagi pula, aku sengaja enggak menghindar, loh.
Aku cuma main-main sedikit.
Beginilah cara kita mengakrabkan diri.
Yang berkedudukan tinggi harus lunak pada bawahan, bukan mencemooh mereka.
Akaza.
Satu Atas
Apa kau paham maksudku?
Aku paham.
Aku pasti akan membunuhmu.
Begitukah?
Aku mendukung semangatmu.
Dadah, Tuan Kokushibo! Dadah!
Rasanya aku diabaikan dari percakapan.
Aku cuma berpikir berlebihan, 'kan, Tuan Akaza?
Tuan Akaza!
Padahal sedang bercakap-cakap?
Kirim saya dan Hantengu ke tempat yang sama!
Tunggu! Aku juga, dong!
Oi, Wanita Biwa!
Apa setelah ini kamu mau—
Tidak mau.
Mereka enggak asyik, ah.
Imam Besar, para jemaat ingin bertemu Anda.
Oh, benarkah?
Maaf lama, ya.
Huplah...
Aku pakai ini dulu.
Aku siap. Persilakan mereka masuk.
Saya buatkan teh untuk Anda.
Ya, terima kasih.
Wah, tidurnya nyenyak sekali.
Maaf, gara-gara istri saya tidur,
saya jadi tidak enak hati membuat Anda menggendongnya.
Bukan masalah.
Istrimu pasti kelelahan.
Melahirkan dan membesarkan anak sangatlah berat.
Aku akan pergi setelah minum ini.
Aku enggan makan cuma-cuma terus menerus.
Jangan bilang begitu! Anda adalah penyelamat kami.
Tanpa bantuan Anda, jangankan kami, anak ini pasti tidak akan lahir.
Baiklah.
Jikalau boleh, saya akan menceritakan anak cucu saya tentang Anda.
Tidak perlu.
Tetap saja, Anda pasti kerepotan karena tidak punya penerus.
Saya hanya penjual arang, mungkin tidak akan bisa,
tetapi suatu saat nanti...
Tidak perlu.
Sumiyoshi.
Barang siapa yang mengasah jalan mereka akan selalu berakhir di tempat yang sama.
Meskipun zaman berubah atau jalan yang menuju ke sana berbeda,
mereka pasti akan mencapai tempat yang sama.
Tampaknya kamu melihatku sebagai manusia yang istimewa.
Nyatanya, aku tak istimewa.
Aku tidak bisa melindungi satu pun hal yang berharga bagiku.
Aku juga gagal menuntaskan hal yang seharusnya kulakukan dalam hidupku.
Aku hanyalah pria tanpa martabat.
No comments yet. Be the first to leave one.