The first 200 lines.
George Washington bajingan.
Hei, semua, bisa kita tidak merendahkan presiden?
Presiden pertama Amerika Serikat?
Definisi bajingan sebenarnya.
Miguel, jaga bahasamu.
Maaf, Pak Dunbar.
Baiklah, kau jelas memiliki pandangan kuat terhadap Washington,
Seperti seharusnya, dan itu hakmu.
Ada yang bisa berbagi pendapat tentang itu?
Budak?
- Budak, bagus. - Perbudakan itu bagus?
Miguel, aku jelas tak bilang perbudakan itu bagus.
- Lanjutkan, Sadie. - Apa?
Kau tadi bicara tentang Washington.
Maksudku, dia memiliki budak,
Dan, ya, dia melakukan banyak hal-hal besar.
Seperti membunuh orang Inggris,
Dan dia membuat jalan setapak dan sebagainya,
Tapi budak menebang pohon untuk membuat jalan.
- Dia tidak membayar mereka. - Dan itu deforestasi.
Seperti hutan hujan di Brasil. Itu sangat buruk.
Bukankah dia juga mencumbu beberapa budaknya?
Bukan. Itu John F. Kennedy.
Itu bukan JF...
Semuanya, aku rasa...
Aku rasa jika kita bisa melihat Washington,
Melalui sudut pandang tentang menjadi orang yang berbuat kesalahan,
Seperti kebanyakan sosok sejarawan kita,
Mereka bukan pahlawan super. Mereka orang biasa.
Mereka membuat kekacauan. Dan mereka orang yang rumit.
Tapi jika kita melihat pencapaiannya diikuti dengan kekurangannya,
Menurutku kita semua bisa dianggap sama seperti Washington.
Entahlah. Tetap terlihat seperti bajingan.
Baiklah, mari selesaikan ini, oke?
Aku minta tolong, kirimkan esai kalian...
...di Dropbox-ku besok sebelum pukul 17:00,
Atau aku mengurangi poin kalian 10 per hari, mengerti?
Sampai jumpa.
- Maaf aku telat. - Hei.
Tak apa. Kau mengirimmu pesan. Tak masalah.
Jadwal rapatku bentrok. Bosku mengamuk, jadi...
Tak apa. Terima kasih sudah mengajak dia.
- Hai, Ayah! - Hai, sayang!
Dia bersamaku seharian sekarang.
- Ya? - Karena PAUD. Ya.
Apa yang terjadi? Mereka karantina?
Tidak, pencegahan selama beberapa minggu,
Hingga angkanya menurun, dan itu tak masalah.
Dengar, kita melanggar perintah dengan aku berada di sini,
Tapi aku tahu kau ingin melihat dia.
- Sekarang kau sudah melihat dia. - Terima kasih.
Aku menyimpan yang aslinya,
Tapi pengacara bilang salinan pengadilan tak masalah untuk...
Di mana maskermu?
Di mobil.
- Kau mau memakainya? - Tidak terlalu.
Aku mengajar di apartemen seharian. Aku tidak ke mana-mana.
Tetap saja. Visual itu penting. Orang melihatmu.
Oke, aku akan pertimbangkan itu.
Kau terlihat sangat baik.
Maksudku, mata dan keningmu terlibat begitu.
Kau potong rambut. Aku bisa melihat itu.
Bagaimana mengajar?
Lumayan.
Menantang. Aku bisa menghadapi itu.
Hei, kemari sebentar.
Aku bawakan kau ini.
Kau meninggalkannya saat mengambil barangmu terakhir.
Itu tak muat di mobilku. Bisa kau membongkarnya?
Bisa. Tapi tak cepat.
Aku bisa mengantarnya.
- Tidak. - Aku tak harus masuk ke dalam,
- Jika kau... - Tidak, itu bukan ide bagus.
Kenapa itu bukan ide bagus?
Kau tahu kenapa.
Jadi dia parkir di tempatku?
Tidak, dia parkir di tempat yang saat ini menjadi ruang lebihku.
Kau sudah menghubungi terapis?
Persetan denganmu, Kim.
Bagus. Bagus. Kau tahu?
Ambil sepeda itu. Jual. Apapun yang kau inginkan.
Terima kasih.
Hanya itu saja.
Katakan sampai jumpa pada Ayah.
Dah, sayang. Ayah menyayangimu.
Aku sayang ayah.
Ada apa?
Ada kasus penyebaran di kampus.
Mereka mengirim kami semua pulang.
Ibu sudah melakukan tes?
Tidak. Itu penjaga malam.
Kami semua di kantor konseling tidak sama dengan jadwal sifnya.
Jadi apa yang mereka lakukan dengan sekolah?
Mereka ingin bermain aman, jadi mereka menutupnya.
Ini akan jadi kota hantu setidaknya beberapa minggu.
Kelihatannya kau terjebak bersama Ibu.
Menakutkan.
Masih ada dua lagi tas Ibu di mobil.
Bisa kau rehat dari studimu yang sibuk dan mengambilnya?
Baiklah.
Halo?
Ya, tidak, aku tak apa.
Aku tak apa. Hanya mengalami masalah teknis.
Aku akan masuk sekarang.
Ya. Bajingan.
Tidak, tidak, tidak, aku...
Aku...
Aku mengerti jika orang tua terus menghubungimu. Aku paham.
Aku juga mengerti kau ada urusan lebih baik untuk dilakukan...
...selama pandemi. Aku tidak bodoh.
Dengar, terakhir yang aku tahu, aku guru sejarah.
Bukan petugas TI, oke?
Aku berusaha semampunya.
Jika itu tak cukup bagus untukmu, kau bisa hubungi perwakilan serikatku.
Hei, semua, maaf. Maaf aku terlambat.
Sedikit masalah teknis.
Mari membuka halaman 248.
Kau ingin dukungan teknis, berengsek?
Ya? Apa kau menyalakan ulang?
Apa kau menyalakannya kembali?
Kau ingin menyalakannya kembali?
Aku mau terkena COVID.
Aku serius. Aku akan mengalahkannya.
Itu kecaman tak terlihat lagi?
Itu benar. Aku juara tiga di turnamen MMA terakhir,
- Seandainya kalian lupa. - Ya, kau sabuk hitam kebodohan.
Setiap malam sebelum tidur,
Aku terus berpikir kenapa aku tidak putus denganmu.
Aku yakin bukan hanya itu yang kau pikirkan di ranjang.
Terima kasih sudah belikan burgerku.
Aku akan menggantinya lain kali.
Tak apa. Jangan khawatir soal itu.
Aku akan mati karena jenuh sebelum mati karena COVID.
Kau tahu apa yang harus kita lakukan?
Mengadakan pesta, bersenang-senang.
Di mana? Semua orang di rumah, termasuk para orang tua.
Ada gudang tua di jalan 18th.
Itu ada penjaganya.
Bagaimana kau tahu?
Aku pergi jalan kaki bersama ibuku saat malam.
Aku selalu melihat penjaga di luarnya bermain ponsel.
Gedung mana lagi yang kosong karena COVID?
Sekolah.
Ya, tapi sekolah ada petugas perawatan di sana.
Sebenarnya, tidak.
Setidaknya tidak di sekolah kita. Mereka mengosongkannya.
Apa yang kau bicarakan?
Ibuku bilang petugas kebersihan terjangkit virus,
Jadi mereka tak mau mengambil resiko.
Jadi apa, itu benar-benar kosong?
Itu sekolah, teman-teman. Bukan bar untuk pesta.
Itu sebabnya ini sempurna.
Jika ada yang terjangkit virus di sana,
Maka takkan ada yang mendekati tempat itu hingga beberapa hari.
Virus ini seperti radioaktif.
Itu bukan argumen meyakinkan untuk kita pergi sendirian.
Trevor, apa pistol paintball milikmu sudah laku terjual?
- Masih belum. - Itu dia.
Mari kita mabuk dan menandai sekolah dengan peluru pelet.
- Itu bodoh. - Ayolah.
Mereka menutup taman paintball sejak pandemi.
Aku tahu kau rindu untuk pergi.
Itu satu-satunya hal tak penting yang kau kuasai.
Terima kasih, kawan.
Maksudku, kau harus membuat Sadie terkesan dengan sesuatu.
Jangan menjadi bajingan.
Tidak, menurutku itu seru.
- Kita harus melakukannya. - Entahlah.
Ibuku bekerja di kantor konseling.
Itu bisa mengacaukan pekerjaannya jika kita tertangkap.
Kita takkan tertangkap.
Jika ada yang datang, kita keluar lewat pintu samping.
Kita pasti bisa berlari menghindari petugas kebersihan tua, benar?
Aku tahu kau pasti setuju.
Kau ikut?
Hanya jika Trevor ikut.
- Si pengecut ini ikut. - Hei!
Maaf!
Hei, kenapa kau tak pakai masker?
Kami tak apa, Bung.
Ini sekedar belajar kelompok. Kerumunan kecil.
Kau harusnya pakai masker.
Aku aman, Bung. Sumpah.
Aku pakai kondom setidaknya hampir separuh waktu.
Kau akan segera mendapat pelajaran dengan mulut itu!
Kita anak remaja. Kita tidak terlihat.
Maksudku, jika orang Inggris dan Amerika tak memiliki senjata,
Maka milisi takkan butuh senjata.
Benar? Aku sangat setuju, tapi mereka memilikinya.
Maksudku, itu awal mula dari Amendemen Kedua.
Itu konyol.
Maaf. Entahlah.
Tidak, jangan berkata begitu. Aku suka itu.
Aku suka ketika kau membuka pikiranmu seperti itu.
Itu menyegarkan.
Itu menyegarkan dan mengesankan.
Jadi menurutku argumen dengan senjata,
Yaitu bahwa senjata merupakan hal alami bagi warga negara.
Untuk mereka bisa melindungi diri sendiri. Untuk merasa aman.
Untuk merasa mereka memiliki kendali terhadap masa depannya.
No comments yet. Be the first to leave one.