The first 200 lines.
"Semua orang, lokasi, organisasi"
"Kejadian, dan latar belakang dalam drama ini hanyalah fiksi"
"Staf memastikan keselamatan aktor cilik dalam syuting drama ini"
"Episode Dua"
Lihat.
Perawatan medis untuk luka bakar mahal.
Jadi, siapa yang mau mengadopsi seseorang
dengan penampilan seperti ini?
Bagaimana aku
bisa mendapatkan luka bakar ini?
Haruskah kuberi tahu?
Haruskah kuberi tahu
perbuatanmu kepadaku?
Kebakaran.
Kebakaran.
Apinya menyebar! - Anak-anak.
Ini sangat buruk. - Anak-anak.
Semuanya sudah di sini? Semuanya aman?
Karena orang tua angkatku menjemputku pagi-pagi sekali,
aku tidur di kamar yang berbeda dari biasanya
dan tidak bisa kabur tepat waktu.
Tolong jaga anak-anak!
Ini buruk. Kita butuh lebih banyak dukungan!
Cepat.
Bagaimana dengan adopsi Su Yeon hari ini?
Jangankan biaya pengobatan, dia mengalami luka bakar.
Sepertinya itu akan dibatalkan.
Omong-omong, kudengar kebakaran dimulai dari belakang gedung.
Anak-anak memberitahuku bahwa Su Yeon dan Sun Hui
sering bermain korek api. - Diam.
Untuk kali pertama,
aku merasa putus asa dan frustrasi.
Sun Hui.
Sun Hui. Ayo.
Sun Hui.
Tanpa bertemu denganku lagi,
kamu diadopsi ke tempat yang jauh.
"Hari Sponsor Anak-anak Luka Bakar Anggota Dewan Kim Sung Wook"
Satu, dua, tiga.
"Selamat datang di Rumah Anak-anak!"
Itu tampak cantik!
Aku iri!
"Selamat datang di Rumah Anak-anak!"
Siapa bilang aku butuh wig?
Tanpa bisa menolak,
semuanya
terasa menyedihkan.
Aku sangat marah.
Sangat marah
hingga aku tidak tahu harus bagaimana.
Singkatnya,
kamu membakar korek api yang kuberikan kepadamu
dan merusak peluangku untuk diadopsi.
Aku...
Aku...
Aku tidak tahu.
Aku...
Aku...
Kukira kamu sudah pergi.
Apa boleh buat.
Maafkan aku.
Maafkan aku. Aku...
Aku tidak tahu
kamu terluka parah.
Kamu, yang punya segalanya,
tidak bisa membayangkan betapa menyedihkannya
hidupku sejak hari itu!
Sial.
Sun Hui.
Mulai sekarang,
perlahan aku akan dapat kembali apa yang pantas kudapatkan.
"Perfect Family"
Kamu, yang punya segalanya,
tidak bisa membayangkan betapa menyedihkannya
hidupku sejak hari itu!
Sun Hui.
Mulai sekarang,
perlahan aku akan dapat kembali apa yang pantas kudapatkan.
Bahkan mereka yang sulit diajak bicara
mungkin dengan mudah memahami kata-katamu saat ditulis.
Hai.
Ya! - Ayolah.
Ini tidak benar. Lakukan lagi. - Tidak.
Jangan lagi. - Mari lakukan sekali lagi.
Sungguh? - Cepat lakukan.
Ayo ke kedai camilan.
Jika itu telur goreng...
Berhentilah bercanda.
Hei! - Satu babak terakhir. Ayolah.
Hentikan. - Sungguh.
Satu babak terakhir, ya? - Manis sekali.
Siap? - Baiklah, ayo.
"Untuk temanku Su Yeon"
Maaf. - Tidak apa-apa.
Kamu pergi ke tempat baru itu?
Tempat baru apa?
Su Yeon.
Ini aku, Sun Hui.
Karena tidak tahu harus berkata apa, aku menulisnya dengan kata-kata.
Semuanya pasti terasa asing.
Maaf aku tidak menjagamu dengan baik
meski bertemu lagi setelah sekian lama.
Sejujurnya,
aku cukup terkejut.
Aku tidak tahu
kamu terluka parah
karena kesalahanku.
Aku diadopsi beberapa hari
setelah kamu dirawat di rumah sakit.
Dan kupikir
kamu diadopsi setelah aku
dan hidup bahagia.
Maafkan aku.
Aku sungguh minta maaf, Su Yeon.
Aku akan
membayar utang seumur hidupku.
Mungkin sudah terlambat untuk mengatakan ini sekarang.
Tapi
apa kita bisa akur lagi?
Hei, Lee Su Yeon!
Kamu sudah berbaikan dengan Sun Hui?
Apa yang kamu bicarakan dengannya?
Apa? - Kudengar
kamu memakai wig. Benarkah itu?
Tunggu. Sungguh?
Jadi, apa itu? Katakan.
Aku yakin itu sesuatu yang menarik.
Apa kalian berdua
punya masa lalu rahasia?
Sepertinya begitu.
Su Yeon. Jangan menikmati
hal seperti itu sendirian.
Beri tahu kami juga.
Ayolah.
Dengar baik-baik.
Baiklah.
Kalian akan mati jika macam-macam dengan Sun Hui.
Baik. - Baik.
Mau makan ayam dalam perjalanan? - Tentu.
Hei, Su Yeon. - Sun Hui.
Ada apa?
Terima kasih
untuk suratnya.
Hei.
Apa kamu Lee Su Yeon?
Jadi, kenapa kamu bertingkah?
Su Yeon.
Su Yeon.
Dia gadis yang pendendam.
Dia tidak akan berteriak sama sekali.
Silakan pukul kami seperti tadi.
Sial. Kamu tidak tahu kapan harus menyerah.
Jawab aku.
Jawab aku!
Kenapa kamu... - Berengsek!
Teruslah jalan jika bukan urusanmu.
Aku tidak bisa karena ini urusanku.
Apa kamu pacarnya?
Pacarnya?
Apa harus seperti itu?
Anggap saja begitu.
Aneh aku bertemu denganmu
di jalan pintas yang kuambil.
Apa ini takdir?
Takdir?
Kenapa kamu...
Ayo maju, Berandal.
Kamu mengambil kata-kata itu dari mulutku.
Su Yeon.
Sepertinya memukul wanita bukan keahlianku.
Haruskah kubiarkan mereka pergi?
Apa?
Silakan. Pergilah.
Sebaiknya kamu menjauh darinya!
Enyahlah.
Sulit dipercaya.
Kamu juga ada di sini?
Begini...
Kamu baik-baik saja?
Hei, itu polisi!
Polisi datang!
Itu polisi!
Hei, polisi!
Kenapa kamu masih mengikutiku?
Kamu tidak pernah tahu.
Mereka bisa kembali.
Ya, bagaimana jika begitu?
Aku baik-baik saja, jadi, pergilah. Aku hampir sampai.
Ayo.
Kamu benar-benar bisa memukul.
Dan kamu ahli bersembunyi.
Aku tidak bersembunyi.
Aku bersiaga.
Mengerti? - Terserah.
Aku menunggu untuk menelepon polisi jika perlu.
Sekarang kamu tahu.
Hei, sakit.
Hentikan itu.
Satu, dua, tiga.
Senyum. Satu, dua, tiga.
No comments yet. Be the first to leave one.