The first 200 lines.
"Episode 51"
Tunggu, apa yang baru saja terjadi?
- Aku... - Jangan katakan apa pun.
Aku permisi dahulu.
Aku pasti sudah gila.
Aku pasti sudah gila.
Seharusnya kamu tidak terkejut.
Jangan pikirkan apa pun, beristirahatlah.
Kita bicarakan besok saja.
Ada yang ingin kukatakan kepadamu.
Kalian masih makan.
Makanlah bersama kami jika kamu belum makan.
Tidak usah, aku sudah makan bersama San Deul.
Kamu tidur nyenyak?
Matamu bengkak.
Apa? Hanya sedikit bengkak.
Itu bukan sedikit.
Kamu seperti tidak tidur semalaman.
Benar juga. Kamu mengkhawatirkan sesuatu?
Tidak sama sekali.
- Ada yang ingin Bibi katakan? - Apa?
Aku bertemu dengan wanita yang bekerja di agen perumahan
selagi berjalan-jalan tadi.
Dia melihat hal yang sangat menarik semalam.
Apa itu?
Dia melihat wanita dan pria muda
berbaring di seluncuran taman bermain melakukan ini.
Astaga. Pelan-pelan. Ada anak kecil di sini.
Tidak apa-apa. Aku sudah tahu hal itu.
Benarkah, Go Woon?
Mereka pasti begitu saling menyukai sampai melakukannya pukul sebegitu.
Berciuman.
Astaga, mereka sangat norak.
Mereka tidak punya tempat yang lebih baik untuk itu?
Kenapa harus di sana?
Kakak kenapa?
Apa?
Kenapa telinga Kakak memerah?
Mungkinkah...
Itu bukan kakak.
Apa yang dia katakan?
Aku tidak bilang itu Kakak.
Meskipun bilang itu Kakak, kami tidak akan percaya.
Kakak terlalu tua untuk malu mendengar seseorang berciuman.
Telinga kakak baik-baik saja.
Kamu yang harus berhenti menggigit telinga orang lain.
- Hei. - Dia bilang apa?
Kamu masih melakukan kebiasaan itu?
Tidak, aku sudah menghentikannya.
Kamu masih melakukannya.
San Deul melihatmu melakukannya dua hari lalu.
Kamu menggigit telinga seseorang saat mabuk.
Astaga, San Deul. Dia bermulut besar.
Hei, dia tidak bermulut besar.
Dia hanya tidak bisa merahasiakan sesuatu dari ibunya.
Dia memberi tahu bibi segalanya.
Hampir saja.
Dia bahkan tidak menelepon atau mengirimiku SMS.
Dia pikir aku tidak ingat apa pun karena aku mabuk?
Kenapa dia tidak membalas?
Apa dia terlalu mabuk sampai melupakannya?
Kamu menunggu telepon seseorang?
- Tidak. - Kamu yakin?
Kamu sadar sudah berapa kali
kamu melihat ponselmu sejak duduk di sini?
Ada apa?
Kamu menunggu telepon seseorang?
Bukan begitu.
Omong-omong, ada skandal soal Lee Jeong Hwa.
Bagaimana Ibu tahu?
Hye Eun yang mengatakannya.
Dia melihatnya di tabloid.
Tampaknya Lee Jeong Hwa mengencani pegawai hukum.
Kalau begitu, mungkin Ji Seok mengenal orang itu.
- Kurasa begitu. - Siapa pun pria itu,
dia sangat beruntung.
Wanita itu cantik, kompeten, dan dari keluarga terhormat.
Terima kasih sarapannya. Aku akan berangkat.
Eun Seok, kamu menyadarinya?
Apa maksud Ibu?
Kamu tidak berpikir
Ji Seok tampak menghindar jika membicarakan Lee Jeong Hwa?
Dia bukan menghindari hal itu.
Dia pasti sudah tahu apa yang akan kamu katakan.
"Kenapa kamu belum menikah?"
"Ibu ingin putri menantu
yang bisa diajak menggunjing nenekmu."
Bagaimana Ibu bisa...
Sulit dipercaya.
Saat sudah tua,
bukankah seharusnya penglihatan dan pendengaranmu melemah?
Tampaknya penglihatan dan pendengarannya terus membaik.
Kapan dia mendengar ibu mengatakan itu?
Nenek, aku berangkat.
Baiklah. Begini...
Ji Seok, bisa kita bicara sebentar?
Tentu saja.
Ada yang ingin Nenek katakan?
- Apa ada yang mengganggumu? - Apa?
Kamu tampak cemas saat sarapan tadi.
Kamu memikirkan gadis yang ingin kamu berikan sarung tangan?
Bagaimana Nenek bisa tahu?
Nenek ingat ekspresimu
saat memikirkan cara untuk memberikan sarung tangan itu.
Ekspresimu seperti itu hari ini.
Kamu belum memberikan sarung tangan itu?
- Aku sudah memberikannya. - Lalu?
Pikirku semua akan selesai setelah aku memberikannya.
Pikirku aku akan bisa melupakannya setelah itu.
Kukira perasaanku akan menghilang.
Tapi nyatanya tidak?
Ya.
Aku malah lebih memikirkannya.
Bagaimana perasaannya terhadapmu?
Entahlah.
Memang tidak mudah mengetahui pikiran orang lain.
Omong-omong, apa kamu masih sering bermimpi buruk?
- Ada apa? - Jika kuingat-ingat,
belakangan ini aku tidak bermimpi buruk.
Sungguh?
"Rumah Sakit Universitas Hanguk"
Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.
Hei, Nak. Lama tidak bertemu.
Benar. Belakangan ini aku sibuk.
Paman masih kasmaran?
Apa yang kamu bicarakan?
Kenapa Paman sering datang ke sini?
Masalahnya, paman sering bermimpi buruk.
Tapi kini sudah lebih baik.
Itu pasti karena kekuatan cinta.
Apa? Kamu selalu berbicara soal cinta.
Kamu tahu apa itu cinta?
Cinta itu menunggu.
- Menunggu? - Ya.
Aku pernah membacanya,
hal yang paling sulit di dunia
adalah meraih hati seseorang.
Aku juga membaca bahwa menerima balasan cinta itu
adalah sebuah keajaiban.
Itu berarti cinta sesulit itu.
Benar, cinta memang sulit.
Yang penting ketulusan.
Jika tulus mencintai seseorang, hati orang itu akan terbuka.
- Kamu juga membacanya? - Tidak.
Kakak pertamaku yang mengatakannya.
Semua yang dia katakan benar.
Aku permisi dahulu.
Hei, tunggu.
Ada apa?
- Pakai ini. - Tidak.
Aku tidak boleh menerima apa pun dari orang asing.
Lehermu tampak dingin.
Jika kamu sakit, ibumu akan sedih.
Lagi pula, memangnya paman orang asing?
Kurasa tidak.
Ini tidak gratis.
Paman menghadiahimu karena sudah mengajarkan soal cinta.
Kalau begitu, aku akan mengembalikannya
saat aku memakainya. Berikan nomor ponsel Paman.
Aku tidak mau berutang apa pun.
Dasar bocah.
Ini dia.
Aku akan menghubungi Paman.
Hai, Paman.
Aku tadi bertemu dengan seseorang.
Aku akan ke atas.
Jadi, aku... Astaga.
Maafkan aku.
Jangan khawatir. Kami bersenang-senang.
- Benar, bukan? - Benar.
Saat berbaring di tempat tidurku,
aku tidak bisa berhenti tertawa.
Aku juga.
Pak Lee. Nona Park.
Siapa pria yang menjemputmu?
- Dia pacarmu? - Bukan.
Ayolah. Lalu kenapa dia bergegas datang pukul sebegitu?
Dia benar. Kamu bahkan melakukan ini.
- Sungguh? - Berhenti menggodanya.
Mari bekerja.
- Baik. - Baik.
Benar. Nona Choi, bisakah kamu mengantarkan proposal ini
kepada Bu Jang?
Bu Jang?
Kami akan segera mengevaluasi semua resep
yang dikembangkan pegawai baru pemenang kontes.
Bu Jang akan menjadi jurinya.
Dia sudah menerima resep para pegawai baru,
tapi resepmu belum dia terima
karena kamu terlambat bergabung.
Baik. Akan kuantarkan sekarang.
Choi Go Ya!
Ada apa?
Ada apa? Kamu baik-baik saja?
Lihat itu.
Siapa yang melakukan itu?
Pikirmu siapa?
"Untuk merayakan keberhasilan kakak mendapatkan pekerjaan"
Untuk merayakan keberhasilan kakak mendapatkan pekerjaan.
Ingat yang kamu katakan?
No comments yet. Be the first to leave one.