The first 200 lines.
Apa ini?
Kau dengar yang kukatakan kepadamu sebelumnya? "Aku menyukaimu, Ye Jae Wook."
Itu karena puisi ini mengingatkanku kepadamu.
Ye Line? Aku tidak tertarik akan hal seperti itu.
Aey, bohong. Aku memang Ye Line!
Yay!
Ye Line! Selamat malam, aku menyukaimu, Ye Jae Wook!
Ye Seonsaengnim, kau bagaikan musim semi yang mencairkan kehidupanku yang beku.
["Spring Is Here Because You're Warm 2" - Kim Nam Kwon]
Dasar gila kau!
Inikah sebabnya kau membaca puisi?
Aku seharusnya mati saja.
Aku semestinya mati di sini.
Kau sudah bangun.
Semalam kau sangat antusias soal Ye Line.
Bukannya Ye Line, orang-orang mungkin berpikir kau presiden terpilih.
Aku memimpikanmu semalam. Aku menghubungi karena merindukanmu.
Perutku. Augh.
Aku akan ke toilet lantai bawah, kau naiklah duluan.
Ya.
Omong-omong, kenapa Ye Saem belum merespon?
Astaga!
Sudah kukatakan padamu, reaksimu memang luar biasa.
Kau ini benar-benar!
Tapi sedang apa kau? Kenapa kau menghindari Ye Seonsaengnim?
Bukan urusanmu. Jangan ikut campur!
Baiklah, kalau begitu, aku tanya langsung pada Ye Seonsaengnim. Ye Seonsaengnim.
Hei! Aku sudah membuat kesalahan. Kenapa?
Lebih baik kau tidak melakukan apa pun!
Apa-apaan? Kesalahan apa sebenarnya yang sudah dia buat?
Ini Ye Jae Wook. Mari kita bicara di atap.
Aku ingin memberimu beberapa saran terkait kesalahanmu semalam.
Bagaimana ini? Dia kelihatan marah.
Haruskah aku minta maaf? Bagaimana? Bagaimana?
Boleh aku memberimu saran?
Ya, silakan. Aku sungguh minta maaf.
Tunggu, Ye Seonsaengnim.
Kenapa Anda seperti ini? Bukankah ini agak...
Kau sedang mempermainkanku?
Hei, seburuk apa kesalahanmu sampai kau membungkuk begitu?
Ye Seonsaengnim tidak akan datang. Akulah yang menulis memo itu.
Apa katamu? Hei, kenapa kau melakukan ini kepadaku?
Kau bilang ingin kita saling mengabaikan. Kenapa kau bermain-main denganku?
Ah, aku sudah memikirkannya,
dan sayang sekali kalau aku mengabaikan seseorang...
..yang memiliki reaksi tubuh dan ekspresi yang lucu.
Itu sebabnya, aku memutuskan untuk menjadi lebih dekat denganmu.
- Lupakan. - Kau yang seharusnya melupakan.
Aku sudah memutuskan untuk menjadi bersahabat denganmu.
Tapi, kau lebih baik jangan menyukaiku lagi.
Kalau kau mengirimiku puisi lagi, aku akan melaporkanmu sebagai penguntit.
Kenapa...
...kau begitu membenci puisi?
Ya, aku lebih memilih surat biasa.
Puisi membuatku merinding!
Dan juga, jangan mabuk lalu menunjukkan dirimu yang sebenarnya.
Itu juga sangat menjengkelkan.
Apakah kemarin aku menunjukkan dua sisiku yang menjengkelkan kepadanya?
Ye Line, omong kosong.
Saatnya kau muncul, si cengeng Woo Bo Young.
Astaga.
Apa ini?
- Lepaskan! Lepaskan! - Aku akan benar-benar memukulmu.
Kupukul? Tidak? Kupukul? Tidak?
Dae Bang Dae Bang si menjengkelkan Dae Bang Sunbae itu pasti melakukan ini kepadaku.
Tapi aku tetap bersalah karena berkelahi dengan seniorku.
Aku harus minta maaf duluan.
Halo.
Halo, Han Joo Yong Seonsaengnim.
Apa? "Seonsaengnim?"
Kupikir, insiden kemarin adalah akibat dari caraku memperlakukanmu selama ini.
Sebab itu, aku memutuskan mulai sekarang untuk membangun jarak antara kita.
Apa? Jarak?
Ya.
Dengan begitu, kau tidak akan memperlakukan seniormu seperti kemarin.
Kau bukan lagi anakku Joo Yong Joo Yong, hanya Han Joo Yong Seonsaengnim.
Aku bersalah.
Aku seharusnya tidak bersikap temperamental akan hal itu.
- Apa maksudmu? - Aku bermaksud untuk berteman, berkencan,
dan bersahabat dengan rekan kerjaku setelah menjadi Profesor.
Jadi saat kau menyebutku orang buangan, jomblo abadi, dan tidak punya teman,
aku membalas dengan sikap yang terlalu sensitif.
Kalau begitu, kau mengakui kau masuk ketiga kategori itu?
Ya, mari kita mengakuinya.
Tapi bagaimana, ya? Aku tidak bisa menerimanya untuk diriku.
- Apa? - Aku, Kim Dae Bang,
adalah orang buangan, jomblo abadi dan tidak punya teman?
Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh...
..karena kau akan menyadari bahwa kau salah paham.
Aku ini bukan jomblo abadi.
Ah.
Sampai jumpa besok.
Pelan-pelan, kaki kanan, pelan-pelan, kaki kanan.
Silakan duduk pelan-pelan. Pelan-pelan. Pelan-pelan.
Baiklah, pelan-pelan.
Bagus sekali hari ini.
Sampai jumpa besok. Silakan lewat sana.
Terima kasih atas kerja kerasnya. Terima kasih untuk hari ini.
- Sampai jumpa. Ya. - Sampai jumpa.
Sampai jumpa. Ya.
Baiklah, praktek pagi kita selesai.
Min Ho-ya, kau sudah menyeterilkan alat relaksasi fascia?
Oh, aku lupa.
Apa katamu?
Kau tidak mau dapat nilai bagus?
Kalau kau dapat nilai bagus, kau bisa jadi intern di sini.
Dengan kualifikasimu itu, keberuntungan kau bisa bekerja di sini!
Aku akan melakukannya sekarang.
Wah, berandal itu.
Haruskah aku tendang saja pantatnya?
Aey, kau sungguh ingin melakukannya?
Kau mau memarahi peserta pelatihan yang tidak tahu apa pun?
- Jangan membiarkan perasaanmu mengontrolmu. - Kapan aku melakukannya?
Kenapa dia juga bersikap seperti itu?
Bagaimana bisa dia mendapatkan pekerjaan?
Dia mungkin akan mendapatkan pekerjaan di rumah sakit ayahnya.
Ayahnya adalah direktur dari rumah sakit cabang kesepuluh Rumah Sakit Cheer Up.
Omo. Sungguh?
Kalau begitu, secara teknis dia adalah pewaris konglomerat.
Aku iri. Aku iri sekali pada Min Ho.
Auh, aku juga.
Pantas saja dia kelihatan santai.
Aiyoo... bisa kulihat dia tidak peduli dengan nilai yang didapatnya.
Sebentar. Woo Seonsaeng...
...sangat ambisius.
Bagaimana bisa dia mendekati putra seorang direktur rumah sakit?
Aigoo... dia itu memang minta di--
Kubunuh kau!
Tai, bukankah pasien terakhir tadi menggunakan parfum murahan?
Kepalaku terasa sakit.
Apa? Memang kau tahu apa soal parfum?
Sebenarnya, keluarga kami tiga kali lebih kaya dari keluarga Min Ho...
..sebelum bangkrut 10 tahun lalu.
Aku terbiasa dengan parfum mahal...
...jadi kepalaku pusing saat menghirup parfum mawar murahan.
Parfum mawar?
Bukankah kau bilang kau menyukai parfum mawar?
Aey, tidak mungkin Kim Seonsaengnim menggunakan parfum mawar murahan...
Kau mau aku menghajarmu sampai pingsan?
Min Ho mungkin tidak dapat penilaian bagus dari kami, tapi kau ikutan juga.
Kenapa kau begitu tidak tanggap?
Kau tidak mau kerja di sini?
Kau sungguh dalam masalah besar!
Maafkan aku.
Apa-apaan itu? Kau melarangku memarahi peserta pelatihan.
Ini berbeda.
Kau membiarkan emosimu mengontrolmu,
sedangkan aku mengajarinya tata krama!
"Aku romantis, orang lain erotis."
Kentut besar, kentut kecil.
Seorang psiko...
..atau omong kosong!
Omong-omong, kalian tahu kita kerja sukarelawan besok, 'kan?
Kita akan pergi ke desa di gunung tanpa adanya rumah sakit,
jadi di sana akan ada banyak lansia yang jarang mendapat perawatan.
Mari lakukan yang terbaik untuk memberikan perawatan semaksimal mungkin.
- Ya. - Ya.
Dua orang tenaga senior dan paling berpengalaman akan menetap di pusat,
sedangkan kau akan mendatangi rumah-rumah untuk merawat pasien yang kurang leluasa bergerak.
Tapi, Anda adalah yang paling berpengalaman di antara kita semua, Kepala.
Kepala akan melakukan apa?
Kenapa? Kau takut aku akan bersantai?
Aigoo... aku juga akan sibuk.
Kau pikir mudah bermain catur dengan para lansia...
...dan mendengarkan apa pun yang mereka katakan?
Ah, ya.
Omong-omong, Ye Seonsaeng, siapa yang akan kau ajak melakukan kunjungan rumah?
Dia akan mengajak Woo Seonsaeng. Bagaimanapun, dia sudah masuk Ye Line.
Boleh aku memberimu saran?
Jangan berasumsi.
Ye Line tidak pernah ada.
Apa? Kau sudah selesai makan?
Kenapa kau membuatnya mengatakan sesuatu yang tidak berguna?
Apa maksud Anda? Kemarin dia menjaga Woo Seonsaeng dengan sangat baik.
- Ada apa dengannya hari ini? - Benar juga.
Apa yang terjadi, Ye Line?
Dia bilang Ye Line itu tidak ada!
Berhentilah omong kosong. Park Seonsaeng, temani Ye Seonsaeng.
Dan sisanya, kalian tetaplah di pusat bersama Kim Seonsaeng.
Dua peserta pelatihan bisa membantu masing-masing tim. Mengerti?
- Baik. - Baik.
Seonsaengnim.
Maafkan aku soal kemarin.
Semua orang terus memanggilku Ye Line...
...dan aku jadi antusias lalu minum terlalu banyak.
Sebab itu, aku menganggu Seonsaengnim tentang aku berada di Ye Line...
...dan mengirim pesan sepanjang malam.
- Boleh aku memberimu saran? - Apa?
- Silakan langsung ke intinya. - Oh...
Mulai sekarang, aku tidak akan membuat kesalahan dan hanya menunjukkan sisi baikku.
Ya, lakukan. Permisi.
Apa yang sudah terjadi?
Kau bilang melakukan kesalahan pada Ye Seonsaengnim,
tapi kelihatannya kau melakukan sesuatu karena berpikir kau adalah Ye Line.
Hei, bukankah sudah kukatakan padamu?
Menjengkelkan sekali saat kau mabuk dan menunjukkan dirimu yang sebenarnya.
Kenapa kau menguping pembicaraanku?
Aku tidak menguping. Bukan salahku kan kalau suaramu terlalu kencang!?
Bagaimanapun, aku menunggu untuk menyaksikan sisi baikmu.
Sisi baik...
No comments yet. Be the first to leave one.