The first 200 lines.
"Episode 106"
Go Ya adalah putrinya Ha Ji Na.
Berarti dia bukan penyelamat hidupku,
tapi penyelamat hidup Go Ya.
Ya.
Aku akan mencarinya.
Lalu
membuatnya bahagia.
Kata siapa?
Aku tidak bisa membiarkannya
lebih bahagia lagi dari sekarang setelah merebut kebahagiaanku.
Ya, bagaimanapun caranya, aku harus menghentikan ini.
Kamu menemui Bu Na?
Ya.
Setelah meninggalkan putrinya berpuluh-puluh tahun lalu,
kenapa dia tiba-tiba mencari putrinya?
Karena dia
ingin meninggalkannya lagi.
Apa maksudmu?
Mana mungkin dia meninggalkan putrinya lagi?
Saat bertemu dengannya,
dia terdengar sangat gelisah masa lalunya akan terungkap.
Kamu benar. Dia gelisah.
Pikirkan saja. Jika orang-orang tahu
pemilik perusahaan
punya anak haram yang dia tinggalkan,
reputasi dan kehormatannya akan tercoreng.
- Lalu? - Kurasa dia
sangat stres karena ancaman kemarin.
Dia pasti takut
putri yang dia tinggalkan memutuskan untuk mencarinya.
Dia yang ingin mencarinya lebih dahulu dan melakukan sesuatu?
Dia bilang ingin menyuruhnya pergi tanpa memberi tahu siapa pun.
Sulit kupercaya dia mengaku dirinya ibu.
Teganya dia meninggalkan putrinya lagi.
Kamu tahu
dia juga punya putri dari suaminya yang sekarang, bukan?
Dia ingin menyingkirkan
semua hal yang mungkin akan menghalanginya.
Dia bilang Go Ya akan menghalanginya?
Benar sekali.
Sudah kuduga. Saat kutanya
apa dia merindukan putrinya,
dia menyuruhku menjaga ucapanku.
Seharusnya aku sudah paham.
Kamu harus bersyukur karena kini sudah tahu.
Tunggu, kamu membenci Go Ya.
Kenapa kamu membantunya?
Aku memang membencinya.
Aku ingin dia enyah.
Itu sebabnya aku hampir memberi tahu dia
bahwa Go Ya adalah putrinya.
- Apa? - Tapi
sebagai manusia, aku tidak boleh melakukan itu.
Maksudku, aku tidak boleh
mengganggu hubungan ibu dan anak.
Kamu benar. Itu bukan manusia namanya.
Jika tidak memercayaiku,
silakan saja tanyakan kepadanya.
Go Bong.
Aku meninggalkan kue dan makanan di depan pintu.
Dia tidak akan mau makan jika itu dari aku,
jadi, katakan saja kamu membelinya dan makanlah bersama keluargamu.
- San Deul. - Kenapa kamu tidak masuk?
Benar juga.
Mungkin sekarang bibiku enggan melihatmu.
Maafkan aku.
Mau minum bersama?
Kamu tahu,
aku sungguh terkejut.
Di antara semua orang di dunia ini, kenapa harus kamu
yang menjadi keponakannya Oh Na Ra?
Seakan-akan itu pun belum cukup, kenapa kamu menipu keluarga kami?
Satu hal yang tidak boleh kamu lakukan
adalah mengkhianati keluargamu.
Kamu tidak tahu itu?
- Maafkan aku. - Apa yang kamu lakukan
kepada Go Ya yang polos?
Sudah kubilang sejak awal,
pernikahan ini tidak akan berhasil.
Ibumu adalah pelanggan tetapku.
Aku sudah sering membacakan ramalan untuknya.
- Ramalan? - Bahkan sebelum
kalian menikah, dia sangat tidak menyukai Go Ya.
Pasti sekarang dia jahat sekali kepada Go Ya.
Aku bahkan bisa tahu
tanpa perlu membaca ramalannya.
San Deul, kamu sudah berhenti mengajar?
Apa?
Tadi kamu bilang membaca ramalan ibuku.
Kamu peramal?
Itu...
Ji Seok.
Tolong rahasiakan ini.
Tadi kamu bilang aku tidak boleh mengkhianati keluargaku.
Go Ya juga tahu?
Go Ya sudah sering menyuruhku memberi tahu ibuku.
Tapi aku tidak berani.
Maafkan aku.
Tapi kamu masih punya kesempatan.
Sebaiknya kamu memberi tahu dia langsung.
Aku mengatakan ini karena tidak bisa melakukannya.
- Baiklah. - Kalau begitu,
ini traktiranku.
Astaga, mulutku ini.
Semoga berhasil.
Terima kasih. Omong-omong,
tolong sampaikan permintaan maafku kepada Go Ya soal tempo hari.
Tempo hari?
Apa yang terjadi?
Aku menyuruhnya melupakan kami
dan hidup bahagia, tapi seharusnya tidak begitu.
Aku mengatakan itu karena Go Ya bukan putri kandung Bibi.
Kamu sudah pulang.
Kamu sudah makan malam dengan manajer kantormu?
Ya, kamu sudah makan?
Sudah.
Kamu minum-minum?
Aku minum bersama San Deul.
- Kamu bertemu dengan San Deul? - Ya.
Hampir lupa.
Tampaknya dia berhenti mengajar.
Kamu sudah tahu rupanya.
Aku cemas.
Bibi akan menggila.
Aku hanya ingin San Deul segera memberitahunya.
Kenapa kamu tidak memberitahuku soal kamu dan ibumu?
- Apa? - Aku sudah mendengarnya.
Aku agak sakit hati.
Aku tidak mengerti alasanmu merahasiakannya dariku.
Aku ingin memberitahumu.
Tapi?
Tapi masalahmu sudah cukup banyak.
Jika aku menambahkannya,
kamu bisa bermimpi buruk lagi.
Aku takut itu terjadi.
Maaf jika aku menyakitimu.
Kalau begitu, ceritakan sekarang.
Kamu bilang ingin memberitahuku.
Pasti menyakitkan harus memendam itu sendiri.
Kamu boleh menceritakannya sekarang.
Ji Seok.
Itulah tugas suami.
Kamu boleh menceritakan segalanya.
Go Ya, kamu baik-baik saja?
Tidak.
Selama ini aku berlagak baik-baik saja,
tapi sebenarnya aku takut.
Tiba-tiba aku bukan putri kandung ibuku.
Sebelumnya aku masih putrinya.
Tapi kini bukan lagi.
Aku mengerti. Itu pasti menakutkan bagimu.
Ibuku hanya dia.
Dia segalanya bagiku.
Mana mungkin aku bukan anaknya?
Ibu...
Ibu...
"Kelas Memasak Jang Ok Ja"
Urusan di kuil lancar?
Ya.
Kenapa Ibu pergi sendiri? Aku bisa saja ikut.
Ibu tidak sendiri.
Ji Seok mengikuti ibu. Ibu sungguh enggan melihatnya.
Kurasa aku akan segera mengunjungi Ayah.
Dengan dia.
- Siapa? - Apa?
Maksudku Nenek. Aku akan ke sana dengan Nenek.
- Siapa yang membeli ini? - Kak Ji Seok.
Jangan terima apa pun dari dia mulai sekarang.
San Deul, tolong kembalikan sepatu itu kepadanya.
Itu punya Ji Seok?
Tadinya aku penasaran itu sepatu siapa.
Kenapa ada di rumah Kakak?
Entahlah.
Kakak tidak mau membicarakan keponakannya Na Ra.
Maafkan saja Kak Go Ya dan Kak Ji Seok.
- Apa? - Sebenarnya
apa salah mereka?
Itu semua salah Tae Pyung dan Na Ra.
Kenapa kami yang harus menderita?
- Kenapa kami harus putus? - Apa maksudmu?
Kamu putus dengan seseorang?
Hei.
Kamu bicara seakan-akan dekat dengan keluarga itu.
Hentikan.
Jangan izinkan Go Ya ke sini lagi. Ibu tidak mau melihatnya.
Jangan begitu.
Bagaimanapun, dia kakakku.
Meski bukan putri Ibu, dia tetap kakakku.
Bagaimana dia tahu Go Ya bukan putri Kakak?
Tentu saja dia tahu.
Kak Go Ya bukan putri kandung Ibu?
Kamu tidak tahu?
Apa? Katakan. Itu benar, Ibu?
Apa itu benar, Bibi?
Sungguh?
Kenapa hanya aku yang tidak tahu?
Bahkan Go Woon pun tahu.
Kenapa?
Ibu.
No comments yet. Be the first to leave one.