The first 200 lines.
=Restoran Penyihir=
Maukah kau memotret kami?
Kau siap?
Satu, dua, tiga.
Hee Ra.
Mari kita bersama selamanya.
Aku ingin membalas dendam.
Setiap keinginan ada harganya.
Harganya adalah kau menjadi penyihir.
Aku tidak peduli jika aku menjadi penyihir.
Keinginanku adalah...
anak pria itu...
menjadi tidak bahagia, sama sepertiku.
Aku ingin anak itu terluka dan menderita sepertiku.
Aku ingin hal itu...
untuk menyakitinya.
=Restoran Penyihir=
=Bubur Kimci dan Taoge Buatan Ibu= =Episode 7=
Jin.
- Kau manis sekali. - Hei.
Apakah itu pria yang kau kencani?
Aku tidak suka. Kau pantas mendapatkan pria yang lebih baik.
Ayo.
Boleh kupinjam ponselmu?
Mari bertemu lagi.
Kurasa aku tidak bisa datang besok.
Aku ada rapat mendesak...
tentang jadwal syuting pekan depan.
Bagaimana bisa aku cukup bodoh untuk tidak menyadari semua alasan itu?
Semua itu bohong.
Hei, Gil Yong.
Tentang hari ini.
Maaf melibatkanmu dalam hal ini.
Aku baik-baik saja sekarang. Kau boleh pergi.
Kau tidak baik-baik saja.
Kenapa kau selalu bilang begitu?
Kau benar.
Aku tidak baik-baik saja.
Namun,...
aku tidak tahu harus berkata apa...
atau harus berpikir apa.
Saat ini, aku tidak yakin akan apa pun.
Jangan pikirkan apa pun dan beristirahatlah.
Baiklah.
Hati-hati di jalan.
Jin.
Aku ingin kau bahagia.
Saat kau sedih, mereka bilang lebih baik menangis.
Jika terlalu berat,...
jangan menahan diri malam ini.
Baiklah.
Terima kasih.
(Mencintai seperti tidak pernah terluka.)
Ada yang bilang...
manusia termakan kebohongan karena satu alasan sederhana.
Kepercayaan bahwa orang lain tidak akan membohongi mereka.
Karena kepercayaan itu,...
aku memperlakukan orang itu dengan tulus.
Udaranya makin dingin.
Haruskah kuambilkan selimut?
Tunggu di sini. Aku tidak akan lama.
Sudah lama tidak bertemu.
Apakah kau datang...
karena Jin?
Ya. Aku datang karena dia.
Tidak. Maksudmu sesuatu yang buruk terjadi kepadanya?
Jin telah...
dikutuk.
Apa? Dikutuk?
Dia akan menderita.
Tidak, itu tidak boleh terjadi kepada Jin.
Kutukan itu.
Biar aku yang dikutuk.
Maafkan aku.
Ada orang lain yang harus dikutuk.
Apa yang kau lakukan? Keluar sekarang.
Kenapa kau tidak menjawab telepon?
Pergi, kataku.
Aku tidak ingin bicara atau bertemu lagi denganmu.
Mari bicara.
Lepaskan aku!
Kau sudah menikah dan punya anak?
Kau membohongiku selama ini.
Kenapa kau kembali ke sini tanpa rasa malu?
Menikah? Apa maksudmu?
Kau pasti salah.
Aku melihatmu menatapku di aula pernikahan hari ini.
Jadi, itu yang kau bicarakan.
Namun, aku tidak melihatmu.
Kau melihatku di pesta ulang tahun bayi itu?
Kau akan terus berbohong seperti ini?
Temanku meminta bantuan,...
jadi, aku terpaksa berpura-pura menjadi ayahnya.
Astaga, seharusnya aku memberitahumu sebelumnya.
Kenapa kita bertengkar karena hal sepele?
Membantu teman?
Kau berharap aku percaya?
- Aku sudah menyuruhmu pergi. - Kau salah.
Astaga.
Kenapa kau tidak bisa memercayaiku?
Aku tidak berniat putus denganmu.
Aku tidak akan pernah melepaskanmu.
Jadi, ingatlah itu.
Kau gila.
Baiklah, anggap saja aku membuat kesalahan.
Itu sebabnya aku berlari jauh-jauh kemari.
Untuk minta maaf dan menghiburmu!
Untuk menghiburku?
Aku tidak butuh omong kosong itu, jadi, pergilah sekarang.
Mulutmu kasar sekali.
Mengecewakan sekali.
Bukankah kau gadis yang baik?
Kau tidak benar-benar menyukaiku?
Sudah kuduga. Itu sebabnya kau bersikap seperti ini.
Kau...
Kau gila.
Aku datang jauh-jauh kemari untuk menghiburmu.
Kau membuatku berbohong dan minta maaf!
Kau pikir aku akan melakukan ini jika tidak mencintaimu?
Lihat? Kau tidak lihat betapa keras usahaku?
Beraninya kau!
Beraninya kau memperlakukanku seperti sampah?
Bukankah sudah kubilang aku mencintaimu?
Dasar anak nakal...
Dasar gila!
Kemarilah.
- Beraninya kau! - Lepaskan aku.
- Beraninya kau menyentuhnya! - Dasar anak nakal.
Lepaskan aku. Enyahlah!
Halo? Polisi?
Tolong bantu aku.
Tolong kirim polisi.
Beri tahu aku nama dan nomor KTP-mu.
Itu bukan apa-apa.
Aku dan kekasihku berdebat kecil...
dan pria itu tiba-tiba masuk dan menyebabkan kekacauan ini.
Aku bukan kekasihnya.
Aku melihat dia menyerangnya.
Bisa dipastikan dia masuk tanpa izin lewat kamera pengawas.
Aku berusaha mencegah dia memukulnya dan kami berkelahi.
Apa hubunganmu dengannya?
Aku walinya.
Wali?
Lucu sekali.
Dia waliku.
Dia benar-benar waliku...
dan dia penyerangnya.
Kau salah.
Kenapa kau tidak bisa memercayaiku? Kenapa?
Kau tidak lihat betapa keras usahaku?
Beraninya kau!
Beraninya kau memperlakukanku seperti sampah?
Kami sudah cukup mendengar.
Kami punya bukti...
dan seorang saksi, jadi, dia bisa dihukum.
Apakah kau mau menuntut?
Hei.
Aku dalam kesulitan, jadi, aku butuh bantuanmu.
Aku di Kepolisian Gangbu.
Terima kasih.
Aku ingin menunjuk pengacara untuk masalah ini.
Silakan tunjuk pengacara.
Karena aku pengacara mereka.
Mulai sekarang, aku akan menangani semua masalah hukum.
Kau pikir kau menang karena rekaman itu?
Sekarang aku mengerti.
Kau merencanakan ini sejak awal karena aku pesohor?
Sebaik jangan membocorkan hal ini di internet atau pers.
Aku akan membuatmu menyesal.
Jika kau tidak mau memperburuk keadaan, pergilah.
Katakan semua yang kau inginkan melalui pengacara kami.
Kau mencari masalah dengan orang yang salah.
Aku yang memutuskan kita mengakhirinya atau tidak.
Dasar sampah.
Baik, Pak. Apa kabar?
Kau sungguh tidak akan menuntut?
Ada yang ingin kubahas denganmu.
- Aku butuh waktu untuk berpikir. - Ya, itu bagus.
Jika membiarkannya seperti itu, entah apa yang akan dia lakukan.
Kita tidak bisa bertindak gegabah.
Dia mengatakannya sendiri.
Bahwa dia seorang pesohor.
Kau tidak melakukan ini karena mencemaskannya, bukan?
Tidak.
Ada sesuatu yang harus kuperiksa.
Aku harus tahu apa yang terjadi kepadaku.
- Namun... - Jin.
Bisa kita bicara berdua?
Kau pasti terguncang. Minumlah ini.
Masalahnya...
Beberapa saat lalu,...
aku menemukan diriku...
memakan sisa cokelat di dapur.
Bu Penyihir melarangku memakannya.
Itu bisa menjadi racun yang tidak dapat disembuhkan.
Itukah alasannya?
Apakah karena cokelat itu?
Menurutmu begitu?
Jika ada harga,...
itu berarti mungkin ada efek samping.
No comments yet. Be the first to leave one.