The first 200 lines.
Hadirin, kami tidak berbohong.
Seperti yang kami katakan, makhluk buruk rupa.
Kalian menertawakan mereka, merasa ngeri...
namun, untuk sebuah kelahiran yang janggal...
kalian mungkin sama seperti mereka.
Mereka tak meminta ada di dunia...
tetapi mereka hadir ke dunia.
Mereka punya hukum tersendiri.
Mengganggu satu orang...
berarti mengganggu mereka semua.
Dan sekarang, hadirin, jika kalian melangkah kemari...
kalian akan menyaksikan hal yang paling menakjubkan...
makhluk buruk rupa yang paling mencengangkan...
sepanjang sejarah.
Kawan-kawan...
dulu dia wanita yang cantik.
Seorang pangeran bunuh diri karena tergila-gila padanya.
Dia dijuluki burung merak di udara.
Dia mengagumkan, bukan, Hans?
Dia wanita tinggi tercantik yang pernah kulihat.
Jaga ucapanmu, Hans.
Aku bisa cemburu.
- Jangan konyol. - Jangan konyol?
Aku melihat wanita itu melirik Hans-ku.
Tentu saja, aku tidak cemburu.
Frieda, sayangku...
Mataku hanya untuk satu wanita...
wanita yang akan kujadikan istri.
Fräulein Frieda?
Aku sudah mengencangkan pengikatnya.
Baguslah, pegangi sampai aku menungganginya.
Terima kasih.
Apa kau menertawakanku?
- Tidak, tuan. - Terima kasih. Aku senang.
- Kenapa aku harus menertawakanmu? - Kebanyakan orang tinggi melakukannya.
Mereka tidak sadar kalau aku juga pria yang punya perasaan seperti mereka.
Terima kasih.
Kau baik sekali, tuan.
- Gaun yang bagus. - Jangan sentuh.
Kapan-kapan kita harus bertemu, dan minum bersama.
Terima kasih, Fräulein Cleo.
Kau semakin tua, Jean.
Mungkin tadi malam kau terlalu banyak makan, dan berimajinasi...
Tapi, Tuan Duval, awalnya aku juga tak pecaya apa yang aku lihat.
Banyak hal mengerikan, mengherankan, merangkak, merengek, tertawa...
Sudahlah, Jean. Kau minum apa tadi malam?
Tak ada, tuan, sungguh.
Tuan, ada aturan di Perancis untuk membereskan hal seperti itu...
- atau mengurungnya. - Baiklah, Jean.
Jika ada sesuatu seperti yang kau katakan, kita akan menyingkirkannya.
- Ayo, ayo pergi. - Kalian semua! Sekarang juga!
Pergi, kalian semuanya!
Bukankah masuk tanpa izin sama halnya dengan mencuri?
Maaf, tuan. Aku Nyonya Tetrallini.
Mereka anak-anak di sirkusku.
Anak-anak? Mereka monster.
Siskusmu. Aku paham.
Sebenarnya, tuan, ketika ada kesempatan...
Aku mengajak mereka ke luar...
dan membiarkan mereka bermain selayaknya... anak-anak.
Begitulah kebanyakan dari meraka.
Masih anak-anak.
Anak-anak... Anak-anak.
Mohon lupakan apa yang telah kami katakan, Nyonya. Silakan tetap di sini.
Selamat tinggal. Ayo, Jean.
Terima kasih banyak, tuan.
Terima kasih banyak, tuan.
Memalukan!
Berapa kali sudah kubilang supaya jangan takut?
Bukannya sudah kubilang...
Tuhan menjaga anak-anakNya?
- Selamat sore, Nyonya Tetrallini. - Apa kabar, Nyonya Tetrallini?
Semoga banyak penonton malam ini.
Dia lagi, ajak mereka pemanasan.
Perawat kudisan.
"Seperti yang ditunjukkan di spanduk...
kalian akan melihat mereka dari dalam."
"Makhluk buruk rupa.
Josephine Joseph, separuh wanita, separuh pria."
Silakan cerutunya, Joseph.
Lipstikmu jatuh, Josephine.
Jangan buat dia marah, atau hidungmu akan dicolok.
Ayo. Cepat. Anak pintar.
Kalian salah. Aku tidak melakukannya.
Apa yang coba kau lakukan, melawak?
Kau hanya tak paham.
Wanita Romawi...
Turun dari banteng dan menggaruk diri sendiri.
Tidak bolehkah wanita Romawi merasa gatal?
- Kenapa kau tak mandi? - Sudah, banteng itu yang perlu mandi.
Kurasa sisi wanitanya menyukaimu...
tapi sisi laki-lakinya tidak.
Bunga yang kau berikan, indah.
Tapi tak ada yang seindah dirimu.
Terima kasih.
Dan Hans, Aku tak suka meminta...
tapi bolehkan aku meminjam 1,000 Franc lagi...
sampai uangku dari Paris tiba?
- Dengan senang hati, Fräulein. - Terima kasih.
Aku akan membawakannya ke gerbongmu malam ini.
Lupakanlah.
- Mungkin aku sudah bergurau. - Bergurau?
"Kemari, gadis kecil, Aku ingin menjagamu."
Dan aku cemburu untuk itu.
Lupakanlah.
Jadi, kita putus.
Cuma karena hal itu?
Mungkin aku hanya bergurau.
Kau tidak memutuskanku!
Sebab aku yang mengusirmu!
Tidak, Jangan yang ini. Ini pemberianku.
Kenapa, kau murahan...
Jangan minta belas kasih malam ini, minta balikan.
Aku sudah menghabiskan waktu dan uangku...
untuk orang seperti mu.
Ya. Waktumu, tapi uangku.
Gembel tak tau terima kasih.
Tak masalah.
Lihat apa kau?
Belum pernah lihat wanita berjalan sebelumnya?
Aku rasa kau sudah mendengar semua perkataannya.
Cukup.
Silakan tertawa. Lucu, kan?
Ya. Wanita itu lucu, bukan?
Mereka semua gembel, kan?
Ya. Kecuali kalau kau bisa dapat uang dari mereka.
Aku akan...
Kau kira kau siapa, mengomel?
Yang kau ajak bicara ini Phroso.
Bukan salah satu penjahat yang kau buru.
- Sekarang, dengarkan. - Aku tidak bermaksud.
- Aku harus melampiaskannya pada seseorang. - Ya, kalian semua sama.
Kau lancang, kau murahan..
dan kau merengek kalau ada sesuatu menimpamu.
Tenang, nak. Berhentilah!
Ini salahku.
Yang membuatku begitu menyesal adalah..
aku jatuh cinta pada potongan besar daging sapi.
Jadi akhirnya kau sadar, kan?
Hal lucu dari kebanyakan wanita sepertimu adalah tidak cepat sadar.
Kau menanti hingga tua, tak ada yang menginginkanmu.
Tak ada yang melakukannya, selama ini.
Kau harus digelitik sampai mati, kau sedang diuji besamanya.
Kau tak terlalu sulit untuk ditebak.
Cobalah mengalah. Itu akan bernilai.
- Nanti kalian bisa putus. - Nanti? Sudah, maksudmu.
Sekarang kau akan duduk di sana meratapi diri sendiri.
Tidak. Jangan menuduhku begitu.
Baiklah.
Tapi satu hal, jangan pergi minum untuk meratapi...
sebab menghibur diri dengan cara seperti itu tidak pernah berakhir baik.
Paham?
Paham.
Kau pria yang baik.
Kau benar sekali. Kau harusnya paham sebelum aku bertindak.
- Halo, Phroso. - Ya, ya, ya.
- Besok malam adalah malam yang penting, Daisy? - Ya, dia akan menikah.
- Dan aku begitu cemas. - Dia cemas pada apapun.
- Roscoe anak yang baik. - Dia hanya bercanda.
Dia akan sangat menyukainya setelah lebih mengenalnya.
Aku jadi ingat.
Tutup matamu, Violet. Ayolah, tutup matamu.
- Apa yang kulakukan? - Mencubit lengan Daisy.
Bagaimana kau bisa tau?
Suara tuanya memanggil.
Menyenangkan?
Aku tidak suka itu...
Ayo, kau harus bergegas. Kita tak punya banyak waktu.
Jadi kau menggoda badut murahan itu, kan?
- Tidak. - Dia bermain sulap denganku.
Diam kau.
Aku menikahi adikmu, bukan kau.
- Kulihat dia mengenalmu. - Ayo, Daisy.
Tidak. Dia akan tinggal di sini.
Tidak. Aku harus pergi.
Kau selalu menggunakan itu untuk...
Untuk alibi.
Mau kemana kau?
Kau tidak terlalu memperhatikan orang lain, ya?
Ya, Aku melihatmu, kok.
Begitu.
Kau harus ditangkap.
Jadi?
Masuklah.
Ambil sendiri minumannya.
Baiklah.
Mau makan sesuatu?
Selalu.
Bersulang.
Berapa banyak?
Aku tidak terlalu lapar. Sekitar enam.
Suka?
Lumayan.
Tapi kau kuat. Kau memelukku dengan erat.
Dan kau akan suka.
Aku sulit bernafas.
Kau...
Sekarang, ini untuk matamu.
Tapi, Hans, sayangku, kau tidak mendengar...
kata yang kuucapkan.
No comments yet. Be the first to leave one.